Koordinasi = Konsentrasi


parenting / Rabu, Juli 20th, 2016

Postingan ini sudah pernah posting di blog lama saya Music Rhapsody.
Tetapi masih relevan diposting masa kini, mengingat tumbuh kembang anak akan ada terus, dan kondisi tiap anak pun berbeda.

Di blog lama tersebut, saya menceritakan tentang Senja, umurnya baru 9 bulan, tapi sudah berdiri dan siap melangkah kira-kira 3 langkah.
Eyang-Tantenya, Tatah dan saya, sibuk berkomentar, a.l. belum siap jalan, biar merangkak dulu,jangan dirangsang untuk jalan dll.

Saya jadi mengingat kembali, anak saya, Daridaru (nick name) yang mulai bisa jalan diusia tepat 11 bulan.
Melalui tahap merangkak, tapi kurang bagus cara merangkaknya.
Telapak kakinya menapak, bukan merangkak dengan lututnya.
Seingat saya, masa balita tidak ada permasalahan dalam tumbuh-kembangnya.

Lalu dimasa kelas 1 SD, Daridaru dijuluki “satpam” oleh Wali Kelasnya.
Karena tidak bisa duduk diam, dan selalu sibuk memperhatikan pekerjaan teman-temannya di kelas.
Di kelas 3 SD, saya dianjurkan oleh walikelas Daru untuk membawanya ke Surya Kanti, sebuah lembaga pelatihan
tumbuh-kembang anak.
Menurut wali kelas, Daridaru sering melamun dan menerawang ke luar kelas.
Akibatnya pekerjaan di kelas sering tidak selesai.

Di Surya Kanti, observasi dilakukan oleh tim ahli dengan terpadu.
Mula-mula tes psikologi oleh seorang psikolog.
Lalu dilanjutkan dengan tes mata ke dokter mata.
Ternyata memang Daridaru harus memakai kacamata, silindris minus 1.
Itu sebabnya dia sering melamun keluar kelas, karena tulisan di papan tulis tidak jelas.
Selanjutnya oleh neurolog, Daridaru dianjurkan untuk tes EEG (electroencephalo graph) di rumahsakit.
Dalam keadaan terbaring, kepala Daridaru ditempeli berbagai kabel dan dicatat dalam bentuk grafik.
Kesimpulan observasi Daridaru adalah ADD (attention deficit disorder).
Maksudnya Daridaru, kurang bisa konsentrasi.
Yang mengejutkan dan mengherankan saya, menurut neurolog, hal ini disebabkan Daridaru terlalu cepat berjalan.

Selanjutnya Daridaru melalui beberapa terapi, yang akhirnya kami lanjutkan sendiri di rumah.
Karena Daridaru keberatan, melihat kondisi pasien lain yang berbeda dibanding dirinya.
Mungkin Daridaru merasa dirinya tidak apa-apa.
Terapinya antara lain, melatih motorik halus dengan menggunakan 2 spidol (memang Daridaru tulisan tangannya kurang bagus), memasukkan benang ke lubang jarum dll.
Untuk konsentrasi, a.l. bermain trampolin, melangkah di balok titian, dribel bola basket dll.
Selain itu kami harus selalu mengingatkan untuk konsentrasiapabila memegang gelas, menuang sesuatu, meletakkan sesuatu,lebih lembut bersikap ke adiknya dll.
Selain itu Daridaru juga les piano dan taekwondo.
Secara tidak sadar, les piano untuk melatih motorik halusnya.
Sedangkan taekwondo untuk melatih motorik kasarnya.
Selain itu juga belajar berenang.
Kejadian tersebut kira-kira puluhan tahun y.l.
Daridaru tumbuh-kembangnya baik-baik saja, secara akademik bisa sampai magister.

Tetapi saya masih heran, apa hubungannya antara terlalu cepat jalan dan kurang konsentrasi?

Saya mencoba mencari alasan logisnya dari kacamata orang awam.
Coba pendekatannya dari, apa hubungannya merangkak dengan konsentrasi ?

Coba perhatikan, apabila bayi merangkak.
Apa yang digerakkan ?
Apakah tangan kanan melangkah bersama dengan kaki kanan ?
Atau tangan kanan melangkah bersama dengan kaki kiri ?
Normalnya tangan kanan melangkan bersama dengan kaki kiri.
Seperti halnya orang berbaris. Kaki kanan melangkah, tapi yang bergerak kedepan adalah tangan kiri.
Tapi, bagaimana caranya bayi bisa mengkoordinasikan tangan kanan dan kaki kiri ?
Sekarang saya tahu, itu sebabnya bayi harus bisa merangkak.
Karena merangkak itu sulit.
Koordinasi berarti konsentrasi.

Nah, ketemu sekarang. Kenapa Daridaru kurang konsentrasi karena diduga terlalu cepat berjalan.
Kenapa Senja sebaiknya jangan dirangsang untuk berjalan.
Biarkan merangkak sepuasnya.
Biarkan tangannya merasakan perabaan berbagai tekstur lantai yang dia lalui.
Biarkan dia mengkoordinasikan seluruh anggota tangan dan kakinya.
Ingat, semuanya bersilangan disyaraf tulang punggung.
Dengan demikian Senja akan belajar berkonsentrasi.
Senja sekarang pun menjelang kelas IV SD.
Akademis tidak apa-apa.
Sama halnya anak-anak lain, ada pelajaran yang dia tidak sukai dan ada yang dia sukai.

Hal yang berbeda terjadi pada cucu saya, Bororo (nick name).
Beberapa hari lagi, usianya 15 bulan. Memang ada delay dalam tumbuh kembangnya.
Dalam beberapa hal tidak sesuai dengan grafik pada tabel Denver II.
Mulai terapi di usia 9 bulan, setelah konsultasi ke DSA khusus Tumbuh Kembang di sebuah klinik. Bororo baru duduk sendiri di usia 11 bulan, dalam sekian minggu langsung nyeklek bisa merangkak. Sekarang merangkak sangat cepat, dan mulai berdiri sambil pegangan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa berjalan sendiri.
Setahu saya, saya pernah baca, maksimal usia 18 bulan harus sudah bisa berjalan.

Tentang hal-hal lain sesuai dengan saran adik saya, otak bayi atau anak itu seperti spons.
Ada 4 hal yang harus kita rangsang terus.
Harus dirangsang terus, selain motorik kasar, ada motorik halus, kemampuan bicara, dan faham akan logika.
Sebagai orang tua, atau keluarga terdekat tidak boleh terpaku hanya disatu hal, misalnya motorik kasar saja.
Jangan terpaku dengan keterlambatan belum bisa berjalan. Rangsang juga kemampuan yang lain.
Saya rajin amat sih membuat berbagi alat bantu untuk merangsang kemampuan Bororo.
Beberapa DIY sudah saya buat, terutama dalam hal terapi sensory nya (Sensory Integration).
Pendek cerita, terapi sensory adalah melatih perabaan anak.
Misalnya meraba tekstus kasar-lembut, basah-kering, tekstur slimy, grenjulan, tajam, empuk, dan lain-lain.
Nanti akan saya buat postingan khusus tentang Terapi Sensory ini ya.

 

 

Saya tetap optimis, Bororo punya potensi yang belum kita ketahui sekarang ini. Setelah dewasa, kan kita juga mempunyai potensi yang berbeda bukan?
Nah, sudahkah kita memperhatikan potensi Buah Hati kita?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

2 Replies to “Koordinasi = Konsentrasi”

  1. Menurut Mbah Uti Kayu Manis – eyang Senja dari pihak ayahnya – semua putera puteri beliau sudah lancar berjalan di bawah usia 1 tahun. Cucu-cucu yang lain juga begitu (Senja cucu ke-18!). Kaget melihat Senja tiba-tiba turun dari tempat tidur besar, melangkah kiri kanan masing-masing 2 langkah, lalu berhenti dan menengok. Wajahnya seperti heran. Takjub.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *