keluarga, lifestyle

Hobbyku Menyelamatkan Pundi-pundi

P1060813 copy

Hobby bisa menyelamatkan pundi-pundi?
Baca lini masa FB para netizen, terutama para Emak, apa-apa sekarang dibisniskan.
Segala hobby dan ketrampilan bisa dibisniskan dan menambah pundi-pundi.
Ada yang terampil memasak dan membuat kue, lalu diseriusi menjadi pembuat kue handal dan laris-manis bisnis kue keringnya.
Ada yang terampil menggambar, seperti Tanti Amelia, hobby orat-oretnya diaplikasikan ke berbagai benda, sehingga banyak yang pesan. Dan voila, cring-cring pundi-pundi tambah gendut deh.
Omong-omong tentang hobby dan passion, saya berpikir ulang, apa ya hobby dan passion saya yang menambah pundi-pundi?

Apakah ketrampilan main piano?
Sempat, sih, selama 19 tahun kemarin jadi guru piano di sebuah kursus piano.
Lalu berhenti karena lelah wira-wiri kena macet di jalan.

Apakah menulis buku?
Baru tiga tahun belakangan mulai menulis dan menerbitkan buku.
Dasarnya saya kurang bisa bisnis dan promosi.
Buku-buku saya ya so-so aja, belum best seller dan cetak ulang kesekian kalinya.
Royalti ya DP diawal ditambah beberapa per enam bulan.

Apakah chinese painting?
Pernah ikut kursus melukis chinese painting dan water colour.
Emang sih seru dan bikin tekun.
Tapi jadi lupa waktu, apalagi kalau bidang gambarnya besar.
Belum pun laku dijual hasil lukisan saya tersebut.
Belum jualan juga sih.

Masak memasak ya sebatas untuk konsumsi keluarga.
Apa ya hobby yang bisa menambah pundi-pundi?

Atau jahit baju?
Iya, saya hobby menjahit baju.
Kalau kilas balik, awalnya suka membuat baju boneka dari kain perca.
Ibu saya bisa banget menjahit baju.
Konon, kata ibu saya, beliau dulu delapan bersaudara.
Oleh ibunya (= nenek saya), ada pembagian tugas dalam keluarga.
Adiknya ada yang pandai memasak, dapat tugas memasak untuk seluruh keluarga.
Ibu saya bisa menjahit, kebagian menjahit baju untuk adik-adiknya.
Semasa kecil, kami lima bersaudara, sering banget memakai baju kembaran yang dijahit sendiri oleh ibu.

Kami pernah ikut ayah tugas ke luar negeri, hobby dan ketrampilan ibu jahit-menjahit ini sangat membantu sekali.
Bila mendampingi ayah saya pada suatu acara resmi ibu selalu berkebaya.
Tentu saja tidak mungkin memakai kebaya berbahan brokat atau bahan tipis lainnya di negara empat musim.
Oleh sebab itu ibu membuat sendiri kebaya-kebaya dengan bahan bagus yang cocok untuk pesta tetapi tebal.
Lagipula waktu itu kami tidak tahu bagaimana tata cara memesan baju ke penjahit setempat.
Pastinya beda lah ongkos jahit orang bule, tidak bisa disamakan dengan penjahit di pasar di Indonesia.

Pada suatu hari, ibu membeli kain dan merencanakan menjahitkan baju untuk saya.
Waktu itu memakai pola Burda siap pakai dan banyak pilihan serta banyak dijual di toko serba ada.
Ketika pola sudah diletakkan di kain, ibu mengarahkan saya untuk mencoba mengguntingnya.
Kemudian ibu yang menjahitnya.
Itulah pertama kali saya mengenal dunia jahit-menjahit baju.

Ketika kembali ke Indonesia, saya dileskan menjahit di sebuah kursus menjahit dekat rumah.
Hobby menjahit rupanya menjadi passion saya sejak SMP.
Sampai-sampai tadinya saya ingin melanjutkan sekolah ke sekolah fashionnya Susan Budihardjo.
Tapi waktu itu orangtua kalau anak-anaknya tidak sarjana kan tidak keren.
Jadilah saya kuliah seperti anak-anak lain.

Apakah hobby menjahit ini lalu bisa menambah pundi-pundi saya?
Itulah, saya ternyata bukan orang yang tekun menjahit untuk orang lain.
Satu-satunya orang lain yang membayar jasa menjahit saya adalah tetangga saya.
Itupun awalnya saya agak setress, karena proporsi tubuh tetangga saya itu bila dibuat polanya ternyata tidak sesuai teori pola Charmant yang saya pelajari.
Akibatnya saya kapok menerima pesanan.

Banyak sih saya menjahitkan baju untuk orang lain.
Untuk adik dan kakak, saya meniru membuat pola jahit dari buku pola jahit Jepang, SO-EN.
Walaupun tulisannya tidak mengerti, tetapi gambar polanya mencantumkan angka-angka latin yang mudah dimengerti.

Ketika mahasiswa, saya pernah tuh menjahit jaket untuk kekasih.
Bahannya bahan parasut anti air, beli di jalan Tamim Bandung.
Karena do’i naik motor, maka bagian dadanya saya lapis dengan busa supaya tahan angin.

Ketrampilan jahit-menjahit ini saya manfaatkan juga untuk menarik hati calon mertua.
Camer memesan baju anak-anak untuk cucu-cucu perempuan sebanyak tiga gaun kecil.
Saya beli kain polka dot pink, dibuat model ruffles dan berenda.
Selamatlah saya dari investigasi camer.

Ketika saya menikah dan punya anak, anak-anaklah yang jadi “korban” saya.
Saya bebas berkreasi membuat baju anak.
Langganan saya ya toko-toko kain di jalan Tamim.
Murah meriah dan bahan kaos bisa dibeli kiloan.
Sering juga saya membuat piyama kembaran untuk mereka berdua.

Apalagi baju-baju untuk putri saya.
Rasanya puaslah mematut dan memadu padan serta mengasah kreativitas.
Lagi-lagi, saya mengandalkan buku pola jahit Jepang.
Pernah juga membuat baju kembaran dengan tokoh kartun Sailormoon, tokoh idola putri saya.
Bangga juga baju anak saya tidak ada duanya, karena tidak ada di toko.

Ada juga beberapa proyek jahit baju.
Maksudnya, anak saya punya request untuk acara khusus, misalnya pesta perpisahan SMP dan SMA, serta acara Fancy Night.
Kisah Mondrian Dress ada disini.
Hanya saja waktu wisuda sarjana, saya tidak menjahit bajunya tetapi memesan ke modiste tetangga saya.
Saya cukup kaget juga dengan biaya menjahit di modiste rupanya berlipat-lipat dibandingkan dengan penjahit di pasar.
Ibu ini ketika saya tanya berapa ongkos jahitnya, selalu dijawab nanti aja.
Jadi ya kaget ketika disodori kwitansi ongkos jahit yang nilainya lima kali ongkos jahit langganan.

Piyama Kembaran
Piyama Kembaran

 

Kembaran Sailor Moon
Kembaran Sailor Moon

Oh ya, saya bisa jahit baju tetapi tidak bisa menjahit celana panjang dan kebaya dengan krah chang-i yang rapi.
Kelemahan saya memang, kurang bisa menjahit krah.
Jadi untuk yang satu ini saya serahkan ke penjahit langganan di pasar.

Ohya lagi, namanya juga hobby, saya sering angin-anginan mengerjakan urusan jahit-menjahit ini.
Yang paling seru dari membuat baju adalah ketika pecah model dan mulai mengguntingnya.
Kalau kainnya pas-pasan, saya harus putar otak supaya cukup atau dikombinasi sesuatu yang pas.
Atau ganti model.
Apalagi, sekarang ini, kadang-kadang saya menggunting tanpa pola.
Saya letakkan saja baju yang enak dipakai langsung di kain, kemudian digunting.
Nah, ketika harus menjahitnya, sering saya biarkan teronggok di mesin jahit.

Menjahit sesuai mood bikin suami, yang dulu masa pedekate saya buatkan jaket itu, jengkel.
Memesan untuk memendekkan celana saja bisa berbulan-bulan.
Padahal menjahitnya tidak sampai sepuluh menit.

Proyek terbesar saya adalah ketika memermak baju pengantin saya untuk putri saya.
Dia memang tidak suka dengan baju pengantin berbahan brokat dan menerawang.
Dan dia tidak suka juga, memakai kaos atau istilahnya manset, supaya kulit tubuh tidak terekspos kemana-mana.
Cita-citanya memang memakai baju pengantin saya ketika menikah.
Sedangkan ukuran tubuhnya beda dengan saya.
Saya lebih tinggi dan tipis (waktu itu).
Sedangkan dia lebih pendek dan tebal.

Saya mencoba ke modiste di belakang rumah yang menjahit kebaya pengantin menantu saya.
Ternyata dengan berbagai alasan, modiste ini tidak sanggup, katanya penjahitnya banyak order.
Akhirnya, dengan Bismillah, saya kerjakan sendiri memermak baju pengantin saya itu.
Fotografer wedding agak heran dengan kebaya pengantin anak saya, karena modelnya vintage dan belum pernah melihat yang seperti itu.
Ya iyalah, itu kebaya saya, 30 tahun yang lalu.

IMG_20140608_222725
Our Wedding Kebaya

 

P1060800
Modifikasi Celana Hamil

 

Ketika putri saya hamil dan menyusui, saya semangat juga membuatkan baju hamil dan blus-blus bukaan depan.
Saya penasaran dengan celana hamil, sehingga saya modifikasi saja celana yang ada.
Tutorialnya ada disini.
Saya tiru dari instagram, blus-blus busui friendly yang sedang in.

Sampai sekarang, bila saya berjalan-jalan ke toko baju, saya amati baju-baju tersebut.
Saya lihat detailnya, raba kainnya, dan tentu saja cek harganya.
Kalau kira-kira potongannya mudah, apalagi baju Muslim, ya saya cari kain saja di Pasar Baru atau Baltos.
Beli pernak-pernik hiasannya di toko Dunia Baru atau di jalan Kepatihan.
Pernak-pernik hiasan ini memang membuat harga baju menjadi berlipat-lipat, padahal kainnya katun yang harganya mungkin hanya tigapuluh ribu per meter.
Saya buat sendiri baju yang modelnya saya tiru dari toko.
Tentu saja dengan membuat sendiri, harganya jauh banget di bawah harga toko.
Tidak perlu khawatir dengan krah baju, kan tertutup kerudung ini.

Itulah hobby jahitku, belum sih menambah cring-cring pundi-pundiku, tetapi menyelamatkan supaya hemat.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
twittergoogle_pluspinterestyoutubetumblr

16 Comments

  1. dr dluuuu aku pengen bgd bs jahit mak, pgn kursus njahit, tp ya gituuuuu.. gk budal2 hehe..
    seneng bgd pastinya ya mak bs bikinin sesuatu bwt org2 terkasih
    🙂

    1. hani

      Makasih udah mampir. Ayooo…laksanakan belajar jahitnya. Semangat yaah….

  2. Qu dulu smp bisa jait baju tidur sendiri lama ga diasah uda blank aza jait menjait 🙂 pengen sekolah lagi deh hehe

    1. hani

      Sip…ayo mulai lagi. Gpp mulai dari baju tidur lagi…Makasih udah mampir…

  3. Hemat pangkal kaya ya Mak. Wah aku juga ingin belajar jahit tapi levelnya masih beginner melulu, nggak maju-maju padahal ibu saya seperti Mak Hani yang suka utak-atik dan jahit baju sendiri, katanya menjahit itu butuh seni selain itu logika juga harus jalan. Mau nyontek ah pola celana hamilnya, lebih enakan pakai celana hamil daripada biasa walaupun hamil yang kedua belum direncanakan 😀 makasih Mak Hani

    1. hani

      Iya…saya liat di IG tuh model celana hamil. Terus liat di toko bayi, bagian baju hamil. Tinggal cari bahan kaus yang enak dan ga gampang melar. Bikin deh…
      Trims udah mampir…

  4. Kereeeeen… saya juga berminat belajar jahit, mak. Dulu abis sma sempat terpikir klo nggak lulus ujian masuk univ mau kursus jahit aja. Tp takdir menentukan lain. Sampai sekarang masih berminat jahit, tp ya gitu deh. Supaya tersalurkan, biasanya saya main2 kain untuk bikin pernak pernik buat dipakai sendiri. Suka jugaa betulin kancing, baju dedel, atau sekadar ngecilin baju. Jahit tangan. Blm bisa bikin sesuatu yg benar2 dr kain mentahnya.

    1. Lhah samma. Saya tdnya ingin sekolah fashion tuh. Tapi yaa gitu…diarahkan ortu u kuliah. Btw…eyang saya bikin kebaya jahit tangan lhoo. Ayo semangat belajar…

  5. keren dan mantap…hebat banget…

    1. Makasih mbak Vety. Waah…cuma hobby aja koq. Hebat tuh Anna Avantie… ?

  6. Waah, Mbak Hani keren. Memang asyik ya, kalo punya baju, beda dengan yang lain. Jatuhnya juga lebih murah ya..daripada beli baju yang udah jadi.
    Duh, saya juga pengen bisa berekperimen dengan kain-kain. Ajarin dong..!

    1. hani

      Makasih Mbak udah mampir. Paling gampang sih eksperimen baju anak. Salah-salah dikit gak ketahuan… hehe… 🙂

  7. Keren Mbak. Dr dulu menjahit masih sebatas kepengen aja. Padahal mama jago jahit. Kepengen gitu bisa bikin baju buat keluarga. Tapi ya itu masih sebatas pengen wae, haha

    1. hani

      Makasih udah mampir mbak Shona. Ayo dicoba… 🙂

  8. Hobi jahit itu emang keren, Mak.. bisa jahit pakaian sendiri sesuai keinginan. Apalagi kalau ada pesenan jahitan. Selain seneng ngelakuin hobi bisa dapat uang juga..

    1. Iya bener, bisa jahit sesuai keinginan. Nah…nerima pesanan yg saya ga bisa. Takut euy…hehe…Mbak Elisa nerima pesanan jahit kah? Sip…keren…

Leave a Reply

Required fields are marked*