kesehatan, lifestyle

Masih Berharap Semua Akan Indah Pada Waktunya

 photo barber_millard19.jpg
sumber: http://1.bp.blogspot.com/

Sebuah surat untuk kalian, putra-putriku yang masih terus berjuang…

Anakku,
Maafkan Ibu menulis surat seperti ini. Kita memang jarang ngobrol.
Sejak kecil kamu juga jarang cerita-cerita.
Ingat gak, waktu kamu cerita sesuatu, ternyata kejadiannya sudah lewat dua tahun yang lalu.
Makanya ketika kamu menyatakan ingin menikah dengan gadis pilihan hatimu, ayah dan ibu cukup terkejut.
Apalagi kamu menyatakannya via skype, karena kamu masih tugas di Equador dan kalian hanya intens berkenalan melalui internet.
Walaupun demikian kami selalu mendukung apapun keputusanmu.
Demikian pula, ketika kalian memutuskan mengikuti program IVF.

Ibu masih ingat begitu kalian menikah, selang tiga bulan kemudian, kalian langsung memeriksakan diri.
Ibu tahu, kalian ingin sekali mempunyai momongan.
Ya siapa yang tidak?
Waktu itu Ibu agak heran koq buru-buru memeriksakan diri, santai aja lagi.
Kan belum enam bulan.
Biasanya pasangan memeriksakan diri bila antara enam bulan hingga satu tahun belum juga hamil.
Kami sempat tanya-tanya sih periksa ke dokter mana dan diberi terapi apa.
Dari cerita kalian, kami jadi tahu bila salah satu saluran telur Dea, istrimu, menyempit.
Harusnya ada tindakan operasi, tetapi Dea keberatan.
Takut. Lagipula saluran telur yang satu lagi sehat.
Namanya juga ingin punya anak kandung, pemeriksaan dan usaha tidak bisa hanya dipihak perempuan saja.
Itu kami sadari betul.
Oleh sebab itu kamu juga memeriksakan diri ke androlog.
Ibu tidak kebayang bagaimana teknis pemeriksaannya.
Kalian pernah cerita sih sambil guyon.
Ternyata hasilnya di luar dugaan, hasilnya OAT.

Ibu pun browsing dan membaca berbagai penjelasan tentang Oligoasthenoteratozoospermia itu.
Terus-terang Ibu sedih, tetapi kalian pasti lebih sedih lagi.
Setelah sholat Ibu memohon ampun ke Allah swt, apa salah Ibu ya, melahirkan anak yang di masa dewasanya ternyata didiagnoasa OAT.
Padahal kamu kan dulu sehat, jarang banget sakit.
Pernah sih sakit kena virus Mums, gondongan.
Katanya virus ini bisa mempengaruhi reproduksi di masa yang akan datang.
Apakah karena virus ini?

Menurut sumber yang Ibu baca penyebab OAT antara lain adalah:
– Konsumsi obat-obatan tertentu seperti steroid, tekanan darah tinggi, kanker, dll.
– Genetik.
– Gaya hidup, merokok, minum alkohol, polusi, dll.
– Varikokel, suatu kondisi dimana pembuluh darah di skrotum membesar dan melebar.
Point ke 1 dan 3, karena setahu Ibu kamu sehat, tidak merokok, apalagi minum alkohol.
Tinggal point 2 dan 4. Genetik, agak sulit menelusuri masalah genetik. Karena bila dilihat kasat mata, Bapak dan Ibu kakak beradik tidak ada yang tidak mempunyai anak.
Point 4, ternyata dari pemeriksaan androlog, kamu ada varikokel, tetapi belum disarankan untuk operasi.

Akhirnya kalian memutuskan ikut program IVF di klinik Aster.
Ternyata prosesnya panjang dan menyakitkan.
Maafkan kami seolah tidak terlalu mendukung kalian waktu itu.
Kamu belum selesai sekolahnya, jadi kesannya terburu-buru.
Alasan kalian, karena kata dokter mengejar waktu dan umur.
Konon kalau ditunda, bisa-bisa sel sperma semakin memburuk.
Dan Dea pun dikejar umur, karena usianya sudah di atas 30 tahun.
Ah, Ibu bingung harus berdoa apa?
Bukankah banyak contoh istri Nabi Zakaria usia juga sudah amat tua, tapi diizinkan Allah swt. akhirnya mempunyai putra.
Begitu juga dengan Sarah, istri Nabi Ibrahim, ketika mempunyai putra, Ishaq, usianya pun tidak muda lagi.
Bapak pun kurang mendukung. Bagaimana menafkahi anakmu nanti.
Menurut skenario kami, selesaikan sekolah, mencari nafkah, baru ikut program.
Ah, kami ini koq juga seolah kurang percaya kuasa Allah swt.
Harusnya kami husnudzon ke Allah swt, rizki bisa datang darimana saja.
Anak adalah hak prerogatif Sang Khalik, penguasa semesta alam.
Buktinya Bibi Sayur itu anaknya bisa sebelas, aman-aman saja.

Setiap langkah program kalian ceritakan ke kami.
Kenapa koq kalian harus pagi-pagi ke klinik, yang ternyata Dea harus suntik untuk mematangkan sel telur.
Tiap pagi subuh kalian berangkat ke klinik untuk disuntik agar diperoleh jumlah sel telur yang mencukupi.
Kalian jalani semua itu dengan tekun.
Kami hanya bisa berdoa dan agak sedih.
Selain itu kamu juga harus diambil sel spermanya kemudian diproses untuk diambil yang baik saja.
Terus-terang Ibu deg-degan.
Gimana kalau tidak ada yang baik?
Ya Allah, untuk jadi anak hanya perlu satu.
Kalau bisa memohon ke Allah swt, beri satu atau dua saja yang baik rasanya sudah cukup.
Inginnya sih 20 juta sel per mililiter seperti orang normal, tapi apa mau dikata Allah swt menakdirkan lain.
Kalau ada obat penambah sel, penyembuh ketidakberesan seperti itu, maulah Ibu belikan sesuai yang
dibutuhkan.

Terapi jus pun kalian jalani.
Tiap pagi suara juicer mengolah tomat, wortel, dan apel sesuai yang dianjurkan Dea siapkan untukmu.
Terapi tenaga prana pun kalian jalani, termasuk jalan pagi di sekitar kompleks.
Akhirnya dari hasil laboratorium, jumlah sel telur Dea sudah mencukupi dan tibalah saatnya dipanen.
Mendengar istilah dipanen, Ibu tidak terbayang bagaimana teknis mengambilnya.
Ibu bisa merasakan bagaimana tidak nyaman dan sakitnya.
Peristiwa periksa dalam bagi perempuan untuk masalah reproduksi selalu merupakan peristiwa tidak menyenangkan.
Berbahagialah perempuan yang tidak punya masalah dengan sistem reproduksinya.
Beberapa sel telur yang dipanen tersebut kemudian dipertemukan dengan sel sperma yang telah disiapkan melalui penyaringan.
Teknis pertemuan yang dilakukan di laboratorium inilah yang lazim dinamakan bayi tabung.
Padahal teknis menyatukannya dilakukan dipiringan atau cawan, dalam media kultur yang hasilnya embrio.
Sayang waktu itu kalian memutuskan pindah sementara ke rumah kontrakan dekat dengan klinik.
Harusnya kami lebih mendukung dan menemani kalian disaat-saat genting seperti ini.
Kalau hasil pertemuan tidak berhasil, kan dinyatakan gagal.
Sedangkan proses IVF ini tidak bisa diulang, dan biayanya tidak murah.
Alhamdulillah, berita dari kamu, sel hasil pertemuan sel telur dan sperma berhasil membentuk embryo sebanyak 4 embryo.

Disinilah masa-masa kritis, karena ke-4 embryo tersebut akan ditanam ke rahim Dea.
Ibu lagi-lagi, antara senang dan galau mendengarnya.
Empat embryo?
Senang tentu saja, bila keempatnya berhasil berkembang dengan sehat, kami mendadak memperoleh 4 cucu.
Lalu Ibu galau. Bagaimana mengurus empat cucu? Bagaimana hamil kembar empat sekaligus.
Lagi-lagi Ibu bingung berdoa apa? Akhirnya hanya memohon yang terbaik bagi kalian berdua.
Idealnya, setelah melalui proses In Vitro tersebut, Dea istirahat atau menginap semalam di klinik.
Tetapi katanya klinik penuh, sehingga kalian pulang ke rumah kontrakan.
Dea pun diberi obat untuk menguatkan rahim dan harus menunggu dua minggu, apakah proses berjalan dengan sukses atau tidak.
Bila dalam dua minggu, Dea ternyata haid, maka embryo yang ditanam gugur, dan proses gagal.
Kalian pun mohon didoakan.
Doa yang terbaik untuk kalian anak-anakku.
Ke keluarga besar pun disampaikan, mohon doanya agar proses ini sukses.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Apa mau dikata, manusia berencana, Allah swt yang menentukan.
Dea ternyata haid.
Papa-mamanya Dea khusus datang dari Cirebon untuk mendukungnya. Hatinya pasti hancur.
Proses yang tidak mudah dan mahal, serta melibatkan berbagai keahlian tidak berhasil sesuai harapan.

Ibu hanya bisa kecewa dan menangis dalam shalat.
Ya Allah, inikah yang terbaik Engkau berikan? Maafkan aku yang kurang percaya akan kuasaMu.
Kenapa hasilnya seperti ini?
Astaghfirullah hal adzim, aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.
Betapa Ibu salah mempertanyakan suratan takdir.
Ya Allah, beginilah perjuangan pasangan yang ingin mempunyai putra dan belum diizinkan.
Beginilah rasanya menghadapi harapan yang runtuh.

Lalu apa langkahmu kemudian?
Anakku, Ibu bersyukur kalian amat tabah dan tegar.
Kamu menyelesaikan sekolah dan lulus dengan baik.
Ternyata perjuanganmu ingin memperoleh putra tak surut.
Kalian cari lagi androlog dan ahli reproduksi hingga ke Jakarta.
Kalian catat berbagai klinik fertilisasi yang berhasil menjalani program IVF dengan sukses.
Kalian share kisah Surya Saputra dan Cynthia Lamusu yang berhasil menimang putra-putri kembar.
Pun kisah-kisah artis maupun pasangan lain.
Kamupun menjalani operasi varikokel di sebuah rumah sakit di Jakarta.
Sebuah operasi yang mengangkat sumbatan pada pembesaran di pembuluh darah di testikel.
Konon sumbatan tersebut ditengarai dapat mengganggu sirkulasi sperma yang baik.
Semuanya kamu jalani dengan sabar dan alhamdulillah hasilnya baik.

Anakku, Ibu pernah menanyakan, apa jadinya misalnya berbagai usaha dan upaya ternyata belum membuahkan hasil juga.
Walaupun Ibu sih tetap mendoakan, kalian bukan satu dari sepuluh pasangan yang menurut penelitian memang tidak diberi titipan oleh Allah swt.
Kamu utarakan bahwa suatu hari kalian pun masih ingin mencoba lagi program IVF dengan teknik yang lebih baik.
Anakku, apapun pilihan kalian, kami akan selalu mendukung.
Ibu selalu mendoakan agar banyak rizki untuk membiayai semua upayamu.
Ibu selalu mendoakan agar doa-doa kalian diijabah Allah swt.
Kita semua masih berharap, Allah swt maha baik akan memberikan anak kandung di saat yang tepat.
Kita semua masih berharap, bahwa semua akan indah pada waktunya.
Kami hanya bisa berdoa kalian tetap menjadi pasangan yang selalu mengasihi dan saling menguatkan sepanjang hayat dikandung badan.
Peluk cium untuk Dea.

Love,
Ibu

Note:
*nama dan tempat disamarkan
*IVF, In Vitro Fertilitation, sebuah program mempertemukan sel telur dengan sperma di dalam cawan petri yang berisi medium kultur sehingga terjadi pembuahan.

Sumber:
– http://prosesbayitabung.com/
– http://www.morulaivf.co.id/id

Ditulis untuk #GADianOnasis

 

twittergoogle_pluspinterestlinkedintumblr

22 Comments

  1. Kadang kita lupa tapi… “Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Ia menciptakan apa-apa yang Ia kehendaki. Ia memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki anak-anak perempuan dan Ia memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki anak-anak laki-laki. Atau (Ia memberikan kepada siapa yang ia kehendaki) anak-anak laki-laki dan perempuan. Dan Ia jadikan siapa yang Ia kehendaki mandul (tidak dapat mempunyai anak). Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui (dan) Maha Berkuasa[1]” [Asy-Syuura : 49-50]

    1. Terimakasih Mbak. Iya…kami msh harus belajar untuk ikhlas apapun keputusanNya…

  2. Subhanallah mb, sy membaca seksama. Sy sdh hampir 2 th menikah, dan setahun lalu baru mengalami kehamilan ektopik. Usia sy juga 31th, tp sy percaya takdir Allah memang tdk bisa dinalar secara kronologis ilmu pengetahuan. Di tahap ini kita semoga sama2 belajar ya mbak, insyaallah 🙂

    1. Terimakasih mb Prita. Iya, kita cuma manusia biasa. Hrs belajar ikhlas menerima apapun takdirNya.

  3. Subhanallah Mbak saya berkaca-kaca bacanya huhu, Ya Alloh semoga Anak dan Menantu Mbak yang baik hati ini segera dikaruniakan penyejuk hati dunia dan akhirat aamiin, seandainya orang baca tulisan ini pasti mereka akan berpikir untuk menanyakan hal sensitif ini, semangat Mbak^^

    1. Terimakasih mb Sandra. Hawong saya menulisnya jg sambil nangis. Bacanya lagi juga. Kami juga ga berani tanya2 ke siapa pun yg lama menikah dan blm punya putra…

  4. terima kasih sudah ikut serta ya mbak Hani…:)

    1. Sama-sama Mbak. Sukses ya GA nya…

  5. Insya Allah yang terbaik akan tiba pada waktunya 🙂

    1. terimakasih doanya Mbak Marita…

  6. Dan air mataku pun banjir….
    Iya pada akhirnya kita semua cuma bisa pasrah dan ikhlas atas apapun hasil perjuangan. Anak memang cuma titipan, tapi bukan berarti ga perlu kita perjuangkan kehadirannya.
    Ah aku meracau kayanya. Masih efek mata basah.
    Buat siapa pun yang dimaksud dalam tulisan Mbak Hani, semoga tetap bahagia, dan selalu berada dalam lindungan Allah swt. Aamiin

    1. Terimakasih perhatiannya mba Dian Ravi. Saling mendoakan yaa…

  7. Sabar, tetaplah berdoä, Alloh pasti sudah merencanakan sesuatu yang indah, itu yang saya pegang selama ini mbak. . .
    Semoga cepat dikasih momongan, selalu sehat buat putra putri dan mbak Hani. .
    Terharu bacanya. .

    1. Terimakasih doánya mbak R.Wahyu. Sehat selalu untuk Mbak dan keluarga…

  8. Saya baca hingga akhir dan terharu. Salut dengan perjuangan mereka. Semoga Allah karuniakan keturunan sebagai penyejuk hati dunia dan akhirat. Aamiin.

    1. Terimakasih doanya Mbak Nur Rochma. Semoga diijabah Allah swt yang Maha Segalanya. Aamiiiin…

  9. Perjuangan yang sangat gigih. Semoga lekas diberi momongan ya. Amiin.

    1. terimakasih doanya mbak Dzulkhulaifah…

  10. Membaca cerita putra Mbak Hani mengingatkan saya pada kisah iga wanita yang berjuang mendapatkan momongan yang dituangkan dalam buku Jangan Menyerah, Bunda. Dua wanita berhasil, satu lagi belum beruntung. Sungguh rumit dan panjang prosesnya, seperti yang sudah Mbak singgung di atas. Selain mahal, juga menyakitkan, sungguh salut atas perjuangan mereka. Saya jadi makin bersyukur dengan membaca kisah ini bahwa anak adalah titipan terindah yang kadang lupa disyukuri oleh orang lain. Makasih share-nya Mbak. Semoga Ananda dan Dea diberi kemudahan dan kesabaran menjalani semua proses sampai terkabulnya hadirnya di kecil dari rahim. Aaamiin.

    1. Terimakasih doanya pa Rudi. Kapan-kapan saya ingin baca juga buku Jangan Menyerah, Bunda.

  11. Tatah

    Nangis bacanya.
    Lalu bertanya.
    Lebih baik tidak punya anak, atau punya anak tapi tidak sempurna. Manusia kan tidak bisa memilih….
    #pelukciumuntuksemua
    #harus siap dg hasil akhir, apapun itu…

    1. Nulisnya juga sambil nangis. Kalau baca kembali yaa masih baper aja. Huuf…srooot (*buang ingus)…
      Makasih yaaa udah baca. Orang rumah belum ada yang tahu juga kalau aku menulis artikel ini. Hehe…

Leave a Reply

Required fields are marked*