keluarga, kesehatan, parenting

3 Hal Utama yang Perlu Diperhatikan untuk Menjaga Asupan Gizi Batita

 photo 17e9cd9c-e12d-4c41-8524-654ee38619d7.jpg

 

 

Ketika cucu saya, Bara mulai diberikan MPASI, makanan pengganti ASI, kami mengenalkan alpukat sebagai makanan padat pertamanya. Berbagai resep MPASI pun secara bertahap kami cari dari berbagai sumber dan diolah untuk Bara. Namanya juga ibu baru, Mama Bara masih takut-takut memberikan berbagai olahan MPASI tersebut, sedangkan saya juga sudah agak lupa berbagai kiat menyuapi bayi.
Bara memang terlahir dengan berat badan sedikit di bawah normal, dan perkembangan pertumbuhannya pun di grafik Kartu Menuju Sehat selalu di garis hijau muda hampir kuning.

Porsi Makan

Akibat berat badannya sulit naik, mendekati usia 8 bulan, kami pun membawanya konsultasi ke dokter spesialis anak Dr. Frecillia Regina, di sebuah RS Ibu dan Anak di jalan Riau, Bandung. Dokter muda tegas ini memberikan paparan pentingnya gizi seimbang di usia emas ini.
Sebuah ilustrasi sederhana digambarkan oleh dokter yang sangat mendukung ASI ini, sebuah lingkaran, 1/3 nya karbohidrat setara dengan 6-8 sendok makan nasi tim, 1/3 nya protein, dan 1/3 nya sayur dan kacang-kacangan.
Lingkaran tersebut ibaratnya sebuah piring, yang diberikan sebanyak 3 kali sehari.
Karbohidrat, sangat penting karena merupakan sumber energi, bisa merupakan pilihan dari nasi tim lembek, bubur havermout, ubi, kentang, atau jagung. Walah, selama sebulan ini Bara ternyata agak kurang asupan karbohidrat. Pantas berat badannya tak naik-naik.
Agar tidak bosan, bisa saja disiapkan menu sarapan yang berbeda dibanding makan siang dan malam, tetapi membuatnya praktis dan cepat saji. Misalnya berbagai variasi menu sehat, bubur havermouth gurih, French toast, Pancake plus madu, atau Pancake pisang yang ditambahkan stroberi. Mama Bara pun berburu berbagai resep Pancake sederhana, yang bisa diolah berbagai variasi dan tercukupi kandungan nutrisinya.

 

Picture Courtesy : http://www.seriouseats.com/

 

Protein, banyak pilihan dari hewani hingga nabati. Berhubung Bara bertubuh kecil, dan di Kartu Menuju Sehat, grafiknya di garis kuning, dokter menyarankan untuk dobel protein, yaitu hewani dan nabati. Daging sapi, ayam, ikan, atau telur. Telur tak bisa terlalu sering, karena Bara agak bintik-bintik pipinya bila diberi telur. Berarti Bara alergi. Sedangkan protein nabati diperoleh dari tahu, tempe, atau jamur.
Bila sebagai orang dewasa, kita harus banyak makan sayur supaya pencernaan bagus karena adanya serat, ternyata tak berlaku untuk bayi yang berat badannya harus naik tiap bulan. Menurut Dr. Frecil, bayi di Indonesia makanannya terlalu banyak serat, sehingga berat badan kurang dan terserang anemia. Disarankan menambahkan kacang-kacangan dalam dietnya, supaya ada asupan zat besi dan mencegah anemia. Darimana kami mendapatkan mineral zat besi ini? Saya pun menggiling kacang hijau atau kacang merah kering dan menambahkannya dalam nasi timnya.

Masa Tumbuh Gigi

Sesuai dengan panduan memberikan MPASI, kami membuat makanan yang lembut dan secara bertahap ditingkatkan teksturnya. Ternyata persoalan tidak semudah itu. Ada masalah baru yaitu masa tumbuh gigi. Menurut beberapa sumber, bayi mulai tumbuh gigi di usia 6 bulan dan diawali dengan gigi depan bagian bawah. Sedangkan Bara, giginya baru tumbuh di usia ke-11 bulan, langsung tumbuh 4 buah gigi, 2 depan atas dan 2 bawah. Pada kasus Bara, masa tumbuh giginya disertai dengan kondisi tubuh yang drop, demam, gusi bengkak, dan rewel.

Selama beberapa minggu Bara bisa uring-uringan, air liur berlebihan, malas mengunyah, dan menampik makan. Mama Bara tentu saja semakin cemas, seolah anaknya tidak cukup makan bila tidak menghabiskan seporsi makan pagi, siang atau malam. Sudah dapat dipastikan bahwa berat badannya bukan hanya tidak naik, tapi menurun.
Memang tidak mudah membujuk bayi untuk makan, pertama kita tidak tahu makanan yang disukai atau tidak disukainya.
Semula Mama Bara tidak memberikan perasa tambahan pada menu makanan Bara. Rasa manis dan asin diperoleh dari rasa alami makanan itu sendiri. Sehubungan adanya drama tumbuh gigi, sesekali hidangan Bara ditaburi juga sejimpit garam, supaya Bara mau membuka mulutnya dengan sukarela.

Setelah tumbuh langsung 4 gigi tersebut, selanjutnya bermunculan gigi-gigi berikutnya. Urut-urutan tumbuh gigi tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya. Bahkan pada kasus Bara, setelah 4 buah gigi, kemudian menjadi 8 buah. Selanjutnya tumbuh gigi geraham. Pada saat tumbuh gigi geraham ternyata Bara juga demam, bahkan harus dilarikan ke rumah sakit, karena step akibat kejang demam.

Masa tumbuh gigi sejak gigi pertama bisa berlangsung berbulan-bulan hingga seluruh gigi susu tumbuh sebanyak 20 gigi. Karena setiap tumbuh gigi selalu sulit mengunyah, maka menu makanan harus diatur yang mudah dikunyah dan lembut. Misalnya makanan berkuah antara lain, sup, soto, semur, dan lain-lain. Makanan yang lembut antara lain, aneka variasi pancake. Umumnya keduapuluh gigi tersebut telah lengkap di usia 3 tahun. Selanjutnya nanti di usia sekolah gigi akan tanggal digantikan dengan gigi permanen.

Jam Makan

Lebih jauh, Dr. Frecil menjelaskan, usahakan walaupun masih bayi, waktu makan paling lama 30-45 menit. Tak ada ceritanya menyuapi anak berjam-jam untuk menghabiskan sepiring nasi dan lauk-pauk. Makan yang terlalu lama dan tak selesai-selesai ternyata mengganggu enzym pencernaan. Di sisi lain bila makan terus menerus, maka bayi tidak belajar, kapan merasa lapar.

Karena khawatir dengan tumbuh kembang fisiknya yang di bawah rata-rata, kami mencoba memberikan susu selain ASI, ternyata Bara tidak suka rasanya. Apalagi dokter juga tidak mendukung diberikannya susu formula, lebih baik diberi makanan padat saja sesuai takaran dan tercukupi gizinya.
Ikhtiar mengganti asupan makan yang kurang bisa diberikan makanan selingan di antara jam-jam makan tadi. Misalnya sarapan, pukul 7 pagi, makan selingan pukul 10, dilanjutkan makan siang pukul 12. Makanan selingan berikutnya diberikan pukul 3 atau 4 sore, kemudian makan malam diberikan pukul 7 malam. Makanan selingan bisa berupa buah, atau kue-kue. Supaya tidak bingung, cara memberikan variasi makanan haruslah bertahap dan sedikit demi sedikit. Dengan demikian kita bisa mengetahui, menu mana yang disukai atau tak disukai anak.
Sampai usia 2 tahun tentu saja masih diberikan ASI walaupun tidak terlalu utama lagi. Sejalan dengan bertambahnya usia, nilai gizi dalam ASI tidak mencukupi lagi kebutuhan bayi.

Di usianya yang ke 2 tahun, Bara baru lancar berjalan, giginya sudah 14 dan masih akan bertambah lagi, dan merupakan batita yang aktiv. Secara umum memang Bara boleh dibilang tidak gemuk dibandingkan anak-anak sebayanya, tetapi dari segi tinggi badan sesuai dengan standar yang dikeluarkan WHO.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *