cuma cerita

Selayang Pandang Do and Don’t Obrolan Reuni

REUNI GLADIES (ganesha ladies)

 

Sebuah status facebook seorang teman di dunia maya, NhHer, bahwa di grup wa nya beliau ada wacana mengatur materi obrolan untuk reuni. Obrolan reuni lho ya.
Mosok iya, ngobrol bisa diatur?
Saya lalu mengingat-ingat lagi, kapan ya saya pertama kali reuni, kemudian diikuti dengan reuni-reuni berikutnya.
Seingat saya, pertama kali reuni adalah reuni 25 tahun setelah lulus SMA di Jakarta, kira-kira tahun 2001. Saya juga lupa ingat kejadiannya, kapan saya dikontak oleh teman saya untuk mewartakan bahwa akan ada reuni. Kemudian dari obrolan rencana reuni tersebutlah saya juga baru tahu bahwa ada teman sekelas SMA yang ternyata sama-sama tinggal di Bandung sejak beberapa tahun yang lalu.

Semangat reuni pertama kali setelah sekian tahun tak bertemu adalah mengetahui kabar-kabar teman-teman bukan? Waktu itu belum ada Facebook, apalagi grup WhatApps. Blackberry mungkin ya? Entah, saya tak pernah punya BB.
Menariknya dari status Oom NhHer yang saya ceritakan di atas adalah, pada saat reunian, dilarang bicara keluarga, pekerjaan, travelling, pamer kepemilikan, dsb. Jadi pada saat reuni hanya boleh cerita nostalgia sekolah, kenangan masa lalu. Tidak cerita-cerita yang lain, apalagi jualan dan kampanye.

Memang, sih, waktu tahun 2001 pertama kali reuni itu, terus terang saya lebih ingat teman sekelas kala kelas II dan III, mungin hanya 30an orang. Kebetulan sekolah mengatur kami sekelas di kelas II, ketika naik ke kelas III, sekelas lagi. Waktu itu zamannya ada istilah Pas Pal (PP), atau kependekan dari Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam. Saya kelas 2 PP7 naik ke kelas 3 PP1. Jurusan Pas Pal, sekarang bernama IPA. Teman sekelas di kelas I, saya tak terlalu ingat.

Nah, namanya juga baru bertemu, ya biasalah tanya, dulu melanjutkan kuliah atau tidak. Sekarang tinggal di mana. Bila perempuan, kerja di luar rumah atau tidak. Lanjut…berkeluarga atau tidak. Anak berapa, umur berapa.
Standar lah, pertanyaan reuni. Setelah tahu kabar, sebetulnya ya sudah saja sih.

Setelah reuni 25 tahun lulus SMA itu, tahun depannya ternyata saya ada reuni lagi. Kali ini adalah 25 tahun masuk kuliah di perguruan tinggi.
Dari 2 reuni besar yang saya hadiri itu, saya mulai menyadari, ada hal-hal yang ternyata kurang enak untuk ditanyakan. Terutama bila dulunya teman tersebut tidak terlalu akrab, alias dulu enggak tahu -sekarang lupa tea. Apalagi teman seangkatan kuliah. Dulu, teman seangkatan saya 1200 orang, kalau tak salah, hanya 10% nya perempuan. Sedangkan teman seangkatan SMA, mungkin hanya 300-400 orang.

Saya coba menyusun beberapa pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan kala pertama kali jumpa reunian, nih.

DON’T

1. Keluarga

Jangan tanyakan keluarga. Setelah 25 tahun, kita tidak tahu, teman tersebut menikah atau tidak. Kemudian punya anak atau tidak. Bila pun menikah, masih dengan pernikahan yang kita ketahui atau sudah berganti pasangan. Bisa jadi single parent, bisa juga lebih dari satu (istri).
Romantika kehidupan kuliah adalah mungkin dulu, seseorang dekat dengan A, menikahnya ternyata dengan M. Sementara teman yang tak tahu, dalam bayangannya teman tadi memang menikah dengan A, orang yang dulu jadian.
Bukan saya lho. Alhamdulillah, tak ada mantan di antara teman SMA maupun teman kuliah.

Tentang anak pun, harus hati-hati menanyakan masalah ini. Nah, celakanya, kita tidak berniat tanya-tanya anak teman, dianya yang pamer.

2. Karir

Duapuluhlima tahun setelah lulus SMA, usia kita sekitar 40 tahunan. Kalau diingat-ingat, usia segitu lagi ngejago-ngejagonya untuk beberapa orang yang diberi kemudahan dan kelancaranan berkarir. Masa ketika saya reuni pertama kali itu, baru beberapa tahun lewat krisis moneter. Ternyata ada saja teman-teman yang terkena imbas krismon tersebut. Bangkit dari krisis moneter pun perlu waktu bertahun-tahun. Sehingga di reunian SMA maupun kuliahan, ada saja selentingan teman-teman yang kena PHK atau ada masalah finansial.

Kok hanya dua ya pertanyaan terlarang menurut versi saya itu. Lagipula, itu adalah pertanyaan terlarang (bukan cinta terlarang) hanya kala pertama kali kita reunian. Setelahnya, entah kita tahu dari orang lain, entah memang keceplosan pas pamer, kita sudah lebih tahu kondisi teman. Biasanya mana teman yang nyambung atau mana teman yang dihindari, terseleksi dengan sendirinya.

Di tahun 2001 kala reuni 25 tahun lulus SMA itu, lokasi reuni di sebuah cafe yang dimiliki oleh pasangan teman seangkatan. Acaranya hiburan, games, terimakasih kepada guru, karena kami juga mengundang guru, dan silaturahim (makan). Memang kalau reuni seangkatan begitu ya sulit sebetulnya untuk mengobrol. Bila panitia melarang materi obrolan seperti wacana di grupnya Oom NhHer itu bisa saja berhasil, wong gegap-gempita, boro-boro bisa ngobrol .

Jadi, sebetulnya ngobrol reuni bisa diatur atau tidak? Bila secara masal, ramai-ramai seangkatan ya tidak bisa. Namanya mengobrol kan terbatas, hanya dua orang, paling banyak 5 orang. Lebih dari itu, namanya ceramah.
Lalu sebaiknya tanya apa ke teman? Kalau saya sih seperti ini:

DO

1. Kesehatan

Menanyakan kesehatan adalah basa-basi paling afdol. Obrolan bisa berlanjut ke segala arah, bisa kiat-kiat menjaga kesehatan, makanan yang masih diperbolehkan (biasanya makin naik umur, bertambah pula larangan). Kalau di antara ibu-ibu, bisa saja bertukar resep.
Teman sekelas kala SMA, malah pernah menjabat sebagai Direktur RS Harapan Kita. Beruntungnya punya teman dokter, kan bisa jadi rujukan tanya-tanya kesehatan, bukan?

2. Silaturahim

Inti dari reuni sebetulnya silaturahim. Konon, berkat silaturahim, kita jadi umur panjang. Mungkin logikanya, kalau silaturahim kan saling mendoakan…untuk bertemu lagi, silaturahim lagi. Ya tentu saja akan umur panjang, karena ada harapan berjumpa lagi.
Bertukar kabar kala reuni berdampak positif, terbentuknya grup WA, sehingga kita jadi tahu berita, kala teman kemalangan, kurang sehat, share lapangan pekerjaan dan lain-lain. Akhirnya jadi ajang jualan ya Oke-oke saja. Kita jadi tahu, teman mana yang punya produk apa.

3. Don’t Ask

Kalau bertemu reuni, apalagi untuk pertama kali, jangan tanya apa-apa. Biarlah jadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Kalau pembicaraan bersambut, ya bisa dilanjutkan. Bila tidak nyambung, ya beringsut minggir, cari teman lain yang obrolannya nyambung. Di antara ratusan hingga ribuan teman tadi, yang dulu waktu kita muda bisa haha-hihi, ternyata puluhan tahun kemudian bisa 180 derajat beda kok. Bisa jadi, si Z dulu ramah pisan, setelah sukses dan bisa menggalang massa, jadi lupa daratan ingat lautan. Ya tidak apa-apa juga. Kita bebas memilih teman lain yang sehati.

Setelah reuni 25 tahun, bila umur panjang akan bertemu lagi pada reuni 30 tahun, 35 tahun, 40 tahun…
Di tambah di antaranya ketemuan, buka bersama, menggalang dana, halal bihalal, kondangan ke teman yang silih berganti mantu, travelling bareng, dan banyak kegiatan lain.
Teman ya teman malah seringnya saling tolong menolong, kok. Uniknya, berkali reuni, ada saja teman tingkat I waktu kuliah, yang baru jumpa lagi setelah sekian puluh tahun. Dulu wajahnya seperti apa, saya pun lupa.

Ternyata, reuni-reuni selanjutnya malah lebih santai, orang mulai tak peduli, dulu si X pernah direktur, karena sekarang sudah pensiun dan kesehatan melorot. Obrolan reuni tanpa ada SOP mengalir begitu saja, tak membahas keluarga maupun karir.
Mau bahas keluarga bagaimana?
Ketika reuni menjelang ke 40 tahun, anak-anak sudah lulus dan beranak-pinak, jadi para pasangan back to basic. Karir yang dulu melesat, segala ada, kala pensiun, yang tinggal adalah menjaga diri agar tetap sehat. Kalau pun sebagai wiraswasta, kemungkinan sekarang sudah alih tongkat estafet ke generasi berikutnya.

Beruntungnya saya, zaman saya baru lulus, membentuk karir, membentuk keluarga, belum ada medsos, jadi dulu teman-teman tak ada yang tahu saya kerja di mana. Tak ada yang tahu, anak-anak saya sekolahnya di kompleks dekat rumah saja, bukan sekolah favorit yang membuat macet jalanan karena antrian mobil antar-jemput. Teman saya yang dulu kerja karier cemerlang pun sekarang sudah pensiun, kembali jadi full ibu rumah tangga. Sama-sama saja dengan teman yang sejak lulus full jadi ibu rumah tangga juga. Tidak ada lho, saling ejek di medsos seperti Mamah muda sekarang, membandingkan antara Working Mom dan Stay At Home Mom.

Bila dibikin grafik, sepertinya seru juga, naik-turun dan jatuh-bangunnya kehidupan kita. Tidak perlu baper pada setiap fase tadi. Kita jadi makin sadar saja sih, bahwa semua itu titipan Allah swt (pasangan, karir, kekayaan).

Jadi, teman-teman kalau reuni ngobrolin apa? Kalau saya reuni ya reunian wae lah. Terlalu diatur, garing atuh ah…

twittergoogle_pluspinteresttumblr
twittergoogle_pluspinterestyoutubetumblr

12 Comments

  1. Keren. Baru ini dengar reuni yang ngatur ruang obrolannya.

    Mungkin agak kaku sih. Tapi ada benernya juga mbak Hani. Kalau sembarang ngomong bisa ada yang kesinggung/minder. Malah nantinya bisa merenggangkan hubungan.
    Nice.
    Btw fotonya diambil pake drone ya mbak. Keren!

    1. Awal-awal memang harus menjaga bahan obrolan. Lama-lama, yawdalah, its live.
      Itu foto diambil dari lantai mezanine, rumah teman saya guedeee banget. Alhamdulillah, rumah besar bisa untuk reunian…Hehe

  2. hihihi… gitu ya? aku ada cerita juga nih soal reuni 🙂

    1. Wah…apa tuh ceritanya? Kepoin aaah…Meluncur…Btw, makasih udah mampir.

  3. wah harus dicoba kalo reunian nih karena jujur saya malas reunian,

    mungkin karena terpisah waktu, rasanya jadi asing 😀

    eniwei mbak Hani punya 2 blog ya? awalnya saya agak bingung, pas lihat wajahnya baru ngeh 🙂

    1. Awal-awal canggung, lama-lama ngangenin bila dah lama ga ketemu. Seru-seruan aja sih, makan, seringnya pot luck, bawa masing-masing.
      Saya punya beberapa blog sih. Beda niche…

  4. Emang udah beda ya mbak zaman sekolah belum apa2 zaman kini entah ada yang jadi direktur, pengusaha dsb. Kadang canggung juga sih. Alhamdulillah ada grup wa reunian yang isinya msh ngocok ala ala abege zaman saya dulu.

    1. Iya, nanti juga ketemu kok grup ya cocok. Masih seru-seruan dan kegiatan positif lainnya. Makasih ya sudah mampir…

  5. Eh iyaaa… kaku bangets ya kalo obrolan aja harus dibatasin gitu 😅

    1. Lhah ya itu. Kalau saya sih, kalau ngobrolnya engga nyambung, atau risih dengerin yang pamer…hehe…ya melipir aja menjauh, cari teman lain. Ketemu kok yang sehati…

  6. Saya pun termasuk yang ikut komentar di status om NHer itu, Mbak. Kalau saya lihat seperti apa reuni dan pertemanannya. Beberapa kali reuni sih gak pernah ada aturan apapun. Bicara apapun juga mengalir aja. Alhamdulillah masih pada seru ngobrolnya 🙂

    1. Alhamdulillah kalau ketemu teman yang seru. Dari sekian banyak teman, pasti ada yang sok eksis, yang mbanyol, yang cuek aja dibecandain, yang enggak pernah muncul walaupun kita kontak. Yang selalu jualan juga ada. Dan kita para Emak ya beli aja tuh dagangannya…hehe…Makasih udah mampir…

Leave a Reply

Required fields are marked*