cuma cerita

Terbaik Kemarin, Sekarang, dan Akan Datang

Sebagai mahluk Tuhan, sebetulnya kita tuh sudah yang terbaik lho. Menurut pelajaran biologi dari jutaan sel sperma ayah, hanya satu saja yang berhasil membuahi sel telur ibu. Jadilah kita seperti ini.
Bayangkan, kita, kamu, iya kamu, saya, jadi seseorang seperti sekarang ini, sudah perjuangan, mengalahkan jutaan calon manusia lainnya.
Apakah kita sudah menjadi yang terbaik? Apakah kita sudah berusaha menjadi yang terbaik?

Terbaik atau belum terbaik, siapakah yang menilai?
Lingkunganlah yang menilai.
Dalam perjalanan hidup seorang anak, sejak bayi hingga dewasa, orangtuanya akan tahu, anaknya tumbuhkembang dengan baik, kan dari perbandingannya dengan anak-anak lain.
Semula seorang anak baik-baik saja di rumah, bagi orangtuanya anak tersebut anak yang pandai. Begitu dia bersosialisasi dengan anak lain, maka orangtua menyadari, anaknya lebih baik atau tidak cukup baik dibanding anak-anak lain. Mulailah orangtua panik, anaknya tak sepandai anak lain, tak secantik anak lain, tak se shaleh anak lain, tak masuk sekolah favorit seperti anak lain, dan seterusnya.

Setiap perioda dan lingkungan di mana kita berada ternyata mempunyai standar yang berbeda. Contohnya yang terjadi ketika saya masih kelas 4 SD. Ayah saya dipindahtugaskan ke negara lain, dan memboyong kami sekeluarga. Otomatis saya pindah sekolah kan. Di sekolah baru, saya memperkenalkan diri, kemudian ternyata saya diberi semacam soal matematika di papan tulis, dan harus mengerjakannya. Ea, ternyata bu Guru ngetes saya. Usaha terbaik yang saya lalukan, dan hasilnya tidak malu-maluin. Begitu pula, ketika kami pulang ke Indonesia, saya harus menyesuaikan lagi di sekolah baru, dan berusaha terbaik lagi. Belum berhasil awalnya, karena rapor saya merah semua.

Bisa juga sih, di kemudian hari saya mengejar ketinggalan, dan lulus SMP nomor urut ke tiga dari seluruh siswa di sekolah tersebut. Aman-aman saja ketika SMA, ternyata tidak ketika masuk ke perguruan tinggi. Ketika saya merasa pandai dari SMA favorit di Jakarta, ternyata kalah bersaing dengan teman-teman terbaik dari seluruh Indonesia. Jadilah saya mahasiswa biasa-biasa saja, nyaris DO dan baru lulus 6 tahun kemudian.

Berulang, dan berulang lagi.
Ketika saya sudah merasa menjadi terbaik, kemudian saya bimbang, benarkah saya sudah berusaha sebaik mungkin? Terbaik kemarin, belum tentu terbaik sekarang. Terbaik sekarang, entah esok, entah di masa yang akan datang.

Begitu pula, ketika saya menjadi istri, kemudian menjadi ibu.
Zaman anak-anak saya kecil, saya tidak mengikutkan mereka ke les-les pelajaran tambahan. Selain sekolah, saya memanggilkan guru mengaji di rumah, les bahasa Inggris, les bela diri, dan musik. Setelah mereka lulus sekolah, menikah, dan bekerja, saya pun flash back, sudahkah saya menjadi ibu terbaik untuk anak-anak saya? Kembali lagi kumat penyakit Emak-emak, membandingkan dengan anak orang, ya iyalah anak orang, mosok anak kucing. Maksud saya, kenapa anak teman-teman saya, bisa berhasil kerja di perusahaan nganu, gaji sekian digit, dulu sekolah di mana sih?

Pernah nih, pada suatu hari, saya ditelpon oleh sahabat saya, tanya-tanya anak saya yang kecil sekarang kerja di mana. Waktu itu, anak saya baru lulus sarjana, cumlaude lho, kerja di Jakarta, dan sedang mencari kos-kosan. Selidik punya selidik hasil kekepoan dia, maka tahulah dia gaji anak saya sebagai freshgraduate. Celaka 21, kalau 13 kan sudah sering, dia lalu membandingkan dengan gaji anaknya yang ternyata dalam dollar. Pokoknya sekian ribu dollar lah, dan merendahkan gaji anak saya tersebut.
Saya sampai nangis ngguguk dalam shalat, mengadu ke Allah swt. Mengadu ke suami tidak berani, bisa-bisa dia mengamuk karena tersinggung. Apalagi mengadu ke Facebook seperti Emak-emak kekinian, tidaklah saya lakukan, Facebook belum usum soalnya. Kenapa saya menangis? Ya iyalah, wong anak saya tidak apa-apa dengan gaji segitu, malah sudah sms ke saya, tidak perlu mengirim uang saku lagi.

Apa yang salah coba, saya sebagai Ibu?
Kurang berusaha terbaik atau bagaimana? Anak orang lain gajinya dalam dollar, atau puluhan juta, sedangkan anak saya 7 digit sudah Alhamdulillah.
Ada sih langkah jitu supaya tak perlu tahu, anak-anak teman sudah sukses atau biasa-biasa saja. Tak tanya-tanya anak teman, tak membahas anak ketika reuni, atau kalau perlu tak hadir pas reunian.
Lebay deng. Masih lah saya datang ke reunian kok. Kiat saya sih, saya jadi pendengar terbaik saja dari kisah teman-teman kala reunian.

Bila tidak membandingkan anak-anak kita dengan anak lain, dijamin di mata kita, anak-anak kita adalah anak-anak terbaik yang dititipkan Allah swt. Dan kita sudah berusaha menjadi Ibu terbaik bagi mereka. Tentunya bila anak-anak pun respek ke ibu mereka. Kalau anak-anak ketularan membandingkan ibu mereka dengan ibu lain, yang pintar masak, pintar cari duit, pun juga cantik dan modis. Alamak, kita jadi masuk lingkaran setan.

Nah kan, apa juga kata saya. Kriteria usaha terbaik itu dari sudut pandang masing-masing, kok.
Saya sudah berusaha menjadi ibu terbaik bagi anak saya, berusaha menjadi istri terbaik, tetangga baik (enggak bisa terbaik juga deng, saya jarang main ke tetangga). Anak-anak, saya yakin sudah berusaha terbaik menjadi anak-anak yang patuh, berusaha shaleh dan shalehah. Tentang finansial yang masih jatuh bangun, ya samalah, saya dulu juga jatuh bangun, kok.
Apakah dulu saya sudah jadi anak terbaik, bagi orangtua saya. Semoga sih. Keduanya sudah almarhum, saya cuma bisa mendoakan, dan tetap menjaga diri sih, kan binti ayah terbawa oleh saya. Malu atuh ah, bila nama saya, XXX binti YYY berbuat kriminal. Ayah saya pasti sedih di langit sana.

Atau jadi dosen terbaik? Enggak juga. Sekarang sulit banget tuh jadi dosen. Di salah satu kampus, ada yang namanya EDOM, evaluasi dosen oleh mahasiswa. Nah, tuh, mahasiswa yang menilai dosennya. Kan jadi relatif banget. Bisa-bisa dosen terbaik adalah yang nilainya murah, sedangkan dosen killer, EDOM-nya rendah.
Lhoh, jadi melebar kemana-mana.

Sudah ah, ini kan gara-gara tema 1minggu1cerita, Usaha Terbaik.
Saya juga sudah berusaha menulis terbaik, nih, minggu ini.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

2 thoughts on “Terbaik Kemarin, Sekarang, dan Akan Datang

  1. hehehe… ya… begitulah manusia ya.
    pinginnya selalu jadi yang terbaik dan pasti ada saja alasan bagi kita merasa kurang.
    kupikir itu wajar saja dan malah bagus ya supaya ga sombong dan selalu bersandar pada-Nya 🙂

    1. Betul Mbak Farida. Harus selalu rendah hati, walaupun sudah merasa terbaik. Karena ada lagi di luar sana, yang lebih baik dari kita. Makasih sudah mampir…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *