lifestyle, writing

Recehan Penghasilan Penulis yang Dipajak

Heboh penulis terkenal yang ribut tentang pajak membuat saya menyimak membaca tentang sang Penulis, penghasilannya dari menulis dan tentu saja pajaknya. Saya sendiri belum pernah membaca buku sang Penulis yang merasa diberlakukan tidak adil itu. Data yang saya peroleh dari toko buku online buku novelnya berkisar 60 ribuan.
Berbeda dengannya yang seorang penulis novel, saya hanya penulis non fiksi yang baru mulai menulis menjelang 4 tahun terakhir. Buku saya masih terhitung jari, kok. Menulis lembar demi lembar hingga setara 140an halaman A4 saja, bagi saya sudah empot-empotan. Bahwa akhirnya buku saya terbit bagi saya sudah luar biasa, karena tidak ada bayangan sebelumnya bahwa saya bisa menulis buku dan diterbitkan.

Ketika buku solo pertama saya terbit, saya mendapatkan salinan kontrak dari penerbit G dan penjelasan, jikalau buku saya laku sekian, maka saya akan mendapatkan royalti sekian. Sudah umum hampir di semua penerbit, royalti bagi penulis adalah 10% dari harga buku. Pada awalnya saya akan mendapatkan DP sebesar 25% dari nilai royalti dari seluruh buku yang dicetak. Di atas kontrak, tertera bahwa buku saya tersebut akan dicetak sebanyak 2500 eksemplar. Nah, persoalannya adalah, akankah buku saya laku 2500-2500nya? Karena bila buku saya kurang laku, ya royalti saya berhenti di DP yang 25% itu.

Promosi Penulis

Namanya juga penulis baru, belum menyadari bahwa penulis harus juga promosi. Beberapa kali promosi melalui bedah buku, di toko buku penerbit major dan radio, tidak sertamerta mendongkrak penjualan buku. Promosi di antara teman-teman alumni, berhasil menjual sekira 50an buku saja.
Buku yang saya pantau di toko buku besar maupun toko buku diskon, yang tertera di layar komputer hanya 10 hingga 20 eksemplar. Itupun buku hanya bertengger di rak depan bagian buku baru selama sebulan, lalu mundur ke rak sesuai genre. Di deretan rak sesuai genre, awalnya di ambal atas, sebulan kemudian turun ke ambal bawah. Saya perhatikan buku hanya ada di toko buku paling lama 6 bulan.

Ketika saya mendapat kesempatan dari seorang teman untuk bedah buku di sebuah toko buku besar, ternyata buku saya tersebut sudah sulit diperoleh. Bukan, bukan karena buku saya laris lalu habis terjual, menurut karyawan toko, buku saya tersebut sudah ditarik dan kembali ke gudang. Mungkin karena buku saya kurang laku. Pun ketika akhirnya saya berhasil mengadakan bedah buku, antusias pengunjung yang hadir di acara bedah buku saya tersebut hanya menghasilkan penjualan 1 buku. Iya satu buku saja.

Mempunyai buku yang diterbitkan oleh penerbit besar yang juga mempunyai jaringan toko buku ternyata bukan jaminan buku saya mudah terjual. Apalagi penerbit yang belum mempunyai jaringan toko buku. Hal ini pula yang saya alami dengan salah satu buku yang diterbitkan oleh penerbit A di Yogyakarta. Menurut apa yang tertera dalam kontrak, royalti baru dibayarkan setiap buku laku, jadi tidak ada DP-DP-an. Sehubungan selama ini cara saya menerbitkan buku adalah melalui agensi, maka ada prosentase yang bagi hasil dengan agensi sesuai kesepakatan.

Recehan Penghasilan yang Dipajak

Pajak bagi saya selalu membingungkan. Rasanya bagi seluruh warga dunia dimana pajak mulai diberlakukan, tidak semua bisa menjelaskan dengan akurat ketentuan tentang pajak. Saya bukannya menentang pajak, sih. Karena penghasilan saya justru dari pajak yang dibayarkan oleh warga Indonesia dari segala bidang. Melampaui 30 tahun sebagai ASN darimana lagi gaji saya kalau bukan dari pajak saudara sebangsa saya, bukan?

Empat tahun berkiprah sebagai penulis, buku saya diterbitkan oleh 3 penerbit yang mempunyai pelaporan penjualan buku yang berbeda-beda. Ada penerbit yang rutin melaporkan hasil penjualan buku per 6 bulan, ada yang pelaporannya per tahun. Setiap pelaporan penjualan buku biasanya disertai pula dengan bukti pelaporan pajak yang telah dibayarkan. Sesuai dengan ketentuan pula, bahwa penulis yang mempunyai NPWP akan kena potongan pajak sebesar 15%, sedangkan yang tidak mempunyai NPWP akan kena potongan pajak 30%.
Baru-baru ini saya menerima pelaporan pajak dari 2 penerbit, yang ketika lembar perhitungan nilai royaltinya saya perlihatkan ke suami, dia tertawa geli. Ya hitung saja, bila harga bukunya sekira 36 ribu dan 42 ribu, maka royaltinya sekira 3 hingga 4 ribuan per buku. Tinggal dikali jumlah buku yang laku dan dipotong pajak. Nilainya saya tidak terlalu ingat, karena tidak untuk diingat-ingat juga.

 

Akhirnya saya dan suami sempat membahas pula tentang seorang penulis yang mempermasalahkan pajak yang menurutnya tidak adil.
Menurut penulis tersebut, penulis dengan penghasilan Rp 1 miliar (belum dikurangi penghasilan tidak kena pajak/ PTKP), harus membayar pajak dengan besaran hampir seperempat penghasilan tersebut. Total pajaknya adalah 245 juta. Rincian perhitungannya, penghasilan Rp 1 miliar karena tanpa perhitungan NPPN, lalu dikalikan dengan pajak penghasilan progresif, yaitu 5% untuk Rp 50 juta pertama, 15% untuk Rp 50-250 juga berikutnya, lalu 25% untuk Rp 250-500 juta berikutnya, dan 30% untuk Rp 500-1 miliyar berikutnya.

Dari sini saya baru tahu bahwa ada ya, penulis yang penghasilannya, dalam hal ini maksudnya mungkin royalty, ratusan juta hingga milyaran. Lhah, kalau royalty saja ratusan juta, itu kan sepersepuluh dari nilai penjualan buku. Saya baru tahu juga bahwa ada pajak progresif bagi penghasilan. Saya tahunya pajak progresif berlaku bila memiliki kendaraan lebih dari satu. Banyak yah, yang tidak saya ketahui tentang pajak penghasilan.
Mendadak saya puyeng, puluhan tahun bekerja dan bergaji bulanan, belum pernah juga ratusan juta bulat-bulat tercetak dalam transferan buku rekening saya.

Apalah saya ini yang royalty per 6 bulannya, 150 ribu, sudah potong pajak. Kok ya saya tidak ngambek lalu warta-warta tidak akan menerbitkan buku lagi melalui penerbit. Penulis recehan macam saya ini menemukan ghirah tak terkira dari menulis buku. Bahwa rizki saya boleh dibilang mungkin recehan, itulah yang Allah swt kirimkan ke saya. Ya disyukuri saja. Alhamdulillah…

Sumber:
https://kumparan.com/wisnu-prasetyo/penerbit-tere-liye-penulis-best-seller-wajar-pajaknya-besar

twittergoogle_pluspinteresttumblr
twittergoogle_pluspinterestyoutubetumblr

12 Comments

  1. Ya ampun, saya juga belum pernah baca novel beliau sih Mba, heheu tapi suami saya selalu bilang kalau kita harus dikejar duit, jangan jadi pengejar receh 🙂 karena itu doa. semangat berkarya Mba^^

    1. Wah quotenya keren. Jangan jadi pengejar receh…
      Terimakasih penyemangatnya Mbak Sandra. Iyalah…masih tetap menulis buku. Minimal penulis blog kan… 😀

  2. saya salah satu penggemar novel beliau, wajar mba kalau sampai segitu royalty nya karena memang buku-bukunya bagus dan cocok untuk remaja sampai orang tua. penikmat fiksi pasti suka. Sedih juga tapi baca curhatan beliau sampai berhenti nerbitin buku hanya karena merasa dizdalimi pajak negara kita. Semgoa cepat ketemu titik tengahnya. Mba penulis juga kah? buku apa? ayo tetap semangat berkarya mba 😀

    1. Kapan-kapan saya harus baca juga bukunya beliau. Mudah-mudahan masih bisa mendapatkan di toko buku. Jangan-jangan diborong seseorang lalu dijual mahal…Weh…
      Saya baru kok menulis bukunya. Buku-buku saya non fiksi…

  3. aduh apalagi saya, lebih receh dari recehan

    karena buku baru ikutan yang antologinya Jokowi, Ahok dan fiksi

    sesudah itu? ya nulis aja da seneng 🙂

    1. Haha iya mbak Maria. Kita mah apalah…No baper kan yah. Yuuuk semangat menulis. Da memang seneng. Minimal menulis blog kan yaa. Apalagi 1minggu1cerita… 😀

  4. saya pecinta novel karnyana bu terlepas dengan sisi kontroversialnya saya sgt suka hampir karyanya saya sudah baca. semoga ibu terus menelurkan buku y aku jg pgn bu nelurin buku tp blm pede hehehe

  5. Wah…hebat Teh, sudah membaca hampir semua novel beliau. Mudah-mudahan suatu saat menulis buku juga Teh. Semangat menulis… 😀

  6. Miris ya baca ceritanya 🙁

    1. Mudah-mudah ada solusi ya. Makasih Mbak Farida sudah mampir…

  7. Saya termasuk pembaca buku2 beliau. Semoga aksi beliau bisa mendapat solusi yang bijak juga bagi yg lain dari bbrp pihak yg berkompeten.

    1. Iya Mak Abby. Dan semoga beliau tetap menulis. Salam. Makasih sudah mampir…

Leave a Reply

Required fields are marked*