cuma cerita

Ketika Dosen Dicuekin Mahasiswa

dosen-mahasiswa photo dosen mahasiswa.jpg

Pada suatu saat, tak sengaja saya membaca status FB seseorang. Beliau menceritakan keluhan suaminya, seorang dosen yang dicuekin (mantan) mahasiswa(nya). Dalam status dikisahkan bahwa sang Dosen tersebut sudah lama mengajar dan hafal semua mahasiswanya. Kalau saya tak salah ingat, sebetulnya mahasiswa tersebut sudah lulus, jadi sang Dosen tadinya menyebut mantan mahasiswa. Kemudian diralat sendiri, baginya tak ada mantan mahasiswa, si Mahasiswa walaupun sudah lulus, tetap dianggap mahasiswa(nya).

Seperti biasa, bagi warganet yang ber-FB-an, status akan berkembang dengan komen-komen teman-teman penyetatus. Kesimpulan waktu itu adalah, anak-anak zaman sekarang cuek, dan tidak hormat kepada dosennya. Satu generasi lalu dianggap tidak sopan.
Saya sih silent reader saja. Pertama saya hanya teman FB dari penyetatus, tidak kenal secara langsung. Siapa penyetatusnya pun saya sudah lupa. Kedua, saya dosen sejak tahun 1986, status tadi menjadi introspeksi ke diri sendiri, pernah tidak saya dicuekin mahasiswa?
Benarkah mahasiswa sekarang cuek dan tidak hormat ke dosennya?

Antara Nama dan Wajah Mahasiswa

Menariknya, menurut bapak Dosen di atas adalah, beliau hafal semua mahasiswanya. Tigapuluh tahun mengajar, saya kok tidak hafal satu-satu ya mahasiswa saya. Apalagi saya tidak mengajar di satu kampus. Semester ini saya terlibat di 4 kampus. Mengajar tetap di program studi Teknik Arsitektur, Universitas Winaya Mukti (Unwim) di Bandung, menyeberang sedikit, saya pembimbing matakuliah Seminar di kampus lain. Agak ke Utara sedikit, saya diminta membimbing Tugas Akhir 2 orang mahasiswa, di kampus lain lagi. Tiap Rabu, saya ke Selatan, mengajar 2 kelas program studi Interior di kampus yang sama dengan suami.

Dilihat jumlah mahasiswa saya berinteraksi, coba saya ingat-ingat, berapa jumlah mereka. Di Unwim, mahasiswanya tidak banyak, saya masih bisa hafal wajahnya. Sedangkan sebagai pembimbing Seminar, ada 2 kelompok, masing-masing 4 mahasiswa, jadi semua 8 mahasiswa. Paling banyak di prodi Interior, sekelas 45 orang, ditambah kelas studio 25 orang. Total 60 orang.
Jumlah-jumlah seluruh mahasiswa yang akan berinteraksi dengan saya selama semester ini mungkin tak sampai 80 orang. Menurut penelitian sih, saya pernah baca tentang psikologi, seseorang hanya bisa hafal tak sampai 70 wajah dan nama. Saya belum selidiki betul sih, bapak Dosen seperti di awal cerita, beliau mengajar berapa kelas dan berapa mahasiswa?

Dari semester ke semester, tahun ke tahun, mahasiswa silih berganti. Antara nama yang mirip, wajah yang mirip, berkelebatan dalam ingatan saya. Jujur saya mungkin hanya ingat di semester yang sedang berjalan. Semester depan, ketika mereka sudah lulus atau tidak ikut matakuliah saya, saya akan lupa mereka. Saya tidak terlalu mudah hafal nama, apalagi nama anak-anak sekarang mirip satu sama lain dan panjang-panjang. Minimal komposisi dari dua nama.
Wajah saya bisa agak ingat, bukan hafal. Paling saya ingat, wajah si A ini, dulu pernah ikut matakuliah Pengantar Metoda Penelitian. Atau di kampus B, si Z, rasanya pernah jadi kontak person di kelas Kota dan Permukiman.
Saya memang membiasakan ada kontak person dari tiap kelas, entah melalui WhatsApp atau LINE, untuk memudahkan komunikasi dengan mereka. Biasanya pun mereka membuat grup kelas di antara mereka.

Senyum

Lebih dari 30 tahun mengajar di beberapa kampus, membuat saya sering berjumpa dengan aneka mahasiswa di kampus-kampus. Entah mereka dari prodi yang sama, dari prodi lain, pernah ikut matakuliah saya, atau bukan. Saya sering berpapasan dengan mereka bila pindah dari satu gedung ke gedung lain. Atau dalam satu lift. Ada sih kampus yang membedakan lift untuk mahasiswa dan lift untuk dosen. Tetapi itu hanya bagi dosen yang mempunyai kartu akses ke lift dosen. Dosen tidak tetap seperti saya ya tidak punya kartu deh.

Saya, sih, biasa saja bila berpapasan dengan mahasiswa, seperti halnya berpapasan dengan orang lain di Mall atau di Pasar Baru. Ya saya lihat-lihat dulu, bila mahasiswa tersebut sibuk ngobrol dengan teman-teman ya saya woles saja. Tapi sering juga kok saya tersenyum dan mengangguk, walaupun saya tidak tahu mereka mahasiswa mana. Mereka juga tersenyum dan mengangguk hormat kok.

Malah menurut saya, mereka itu lucu-lucu, tiba-tiba mereka salim (salam menurut Muslim, cium tangan). Begitu satu mahasiswa salim, maka teman-temannya salim semua. Mereka jadi seperti anak-anak saya, bila akan pamit kemana gitu. Padahal, maaf ya, saya lupa, kalian itu dulu ikut kelas saya yang mana?

Mantan atau Bukan?

Satu hal yang saya cermati dari status FB di atas, adalah tentang sebutan mantan mahasiswa atau bukan? Mantan atau bukan sih, mahasiswa yang dulu pernah ikut kelas saya?
Menurut bapak Dosen yang baper tersebut, baginya mahasiswa tidak ada mantan. Mahasiswa yang pernah ikut kelasnya tetap disebut mahasiswa(nya) walaupun sudah lulus.

Salah seorang mahasiswa saya kira-kira di tahun 90an, sekarang sudah Doktor, pernah menjadi Ketua Program Studi di sebuah kampus, di mana saya juga menjadi dosen tidak tetap di sana. Di kampus, saya memanggil dengan menambahkan Pak di depan namanya. Secara akademis dia melebihi saya. Apakah dia hormat ke saya?
Saya sebetulnya tidak terlalu risau seseorang hormat ke saya atau tidak. Hormat atau respek sebetulnya bukan saya yang meminta. Hormat atau respek akan datang dengan sendirinya bila saya juga hormat atau respek ke orang lain.

Saking sudah puluhan tahun dan mengajar di beberapa kampus, saya memang tidak pernah menyebut si B, si N, atau siapapun dengan sebutan mantan mahasiswa, pun tidak dengan mahasiswa, bila dia memang sudah lulus. Ya sebut namanya saja, kalau ingat. Atau, si X, dia dulu pernah ikut matakuliah Perancangan.
Bagi saya, sebutan mantan, seperti seseorang yang benar-benar dekat kemudian tidak pernah kontak lagi. Seseorang dari masa lalu. Mungkin benar sih istilahnya mantan mahasiswa…
Bagaimana dengan menambahkan ex, misalnya ex mahasiswa.
Tuh, jadi bingung sendiri. Soalnya bagi saya, bila si mahasiswa sudah lulus, ya bukan mahasiswa lagi bukan?

Intinya sih, Alhamdulillah, selama ini saya belum pernah dicuekin mahasiswa atau ex mahasiswa, bila suatu saat berjumpa lagi di kampus atau di luar kampus. Kalaupun dicuekin ya tidak apa-apa, mungkin saya juga pernah melakukan hal yang sama, karena tidak hafal semua wajah yang pernah berinteraksi dengan saya sebelumnya. Menurut saya secara keseluruhan mereka masih sopan. Lagipula saya tidak bisa menilai kesopanan satu generasi hanya dari perilaku mereka senyum ke saya atau tidak, bukan?

Teman-teman bloger bagaimana? Kalau dicuekin orang, baper enggak?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *