keluarga, parenting

5 Alasan Kakek-Nenek Mau Dititipi Cucu

 

Postingan terakhir saya adalah tentang Teman yang merupakan tema 1minggu 1cerita yang membuat saya harus ngeblog setiap minggu. Kisah minggu lalu itu tentang teman-teman saya yang berbeda generasi dengan saya. Beruntungnya punya teman beda generasi, saya jadi keidean menulis artikel kekinian. Seperti halnya postingan hari ini. Ini gara-gara postingannya Irly tentang menitipkan anak ke kakek-nenek. Ternyata artikelnya Irly juga menanggapi artikelnya April Hamsa tentang pilihan menitipkan anak ke kakek-neneknya, Yay or Nay.

Ketika anak-anak menikah, begitu pula dengan anak-anak teman-teman saya menikah, maka obrolan beralih ke sudah punya cucu atau belum. Dan apa yang kami lakukan, sebagai Emak-emak kece yang lupa umur, bila ternyata punya cucu. Macam-macam komentar teman saya tentang menghadapi cucu di kemudian hari. Tadinya saya pikir, teman yang mau dititipi cucu, adalah anak dari anak perempuan. Ternyata saya salah, ada juga teman yang ketitipan cucu dari anak laki. Sudah banyak cerita kan mother-daughter in law relationship yang gampang susah itu.

Saya sendiri ibu bekerja, beranak dua, yang ketika anak-anak kecil tidak menitipkan anak-anak ke kakek-neneknya. Pertama, orangtua saya di Jakarta, sedangkan saya di Bandung. Kedua, walaupun mertua juga tinggal di Bandung, sejak awal ibu mertua keberatan dititipi cucu karena merasa sudah tua. Ya sudah, saya tahu diri. Beruntungnya zaman itu, ART lebih mudah diperoleh daripada zaman sekarang. Mentang-mentang anak dua, ART pun dua. Satu tugasnya memasak, satu lagi mengasuh balita bergantian.

Nah, kenapa juga setelah anak saya punya anak, saya mau dititipi cucu?

1. Prasyarat dan Sepakat

Teman saya ada yang sering menyatakan bahwa dia akan ini-itu bila dititipi cucu. Misalnya, dia mau dititipi cucu, asalkan dibekali kartu kredit unlimited, dan cucunya juga disertai dengan baby sitter dan supir.
Wah, kasihan juga anak-menantunya bila ada prasyarat seperti itu. Hari gini tidak gampang punya penghasilan yang kartu kreditnya unlimited. Apalagi baby sitter. Jangan-jangan seluruh gaji lewat untuk membayar baby sitter. Jangan-jangan karena adanya prasyarat ini-itu dari orangtua membuat anak-anak lebih memilih tidak mempunyai anak saja.

Jangan salah sangka, saya tidak mengeluarkan syarat apa-apa lho, bila dititipi cucu. Asalkan…
Lho kok ada asalkannya? Ya, asalkan janjian terlebih dahulu.
Bageurnya anak saya itu, ya iyalah saya ibunya ya memuji anak saya.
Bila akan menitipkan anaknya, tanya dulu, saya hari apa mau kemana, sibuk atau tidak. Karena saya masih bekerja di luar rumah, tentunya urusan titip-menitip harus dibicarakan dengan benar.
Ketika cucu saya masih bayi, saya masih bisa mengatur waktu dan gantian dengan ayah si bayi, karena kami tidak mempunyai ART. Tetapi, ketika cucu saya mulai jalan dan keluyuran, tenaga saya tidak cukup memadai untuk mendampinginya sepanjang hari. Akhirnya hari-hari tertentu si Kecil, kami titipkan di daycare, dan saya yang kebagian antar-jemput.

Bila saya akan keluar kota atau mau reunian atau hangout bersama teman-teman saya sampaikan juga ke putri saya. Sehingga dia bahu membahu dengan suaminya mengasuh putra mereka. Untungnya menantu saya, ayah kekinian, yang tidak canggung memandikan dan menyuapi si Kecil.
Problem solved…

2. Sayang

Kedua anak saya menikah dalam jarak yang berdekatan. Seperti hampir semua orangtua yang telah menikahkan putra-putrinya, harapannya adalah menimang cucu bukan? Saya pikir, wajar-wajar saja. Bila saling curhat dengan sesama teman, ternyata anak-anak mereka ada yang menunda mempunyai anak. Sehingga harapan segera menimang cucu tertunda. Beberapa ada yang tinggal bersama pasangan di luarnegeri berbiaya tinggi, bahkan memang berencana tidak mempunyai anak. Kalau begini, sepertinya pupus harapan menimang cucu.
Oleh sebab itu, ketika putri saya hamil dan melahirkan seorang putra, yang muncul pada saya dan suami adalah perasaan sayang. Perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sepertinya saya dan suami sebagai manusia, naik peringkat.

3. Pola Asuh

Pola asuh saya ke anak-anak saya berbeda dengan pola asuh anak saya ke anaknya. Dulu panduan saya hanya majalah Ayah-Bunda dan apa kata Mama saya. Sekarang, saya harus bersaing dengan Google yang tahu segala. Awalnya agak kesal, karena anak saya lebih percaya ke Google daripada ke saya, ibunya. Apa mau dikata, mau tidak mau saya harus ikut juga berselancar ke dunia maya supaya bisa saling mengisi dengan anak saya. Seringkali malah kami saling berkirim link untuk menambah perbendaharaan pengetahuan tumbuh-kembang si Kecil. Zamannya sudah berbeda. Pengetahuan baru tentang pola asuh anak juga berkembang. Mau tidak mau saya belajar lagi tentang tumbuh-kembang anak.

4. Sabar

Bedanya kakek-nenek dengan ayah-ibu cucu saya adalah, kadang-kadang kakek-nenek lebih sabar. Kadang-kadang sih.
Seringkali karena lelah bekerja, ayah-ibu kan suka kehilangan akal, anak yang tantrum mau diapakan. Tiba-tiba muncul kakek atau nenek dengan kondisi pikiran fresh dan hati yang lapang akan mengambil alih cucu yang rewel. Biasanya bocil ini juga mengerti bahwa ada kakek-nenek yang tidak dalam keadaan mumet, terus bocil ini tenang dan anteng.

Pada waktu cucu saya masih bayi banget, sebagai ibu baru, anak saya panikan, dan bingung harus berbuat apa. Dengan adanya nenek, biasanya lebih bertangan dingin dan mengambil alih sementara. Ternyata beda cerita dengan teman saya yang baru mempunyai cucu. Setiap kali teman saya mengambil alih cucunya yang rewel berjam-jam dan berhasil ditenangkan. Tidak disertai dengan kelegaan dari putrinya. Putrinya malah merasa gagal sebagai ibu, karena menganggap ibunya turut campur menenangkan anaknya. Padahal, karena teman saya tidak tahan dengar suara tangisan yang tidak berhenti-henti.

5. Hangat

Serunya ada cucu di rumah itu, rumah jadi hangat. Memang sih, rumah berantakan, mainan dimana-mana. Kami harus bermata elang mengawasi cucu geratak apa-apa yang di atas meja. Ada sesuatu dalam hidup yang tidak membosankan dan membuat semangat. Misalnya jalan-jalan ke mall atau toko buku, menyempatkan mampir ke bagian mainan anak atau buku anak. Kira-kira cucu saya di milestone tumbuh-kembangnya harus bisa apa. Lalu saya sebagai neneknya, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu tumbuh-kembangnya. Kalau ke pasar atau ke supermarket, adalah selalu buah tangan untuk cucu saya. Bayangkan, bila tidak ada cucu, saya berdua suami, paling-paling ngobrolin kampus, dosen, atau mahasiswa yang berulah.
Walaupun ada yang setuju ataupun tak setuju tentang anak-anak yang dititipkan ke kakek-neneknya, saya pikir semua bisa didiskusikan dengan baik-baik, sehingga tidak ada yang merasa diabaikan.

Itulah 5 alasan, kenapa saya mau dititipi cucu. Asalkan…
Asalkan apa? Ya itu tadi, janjian dulu

Nah, teman-teman gimana? Pernah menitipkan anak ke kakek-neneknya?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

14 thoughts on “5 Alasan Kakek-Nenek Mau Dititipi Cucu

  1. Huahhh.. Ada sudut pandang lain.. Saya baru tahu yang punya blog sudah menjadi nenek. *Apa karena jadi bloger jadi selalu terlihat/dianggap muda? hihi..

    Thanks for sharing, saya tetep panggil Mbak aja ya.. 💚

  2. Hahah setuju Buk, saya suka nitip ke Mertua sih kalo pas mau mandi, masak atau beli sesuatu. Kata Suami kita harus mandiri, enggak boleh ngerepotin jadi ya enggak sering-sering lah selama bisa ya biarkan Nenek istirahat 🙂 perjanjian penting banget itu

  3. Sayaaaah aliran yang nitipin anak ke nenek Kakek pasca pulang sekolah. Dan mereka senang saja. Kangen malah kalau sehari tak bertemu. Itu sekarang saat anak sudah TK dan bisa di ajak cerita. Sebelumnya, tetep daycare 🙂

    Salam hormat bu Hani 🙂

  4. Wah ini sudut pandang ibu sebagai nenek, namun sayangnya mertua ga mau terbuka seperti ibu. Yang mau dititipkan asal janjian dulu sebelumnya memang mertuaku minta anakku harus dg beliau tapi sayangnya aku sering mendengar keluh kesah yang tidak enak akhirnya aku memutuskan dengan ART saja alhamdulilah dg putusanku begini hubungan kami jadi baik kembali tanpa ada dusta diantara kita hehehe

    1. Syukurlah kalau hubungan ama mertua sudah baik kembali. Iya sih. Kadang terlalu semangat, lupa kalau fisik tak sekuat dulu. Jadi ga sengaja mengeluh sewaktu dititipi cucu. Nah, ini yang bikin friksi dan miskom. Jalan tengah yaaa…sebagai nenek cuma bantu-bantu doang seperlunya… 😀

  5. Nenek kekinian nih. Rajin berselancar di dunia maya agar selalu update berita terbaru termasuk tentang pola asuh. Mantap bener mbak
    Urusan nitip cucu ke nenek kakek ini memang kadang jadi dilema ya.
    Saya yang kebetulan jauh dari orang tua dan mertua, mau gak mau akhirnya resign dari kerjaan kantor demi bisa jaga dan ngurus anak. Gak tega mau nyerahin ke pengasuh. Gak tega pula mau membebani ortu/mertua yang harus bolak balik ke Bogor buat jagain cucu. Biarlah saat mereka bertemu cucu, saat rindu sudah menumpuk dan tak perlu setiap hari melihat kelakukan ajaib cucunya ini hehehe

    1. Iya bener…biarkan rindu menumpuk, jadi kelakuan ajaibnya cucu bisa dimaafkan. Kalau tiap hari berkutat dng cucu bisa ga tahan juga…hehe…
      Makasih dah mampir…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *