artikel, lifestyle

Belajar Menulis Cerita Anak

 

Mulai menulis buku dan berhasil menerbitkan buku di tahun 2014 tidak menghentikan saya untuk mencoba belajar hal baru. Selama ini saya baru bisa menulis buku non fiksi, yang merupakan kejadian sehari-hari di sekitar saya. Tapi ada genre buku yang saya belum berani untuk mencoba menuliskannya, yaitu genre cerita anak. Pernah beberapa kali mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh penulis dalam sebuah komunitas Facebook. Saya catat dan simpan berbagai panduan menulis buku anak tersebut.
Salah satu panduan penulisan cerita pendek untuk anak adalah:

1. Bercerita tentang manusia dan yang dimanusiakan
2. Menyajikan satu (tunggal) peristiwa (lampau, sekarang, atau yang akan datang)
3. Tokoh yang ditampilkan maksimal 3 tokoh
4. Kurun waktu peristiwa terbatas
5. Mengandung element plot, sudut pandang, tokoh, dialog, setting, dan suasana.

Tetap saja, saya tidak punya ide untuk menulis cerita anak.

Kelas Literasi Anak

Akhirnya saya ikut kelas Literasi Cerita Anak Batch 2, yang digagas oleh dua penulis keren Wulan Mulya Pratiwi, penulis kelahiran Padang, berlatarpendidikan Bidan Pendidik. Bukunya berderet tak cukup dihitung dengan sepuluh jari. Kemudian Dini W. Tamam, penulis yang berdomisili di Bogor, alumni Magister Manajemen Unpad. Buku-buku non fiksi dan dongengnya sebagian besar diterbitkan oleh penerbit major.
Ternyata programnya cukup unik, kami lebih dari 50 penulis yang mendaftar diminta menuliskan dongeng dunia. Maksud dongeng dunia adalah dongeng dari seluruh dunia. Kriteria dongengnya, negara asal dongeng harus berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan tokoh-tokoh dongeng yang akan diangkat, harus berbeda antar tiap penulis. Misalnya ada penulis yang mengangkat tokoh tentang singa, maka penulis lain tidak boleh mengangkat tokoh singa.

Awalnya saya kira menulis dongeng dunia itu gampang. Karena kami hanya menulis paling panjang 2 halaman, 1.5 spasi, Timer News Roman, 12 karakter. Sumbernya banyak, bisa dari internet atau pun buku-buku. Apalagi kami boleh menuliskan dongeng yang sudah ada, asalkan dibuat parafrasa sendiri. Dongeng sepanjang 2 halaman A4 tersebut sudah termasuk dengan beberapa point penting fakta unik tentang negara bersangkutan. Disertai pula dengan gagasan, karakter ilustrasi yang ingin ditampilkan. Nantinya ada ilustrator khusus yang menggambar sesuai dengan arahan penulis tersebut. Keren.
Oke. Bisalah, 2 halaman, semalam jadi.

Saya pun membuka-buka buku dongeng anak yang ada di rak. Beberapa dongeng dari mancanegara tersebut ternyata ditulis cukup panjang. Berarti saya harus cukup banyak mengurangi jumlah kata. Selain itu karena ditulis dalam bahasa asing, saya harus mencernanya terlebih dahulu. Yang membuat saya berpikir keras adalah, beberapa dongeng moralnya tidak pas dengan kondisi sosial di Indonesia.

Pencarian saya akan dongeng dari negara-negara dunia harus kebut-kebutan dengan peserta lain yang sudah lebih dahulu mendaftarkan nama negara, judul dan tokoh cerita.
Saya pun mendaftar dan akan mengangkat dongeng dari Peru, sebuah negara dari benua Amerika Selatan. Judulnya Sang Gembala dan Putri Matahari. Putri Matahari sesungguhnya adalah gadis-gadis yang bertugas menjaga kuil dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk memuja Dewa Matahari. Sebuah kepercayaan suku Inca di pegunungan Andes. Dalam kisahnya, Putri Matahari berjumpa dengan seorang Gembala, yang kemudian jatuh hati kepada si Putri. Si Putri sebetulnya membalas cinta si Gembala. Tetapi dalam dongeng, Putri Matahari tentu saja tidak boleh jatuh cinta apalagi menikah. Tak dinyana, ibu si Gembala yang seorang penyihir membantu anaknya untuk menyamar dan kemudian membawa si Putri lari dari kuil, untuk hidup bersama. Di akhir cerita, perbuatan mereka berdua diketahui oleh ayah si Putri, dan kemudian mengutuk mereka menjadi batu. Seru sebetulnya ya. Tetapi moral cerita, menurut saya tidak sesuai untuk anak-anak. Masak boleh bawa kabur anak gadis seperti itu.

Ternyata yang saya bayangkan menulis cerita anak bisa semalam jadi, buyar. Saya pun browsing mencari judul-judul lain dari negara yang sama. Ternyata hampir sebagian besar dongeng rakyat kisahnya tragedi, kalau tidak kasih tak sampai, ya legenda bernuansa misteri dan kelam.
Saya pun pindah negara. Sementara itu daftar urut penulis semakin panjang dan bertambah, berarti saya harus memilih di luar daftar yang sudah ada. Sepertinya Argentina boleh juga. Saya pun mendapat kisah tentang Legenda Bunga Matahari. Sementara saya simpan dulu kisahnya dalam bahasa Inggris. Kisah aslinya hanya beberapa paragraf, kalau pun diterjemahkan tidak sampai 2 halaman. Wah, gimana ini, tak terasa tenggat waktu semakin dekat, karena kami hanya diberi waktu 1 minggu.

Lima hari menjelang tenggat waktu, akhirnya dongeng tersebut bisa saya selesaikan. Susul menyusul dengan kisah-kisah penulis lain yang total berjumlah 55 penulis. Rencananya Antologi Dongeng Anak Dunia tersebut akan diterbitkan oleh Elex Kids, imprint dari Elex Media Komputindo, salah satu penerbit di bawah naungan penerbit Gramedia. Mudah-mudahan editor dari penerbit yang bersangkutan, tidak masalah dengan kisah yang saya angkat.
Tak sabar rasanya ingin melihat buku dongeng anak dunia ini terbit.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *