cuma cerita, lifestyle

Berteman Beda Generasi

Bila diingat-ingat kapan saya mulai berteman, mungkin kala usia taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Tetapi karena ayah saya sering pindah tugas, kemudian kami anak-anak ikut pindah juga, tentu saja sekolah pun pindah-pindah. Seingat saya, waktu SD, saya sering didaulat berdiri depan kelas, memperkenalkan diri sebagai murid baru. Kemudian saya mulai berteman dengan teman-teman sekelas dan lingkungan. Di tahun ketiga saya mulai asyik berteman, ayah pindah tugas lagi. Tentu saja, pertemanan harus bubar karena dipisahkan oleh jarak. Zaman itu, belum lazim telepon-teleponan, apalagi di luar negeri. Sepertinya surat-suratan, saya lupa lagi. Saya pun kehilangan jejak teman-teman SD.

Pulang ke Indonesia di usia SMP, lagi-lagi memperkenalkan diri depan kelas sebagai murid baru. Untunglah ayah kemudian tidak pindah tugas lagi, sehingga saya lanjut ke SMA dan perguruan tinggi seperti anak-anak lain. Teman-teman SMP, SMA, PT masih berlanjut komunikasinya hingga hari ini. Terimakasih berkat media sosial dan grup Whatsapp sih.

Berbagai Teman

Lalu teman-teman saya siapa saja?
Untuk orang-orang Bandung, ada istilah batur sa lembur, batur sa sumur, batur sa dapur, batur sa kasur.
Teman se kampung, teman se sumur (tetangga), teman se dapur (serumah atau keluarga), teman se kasur (pasangan). Iya zaman dulu batur (teman, bhs Sunda), paling jauh mungkin se kampung, lalu tetangga, keluarga, dan paling dekat ya pasangan.

Bila berangkat dari definisi, bahwa kawan atau teman adalah orang yang sudah lama kenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu. Ternyata seiring perjalan waktu, sekarang ini saya kurang nyambung dengan teman-teman SMP dulu. Saya hampir tak pernah hadir bila reuni SMP. Sekalinya hadir, saya bingung mau ngobrol apa. Apalagi dengan teman-teman pria, saya tak ingat sama sekali, dulu wajah mudanya seperti apa. Saya pun left dari grup WhatsAppnya.

Teman-teman SMA yang masih sering kontak hanya teman sekelas, sedangkan teman satu SMA, sama saja dengan teman SMP, saya lupa wajah mudanya seperti apa. Mungkin juga waktu SMA bukan anak yang aktif berkegiatan dan populer di antara teman-teman. Jadi, kalau teman SMA tidak mengenali saya, ya saya biasa-biasa saja.

Ketika kuliah, di tahun pertama ada kewajiban bagi kami mahasiswa baru untuk ikut kegiatan ekstra kurikuler. Kami menyebutnya OS ke II, oritentasi studi ke II, selama 3 bulan. Ada beberapa pilihan dari kegiatan olahraga, kesenian, sosial, dan keilmuan lain. Saya waktu itu memilih olahraga Hocky dan kesenian UKSS (Unit Kesenian Sulawesi Selatan). Di tahun ke 2, ketika masuk ke jurusan sesuai pilihan, kami diterima di Himpunan Kemahasiswaan.
Akhir-akhir ini teman se kampus, di luar acara reunian, yang sering bertemu hanya teman-teman perempuan dan teman-teman seprogram studi.
Begitulah, pertemanan memang bisa terjadi karena kita berhubungan dalam hal tertentu. Begitu selesai kegiatannya, seringkali pertemanan menjadi terputus.

Teman-teman Baru

Beberapa tahun belakangan ini, ketika anak-anak dewasa dan sudah mempunyai kesibukan masing-masing, ternyata saya malah masuk ke komunitas baru dan membina pertemanan baru.
Siapakah mereka?

Teman Penulis

Tahun 2013, saya masuk ke sebuah komunitas penulisan. Kemudian berhasil menerbitkan buku solo di penerbit mayor. Di komunitas penulis di mana saya awal belajar menulis buku, saya merupakan peserta paling senior. Untuk tidak menyebutnya paling tua. Tapi jangan salah, teman-teman muda ini justru tempat saya belajar dan penyemangat sehingga saya tetap rajin menulis.
Beragam pelatihan penulisan saya ikuti di grup Facebook dan komunitas blogger. Teman-teman saya tersebut dari berbagai kalangan dan seringnya beda generasi. Beberapa di antaranya lebih muda dari usia anak-anak saya. Seperti apa kata pepatah seseorang bisa dilihat dari teman pergaulannya.
Untungnya di grup Facebook saya menghindari perdebatan atau timeline yang cenderung fitnah. Ternyata efektif, teman-teman saya aman-aman saja, malah seru dan membuat awet muda. Saya pun tak ketinggalan dari berita-berita viral yang bikin lucu, macam paspampres yang banyak dibahas itu.
Termasuk grup 1minggu1cerita, merupakan teman baru saya yang memotivasi saya untuk tetap mengisi blog setiap minggu.

Teman Konser

Teman konser sebetulnya teman sesama guru piano ketika saya masih mengajar di sebuah kursus musik di Bandung. Ketika saya mengundurkan diri sebagai pengajar, tidak membuat saya berhenti bermain piano di rumah. Tiga tahun terakhir ini kami membentuk grup yang rutin bermain konser di auditorium kursus musik. Kegiatan tersebut menyemangati saya untuk mengisi waktu setelah jenuh bekerja dan mengurus rumah. Ada saja lagu-lagu yang perlu saya pelajari. Lagi-lagi, teman-teman saya bermain konser itu usianya jauh-jauh di bawah saya. Beberapa usianya sepantar usia anak-anak saya.
Seru saja sih, tak masalah berteman dengan teman-teman beda generasi.
Walaupun mereka memanggil saya “Bu” ya, itu sih demi kesopanan saja.

teman main piano

Teman Dosen

Tigapuluh tahun menjadi dosen, teman dosen tentu saja dari berbagai generasi. Dulu ketika awal menjadi dosen, usia saya di bawah 30 tahun. Ada dosen-dosen senior yang menurut saya mereka tidak enak untuk diajak berteman. Karena mereka jaim. Sementara itu, dosen-dosen muda melamar masuk, dosen-dosen senior pensiun dan tutup usia. Berteman karena profesi yang sama kadangkala sifatnya formal saja. Kami hanya bertemu di kampus, makan siang bersama, atau kadang-kadang seminar atau studi lapangan bersama.
Apakah sekarang ini saya dianggap enak sebagai teman bagi dosen muda, tentu saya tidak bisa menilai diri sendiri. Saya sih santai saja, bercanda dengan yang muda-muda.

Adab Berteman

Berteman beda generasi akibat hobby atau profesi yang sama tentu saja harus tetap memelihara adab berteman.

Nama
Nama saya di kampus berbeda dengan nama panggilan di rumah. Walaupun teman-teman dosen di kampus jauh lebih muda, mungkin tahunan silam dia pernah menjadi mahasiswa saya. Saya menambahkan “Bu” atau “Pak” di depan nama mereka di kampus. Kadang-kadang terbawa juga di luar kampus.

Santun
Menjaga supaya pertemanan awet adalah no bully dan tetap berbahasa santun.
Saya pernah tersinggung ke sahabat saya, akibat dia membandingkan anaknya dengan anak saya. Menurut saya, dia merendahkan anak saya. Pertemanan sekian tahun buyar, dan membuat saya menjauh darinya.

Respek
Mau muda atau seumur, kepada sesama teman, respek tetap dijaga. Tidak berarti mentang-mentang saya senior, mereka harus respek ke saya. Bila saya respek ke teman, otomatis mereka juga ke respek ke saya kok. Mudah saja.

Jadi temanmu siapa saja?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

2 thoughts on “Berteman Beda Generasi

  1. Akupun dulu pindah-pindah bu cuman ga kayak ibu sampe ke luar negeri. Jadinya banyak teman krn banyak teman jadinya lumayan buat networking hehehe banyak friend di FB sayang aku kadang juga lupaan akhirnya mau ga mau klo ga tll apal aku unfriend kalau udah bikin status ga enak seputar masalah negeri ini :p

    1. Saya juga pilih-pilih teman kalau di FB sih. Lihat-lihat mutual friendnya. Tapi kalau sudah bikin status yang ga nyaman atau seenaknya menilai orang, saya unfollow sih. Jadi memang follower saya dikit…hehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *