Bermain Pura-pura Pada Balita


keluarga, parenting / Jumat, Januari 19th, 2018

pretend play

 

Ketika saya menemani anak untuk kontrol tumbuh-kembang cucu saya, dokter spesialis anak yang menangani berpesan, “Bara harus sering main pura-pura ya…”
Main pura-pura?
Selama ini memang kalau menemani Bara bermain saya kadang-kadang sambil menyusun balok lego seolah membuat rumah atau menara. Atau menyusunnya menjadi rangkaian kereta api, kadang membuat kotak seolah itu sebuah kamera. Pada saat itu Bara lebih banyak mengurai kembali apa-apa yang saya susun. Saya malah tidak menyadari bahwa yang saya lakukan adalah bermain pura-pura, dan saya belum melibatkan Bara secara aktif.
Menyimak apa yang dipesankan oleh Dr. Dewi Hawani, SPA, neuro pediatrician, dokter spesialis syaraf anak, saya pun mempelajari dan menggali berbagai informasi, apa itu Bermain Pura-pura.

Pretend Play

Bermain pura-pura atau pretend play merupakan fase tumbuh-kembang pada anak yang cukup penting. Permainan imajinasi ini sangat baik untuk perkembangan motorik dan emosi sosial sang Buah Hati.
Permainan imajinasi kadang disebut juga role playing, yaitu saat anak berimajinasi memerankan seseorang atau sesuatu menurut bayangan mereka. Misalnya memerankan seseorang yang sedang memasak, bermain tamu-tamuan kemudian memberi minum boneka atau mainan teddy bearnya.
Bisa jadi, hari ini si Anak ingin memerankan sebagai seorang pilot dan menerbangkan pesawat, kemudian minggu depan dia seolah seorang dokter yang memeriksa ayah-bundanya seolah pasien.

Bermain pura-pura ditengarai mampu mendorong tumbuh-kembang anak karena pada saat berpura-pura menjadi orang lain, si Kecil akan belajar bagaimana menghadapi masalah, menyampaikan maksud atau keinginannya, hingga melatih ketrampilan motoriknya saat harus melakukan sesuatu sesuai peran yang dimainkan.

Manfaat Bermain Pura-pura

Beberapa anak ada yang dengan sendirinya bisa bermain pura-pura, tetapi ada anak-anak lain yang harus diajak bermain bersama untuk berimajinasi. Karena Bara belum lancar berbicara dan ada beberapa hal yang masih harus distimulasi, maka tidak ada cara lain kami harus sering bermain bersamanya.
Setelah membaca sana-sini, manfaat bermain pura-pura antara lain sebagai berikut:

1. Keterampilan Sosial dan Emosional

Ketika seorang anak bermain pura-pura, dia secara aktif bereksperimen peran sosial dan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan kooperatif, ia belajar bagaimana antri dan bergiliran, serta berbagi tanggung-jawab. Seringkali bukan kita melihat putra atau putri kita memakai sepatu ayah atau ibunya, dan mencoba berjalan. Terlihat lucu, dan secara tak sengaja sebetulnya si Anak sedang memerankan orang lain.

Ketika anak berpura-pura menjadi karakter yang berbeda, dia memiliki pengalaman “berjalan di sepatu orang lain”, yang membantu mengajarkan keterampilan pengembangan moral yang penting dari empati. Adalah normal bagi anak kecil untuk melihat dunia dari sudut pandang egosentris mereka sendiri, tapi melalui pematangan dan permainan kooperatif, anak akan mulai memahami perasaan orang lain. Buah hati kita juga membangun harga diri ketika dia menemukan dia bisa menjadi sesuatu hanya dengan berpura-pura!

Dengan bermain pura-pura di bawah pengawasan orangtua maupun keluarga, kita bisa memantau, hal-hal apa saja yang baik atau buruk. Misalnya bila saat bermain cenderung kasar dan merusak, dapat kita arahkan supaya tidak mencelakakan si Anak dan temannya.

2. Kemampuan Bahasa

Pada waktu mengamati anak-anak yang sedang bermain pura-pura dengan mainan atau teman-temannya, kita mungkin mendengar beberapa kata ungkapan yang tidak pernah didengar sebelumnya.
Karena bermain pura-pura membantu anak memahami kekuatan bahasa. Sebagai manusia cara mengungkapkan keinginan tidak cukup hanya dengan gesture atau bahasa tubuh, dia pun harus berbicara. Semakin sering bermain pura-pura atau bermain peran dan berganti-ganti, anak akan mempelajari banyak hal.

Begitu pula yang saya lakukan bersama Bara. Berbekal mainan masak-masakan yang dibelikan ibunya, saya dan Bara bermain pura-pura memasak sup sayur. Saya pun harus cukup cerewet mengarang cerita dan sesekali dengan kalimat instruksi menyuruh Bara.
Misalnya:

“Ayuk kita bikin sup brokoli”
“Mana brokolinya?”
“Masak-masak, aduk-aduk, ayuk kasih garam”

Bara pun pura-pura mengaduk dan memberi garam dari botol-botol plastik.
Bosan bermain masak-masakan, ganti bermain mobil-mobilan. Tidak cukup hanya menggerakkan mobil kesana kemari. Saya pun harus menyertai dengan rangkaian cerita yang mudah difahami anak, dan anak menirukan atau mengikuti instruksi. Misalnya memarkirkan mobil, menaikkan boneka ke atas truk mainan, membuat papan luncur dan meluncurkan mobil-mobilannya.
Bermain pura-pura juga membantuk anak untuk mengerti hubungan antara bahasa lisan dan tulisan.

3. Kemampuan Berpikir

Bermain pura-pura memberi anak berbagai masalah untuk dipecahkan. Entah itu dua anak yang ingin memainkan peran yang sama atau mencari bahan yang tepat untuk membuat atap bagi rumah bermain. Dengan bermain juga melatih berpikir kognitif yang akan dia gunakan dalam setiap aspek kehidupan, sekarang dan di masa yang akan datang.

Menurut penelitian, bermain pura-pura akan melatih kemampuan berfikir. Bukan hanya si Anak yang terlatih kemampuan berpikirnya. Siapapun yang menemani Bara bermain otomatis jadi ikut berpikir, sesudah ini main apalagi ya?
Dr. Dewi Hawani juga berpesan supaya Bara tidak dibiarkan bermain sendiri. Walaupun menurut pengamatannya Bara bukan autistik, terlalu lama bermain sendiri dikhawatirkan melenakan.
Bara dianggap tidak apa-apa karena anteng.

Ada anak-anak yang justru menikmati ketika bermain dengan gaya kekerasan. Misalnya sejak kecil anak-anak laki akan bermain perang-perangan. Becanda sambil gelut, pura –pura berkelahi, dan lain sebagainya. Beberapa ahli berpendapat, justru permainan dengan gaya kekerasan akan mengembangkan bagian otak (lobus frontal), yaitu bagian otak yang mengatur perilaku.

Jadi, alih-alih khawatir bahwa jenis kegiatan ini akan mendorong anak untuk bertindak atau menjadi terlalu agresif, yakinlah bahwa dalam situasi yang dipantau, permainan kasar dapat benar-benar membantu anak untuk mempelajari keterampilan pengaturan diri yang dibutuhkan.  Tentu saja semuanya harus tetap dipantau oleh kita orangtuanya agar tidak mencelakakan. Arahnya dalam kerangka bermain pura-pura tadi.

4. Memelihara Imajinasi

Bagaimana bila kita kekurangan ide untuk berimajinasi? Supaya memudahkan dan menggali ide, pertimbangkan untuk membuat kotak prop atau sudut yang penuh dengan benda untuk memicu dunia fantasi prasekolah sang Buah Hati…

Kumpulkan berbagi benda-benda tak terpakai:
• Krat plastik besar, blok kardus, atau kotak kosong besar untuk menciptakan “rumah”
. Kumpulkan tutup botol bekas obat tidak terpakai, berbagai ukuran botol kosong
• Pakaian tua, sepatu, ransel, topi
• Telepon lama, buku telepon, majalah, bekas kalender
• Alat masak, piring, wadah makanan plastik, serbet meja, bunga sutera
• Boneka hewan dan boneka dari segala ukuran
• Potongan kain, selimut, atau lembaran tua untuk membuat kostum atau benteng
• Materi sesuai tema seperti kartu pos, tiket pesawat bekas, koin asing, dan foto untuk perjalanan liburan berpura-pura
• Menulis materi untuk menerima pesan telepon, meninggalkan catatan, dan membuat daftar belanja.

Nah, silahkan ayah-ibu dan siapa saja yang bermain bersama anak, harus kreatif menciptakan berbagai mainan dan mengarang alur ceritanya juga.

Salah satu pesan lain dari Dr. Dewi yang cukup penting adalah Puasa Gadget!
Kami dan mungkin banyak orangtua lain sering keenakan dengan adanya gadget, smart phone yang bisa memutar berbagai acara menarik bagi anak-anak. Padahal dengan adanya gadget, komunikasi menjadi satu arah. Padahal tujuan kita menstimulasi kemampuan berbicara anak adalah membentuk komunikasi dua arah, laiknya manusia pada umumnya.
Lebih disarankan perbanyak membaca buku atau bercerita melalui buku, bukan membiarkan anak melihat gambar dari ponsel.

Nah, teman-teman blogger, putra-putrinya senangnya bermain pura-pura sebagai apa?

Sumber:
http://www.leapfrog.com/en-us/learning-path/articles/toddler-milestone-pretend-play
http://www.scholastic.com/parents/resources/article/creativity-play/importance-pretend-play

twittergoogle_pluspinteresttumblr

10 Replies to “Bermain Pura-pura Pada Balita”

  1. Dulu aku mempraktikan pada Malika nih, pretend play. Alhamdulilah ngefek banget saat dia sudah mau menjelang usia 11 tahun mba. memang tricky sekali kalau mendidik anak di era teknologi seperti ini. Kita sbg ibu harus super kreatif buat mencari cara yg tepat supaya anak ga re-act

    1. Saya waktu anak-anak seneng ngayal-ngayal main boneka, bikinin baju boneka, dan lain-lain. Lalu main tamu-tamuan sama adik-adik saya. Eh…pas punya anak, pretend play seru juga. Sekarang dipraktekkan ke cucu. Hehe…

  2. Alhamdulilah ni bu anakku seneng banget main pura2 gitu yah aku pun turut serta dimana anakku yang membagi peran, alur ceritanya kalau aku ga mau maka nangislah dy begitulah tapi ini hiburan juga buat aku setelah pulang kerja temenin main rumah2an atau boneka2an atau masak2an lelah pun hilang karena mendengar kosakatanya yang terkadang masih belepotan dan menyimak alur cerita yang kadang bikin geli sendiri 😀

  3. Halooo Mbak Hani, anak saya Musa juga pretend play di tempat terapi dan di rumah hihi. Dia paling senang saya jadi superhero sama pura-pura telpon, bagus sekali untuk kontak matanya.

    Terima kasih sharingnyaa yaa Mbak Hani, saya bookmark.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *