Mencoba Memahami Algoritma pada Instagram


lifestyle / Sabtu, Januari 27th, 2018

 photo algoritma-instagram.jpg

sumber gambar: keepsmyelin

Artikel tentang Algoritma Instagram sepintas saya lihat judulnya di timeline Facebook. Artikelnya dishare oleh Carolina Ratri di blognya. Waktu itu belum saya baca, karena baca judulnya saja ngeri. Algoritma! Itu kan sejenis matematika. Bila berkaitan dengan matematika dan saudara-saudaranya, terakhir saya belajar matematika adalah di tingkat pertama sebuah perguruan tinggi teknik. Sudah jadi emak-emak macam saya begini, matematikanya kan kali bagi tambah kurang, menghitung belanjaan atau harga jadi setelah didiskon.

Kemudian Instagramnya sendiri ramai jadi pembicaraan di WhatsApps grup 1minggu1cerita. Teman-teman di grup itu gemes dengan instagram yang sudah mirip etalase. Semua orang jualan, kemudian dibahas pula para follower dan orang-orang yang minta difollow. Lalu perilaku para instagramer yang minta folbek, setelah kita follow, malah unfollow kita. Tak lama berselang, seorang teman di grup share link blognya Carolina Ratri, Perubahan Algoritma Instagram yang Cukup Ngeselin tapi mesti Dipahami.
Lah iya, saya kan akibatnya jadi penasaran dengan artikel tersebut, saya cari linknya, dibaca dan berusaha memahami.

Algoritma

Menilik sejarahnya, Algoritma itu ditemukan oleh matematikawan Persia abad ke-9 bernama Abu Abdullah Muhammad ibnu Musa Al-Khwarizmi. Nama Algoritma juga merujuk pada nama Al-Khwarizmi tadi. Beliau juga yang menemukan ilmu Aljabar.
Dalam matematika dan ilmu komputer, algoritma adalah prosedur langkah-demi-langkah untuk penghitungan. Algoritma digunakan untuk penghitungan, pemrosesan data, dan penalaran otomatis.
Penasaran, sayapun gugling algorithm images. Saya lebih mengerti segala sesuatu bila divisualkan.

Ternyata ada pengertian sederhana ala Mama, yaitu Membuat Tempe Goreng seperti contoh slide.
Ternyata algoritma Tempe Goreng adalah langkah-langkah membuat tempe goreng. Terimakasih yang membuat slide sederhana tersebut, sayang tidak ada link pembuatnya.

 photo images.png

Algoritma pada Instagram

Setelah membaca artikelnya Carolina Ratri dan beberapa blog lain tentang algoritma pada instagram, saya mencoba memahami dalam nalar Emak-emak saya. Dan mencoba menyederhanakan seperti algoritma Tempe Goreng di atas. Kemudian menyocokkan dengan visualisasi  Instagram Algorithm Factors dan melengkapinya dengan kultwit dari Wicaksono. Isinya lebih pada langkah-langkah yang harus kita ikuti supaya akun kita lebih populer. Tidak ada perhitungan matematika sungguhan.

 

 photo d822d983-e7b9-46c3-8127-0ef0adc85218.png

sumber gambar: bufferapp

Ada 7 faktor Algoritma Instagram:

1. Engagement

Maksudnya, seberapa populer post kita. Berapa banyak engagement yang didapat oleh sebuah foto. Apakah mendapat likes, comments, shares, views, dll, yang tinggi atau tidak. Peringkatnya juga akan tinggi di Instagram feed bila engagementnya tinggi.
Kalau menurut mbak Rara, kalau ingin mendapatkan angka engagement yang bagus, maka sebaiknya kita merespons komen dalam waktu kurang dari 60 menit.

2. Jenis Konten

Maksudnya relevansi genre konten yang paling sering kita kunjungi. Misalnya saya sering posting foto instagram pemandangan alam, karya arsitektur, atau wisata sejarah, maka besar kemungkinan foto-foto seperti itu yang mampir ke feed instagram saya. Atau yang sering posting foto makanan, maka akan disodori foto makanan juga.

3. Relasi

Maksudnya, akun-akun yang sering kita kunjungi atau berinteraksi dengannya. Bisa akun IG teman, keluarga, dan akun favorit lainnya. Jika kita sering berinteraksi dengan akun-akun tertentu, seolah memberitahu bahwa kita menyukai akun-akun tersebut. Maka IG akan selalu menyodorkan akun tersebut di feed.
Sekarang saya mengerti, pantas saja, IG-IG yang muncul di deret pertama di feed adalah IG nya anak, menantu, dan daycare cucu saya.

4. Linimasa

Maksudnya menurut timelines/ linimasa seberapa berkaitan antara satu posting dengan posting berikutnya.
Kalau menurut mbak Rara, sekarang Instagram stories lebih diberi panggung oleh Instagram. Karena Instastories dapat meningkatkan engagement kita. Wah, padahal saya jarang sekali unggah foto atau live di Instastories. Belum terlalu biasa dan kurang waktu juga.

Kalau menurut kultwitnya Wicaksono, ini berkaitan jadwal postingan kita. IG mengutamakan posting terbaru untuk ditampilkan di feed, bukan konten seminggu atau sebulan yang lalu. Itu sebabnya posting secara reguler tiap hari punya kemungkinan besar muncul di feed orang. Wah, saya yang posting bila selesai jalan-jalan atau buku baru terbit, tak mungkin sepertinya posting tiap hari.

5. Profil Searches

Ini merupakan akun-akun yang sering kita cek. Bisa juga ini berkaitan dengan kata kunci yang sering kita cari. Bila kita sering mencari kata kunci tertentu, maka IG akan sering memunculkan konten yang relevan dengan kata kunci itu di feed.
Sekarang ini ada fitur baru, selain profil searches, ada yang namanya hashtag searches. Bila kita follow hashtag yang sesuai dengan minat kita maka profil kita bisa lebih dikenal.

6. Direct Shares

Namanya juga direct shares, artinya kita membagikan konten ke akun lain via DM. IG akan mencatatnya sebagai jenis bentuk relasi/ engagement. Bila kita mengirim konten saat follower sedang aktif, maka kemungkinannya mereka merespons dengan like dan komen.
Ingat, seperti sudah disampaikan sebelumnya, bahwa kita harus merespons like dan komen tadi dalam waktu kurang dari 60 menit.

7. Durasi

Ini maksudnya durasi/ time spent yang dibutuhkan untuk mengamati sebuah posting. Waktu yang dihabiskan orang untuk melihat dan berinteraksi dengan sebuah konten akan memengaruhi perhitungan algoritma dan ujungnya menentukan peringkat di feed.
Itu sebabnya boomerang merupakan salah satu aksi yang sering dilakukan, karena durasi kita mengamati foto tersebut lebih lama dibandingkan dengan posting foto biasa.
Bisa juga membuat CTA (call to action) pada sebuah posting, misalnya mengajukan pertanyaan yang harus dijawab audiens. Semakin banyak audiens menjawab, berarti makin tinggi interaksinya. Posting berbentuk slide juga bisa membuat orang berlama-lama mampir di akun kita. Melalui hashtag atau tagar tadi pun salah satu cara, follower berlama-lama mampir di posting kita. Bila ada beberapa tagar, besar kemungkinan follower kita akan klik semua tagar.

Nah, bagaimana?
Kira-kira bisa lebih memahami atau tidak, apa perlunya instagram sampai harus didalami algoritmanya.

Selain itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan algoritma pada instagram tersebut, karena rupanya IG mulai mengatur agak ketat seliweran foto-foto di dunia maya tadi.
Terutama bila kita memanfaatkan IG untuk bisnis. Bila tidak cermat dan hati-hati akun kita bisa diband atau terblokir karena dianggap spam.

Hal-hal yang perlu dicermati supaya tidak dianggap SPAM antara lain adalah:

1. Spammer bot. Sesungguhnya saya baru tahu yang namanya spammer bot ini. Pengertian mudahnya begini. Sering baca kan “Nice Post” atau “Great Pic!”. Nah, komen yang mengandung 2 kata atau berulang-ulang dianggap spam. Coba buat komen lebih dari 4 kata atau lebih. Ya bisa-bisanya kita saja supaya lebih kreatif.

2. Instagram pods. Pengertian pods adalah kumpulan sesama yang hidup bersama dan saling mendukung. Misalnya para buzzer, endorser atau instagrammer yang saling komen dan like satu sama lain untuk meningkatkan engagement.
Ternyata instagram pod bisa menyebabkan shadow ban. Artinya post kita tidak muncul di explore. Tetapi masih terlihat di komunitas yang saling komen dan like tadi.

3. Don’t over abuse. Ini berkaitan dengan penggunaan hashtag.
Sebetulnya hashtag bisa dipasang sampai 30 hashtag. Tetapi ternyata hal ini malah bisa menyebabkan spam. Apa yang saya baca, optimal 5 hashtag dianggap sudah bagus. Dan ditulisnya di caption bukan di kotak komen.
Saran dari mbak Rara malahan, jangan menuliskan hashtag yang sama untuk beberapa posting berturut-turut.
Misalnya hasgtag di IG saya #heritagebuilding, mungkin besok #oldbuilding atau besok-besoknya #renovation.

4. Edit. Sebaiknya tidak mengedit sebelum 24 jam pertama setelah posting, karena akan mengurangi peluang untuk terbaca oleh IG. Jadi sebelum posting pastikan apa saja yang akan diunggah dan ditulis pada caption.

5. Re-post. Ini juga tidak dianjurkan. Kita menghapus foto-foto sebelumnya kemudian re-post lagi demi supaya feednya terlihat rapi. Karena bila dilakukan, juga dianggap spam.
Saya belum pernah melakukan sih. Dulu juga, IG saya belum tertata misalnya satu tema dalam satu baris, atau tema 9 kotak. Bahkan aplikasi Instagrid pun baru-baru saja saya gunakan.

Sepertinya mumet amat ya tentang Instagram ini.
Padahal saya favorit dengan media sosial ini. Saya bahkan kalau jalan-jalan dan cekrak-cekrek mengambil foto, yang saya bayangkan adalah kotak 1:1 nya Instagram.
Sepertinya sih saya santai saja tidak terlalu terikat dengan algoritma segala, lagipula saya tidak jualan, dan jarang jadi buzzer melalui IG.
Kalaupun ada lomba blog atau artikel di blog, entah content placement atau backlink, saya malah mundur bila mengharuskan memasang foto produk atau regram di IG saya. Sebatas like dan follow saja tidak apa-apa. Aneh ga sih saya itu, padahal kan berbayar. Demi supaya IG saya sesuai tema yang saya inginkan saja. Itu mungkin yang menyebabkan follower saya segitu-segitu saja. Pun saya tidak menyimak, siapa saja yang tadinya follow lalu unfollow.
Mungkin kapan-kapan kalau ada waktunya perlu juga membuat akun IG khusus untuk buzzer?

Nah, bagaimana nih teman-teman bloger? Memperhatikan algoritma atau woles saja?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

20 Replies to “Mencoba Memahami Algoritma pada Instagram”

  1. Wah diperjelas oleh mbak Hani, asik-asik.
    Kalo masalah posting foto, bisa disiasati setiap hari dengan posting stok foto mbak. Ga harus foto baru.
    Kalo untuk like & comment asal mbak Hani sering kasih like & comment pasti dibalas deh bakalan sering dapat juga. Atau coba ikut komunitas foto.
    Kalo masalah follower, hmm.. saya juga heran kadang uda janjian saling follow eh ada aja yang curang, follow sebentar doang trus tiba-tiba unfoll. Sudahlah instagram bukan segalanya haha.
    Salam.

    1. Makasih komennya. Oh gitu yaa, bisa ambil dr stok foto. Hmm…tapi ga jualan juga sih.
      Nah iya…suka gimana gitu, kalo ada yg ngeDM. Seolah gini, aku udh follow lho, folbek dong…

  2. Hmmm saya malas insta story, gpp deh gak eksis juga yang penting dunia nyata lebih indah. Instagram saya pakai untuk pamer karya, bisnis dan endorse blog aja sih mba, makasi sharingnya ya😍

  3. Waduh, saya bisa hampir semingguan nggak upload foto di IG. Selama ini saya masih suka2 main IG. Random juga. Kalo rajin posting tiap hari ada aja yang follow. Tapi ya gitu deh, nggak berapa lama unfoll.

    1. Iya…saya juga postingnya random. Kalau ada hal baru banget atau menarik baru deh posting…
      Follow lalu unfollow, sepertinya sudah dianggap biasa aja kali ya?
      Btw…makasih dah mampir…

    1. Nah, itu…saya sampai sekarang belum tahu caranya bisa mendeteksi mana yang tadinya follow lalu unfollow. Belum faham juga tentang program flc.
      Btw…makasih ya sudah mampir 🙂

  4. Sebagai blogger harus memahami algoritma sosmed dengan baik ya bunda, mengingat mengenali algoritma bukanlah hal gampang, tetapi dengan pembahasan dan penyederhaan bunda dalam memahami algoritma di atas, saya jadi pengen ikut memahami juga bunda.. makasih juga lohhh ulasan nya.

  5. Tentu akan ngefek ke para pebisnis online, harus memikirkan ulang strateginya saat berjualan lewat instagram.

    Memang instagram dan facebook ini seru-seru update algoritmanya. Intinya tetap mengutamakan kenyamanan pengunjung.

    Btw, makasi ulasannya Bun.. Menambah pengetahuan saya..

  6. Makasih mbaaa mencerahkan sekali artikelnya. Semoga kita bisa jadi content creator dengan ide cetar membahana biar nggak perlu pusing sama permasalahan algoritma instagram ini ya mbaa hihi

  7. Kenapa saya sudah unfollow orang tp orang tersebut masih sering muncul di saran di DM saya ya setiap hari?
    Padahal saya ngga pernah DM dia..
    Mohon pencerahan..
    Thanks 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *