cuma cerita, lifestyle

Berbagi Bumbu

Tumben-tumbenan hari ini menulis 1minggu1ceritanya mepet. Soalnya tidak sempat. Sibuk tea ikutan proyek penulisan penyusunan Ensiklopedia yang sempat saya ceritakan sedikit di sini.
Seru sebenarnya cerita sambungannya. Nanti lah minggu depan, soalnya sekarang kan minggu tema.
Temanya Berbagi.

Selama seminggu berjibaku menulis artikel, mengajar juga, termasuk nge-MC a.k.a momong cucu, di kepala tuh tema Berbagi mau cerita tentang berbagi bumbu.
Kenapa berbagi bumbu.
Ya memang itu yang terlintas.
Berbagi duit ya jelas tak mungkin kan ya. Bagi-baginya sebatas kewajiban sebagai umat Muslim. Itupun menjelang Syawal tahun yang lalu, baca di timeline Facebook seseorang, bahwa kewajiban zakat harta itu setahun sekali. Sedangkan zakat penghasilan yang dipotong dari gaji sebulan sekali itu, tidak ada dalilnya. Lhah…bingung deh saya.
Yawda perkara bagi membagi zakat sesuai nisabnya itu, nanti saja dibahas kapan-kapan kalau jumpa dengan ahlinya.

Balik lagi saja mau cerita berbagi bumbu.
Saya pernah cerita bahwa salah satu hobby suami adalah berkebun. Tak hanya bunga mawar, melati, lotus, kamboja biasa merah dan kuning, kamboja Jepang, anggrek dari lembah Harau dan Cihideung. Tetapi juga tanaman bumbu dapur dan tanaman obat.

Di halaman belakang tumbuh pohon salam dan pohon jeruk purut yang tingginya sudah mencapai tepi atap. Entah, saya tidak terlalu hafal, sejak kapan pohon-pohon itu ditanam.
Enak, sih, saya tinggal ambil gunting, gunting selembar dua lembar, dan tambahkan ke masakan yang sedang dimasak. Daun salam saya pakai untuk tempe bacem, oseng-oseng, sop kacang dan tetelan, atau asem-asem (tetelan juga). Kenapa daging tetelan yang dipakai? Itu juga sudah lumayan ada bau-bau dagingnya, sih.

Kalau pohon jeruk, saya ambil daunnya. Sebenarnya tidak terlalu tahu juga, pohon jeruk apa namanya. Beneran jeruk purut gitu? Serasa hantu ya…
Pernah lihat pohon ini berbuah, tapi tidak dimakan buahnya. Kulit buahnya keriput. Yang saya pakai adalah daunnya. Daunnya bentuknya unik, seperti terdiri dari 2 daun yang disambung. Harum banget daun jeruk ini.
Masak soto, rawon, dan gule, kurang nendang kalau daun jeruknya ketinggalan. Bahkan saking pohonnya sudah setinggi tepi atap juga, masak apa saja ditambah daun jeruk (purut?) ini. Sambal, kering tempe, tahu cabe garam, masakan ikan, menggugah selera kalau ditaburi irisan daun jeruk.

Sesekali pohon salam dan jeruk ini dipangkas dan dirapikan oleh suami. Dedaunan bumbu plus ranting pohonnya mau dikemanakan? Dibuang sayang.
Akhirnya dua kresek besar kami berikan ke Mang Sayur yang mangkal di gang. Begitu tahu suami bawa sekeresek isi dedaunan jeruk. Langsung ibu-ibu yang lagi rumpi di Mang Sayur, ngeguruduk memilih dan ambil sesuai keperluan.
Daun salam juga sama nasibya. Bila sudah masanya dilakukan pemangkasan maka suami akan memangkas dan daunnya dimasukkan kantong-kantong keresek besar.

Sebetulnya bukan hanya tanaman bumbu. Di halaman depan tumbuh daun pandan dan daun sirih. Tetangga yang mau masak kolak perlu pandan, tinggal minta. Begitu pula daun sirih serbaguna. Tinggal cabut beberapa sulur sirih berikan ke tetangga yang meminta, karena tetangga tersebut ingin menanam juga di halaman rumahnya.

Itulah kisah minggu ini dengan tema Berbagi.
Ya berbagi-bagi tanaman.

Teman-teman blogger senangnya berbagi apa?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *