Al Fatihah melalui Sekeping Rumah Tradisional


cuma cerita, travelling / Sabtu, Maret 24th, 2018

Indonesia dengan puluhan provinsi mempunyai kekhasan arsitektur setempat yang perlu dijaga kelestariannya. Demikian juga perjalanan para peserta Arsitek-Tour ke Madura yaitu untuk meninjau beberapa rumah tradisional di kabupaten Bangkalan. Secara signifikan pemusnahan tradisi arsitektur Madura yang paling mengkhawatirkan terjadi di wilayah yang paling dekat dengan Surabaya ini.

Saat ini bangunan-bangunan tradisional sudah mulai habis digantikan dengan bentuk bangunan baru terbuat dari batu dengan gaya arsitektur lebih modern. Padahal seperti halnya arsitektur tradisional di banyak wilayah di Indonesia, tiap daerah mempunyai karakternya masing-masing.
Arsitektur tradisional di Madura mempunyai kekhasan pada bentuk atap, organisasi ruang, bahan bangunan, dan ornamennya. Bentuk rumah adatnya ada yang disebut bentuk trompesan, bentuk bangsal, dan bentuk pegun atau ada juga yang menyebutnya bentuk potongan.

 photo 9546125b-1281-4efe-b3f8-910f9fa1522e.jpg

Rumah Tradisional milik Keluarga Bp. H. Nasir, Dusun Langkep, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan-Madura

Rumah-rumah yang kami kunjungi di beberapa desa di kabupaten Bangkalan ini merupakan rumah-rumah peninggalan leluhur pemilik rumah. Beberapa bangunan yang tersisa masih ada yang menampilkan bentuk tradisional karena bangunan tersebut tetap awet dari masa lalu hingga saat ini.
Hanya kesadaran dan tanggungjawab pemilik rumah yang membuatnya masih tegak berdiri. Tidak mudah dan tidak murah memelihara bangunan tradisional yang sebagian besar berbahan kayu. Sehingga tak sedikit bangunan tradisional yang hilang ditelan zaman digantikan oleh bangunan baru yang lebih modern.

Memindahkan Rumah

Kyai Malik, pengasuh pesantren Nadwatul Ishaqiyah, Desa Jambu, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan menjelaskan bahwa di pesantren terdapat rumah tradisional juga. Para peserta Arsitek-Tour pun diajak ke bagian belakang melalui deretan asrama putra yang merupakan bagian dari pesantren salafiyah.

Sebuah rumah berdiri tegak.

Kami, para peserta tour, yang sebagian besar berasal dari komunitas Arsitektur, baik mahasiswa, dosen, peneliti, dan mahasiswa studi lanjut sibuk membahas gaya arsitektur tersebut. Dari bentuk dan gaya bangunan, tidak mencirikan bentuk arsitektur tradisional Madura.

Menurut penuturan Kyai Malik, rumah tersebut awalnya dimiliki oleh seseorang yang diwarisi dari leluhurnya. Ahli waris memindahkan dan menghibahkan rumah tersebut ke halaman pesantren. Awalnya kami menduga, alasan pemindahan adalah karena masalah finansial karena sulit merawat bangunan tua.
Ternyata dugaan kami salah.
Ahli waris memindahkan rumah warisan tersebut dengan harapan para santri melafalkan surat Al Fatihah setiap hari bagi leluhur mereka. Dengan demikian doa tak putus akan selalu dipanjatkan bagi kakek moyang pemilik rumah yang telah tiada.

Sebetulnya bila ditinjau secara detail, rumah yang ada di halaman pesantren bukan rumah warisan seutuhnya. Kemungkinan hanya sebagian dinding, pintu, jendela, dan ornamen yang dipasang pada rumah berteras ini.
Rupanya bagi ahli waris tak masalah bukan seluruh rumah yang dipindahkan. Yang penting ada sedikit kenang-kenangan dari rumah lama.

 photo 1ab48025-cad4-4eac-8df0-da0f8f052d07.jpg

Bagian dari rumah lama yang disisipkan di rumah baru

Langkah memindahkan rumah tradisional, baik itu rumah utuh, atau hanya bagian kecil saja dari rumah, kemudian menjadi materi diskusi. Karena menurut teori yang kami pelajari, sejatinya pelestarian biasanya mempertahankan bangunan di tempat semula, sebisanya tidak mengubah bentuk dan gaya bangunan.
Dengan memindahkan, apakah bisa dikatakan sebagai pelestarian? Apalagi yang dipindahkan adalah bagian dari rumah.

Walaupun bagi kami, para arsitek dan peneliti menganggap upaya tersebut bukan sebagai upaya pelestarian. Saya pribadi memahaminya, bahwa kenangan akan rumah keluargalah yang menjadikannya lestari di hati para turunan dan warga yang mengenal pemilik rumah.

Kenangan Melalui Bagian Bangunan

Seperti halnya ketika kami sebelumnya mampir ke Dusun Sanggra Agung, untuk meninjau bangunan tradisional yang lain. Biasanya organisasi rumah tradisional, satu rumah adalah satu kamar. Sedangkan menurut tata letaknya, di sisi Barat terletak mushola atau langgar. Menurut tampilannya, mushola tergolong bangunan baru. Dari penuturan seorang ibu, warga setempat, mushola memang sudah direnovasi, tetapi berusaha memakai material mushola lama. Misalnya dipakai sebagai daun pintu, bagian dari konstruksi atap, dan lain-lain.

Begitulah memang definisi pelestarian menurut masyarakat setempat. Tak masalah hanya beberapa elemen saja dari bangunan lama yang dipasangkan pada bangunan baru.
Bagi masyarakat setempat doa yang tak putus, membacakan Al Fathihah bagi mendiang leluhur, ibaratnya menyalakan pelita untuk menerangi perjalanan para leluhur menuju RUMAH abadi mereka.

Selepas kunjungan kami dari pesantren dan meneruskan perjalanan ke obyek lainnya, saya pun merenung. Mengenang kembali rumah besar yang dibangun ayah saya, yang sekarang sudah direnovasi menjadi 5 maisonete. Kemudian bertafakur sendiri, sudahkah siapkah saya melakukan perjalanan menuju rumah abadi saya kelak?

Bagaimana dengan teman blogger? Masih adakah rumah leluhurmu?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

4 Replies to “Al Fatihah melalui Sekeping Rumah Tradisional”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *