8 Langkah Mengarahkan Anak Agar Lebih Kreatif


lifestyle, parenting / Jumat, April 6th, 2018

 photo 34766d9a-b3bb-4088-be4a-22b02ab02dbf.jpg

Ini gara-gara 1m1c yang temanya Kreativitas, jadi deh saya mencari-cari mau menulis apa tentang kreatif ini. Tadinya mau cerita tentang bagaimana saya memodifikasi kebaya pengantin saya untuk anak perempuan saya ketika dia menikah. Berhubung dia tidak suka dengan kebaya brokat yang dikasih daleman kaos, istilahnya manset tea. Kebetulan waktu saya menikah tidak pakai kebaya berbahan brokat, dan kebetulan lagi heboh tentang puisi yang dibacakan pada saat mode show kebaya desainer terkenal.

Tapi kisah tentang Kebaya Pengantin sudah pernah saya tulis di sini, dan rasanya tidak terlalu kreatif juga, sih. Wong cuma cerita tentang mermak kebaya. Apa bedanya dengan vermak jeans yang suka ada di pasar itu.

Orang kan sering banget bilang kreatif. Malah dijadikan bahan olok.
“Enggak kreatif amat sih elo”
“Kreatif dikit napa”

Seolah kalau tidak kreatif, sama lah dengan tidak bisa matematika.
Iya memang agak iya juga sih. Karena kreatif berseberangan dengan matematika sih.
Konon katanya kreatif itu menggunakan belahan otak bagian kanan, sedangkan orang yang jago matematika menggunakan otak bagian kiri. Kreativitas banyak berkaitan dengan imajinasi, emosi, seni, musik, dan ketrampilan. Sedangkan otak kiri, berkaitan dengan logika, matematika dan sains, kemampuan menulis dan berbahasa.

Jelasnya sih bisa dilihat di ilustrasi berikut tentang otak kanan dan otak kiri.

sumber gambar

Berpikir dan Bertindak Kreatif

Menurut beberapa penjelasan, kreatif berkaitan dengan kemampuan memberi gagasan baru dalam pemecahan masalah. Jadi sebetulnya lebih luas daripada cuma bisa art and craft. Penemu dan pencipta zaman dulu itu, selain jago sains mereka kan sekaligus kreatif bukan? Benyamin Franklin penemu penangkal petir melalui layang-layang, bisa juga disebut kreatif. Koq terpikir menggunakan layang-layang untuk membuktikan bahwa petir mengandung energi listrik. Atau Helen Keller, penulis yang tuna netra dan tuna rungu. Melalui kesabaran dan kreativitas gurunya Anne Sullivan, Helen Keller pertama kali berkomunikasi melalui air.

Anak-anak perlu dibiasakan berpikir dan bertindak kreatif agar mereka lebih mudah memecahkan masalah dan bisa survive. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melatih kreativitas anak.

1. Memilih

Biarkan si Kecil membuat pilihan sederhana, seperti apa yang harus dimakan untuk makan malam atau ke mana harus pergi di akhir pekan. Ini mendorong mereka untuk berpikir secara mandiri.

2. Mandiri

Salah satu aspek penting dari kreativitas adalah kemandirian. Coba bebaskan supaya anak tidak tergantung pada pengasuh dan media (televisi atau gadget). Anak-anak yang terlalu tergantung akibatnya sulit mandiri.

3. Imajinasi

Sediakan barang-barang di lingkungan anak-anak di rumah untuk merangsang imajinasi mereka. Bisa berupa buku, ketrampilan, balok-balok susun dan mainan. Tidak harus mainan mahal, bisa saja barang sehari-hari yang direka menjadi mainan.

4. Brainstorming

Lakukan brainstorming untuk item yang berbeda bersama dengan si Kecil. Misalnya, tabung karton bisa menjadi teleskop, menara, atau orang. Bekas kotak sepatu menjadi garasi mobil atau rumah. Tutup panci menjadi setir mobil, dan lain-lain.

5. Seandainya

Coba bermain tebak kata bersama si Kecil dengan memulainya dengan “Seandainya”.
Ajukan si Kecil pertanyaan terbuka untuk memperluas pemahaman mereka dan membantu mereka untuk mendalilkan gagasan.
Tanyakan kepada anak-anak pertanyaan “seandainya”.

“Seandainya orang bisa terbang?”
“Seandainya orang tinggal di luar angkasa?”
“Seandainya lumba-lumba berjalan di darat?”

Membaca buku adalah peluang bagus bagi seorang anak untuk melatih kreativitas mereka. Tanyakan kepada si Kecil apa yang bisa terjadi selanjutnya, atau bagaimana karakter terasa (dan mengapa).

6. Bermain

Bermainlah dengan si Kecil. Bermain pura-pura (pretend play) sangat bagus untuk merangsang kreativitas si Kecil. Di saat yang sama mengembangkan imajinasi dan meningkatkan kedekatan dengan anak.

Baca juga Bermain Pura-pura pada Balita

7. Tak Takut Kotor

Seperti kata iklan deterjen, kotor itu belajar. Maka biarkan saja si Kecil bermain berantakan dan kotor. Meskipun kelihatannya si Kecil ketika bermain di lumpur hanya untuk membuat menambah pekerjaan kita, sebenarnya ada banyak hal yang dipelajari dengan bermain dengan hal-hal seperti itu. Ketika mereka selesai bermain, buat saja aturan bahwa mereka harus membantu membersihkan.

8. Mendongeng

Mendongeng bergantian dengan si Kecil itu cukup seru. Apalagi bila yang mengatur skenario cerita adalah si Kecil, dan kita harus mengikuti alurnya. Tak masalah kisahnya mustahil dan kadang konyol. Keseruan dari mendongeng bersama adalah ceritanya apa adanya dan tidak dibuat-buat.

Nah, bagaimana Mama dan Papa Blogger, apa saja yang kalian lakukan bersama si Kecil agar mereka lebih kreatif?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

16 Replies to “8 Langkah Mengarahkan Anak Agar Lebih Kreatif”

  1. Thanks mba, saya pengen banget mendidik anak menjadi sosok yang kreatif. Soalnya belajar dari emaknya yang dulu dikekang jadi kurang kreatif 😛

  2. Alhamdulillah saya sudah mempraktikkan 8 langkah di atas secara bertahap. Ya, tapi namanya juga anak-anak, jadi kudu sabar sama prosesnya dan harus konsisten. Sejauh ini saya melihat hasilnya lumayan menggembirakan. Dua anak saya sangat suka mengarang cerita berdasarkan imajinasinya. Juga happy bgt kalau diajak main pretend. Tapi pening juga emaknya, mereka pinter juga ngelesnya, wkwkwkwk

  3. Perlu di catet niii, super jurusnya.
    Kalau saya saat ini sukanya mengajak anak bermain sambung cerita mbak. Sejak Aira masuk SD, saya melatih imajinasinya lewat permainan sambung cerita. Misalnya saya mengarang cerita ttg ‘kodok yg malas’ , saya mulai beberapa paragraf, kemudian dia melanjutkan dengan versinya dia. Permainannya lucu banget, karena ending cerita yang didapat bener2 di luar prediksi. Hehehe

  4. Waah…saya sudah melaksana beberapa.poin wkt anak2 masih kecil, seperti menu apa buat bekal, maksi & makmal. Membiarkan anak2 memutuskan pilihan sendiri, bahkan setiap keputusan apakah saya boleh dinas keluar kota. Anak2 boleh memutuskan saya boleh berangkat atau ga dg alasan masing2…makasih sharenya Mba

    1. Sama-sama mba Srie. Alhamdulillah, ternyata sudah diterapkan ketika anak-anak masih kecil. Semoga ketika dewasa menjadi anak yang kreatif ya Mbak…

  5. 8 langkah di atas -seingat saya- sudah pernah saya praktikkan pada si kakak (11 tahun). Salah satu hasilnya sih dia jadi selalu kepo terhadap hal-hal baru terutama yang berhubungan dengan sains. Maunya bikin percobaan2 gitu. Dia juga udah punya buku antologi pertamanya, hasil dari pengembangan imajinasinya dan hobi baca bukunya. Saya masih melanjutkan perjuangan tuk dampingi adeknya. Terima kasih sharingnya, Mbak 🙂

  6. Setuju sekali dengan 8 point di atas. Anak jadi kreatif dan mandiri. Saya juga sedang berusaha mendidik anak-anak saya dengan cara di atas, semoga berhasil sampai mereka dewasa. TFS Bunda..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *