Nelayan dan Penyihir


cuma cerita / Minggu, April 15th, 2018

sumber

Dahulu kala ada tiga penyihir jahat yang sering mengganggu nelayan-nelayan yang ada di kampung di tepi pantai. Mereka tak segan-segan menyihir nelayan yang tidak menuruti keinginan mereka, dan mengubahnya menjadi mahluk laut atau menjadi batu, sehingga menimbulkan rasa ketakutan penduduk kampung. Ketiga penyihir tersebut bernama Mukage yang berhidung besar, Raiput penyihir yang berwajah mirip nenek tua. Kemudian yang seorang lagi, Bellatik, berambut merah, bermata biru, dan mempunyai raut wajah amat cantik.

Pada suatu hari mereka berlayar mengarungi lautan dalam kapal kayu tua dilengkapi layar dari untaian ganggang laut. Kepergian mereka sepanjang perjalananan menimbulkan gelombang badai dan petir sambar menyambar, sehingga nelayan-nelayan takut melaut. Di ufuk Barat tambak awan kelabu sangat tebal membuat suasana suram di kampung sepanjang pantai. Ternyata kapal para penyihir tersebut berlabuh di kampung Buih Laut, sebuah perkampungan dengan penduduk yang ramah.

Dalam sebuah rumah, seorang nelayan muda bernama Baran tinggal seorang diri. Ayah ibunya sudah lama wafat, sehingga Baran hanya memenuhi kebutuhannya sendiri. Di kampung Buih Laut, Baran terkenal sebagai nelayan yang berani dan murah hati. Tak segan-segan Baran membantu nelayan lain untuk bersama-sama melaut, kemudian dia hanya mengambil seperlunya bagian tangkapan ikan hari itu.

Sore itu angin menderu-deru dan hujan deras, Baran seperti halnya nelayan lain, tidak berani melaut. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Mulanya ia mengira hanya tiupan angin di daun pintu rumahnya atau sekedar air hujan yang berjatuhan menerpa jendela. Atau suara siulan seseorang. Baran pun memberanikan diri membuka pintu rumahnya. Tiga sosok penyihir berjubah hitam dan bertopi tinggi berdiri berjajar di depan pintu.

“Siapakah kalian?” tanya Baran memberanikan diri.
Seorang diantaranya kurus dengan hidung besar maju mendekat.
“Aku Mukage, penyihir dari seberang lautan” jawabnya. “Dan aku bisa mengubahmu menjadi ikan badut seperti ini!” ujarnya sambil menggerakkan tangannya menyerupai gerakan ikan.
Seorang lagi berbadan besar dengan keriput berlipat-lipat di wajahnya menenteng tas hitam besar terbuat dari beludru.
“Aku Raiput. Kekuatan sihirku berlipat-lipat dari dia” sambil tangannya menunjuk Mukage dengan sombong. “Aku bisa mengubahmu menjadi axiotheracus”. Mukage pun mendengus tak suka kesombongan Raiput.
Baran tak mengerti apa itu axiotheracus, sepertinya bukan sesuatu yang indah dan bagus. Wajahnya tampak bingung.
“Cepat bawa kami masuk ke dalam. Dingin di luar, tahu!” teriak penyihir yang terakhir. “Aku Bellatik, dan aku bisa mengubahmu menjadi kayu bakar dan dibakar untuk menghangatkan kami. Aku dan bibi-bibiku akan menginap di sini malam ini”.
“Tapi tak cukup tempat untuk kalian. Aku tidur di mana?” jawab Baran dengan berani.
Ketiga penyihir menatap Baran dengan tajam sehingga menyurutkan keberanian Baran. Dia tak ingin dikutuk menjadi ikan badut, menjadi axiotheracus apapun itu, atau dibakar seperti kayu bakar untuk menghangatkan para penyihir.
“Terserah. Kami sangat lelah dan ingin tidur” ujar Raiput.
“Jangan lupa besok siapkan sarapan yang enak untuk kami. Kalau tidak…” ancam Mukage, sambil tangannya menirukan gerakan ikan berenang.

Malam semakin larut, hujan mulai mereda, tetapi dinginnya menusuk tulang. Bara api dari sisa arang di tungku membuat dapur cukup hangat. Baran berusaha memejamkan matanya sambil meringkuk di lantai dapur. Tak hentinya dia mengutuki kejadian sore tadi. Mimpi apa malam ini ada tiga penyihir yang memaksa menginap di rumahnya. Mukage yang kejam dan Raiput yang keji, tapi Bellatik amat molek.

Di antara kelap-kelip sisa api di tungku, mata Baran tertuju pada sebentuk buku yang mencuat dari tas beludru milik Raiput. Perlahan dengan mengendap, diambilnya buku tersebut. Pada sampulnya tertulis Panduan Mantera Praktis bagi Penyihir. Dalam keremangan dibacanya lembar demi lembar halaman buku tersebut dengan hati berdebar.

Setelah membaca beberapa halaman, Baran pergi ke luar rumah dan kembali lagi menjelang matahari terbit. Dikeluarkannya berbagai macam benda dari sebuah kantung. Ada tulang ikan yang telah kering, sebutir kelapa, sebongkah batu berlumut, dan ganggang laut.

Keesokan harinya para penyihir terbangun karena harumnya aroma masakan dari arah dapur. Sinar matahari pagi menerobos ke dalam ruangan melalui celah-celah daun pintu.
“Sudah saatnya sarapan, hai kalian penyihir jahat!” seru Baran. “Nih, ketan urap untuk mengawali pagi yang cerah”
“Asyik, ada sarapan ketan urap,” gumam Mukage sambil menggosokkan matanya yang masih mengantuk. Dia mengambil sepotong ketan urap dan langsung menjejalkan ke dalam mulutnya dalam sekali suap.
“Nom, nom,” sambil mulutnya mengecap-ngecap dan lidahnya menjulur. “Ternyata enak sarapan buatanmu”
“Barangkali kita tak jadi mengubahmu menjadi ikan badut,” ujar Raiput, sambil menjejalkan sekaligus dua potong ketan ke dalam mulutnya.
“Paling tidak sampai musim hujan usai,” sambung Bellatik, matanya dingin menatap Baran, sambil menggigit ketan bagiannya.

Tiba-tiba wajah ketiga penyihir itu berubah. Bibir Mukage memanjang kemudian menjadi sepasang paruh berwarna kuning, dan ia menguak-nguak seperti seekor camar! Sedangkan Raiput berubah ujud menjadi seekor kura-kura hijau yang gemuk.
Baran tertawa terbahak-bahak. Camar terbang keluar melalui pintu depan, melesat melintasi lautan. Baran pun mengambil kura-kura dan melemparnya ke laut, melewati batu-batu. Kura-kura pun berenang menyelam ke dalam laut. Wajah Bellatik pucat bagaikan kapur. Ia menggumamkan sejumlah mantera, tetapi Baran hanya berdiri memandanginya.
“Apa yang telah kau lakukan, kau kurang ajar!” umpat Bellatik, sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
“Aku telah memakai buku Panduan Mantera kalian untuk ramuan ketan urap sihir” jawab Baran. “Sekarang kalian telah merasakan sendiri jampi-jampi kalian. Bibi-bibimu yang jahat telah berubah menjadi binatang selama setahun ke depan. Itu akan memberi kalian pelajaran tentang tata krama!”
“Lalu, bagaimana dengan aku?” rintih Bellatik.
“Untukmu kubuatkan ramuan cinta. Dan kau akan jatuh hati kepadaku selama hidupmu!”

Begitulah, maka keduanya saling jatuh cinta. Beberapa hari kemudian Baran menikahi Bellatik. Kini Baran tidak sendirian lagi dan hidup berbahagia di rumahnya. Kadang-kadang Bellatik masih mencoba mengucapkan mantera, tetapi ia tidak ingin mengubah Baran menjadi kayu bakar. Dan kadang-kadang pula, ketika angin kencang bertiup dan awan kelabu menggantung, mereka dapat melihat kapal kayu tua berlayarkan untaian ganggang melintas di cakrawala. Melalui hembusan angin mereka pun dapat mendengar dendang kedua bibi Bellatik, Mukage dan Raiput. Tetapi mereka tak pernah singgah lagi di kampung Buih Laut.

 

Pesan:
Jadilah orang yang pemberani dan berakal sehingga dapat memperdaya orang-orang yang ingin berbuat jahat.

 

Ilustrasi:
Ruangan dalam rumah ada tungku di dapur. Ada Biran berdiri berhadapan dengan Bellatik.
Lalu di bawah di sudut ruangan ada kura-kura hijau.
Di jendela tampak di langit, burung camar terbang.

 

Catatan:
Awalnya dongeng ini diikutsertakan untuk antologi Fairy Tale yang diadakan oleh sebuah komunitas.
Mungkin belum rizkinya terbit, dongeng ini tertinggal.
Saya publish di sini saja.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *