Jejak Persahabatan Muslim Indonesia dan Bosnia-Herzegovina


lifestyle, lomba blog, travelling / Sabtu, Mei 26th, 2018

 

Dari Abu Musa RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang mukmin dengan seorang mukmin lainnya laksana bangunan yang saling menguatkan sebagian atas sebagian yang lain,’ seraya beliau memperagakan dengan menyusupkan jari-jemarinya,”(Muttafaq ‘alaih)

 

Nun jauh ribuan kilometer jauhnya dari bumi Indonesia, sejarah mencatat bahwa kita pernah bersahabat dengan Yugoslavia, sebuah negara non-blok yang sejalan dengan cita-cita bangsa. Presiden pertama kita Ir. Soekarno merupakan sahabat dekat presiden Yugoslavia, Joseph Bros Tito.

 

Yugoslavia, yang berarti Slavia Selatan, negara di semenanjung Balkan sebuah wilayah di Eropa Timur menyimpan banyak peristiwa sejarah. Negara ini hanya mampu bertahan hingga akhir tahun 1990-an, dan pecah menjadi tujuh negara akibat perang saudara, Slovenia, Serbia, Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Montenegro, Makedonia, menyusul kemudian Kosovo. Negara multietnis dengan berbagai budaya dan agama, Katolik Roma, Katolik Ortodoks dan Islam ini sebelumnya hidup berdampingan dibawah kepemimpinan Joseph Bros Tito. Siapa nyana, perang yang dilandasi sentimen agama dan etnis ditengarai merupakan penyebab pecahnya negara ini. Berbagai gejolak karena krisis ekonomi dan dendam antar etnis pecah setelah Tito wafat.

Sejarah mencatat bahwa perang selalu menyisakan luka pada suatu bangsa. Bagaimana semula sebuah bangsa besar dan utuh, kemudian tercerai-berai menjadi negara-negara kecil.
Sudah menjadi tabiat manusia juga, bahwa ada keinginan untuk meluaskan wilayah, kemudian menguasainya dengan dalih apapun. Perdagangan, syiar agama, ketamakan, dan akhirnya perang.

Bosnia di Pelosok Balkan

Awalnya adalah Balkan, wilayah yang dibatasi oleh laut Adriatik dan pegunungan yang sering disebut pegunungan kayu (balkan dalam bahasa Turki). Area Balkan sejak lama menjadi pertemuan berbagai ras, budaya dan agama, Katolik Roma berasal dari wilayah Utara. Katolik Ortodoks dari arah Selatan, tepatnya wilayah Byzantium yang merupakan pecahan dari Kekaisaran Romawi. Kemudian sejarah mencatat bahwa di era Kesultanan Ottoman, Islam pernah meluaskan syiarnya sampai ke tanah Eropa termasuk semenanjung Balkan.

Di pelosok Balkan inilah terletak wilayah Bosnia yang memang unik. Sejak awal ibaratnya sebuah mangkuk es campur budaya, tempat segala etnis silih berganti mengambil alih pemerintahan setempat. Terhitung orang-orang dari seluruh dunia – termasuk Italia, Spanyol, Afrika, Asia Kecil, Suriah, Mesir, dan Palestina – telah beberapa kali mengisi wilayah Dalmatia dan Bosnia dan Herzegovina.

5 Fakta Keunikan Bosnia-Herzegovina

1. Sejarah

Ketika Romawi terbagi dua kira-kira di tahun 395 Masehi, sungai Drina merupakan pembatas antara Romawi Barat dan Byzantium. Sungai ini sekarang merupakan batas antara Bosnia dan Serbia.
Ketika bangsa Turki menyerang Bosnia di tahun 1383, disusul kemudian di tahun 1463, Bosnia merupakan salah satu provinsi Turki. Sarajevo ditentukan menjadi ibukota provinsi ini.

Hampir selama 400 tahun Bosnia berasimilasi dengan Kesultanan Ottoman di bawah pemerintahan Turki, hingga akhirnya Kesultanan ini pecah di abad ke 17 Masehi. Selama 150 tahun awal pemerintahan Kesultanan Ottoman inilah banyak warga Bosnia yang menjadi Muslim secara sukarela. Sedang agama lain yang sudah ada sebelumnya yaitu Katolik dan Kristen Ortodoks tetap berjalan seperti biasa.

Berbagai konflik terjadi di benua Eropa, peperangan dan perubahan batas wilayah silih berganti. Bahkan bangsa Austria-Hungaria sempat menjadikan Bosnia sebagai pusat industri di awal abad ke 20. Tetapi rupanya rasa nasionalisme mulai bangkit di wilayah Balkan ini. Ketika terjadi pembunuhan putra mahkota Archduke Franz Ferdinand, pewaris keluarga Habsburg oleh warga turunan Bosnia-Serbia, di kota Sarajevo pada tahun 1914. Maka Austria menyatakan perang terhadap Serbia.
Dari sinilah awal mulanya pecah Perang Dunia I.

Yugoslavia yang semula merupakan federasi dari berbagai etnis terbentuk tahun 1929, tetapi harus pecah berkeping tahun 1992, karena sentimen etnis dan agama. Lagi-lagi kota Sarajevo menjadi sasaran pemboman oleh Serbia. Isue genosida atau pemusnahan umat Muslim menjadi isue dunia. Hingga akhirnya perang mereda di tahun 1995. Masih banyak jejak dan sisa peperangan di Bosnia, yang seolah dipertahankan agar dunia mengerti bahwa perang hanyalah menyisakan duka kemanusiaan.

 

Sarajevo Tunnel Museum
Terowongan sepanjang 800 meter yang dipergunakan untuk bertahan di masa perang 1992-1995

2. Alam

Selepas perang, Republik Bosnia-Herzegovina merupakan wilayah di semenanjung Balkan seluas 51.129 km² yang dikelilingi daratan. Pedalaman negara ini penuh dengan pegunungan, kecuali sepenggal pesisir pantai Laut Adriatik sepanjang 20 km yang berpusat di kota Neum. Negara Kroasia, membatasi Bosnia di utara, barat, dan selatan. Sedangkan Serbia di timur, serta Montenegro di selatan.

Keunikan pegunungan juga disertai dengan sungai-sungai yang mengalir menampilkan bentang alam luar biasa indah. Beberapa air terjun merupakan ciri khas wilayah yang menjadi obyek wisata hiking, dan arung jeram. Selain itu morfologi Bosnia yang bergunung dan sungai secara tidak tertulis merupakan ciri fisik sebuah kota, yang dibangun di tepi sungai dan gunung merupakan batas kota.

 

 

Mostar Bridge – Mostar

Salah satu landmark paling terkenal di Bosnia, dianggap sebagai contoh arsitektur Islam Balkan. Stari Most (harfiah, “Jembatan Tua”) adalah jembatan Ottoman abad ke-16, yang melintasi sungai Neretva dan menghubungkan dua bagian kota Mostar. Jembatan Tua berdiri selama 427 tahun, sampai dihancurkan pada 9 November 1993 oleh pasukan militer Kroasia selama Perang Kroasia-Bosniak. Selanjutnya, sebuah proyek digerakkan untuk merekonstruksi  jembatan dan dibuka kembali pada 23 Juli 2004.

 

3. Arsitektur

Keunikan Bosnia juga tampil dari keunikan gaya arsitekturnya. Masih banyak peninggalan kejayaan arsitektur Ottoman yang mempunyai ciri khas kubah pada bagian atap. Contohnya adalah Masjid Gazi Husrev-bey sebuah masjid di kota Sarajevo. Dibangun pada abad ke-16, merupakan masjid sejarah terbesar di Bosnia dan Herzegovina dan salah satu struktur Utsmani yang paling representatif di Balkan. Kompleks masjid meliputi maktab dan madrasah (sekolah dasar dan menengah Islam), sebuah bezistan (pasar berkubah), dan sebuah hammam (tempat pemandian umum).

Ketika pecah perang saudara, pasukan Serbia sengaja menargetkan banyak pusat budaya kota, seperti museum, dan masjid, menjadi sasaran penembakan, termasuk Masjid Gazi Husrev-bey. Rekonstruksi segera dilakukan tepat setelah perang di tahun 1996, termasuk mengganti seluruh lapisan interior di tahun 2001/2002. Selain masjid, bangunan peribadatan lain, misalnya gereja juga menjadi sasaran pihak lain yang berseteru. Walaupun demikian restorasi segera dilakukan begitu perang usai.

4. Art and Craft

Berbagai kerajinan tangan yang masih berkembang sampai saat ini adalah peninggalan zaman Ottoman, yaitu kerajinan tembaga dan tenunan karpet. Kerajinan tembaga (copper) tersebut dibuat sebagai perlengkapan minum kopi, piring, dan hiasan lainnya.
Sedangkan tenun karpet tradisional bernama kilim umumnya dibuat sebagai sajadah atau elemen interior.

 

 

5. Kuliner

Tidak lengkap rasanya bila kita mempelajari suatu negara tak lupa membahas ragam kulinernya. Tetapi bagi umat Muslim tentunya masalah kuliner merupakan masalah yang perlu dicermati, karena harus yakin kehalalannya.

Menurut data yang ada, penganut Muslim di Bosnia mencapai lebih dari 50,1 % dengan demikian tentunya makanan halal lebih mudah diperoleh daripada di negara yang mayoritas non Muslim. Apalagi pendekatan wisata halal sudah menjadi trend di banyak negara tujuan wisata, walaupun di negara yang warganya mayoritas non Muslim.

Berbagai restoran halal dengan menu khas Bosnia mudah dijumpai di kota-kota tujuan wisata, sehingga menambah pengalaman kita menikmati kuliner setempat.

 

halal food

 

Masjid Istiklal Simbol Persahabatan dan Kebangkitan Kejayaan Islam

Keindahan artefak peninggalan budaya dan arsitektur Islam di wilayah yang pernah menjadi Kesultanan Ottoman membuktikan perluasan wilayah memudahkan syiar. Tapi di abad 21 ini syiar Islam bisa kita lakukan tanpa harus menguasai suatu wilayah secara fisik. Misi persaudaraan dan persahabatan sesama Muslim merupakan langkah super jitu yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia.
Langkah tersebut adalah mendirikan sebuah masjid di sebuah wilayah bernama Otoka di kota Sarajevo.

Masjid tersebut bernama Istiklal, yang artinya merdeka. Dalam bahasa setempat bernama Istiklal Dzamija. Masjid Istiklal didesain oleh Ir. Achmad Noe’man beserta putranya Fauzan Noe’man. Achmad Noe’man merupakan arsitek yang dijuluki sebagai arsitek masjid, karena sebagaian besar karyanya adalah masjid. Antara lain adalah Masjid Salman di depan kampus ITB Bandung. Kemudian Masjid Al Furqon di kampus UPI Bandung, dan masih banyak lagi. Termasuk Masjid At Tin di kompleks TMII Jakarta.

Masjid Istiklal adalah contoh arsitektur masjid bergaya modern, dilengkapi dengan paduan hiasan stainless steel dan kaca pada jendela masjid membentuk lengkungan yang indah. Bagian luar masjid dibangun dengan ubin putih sementara masjid dari dalam dihiasi dengan ukiran kayu terbuat dari kayu jati bergaya ukiran Indonesia.

 

Desain Masjid Bosnia, arsitek Ir Achmad Noe’man & Fauzan Noe’man
Sumber: Utami

 

sumber

 

Masjid dibangun di atas tanah seluas 2.800 meter2, berukuran 28X30 meter, dan dianggap masjid terbesar di Sarajevo dan orang dapat membedakannya dari bangunan lain di sekitarnya. Kubah masjid dibangun dengan warna tembaga. Tinggi kubah 27 meter, demikian juga diameter berukuran 27 meter. Kubah memiliki tiga bukaan ukuran besar untuk memungkinkan cahaya yang cukup menerangi interior masjid, sehingga tidak diperlukan lampu di siang hari.
Dua menara setinggi 48 meter dibangun di kedua sisi pintu masuk menandakan persahabatan dua negara, Bosnia-Herzegovina dan Indonesia.

Masjid Istiklal merupakan hadiah dari bangsa Indonesia, dibangun sejak tahun 1995, atas prakarsa presiden Soeharto. Kemudian diresmikan tahun 2001 oleh presiden waktu itu, Megawati Soekarnoputri.
Masjid yang tampak sederhana ini bisa jadi sebagai simbol perdamaian dan perjuangan membangkitkan kejayaan Islam tanpa harus melalui peperangan dan menguasai wilayah.

 

——–

Sumber:
Utami; 2002; Dinamika Pemikiran dan Karya Arsitektur Masjid Achmad Noe’man; Tesis Program Magister Arsitektur; Institut Teknologi Bandung
https://adindaazzahra.com/
http://bujangmasjid.blogspot.co.id/2011/01/masjid-istiklal-indonesia-di-bosnia.html
https://www.havehalalwilltravel.com/blog/dine-like-a-true-bosnian-at-these-11-muslim-friendly-eateries/
https://muslimmosques1.wordpress.com/2014/12/28/istiqlal-mosque-otoka-bosnia/
https://www.lonelyplanet.com/bosnia-and-hercegovina/history
https://theculturetrip.com/europe/bosnia-herzegovina/articles/the-10-most-beautiful-buildings-in-sarajevo-bosnia/

twittergoogle_pluspinteresttumblr

20 Replies to “Jejak Persahabatan Muslim Indonesia dan Bosnia-Herzegovina”

  1. Wuiih…informasinya sangat lengkap. Bisa dibuat jadi buku nih mbak. Betewe foto-foto yang ditampilkan juga sangat indah, jadi pingin jalan-jalan ke Bosnia-Herzegovina.

  2. Waah nggak nyangka trnyata ada masjid seindah ini di sana ya, Bunda Hani… keren pisaannn. Foto-fotonya bikin mufeeeng hehehe

  3. Salfok sama halal foodnya juga pada kerajinannya..
    Wah , asyik pasti kalau bisa wisata ke Bosnia Herzegovina. Tambah wawasan agama juga jadinya.
    Terima kasih sudah menuliskan artikel lengkap ini Mbak Hani..:)

  4. Bu Hani, keren banget foto-fotonya. Aku mupeng banget ngeliat waterfall nya.
    Terima kasih untuk sharingnya ya bu 🙂

  5. Wah bagus banget yak tulisan ini ,komplit mba Hani. Keren tenun karpet dibikin sajadah. Namanya juga unik, Kilim 🙂

  6. Berasa belajar sejarah tapi asyiik… Jadi tahu deh sejarahnya ottoman yg biasa kulihat di fipm turki. Hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *