Kisah Kebaya Pengantin


lifestyle, wedding / Kamis, Mei 31st, 2018

Kisah ini publish pertama kali 1 Juni 2014, hari pernikahan putri saya. Besok adalah anniversary mereka ke 4 tahun. Semoga selalu menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Seperti halnya doa ibu saya dulu untuk pernikahan kami.

 

Dua potong kain itu dibeli ibunya di Jerman, ketika ayahnya bertugas di sana. Ibunya memperlihatkan kain itu, dua potong kain berkilau keemasan. Salah satunya berwarna indah, biru turkis kehijauan bersulam bunga krisan emas.
Entah apa nama kain ini.
Dia yang gemar menjahit dan sering memperhatikan tekstur kain, tak kenal dengan jenis kain ini. Dia hanya tahu kain katun, sutra, voile atau sering disebut paris dan jorjet (georgette). Bahan kaos atau yang mewah sejenis brokat serta tulle atau taffeta. Tapi dia tak kenal akan kain yang diperlihatkan oleh ibunya.
Jadi ingat gurauan anak kos, waktu dirinya masih kos di Bandung. Bila melihat artis di TV memakai kain berkilauan, maka Lella, salah seorang putri induk semangnya berkata, itu 90% katun dan 10% kaca.
Mana ada kain berbahan kaca?

Dan kain berkilauan ini, apakah memakai benang prada atau benang emas? Rasanya tidak sampai semewah itu.
Ibunya menuturkan bahwa kain biru turkis bertekstur emas ini, akan dipakai sebagai bahan kebaya untuk akad nikahnya. Dalam 4 bulan ke depan, kedua belah pihak keluarga, yaitu keluarganya dan keluarga calon pasangannya telah menetapkan tanggal pernikahannya.

Lalu sepotong kain yang lain, berwarna krem abu, juga bertekstur bunga emas, diusulkan sebagai kebaya resepsi.
Dia hanya menurut saja usul-usul ibunya tersebut.
Pernikahan kala itu lebih banyak diprakarsai oleh orangtua pihak perempuan. Lagipula tigapuluh tahun yang lalu belum menjamur wedding organizer atau penyewaan kebaya seperti sekarang. Kebaya yang sama dipakai oleh berbagai pengantin dalam pernikahan yang berbeda.

Kala itu segalanya harus dibuat sendiri atau ke penjahit khusus kebaya, karena tidak semua penjahit mahir membuat kebaya. Apalagi kebaya pengantin. Bentuk dan potongan kebaya pengantin agak berbeda dibanding kebaya biasa. Kebaya pengantin biasanya lebih panjang.
Kebaya untuk resepsi umumnya berbahan beludru berwarna hitam atau biru gelap. Kemudian diberi pinggiran atau bord berwarna emas. Kain bawahnya atau sampingnya pun khusus, kain Sidomukti yang diharapkan pemakainya akan ‘mukti’. Biasanya dipakai berpasangan dengan mempelai prianya.
Kala itu lazimnya sebuah pernikahan memakai baju adat.
Bahkan ritual adat pun diselenggarakan selama tiga hari, sejak memasang bleketepe, siraman, midodareni, akad nikah, adat panggih dan resepsi. Tentu saja semuanya memakai kebaya yang berbeda, walaupun potongan kebayanya lebih pendek daripada kebaya resepsi.

Kebaya pengantin itu menampilkan dirinya dalam nuansa yang berbeda, di suatu sore, tanggal 1 April, 30 tahun yang lalu. Dengan riasan dan paes Ayu ala pengantin Jawa Solo menyandingkannya dengan sang pujaan hati yang datang dari Bandung. Kebaya biru turkis bersulam bunga krisan emas.
Pasangannya memakai beskap hitam dengan kain yang sama dengan dirinya, Sidomukti.

Kemudian dilanjutkan dengan resepsi, memakai kebaya krem bersulam bunga keemasan. Dilengkapi selop yang pantas berwarna emas, lengkaplah harinya menyongsong menjadi seorang istri.

Kebaya-kebaya itu hanya sekali pakai.

Bertahun-tahun berlalu kebaya-kebaya itu masih terlipat rapi dalam lemari. Terlalu indah untuk dibuang bahkan dihibahkan sekalipun. Terbersit pikiran untuk membawanya ke laundry agar dicuci dengan patut.
Dia lupa, apakah kebaya itu pernah atau tidak pernah dicuci setelah hari pernikahannya. Ternyata setelah dicuci oleh ahlinya, kebaya itu tergantung rapi dan wangi. Keindahannya tetap terpancar, walaupun puluhan tahun berlalu.
Seolah melambangkan usia perkawinannya sendiri, memancar asri dan menentramkan.

***

“Bu, aku kalau menikah, ingin pakai kebaya Ibu” tutur putrinya.
Bagaimana mungkin, putrinya memakai kebaya pengantinnya?
Struktur tubuh putrinya berbeda dengan dirinya.
Dicobalah kebaya itu oleh putrinya, disana-sini ada yang tak pas.
Antara kekecilan dan kepanjangan.
“Baiklah, aku akan diet agar kelak bisa memakai kebaya Ibu”

***

Kala itu bulan Januari, tanggal pernikahan putrinya sudah ditentukan, gedung sudah dibayar uang mukanya.
Satu demi satu persiapan pernikahan disusun. Hal yang tak kalah penting, lagi-lagi, kebaya pengantin.
Harga kain untuk bahan kebaya ratusan ribu per meter. Untuk sebuah kebaya pengantin bisa-bisa berharga jutaan bila dijahitkan ke perancang busana terkenal dan dilengkapi dengan bordir serta payet bahkan mote Swarovsky.
Pantaskan sebuah kebaya pengantin berharga jutaan, hanya sekali pakai? Benarkah momen indah sekali seumur hidup harus merogoh kocek demikian dalam?

Ide memakai kabaya pengantinnya muncul kembali. Lalu, siapa yang memodifikasi agar kebaya tersebut patut dipakai putrinya? Maka ditelponlah penjahit langganan yang telah menjahitkan kebaya pengantin menantunya.
Setelah berunding dalam pesan pendek, disepakati hari pertemuan untuk merancang modifikasi yang sesuai untuk putrinya. Ternyata janji tinggal janji, sang modiste menyatakan ketidaksanggupannya memodifikasi kebaya pengantinnya. Alasannya, banyak jahitan yang harus dikerjakan sampai Juni tahun ini.

Maka mulailah dia membongkar sedikit demi sedikit keliman jahitan kebaya pengantinnya.
Tekadnya sudah bulat.
“Ibu menjahit sendiri?” tanya putrinya tak percaya.

Tak ada salahnya putrinya memakai kebaya pengantinnya dulu. Baginya kebaya pengantinnya masih sangat indah.
Banyak film yang mengisahkan, seorang putri menuju altar pernikahan memakai wedding gown milik ibunya.
Banyak uji coba dan acara patut-mematut depan cermin, agar kebaya pengantinnya betul-betul pas dan patut pada tubuh putrinya.
Voila! Dua potong kebaya pengantin telah siap.
Tinggal membawanya ke laundry dan minta disetrika khusus di bekas jahitan, maka kebaya indah tergantung cemerlang.

Apakah persoalan sudah beres? Belum tentu saja.
Kebaya harus berjodoh dengan kainnya bukan? Dulu dia dan suaminya memakai kain yang sama. Kain itu pun masih dia simpan bahkan sesekali dibersihkan dengan klerak kemudian dianginkan.
Tetapi putrinya telah memutuskan tidak memakai rias pengantin ala Jawa Solo seperti dirinya. Calon pasangannya pun tidak akan memakai baju adat.
Putrinya dan calon pasangannya memilih busana pengantin yang lebih simpel dan sederhana. Stelan jas menjadi pilihan bagi calon pengantin prianya. Lalu, kain apa yang pas untuk kebaya-kebaya indah ini.
Rasanya janggal, bila putrinya memakai kain Sidomukti, sementara pengantin prianya memakai jas.

Hasil diskusi dengan adiknya tentang kain yang pas membawanya pada ide nuansa emas dipadupadankan dengan kebaya-kebaya ini. Dia ingat pernah membeli kain keemasan beberapa tahun yang lalu.
Kain itu hanya disimpan saja, karena belum menemukan model dan kesempatan yang sesuai bila dia memakai baju berbahan keemasan. Ternyata kain-kain itu sangat serasi dengan calon kebaya pengantin putrinya.
Maka kain-kain simpanan itu menjadi rok bawah panjang rapi berkat tangan penjahit sederhana tak jauh dari rumahnya. Dilengkapi dengan sedikit payet dan mute-mute yang dipasang sendiri, jadilah rok panjang itu nampak berkilau.

***

Rasa haru menyelimuti dadanya.
Tanggal 1 Juni sore itu, putrinya menjelma menjadi pengantin paling cantik yang pernah dijumpainya.
Kebaya itu membalut putrinya dengan anggun. Seuntai kalung dan sepasang giwang  serta cincin bertatahkan batu giok indah warisan ibunya menambah kesan vintage penampilan putrinya.

kebaya pengantin

 

Akankah pernikahan putrinya seawet kebaya biru turkis bersulam bunga krisan emas ini? Akankah pernikahan putrinya secemerlang kebaya krem bersulam bunga keemasan ini? Tentu saja pernikahan tidak tergantung dari sepotong kebaya.
Pernikahan adalah mengharap keberkahan dari Allah swt.
Seperti yang disampaikan oleh KH. Wawan Sofwan dalam khutbah nikah pernikahan putrinya tersebut.

***

twittergoogle_pluspinteresttumblr

3 Replies to “Kisah Kebaya Pengantin”

  1. mbak Hani, terkesima lihat kebaya cantiknya dan kisah2 di baliknya…
    sama2 anggun ketika dipakai oleh mbak dan sang putri..
    Happy Anniversary buat putrinya mbak Hani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *