Menyongsong Kembali Bulan Ramadan


cuma cerita, lifestyle / Jumat, Mei 11th, 2018

 

Minggu depan kembali kita memasuki bulan Ramadan. Bulan yang merupakan bulan istimewa dan penuh berkah bagi Muslimin.
Salah seorang teman sempat berkata, bahwa dia tidak merasa kenapa-kenapa dengan akan memasuki bulan Ramadan. Bagi dia, perasaanya sama-sama saja.
Bagi saya, membayangkan Ramadan, adalah membayangkan sahur, tarawih, mengaji, dan hal-hal lain yang mengiringinya. Ini merupakan tahun kedua saya hanya berdua suami saja menjalani sahur dan buka puasa, setelah anak-anak berumahtangga sendiri. Bahkan ketika media sosial ramai mengunggah foto-foto BUKBER, buka bersama di restoran A, B, Z, saya pun mengunggah foto, dengan caption BUKBER, dalam kurung BUKa BERdua suami. Bukber di warung baso saja.

Sahur

Sejak berumahtangga, bahkan sejak kecil, kami sekeluarga makan sahur dengan tertib dan hening.
Jarang bahkan hampir tak pernah, makan sahur sambil menyalakan TV. Jadi tak ada sahur sambil mendengarkan ceramah ustadz dan kehebohan menonton reality show bagi-bagi hadiah. Pernah, sih, menonton sekilas, yang terlintas malah, artis-artisnya kapan sahurnya yah?
Lalu menu sahurnya apa? Saya tak pernah seperti ibu-ibu lain, bangun pukul 2 pagi khusus memasak untuk sahur. Makan sahur kami ya menghangatkan sisa makan malam.
Kalau saya bangun pukul 2 pagi, alamat saya mengantuk dan lemas besok paginya harus kerja dan mengajar di kampus.

Buka Bersama

Kalau tidak penting-penting sekali, kami jarang mengikuti buka bersama. Bagi saya, buka bersama itu repot. Menuju tempat berbuka bersama-sama dengan pengguna jalan lainnya. Biasanya menjelang waktu berbuka, jalanan macet, orang grusa-grusu mengendarai mobil atau motornya. Sesudahnya begitu sampai ke tempat pertemuan atau restoran untuk berbuka, belum saatnya berbuka. Jadi kami berbincang tak penting menunggu beduk. Sesudah berbuka, saya perhatikan, banyak yang langsung makan berat. Jarang yang langsung shalat magrib terlebih dahulu.
Selain itu mushola di restoran umumnya tak memadai, karena sempit. Belum lagi antri wudhu atau mukenanya tak bersih.
Paling enak pokoknya buka puasa itu ya di rumah bersama keluarga.

Tarawih

Malam Ramadan artinya mulai shalat tarawih. Saya mungkin tergolong Muslimah biasa-biasa saja, berusaha istiqomah dan menjalankan syariat semampu saya. Tarawih ya dijalankan di masjid dekat rumah saja, masjid Nurul Fallah, sekira 400 m dari rumah. Hampir tak pernah, khusus tarawih di masjid agung atau masjid besar lain demi untuk mendengarkan ceramah ustadz terkenal gitu. Biasanya kan ada program ustadz terkenal bahkan walikota dan gubernur tarawih dari masjid ke masjid. Malah nih, pernah walikota Bandung ceramah tarawih di masjid Nurul Fallah dekat rumah itu, saya malah tarawih di rumah saja.

Sementara yang terlintas di kepala tiga hal di atas. Tentu saja masih ada hal-hal lain yang menyertainya, perbanyak amalan, termasuk tadarusan dan khataman. Saya jujur nih, baca Al-Quran belum cepat. Orang lain mungkin bisa one day one juz. Saya tak sampai…

Ramadan pun biasanya orang-orang mulai menyiapkan diri dan keluarga untuk mudik. Sejak Ibu saya wafat 2014 yang lalu, kami pun tak pernah ke Jakarta pada waktu Lebaran. Mudik saya memang terbalik, orang lain ke Timur, Barat, menyeberang pulau, saya malah ke Jakarta.
Ada satu sih keinginan saya, pada suatu hari mencari makam Eyang Kakung, ayahnya ayah, di Blora. Mungkin nanti saya harus menyempatkan diri menelusuri kembali jejak kakek-moyang saya dan runutan keluarga besar.

Teman-teman blogger, menjelang bulan Ramadan ini apa yang akan dilakukan?

twittergoogle_pluspinteresttumblr

2 Replies to “Menyongsong Kembali Bulan Ramadan”

  1. ramadhan tahun lalu aku sibuk bikin dekorasi rumah biar anak2 ngerasain semarak nya ramadhan bu hani … tp ramadhan tahun ini tampaknya adem ayem. ga mau maksain tubuh hehehe .. yg penting ibadah2 meningkat dan murotal rutin diputar biar kerasa ramadhan nya ala2 mushalla deket rumah hehehehe

    1. Iya…sama Ramadan menjalankan ibadah mengalir saja, tidak memaksakan tubuh. Apalagi di negeri 4 musim, jam puasanya lebih lama ya daripada di Indonesia…
      Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadan yaa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *