Memilih Baby & Toddler Class


keluarga, lifestyle, parenting / Jumat, Juni 29th, 2018

 

 photo bara trial.jpg

Bara first trial, sumber: pribadi

 

Baby & Toddler Class? Apa pula itu?
Apakah yang dimaksud dengan ‘class’ adalah kelas, seperti halnya kelas di sekolah?
Bila anak-anak usia sekolah, usia 7 tahun keatas umumnya memang perlu disekolahkan.
Maka seberapa perlukah anak-anak di bawah usia 1 tahun (baby) dan usia hingga 5 tahun (toddler) dikenalkan dengan baby & toddler class?
Sebelum lebih lanjut membahas tentang baby & toddler class tersebut, ada baiknya kita memahami, apa saja yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak-anak di usia emas mereka.

Usia emas, adalah usia anak antara 1 hingga 5 tahun.
Pada usia ini, merupakan tahap penting dalam kehidupan seorang anak, karena otak mereka berada dalam perkembangan sangat prima.
Oleh sebab itu pada masa ini, anak harus diberikan stimulasi dan informasi sebanyak mungkin. Ibaratnya, otak anak seperti spons kering yang menyerap air amat banyak.

“Umur berapa Bun, putranya?”
“Satu tahun”
“Oh…sudah lari-lari, dong. Wah, ga bisa diem, tuh”

Sering sekali kita mendapat pertanyaan kepo seperti ini bukan?
Kalau jawabannya sesuai yang diinginkan oleh penanya, maka yang diperoleh adalah pujian dan kagum.
Sedangkan bila jawabannya sebaliknya, maka setumpuk nasihat, mungkin sedikit empati akan mengalir.

Anak-anak membawa karakter dan kemampuannya masing-masing seperti yang digariskan Allah swt dan dititipkan ke orangtuanya.
Apa yang harus dilakukan bila ternyata tumbuh-kembang putra-putri kita tidak sesuai dengan tabel yang ada di tempat praktek dokter?
Sehubungan sebutan baby atau bayi umumnya adalah untuk anak-anak hingga usia satu tahun, maka ibu perlu mewaspadai bila hingga usia satu tahun ada keterlambatan dalam tumbuh kembang mereka.
Sedangkan toddler adalah sebutan untuk anak-anak usia 1 hingga 3 tahun, atau disebut batita.

Tahapan Tumbuhkembang Bayi

Perlu disimak berbagai tahapan tumbuh kembang berikut ini:

Perkembangan Motorik Kasar

Umumnya memang anak usia satu tahun sudah mulai bisa berjalan.
Sebaiknya ibu perlu mewaspadai sejak bayi lahir perkembangan motorik kasar ini, karena harus segera dilakukan stimulasi untuk membantu tumbuh kembangnya bila memang terdapat keterlambatan.
Sederhananya adalah:
Usia 3-4 bulan, bayi harus bisa tengkurap.
Usia sekitar 6 bulan, sudah bisa duduk.
Usia sekitar 8 bulan, mulai merangkak.
Usia sekitar 9 bulan, sudah berusaha untuk berdiri.
Usia sekitar 11 bulan, sudah mulai melangkah.

Baca juga: Melatih Bayi Merangkak

Perkembangan Motorik Halus

Motorik halus adalah gerakan yang menggunakan jari jemari yang mulai bisa dilakukan oleh bayi.
Misalnya menggenggam, meraih, mengambil sesuatu, dan menjimpit dengan dua jari.
Atau memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lain, dan lain sebagainya.

Perkembangan Bicara dan Bahasa

Sering dengar bahasa bayi bukan? Bahasa bayi atau babbling seringkali bersamaan kemampuannya dengan kemampuan motorik halus.
Setiap anak memang memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain. Ada yang cepat berbicara, ada juga yang perlu waktu.

Perkembangan Sosial

Ada anak-anak yang tidak takut dan ada anak-anak yang takut bila bertemu dengan orang lain. Anak-anak ini dikemudian hari harus bersosialisasi dengan orang lain bukan?
Oleh sebab itu perlu dibiasakan bertemu dengan orang lain.
Takut diawal perjumpaan merupakan hal biasa, justru berbahaya bila cuek terhadap orang lain, dalam artian tidak menunjukkan mengenali adanya orang lain.

Cucu pertama saya, Bara, lahir normal, cukup bulan, dan lahir dengan berat 2.4 kg, panjang 47 cm.
Imut memang, sesuatu yang tidak kami duga. Ibunya pun sehat pada masa kehamilannya.
Si Mungil ini sehat dan selalu diusahakan cukup ASI eksklusif.
Diusia 7 bulan, kami membawanya ke klinik spesialis anak di pusat kota Bandung, untuk konsultasi gizinya, karena mulai diberikan MPASI.
Hasil pengamatan dokter spesialis anak, ternyata dijumpai ada beberapa hal yang belum dicapai oleh Bara. Antara lain, masih headleg (kepala tertinggal ke belakang), bila ditarik kedua tangan untuk didudukkan.

Risau dengan tumbuh kembang Bara, akhirnya kami membawanya ke dokter spesialis tumbuh kembang di klinik yang sama.
Menurut dokter, Bara ‘malas’. Harusnya di usianya yang ke delapan bulan, harus sudah gesit tengkurap, duduk sendiri, dan mulai ongkok-ongkok siap merangkak.
Tanpa menunggu lebih lama, kami ikutkan Bara dalam program fisioterapi.
Mendengar kata terapi, kesannya Bara ada masalah banget, apalagi fisioterapi.
Ya sudah, kami selalu mengatakan bahwa Bara mau ngegym.

Di usianya ke 11 bulan, Bara duduk sendiri, diikuti dengan mulai merangkak.
Di ulangtahun pertamanya, Bara belajar berdiri berpegangan.
Menjelang usia ke 20 bulan, Bara baru mulai berdiri sendiri sekian detik dan melangkah sendiri 2-3 langkah.
Bara mulai berjalan sendiri diusianya ke 22 bulan.

Apa sih namanya kondisi Bara ini?
CP (cerebral palsy) atau kelumpuhan syaraf otak sehingga Bara mengalami keterlambatan? Bukan. Karena Bara, kan, sudah duduk sendiri. Hanya dia lebih pe-we merangkak daripada harus jalan.

Autistik? Bukan. Bara sangat ramah dan mau berkenalan dengan orang baru.
Perkembangan sosialnya, sih, sesuai dengan usianya.
Agak rewel di lingkungan baru, tentu saja, itu normal menurut saya.

Sampai sekarang memang tidak ada diagnosa yang mencap Bara begini-begitu. Dokter spesialis tumbuh kembang dan dokter spesialis syaraf anak pun lebih mengarahkan untuk menstimulasi Bara semaksimal mungkin.

Kriteria Baby & Toddler Class

Tidak ingin ketinggalan hal-hal yang berkaitan dengan inteligensia Bara di usia emasnya, saya dan ibunya berburu Baby & Toddler Class. Tujuan kami mencari “sekolah” untuk Bara adalah untuk merangsang tumbuhkembangnya agar ada teman bermain dan saling belajar satu sama lain.
Untuk kategori seusia Bara, tepatnya Toddler Class sih, karena klasifikasinya untuk usia 1-3 tahun.
Ada dua penyelenggara Baby & Toddler Class yang kami datangi untuk free trial.
Utamanya, sih, dipilih yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Tahu sendiri kan, membawa pergi batita selama 1 jam, ibaratnya mau bepergian seharian.

Dari hasil survei ke dua tempat tersebut, saya menyimpulkan bahwa:

1. Perhatikan reaksi pertama anak

Di tempat pertama di bilangan jalan Kembar Baru, Bandung, Bara disambut oleh seorang tutor, kemudian menggendongnya. Entah kenapa, Bara gamblog (bahasa Jawa, ibaratnya nempel seperti koala).
Awalnya agak rewel, karena lingkungan baru. Selang sejam, Bara mulai berinteraksi memperhatikan anak-anak lain yang sliweran.
Diusia yang kurang lebih sama, anak-anak lain sudah lari-larian dan menari.
Bara gembira, ikut wira-wiri dengan merangkak (waktu itu Bara berusia 18 bulan, belum bisa jalan).

Di tempat kedua di bilangan jalan Buahbatu, Bandung. Bara dianggap biasa saja.
Tutor-tutor (umumnya menyebut dirinya Miss A, Miss B dll) fokus melatih secara umum anak-anak lain yang memang kemampuan fisiknya lebih mumpuni daripada Bara.
Kalau bahasa gaulnya sih, come on, lets join. Karena boleh dibilang, memang Bara lebih lambat tumbuhkembang daripada anak lain, jadi menurut kami, Bara agak dicuekin.

2. Jangan anggap remeh free trial

Di tempat pertama, setelah selesai free trial, tutor-tutor setengah membujuk dan promo.
Bahwa si A, dulu begini, sekarang sudah bisa begitu. Si B, dulu diam saja, sekarang sudah mulai begini-begitu.
Atau, nanti saya yang pegang Bu, supaya ada chemistry.
Atau, Bu, psikolognya sedang OTW, nanti Ibu bisa ngobrol gimana-gimananya. Psikolog yang dimaksud ternyata kepala sekolah merangkap pemilik sekolah.

Di tempat kedua, setelah selesai free trial, tutor-tutor meninggalkan ruangan.
Dan kami dibiarkan begitu saja.
Bukan marketing yang bagus menurut saya.
Tidak ada seorangpun yang menanyakan tanggapan kami. Gimana Bu? Cocok atau tidak?
Weh, kami itu calon konsumen lho.

3. Perhatikan materi

Anak-anak walaupun beda usia hanya 6 bulan, untuk beberapa anak kemampuannya bisa sangat berbeda.
Dalam hal bersosialisasi pun, ada anak-anak yang sudah bisa mengikuti ‘perintah’ tutor, ada yang belum.
Belum lagi bila seorang anak pada hari itu moodnya sedang jelek, sehingga seharian menangis. Dibujuk malah tambah keras menangisnya.
Toddler class, tujuan utamanya adalah mengajak anak untuk bersosialisasi dengan teman sebanyanya. Main.
Bisa sehari-hari, anak-anak ini dari bangun tidur hingga tidur lagi, yang dilihat hanyalah wajah ayah-ibunya atau kakek-neneknya. Maklum, nenek kan ingin selalu eksis.

Beruntunglah anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan banyak anak dan hangat, sehingga mereka terbiasa dengan suara riuh-rendah.
Oleh sebab itu, perhatikan materi yang diberikan pada waktu anak-anak ikut program kelas batita. Apakah tutor cukup sabar membimbing atau tidak. Tutor perhatian atau tidak, mana anak-anak yang sudah terbiasa gaul dengan teman sebaya, mana yang tidak.

4. Percaya kata hati

Sebagai ibu atau tepatnya nenek, yang sudah banyak makan asam-garam. Ya iyalah, tentu saja.
Secara intuitif saya bisa menilai, mana tutor yang handal, mana tutor yang dari hati mengasuh anak-anak, dan mana tutor yang ala kadarnya hanya menjalankan tugas saja.
Setelah mengobrol dengan anak saya, ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama.
Rupanya bahasa tubuh seseorang tidak bisa ditutupi. Walaupun bisa saja, para tutor itu menyuarakan suaranya seramah mungkin.

5. Bahasa pengantar

Nah, ini.
Kenapa ya, dari dua tempat yang kami kunjungi, dua-duanya menyelipkan bahasa Inggris dalam bahasa pengantar.
Memang, sih, untuk padanan kata-kata yang dilagukan.
Misalnya, yellow adalah kuning, red adalah merah, dan lain-lain.
Menurut saya, sebaiknya tidak terlalu di encourage memakai bahasa Inggris.
Bahasa kita kan bahasa Indonesia, kan anak-anak itu bisa bingung.
Belum lagi, anak-anak yang bahasa pengantar di rumah adalah bahasa daerah.
Saya tidak menyebutnya bahasa Ibu, karena saya turunan Jawa, malah tidak mahir berbahasa Jawa.
Lagu-lagu untuk melatih gerak berupa rekaman, sepertinya download atau membeli CD MP3, karena hampir semua lagu sama di semua tempat, bahkan di rumah.
Mungkin juga adanya itu.

6. Harga

Harga seringkali hal yang pertama kali ditanyakan.
Ibaratnya kita itu menitipkan anak sekian jam, harapannya anak kita mendapatkan hasil yang optimal sesuai harapan.
Hampir sebagian besar baby & toddler class tersebut merangkap juga sebagai daycare.
Artinya, anak-anak dititipkan sejak pagi hingga sore hari.
Umumnya berlaku untuk anak-anak yang ibunya bekerja di luar rumah.
Rencananya sih Bara hanya akan bergabung kira-kira dua jam saja, antara satu kali atau dua kali seminggu.
Kami juga tidak ingin memaksakan Bara harus diajari macam-macam sepanjang minggu.
Anak-anak masih perlu kehangatan rumah dan tidak dituntut terlalu keras harus ini-itu.

Rata-rata harga hasil survei dan browsing adalah sebagai berikut:
Biaya pengembangan: antara Rp. 2.500.000,- sampai Rp. 3.000.000,-/ tahun
Kegiatan & Media Pembelajaran: sekitar Rp. 1.000.000,-/ tahun
Bulanan/ SPP: Rp. 400.000,- sampai Rp. 800.000,-
Seragam: Rp. 175.000,-
Waktu pembelajaran: Senin-Jumat 07:00-17:00

Khusus untuk Toddler Class ada yang membaginya menurut usia:
1 – 2 tahun: Toddler Class, jam belajar Selasa – Kamis, 09:00 – 10:30
2 – 3 tahun: Play School 1, jam belajar Senin – Rabu – Jum’at, 08:30 – 10:30
3 – 4 tahun: Play School 2, jam belajar sesudah Play School 1.

Child Care Insidental:
Biaya: Rp. 75.000,- hingga Rp. 100.000,- per hari.

Sepertinya kami masih pikir-pikir dahulu, apakah akan langsung mendaftarkan Bara untuk ikut program ini seminggu penuh.
Atau ikut yang sesekali saja, yang insidental itu. Tujuannya kan mencari teman kumpul-kumpul agar Bara terpacu bermain bersama teman.
Ikut atau tidak ikut toddler class, kami sekeluarga sih berjuang bahu-membahu membimbing Bara agar bisa mengejar ketinggalan kemampuan tumbuh kembangnya. Dan tentu saja mencintai Bara apa adanya.

Update:

Akhirnya kami memang memilih Baby & Toddler Class yang di jalan Kembar Baru no 40 itu. Kami menilai sekolah ini memang yang lebih mengerti kondisi Bara. Dalam perjalanan waktu, di usia 2 tahun, Bara belum diikutkan (baca: dinaikkan) ke Play School 1, karena belum bisa mengikuti instruksi seperti anak-anak lain.

 

 photo bara toddler class.jpg

Bara @ Toddler Class, sumber: pribadi

 

Sesuai dengan rencana awal, Bara memang tidak terlalu rajin “sekolah” sih. Kalau ibunya di rumah tidak mengajar, Bara di rumah diasuh sendiri. Selain itu Bara pun masih mengikuti dua sesi terapi, fisioterapi dan terapi wicara. Takutnya terlalu banyak aktivitas, Bara malah kelelahan.
Tanpa kami duga, Bara ternyata harus mengulang fisioterapi, setelah kami konsultasi ke neuro pediatrician (dokter spesialis syaraf anak).

Baru di tahun ajaran baru nanti, Bara dibolehkan mengikuti jenjang Play School 1, dengan catatan disertai dengan shadow teacher. Shadow teacher seperti apa, mungkin akan saya lanjutkan di pembahasan berikutnya ya.

 

Catatan:
Artikel ini pertama kali publish 29 November 2016.
Kemudian di update 29 Juni 2018, sesuai dengan perjalanan tumbuhkembang Bara.

Catatan tambahan:

Sesuai tawaran di kolom komentar oleh Carolina Ratri, artikel ini publish di Rocking Mama:
Memilih Kelas Pendidikan Anak Usia Dini – 5 Hal yang Sebaiknya Menjadi Pertimbangan Mama Saat Memutuskannya (23 Desember 2016).

Sayangnya portal ini sudah tidak bisa diakses lagi.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

15 Replies to “Memilih Baby & Toddler Class”

    1. Diasuh ayah-ibunya. Mereka ga punya pembantu. Kami, kakek-neneknya tinggal bersebelahan sih. Jadi mengikuti tumbuh-kembangnya. Trims yaa sudah mampir… ?

  1. Hai, Mbak 🙂
    Artikelnya menarik banget, bakalan banyak yang mengambil manfaat.
    Direpost di Rocking Mama (rockingmama.id) yuk, Mbak, supaya menjangkau pembaca lebih luas.

    Jika berkenan, boleh langsung ditulis di sana. Nanti akan ada tim editor yang akan memoles tulisan supaya lebih ciamik.
    Tautan panduan menulisnya saya tinggalkan di identitas komentar ini ya. Terima kasih, Mbak 🙂

    1. Alhamdulillah…asyik. Iya mau banget. Udah pernah daftar di FB waktu mbak Carolina nawarin, kalau2 ada blogger yg nulis ttg tumbuh kembang anak. Trims tawarannya ya… ??

  2. Makasih ya informasinya, artikelnya bermanfaat banget buat orangtua Yang butuh pengalaman tentang tumbuh kembang anak.

  3. Alhamdulillah Bara punya keluarga yang selalu mendukung tumbuh kembangnya.
    Memang gangguan tumbuh kembang jika segera ditindaklanjuti akan lebih baik hasilnya. Semoga selanjutnya Bara tumbuh jadi anak sehat sesuai grafik tumbuh kembang yang seharusnya. Aamiin.
    Semangat ya Yang Ti Bara 😊

  4. Informasinya lengkap dan sangat membantu bagi ibu-ibu muda. Eh sudah punya cucu rupanya. Terima kasih yah mbak, ini nanti akan saya informasikan ke saudara saya yang masih kategori mahmud (mamah muda)

  5. Beruntung Bara berada dalam lingkungan keluarga yang sangat care dan support, sehingga cepat mengambil tindakan untuk hal-hal yang bisa jadi mengkhawatirkan suatu saat kelak. Termasuk salah satunya dalam hal pemilihan toddler class. Saya kagum dengan kejelian Mbak Hani dan Mama Bara dalam mengamatinya. Artikel ini akan sangat bermanfaat untuk siapa saja yang memiliki balita.

  6. Wah, kangen pengen punya anak balita lagi hehehe. Untuk memilih sekolah anak memang harus hati2 yah bun, dan sesuai dengan kata hati. Tidak bisa dipaksakan juga jika anak ga suka, nanti malah membuat anak trauma. Semangatt Bara! 🙂

  7. Halooo Bunda Hanii, wah senang sekali ada toddler class yaa Bunda. Stimulasi dan intervensi dini memang sangat bermanfaat untuk perkembangan anak. Ikut senang lihat Mas Bara makin aktif 😊 Semoga sehat selalu yaaa Mas Bara.

  8. Wuih, bunda dan neneknya Bara kompak ya…semuanya peduli dengan tumbuh kembang Bara. Sebagai orang tua (termasuk nenek/kakek) pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
    Sehat terus, ya, Bara 😍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *