Replika Arsitektur Tradisional di Taman Nusa Gianyar – Bali


lifestyle, travelling / Sabtu, Juli 28th, 2018

Indonesia dengan berbagai suku dan adat budaya mempunyai keanekaragaman bentuk Arsitektur Tradisional. Hampir setiap provinsi mempunyai kekhasan bentuk arsitekturnya. Itu sebabnya sulit sekali menentukan hanya satu bentuk Arsitektur Nusantara. Berbeda misalnya dengan Arsitektur Jepang, yang mempunyai ciri tertentu.
Bila kita ingin mengetahui masing-masing kekhasan bentuk Arsitektur Tradisional idealnya kita jalan-jalan ke banyak daerah. Benarkah?

Taman Nusa Gianyar – Bali

Pada suatu kesempatan, saya menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan oleh ICNT (International Conference of National Trusts) di Ubud. Salah satu rangkaian acara seminar adalah berkunjung ke Taman Nusa Gianyar – Bali.

Taman Nusa seluas 15 hektar ini terletak di Jl. Taman Bali – Banjarangkan, Banjar Blahpane Kelod, Desa Sidan, Gianyar – Bali. Kira-kira waktu tempuh 30 menit dari Ubud dengan kendaraan mobil atau bus.
Begitu kami sampai di lokasi, disambut di lobby gedung oleh pemandu wisata dan dipersilahkan mencicip welcome drink segelas kecil jus jeruk. Di lobby terdapat maket keseluruh kawasan dan peta rute keliling kawasan dan berbagai fasilitas yang dapat dinikmati oleh pengunjung.

peta kawasan Taman Nusa

Pertama-tama kami menuju ke Gedung Betel Leaf, atau Daun Sirih. Menurut pemandu, bentuk gedung tersebut mengadop dari daun sirih, sebagai daun yang banyak kegunaannya bagi masyarakat Indonesia. Bahkan bagi beberapa daerah, mengunyah daun sirih merupakan salah satu ritual menyambut tamu.
Kami disuguhi tari-tarian untuk menyambut tamu, yaitu tari Pendet dari Bali.

Selanjutnya pengunjung dapat menyusuri rute perjalanan sambil mempelajari perjalanan waktu bangsa Indonesia. Dimulai dari masa prasejarah, zaman perunggu, masa kerajaan, hingga kampung budaya Indonesia. Untuk membawa suasana di lini masa sesungguhnya, sepanjang perjalanan dipajang aneka artefak replika dari masanya. Misalnya alat pertanian perunggu, mangkuk, gelas, senjata berburu, dan lain-lain.

Salah satu bangunan yang mewakili perjalanan bangsa Indonesia adalah bangunan dari masa kerajaan di masa lampau, yaitu Borobudur.
Unik juga, ada replika Borobudur, skalanya kira-kira setinggi bangunan dua lantai. Jadi kami bisa naik ke atas, berkeliling, mengagumi pahatan mural di dinding. Betul-betul mirip dengan candi Borobudur.

https://photos.app.goo.gl/DkSSTLXvAdvVhJQQ8

Arsitektur Tradisional di Indonesia

Kalau saya pelajari legenda di peta kawasan, ternyata terdapat 78 obyek yang bisa kita sambangi. Sebagian besar adalah replika bangunan bergaya arsitektur tradisional dari seluruh provinsi di Indonesia. Sesuai banget dengan visi misi dari didirikannya Taman Nusa yang diprakarsai oleh Santosa Senangsyah, yaitu sebagai sarana pelestarian, rekreasi dan pendidikan.

Pertama, ketika kami memasuki kawasan Kampung Budaya, kami disambut oleh dua orang pemuda Papua yang menyajikan tarian selamat datang. Sesudahnya kami diarahkan ke Honai, bangunan tradisional Papua.

https://photos.app.goo.gl/oeS1phB4N9Rd1mJG8

Tata letak seluruh bangunan tradisional memang didesain menyatu dengan lingkungan. Istimewanya kami bisa memasuki tiap-tiap bangunan tersebut dan merasakan ruang-ruang di dalamnya.

Selain susunan bangunan tradisional yang dibuat mirip aslinya, di halaman sekitarnya disajikan aneka budaya khas daerah setempat. Misalnya, dari lokasi provinsi Papua, kami menuju lokasi provinsi Nusa Tenggara. Deretan rumah dari suku Sasak, Manggarai, dan Sumba tertata dengan apik. Di tangga dekat rumah-rumah tersebut, beberapa gadis cantik menarikan tarian Maumere yang terkenal itu.

https://goo.gl/qaQ5u4

Kalau menyusuri jalan lingkungan yang ada di peta, maka kami sampai di kawasan suku-suku yang ada di pulau Sulawesi. Ada Minahasa, Gorontalo, Mamasa, Toraja, dan lain-lain. Di area ini pun berjajar rapi arsitektur tradisional yang menjadi ciri daerah Sulawesi. Di ruang terbuka yang terbentuk dari susunan bangunan, disajikan atraksi tarian perang oleh dua pemuda. Sedangkan di bawah salah satu rumah panggung, seorang bapak membuat kerajinan unik, kapal kecil yang disusun di dalam botol.

https://goo.gl/JGrsJz

Jalan-jalan dilanjutkan ke wilayah pulau Kalimantan. Seperti kita ketahui sekarang ada 5 provinsi di pulau Kalimantan, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan terakhir Kalimantan Utara. Di jalan yang kami lalui, berseberangan dengan wilayah pulau Kalimantan, terdapat susunan rumah-rumah dari daerah Lampung, Bangka Belitung, Bengkulu, Palembang, dan lain-lain.

Ketika kami tiba di wilayah Sumatera Utara, sedang ada pertunjukan musik memainkan lagu-lagu dari daerah Batak. Begitulah seterusnya bila kami menyusuri tiap wilayah, maka akan disambut dengan pertunjukkan khas daerah masing-masing. Ada tari-tarian, musik, ketrampilan, kerajinan, menenun, mengukir, dan lain-lain.

Diakhir perjalanan kampung budaya, kami sampai di area Chinese Town atau Pecinan. Menampilkan barongsay merah yang lucu dan replika rumah dengan bergantungan aneka lampion.
Selepas mengamati hampir seluruh replika arsitektur tradisional Nusantara, kami sampai di area terbuka tempat berdirinya patung Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno dan M.Hatta.

https://goo.gl/Jcv4Wi

Sebetulnya ada kendaraan shuttle yang bisa membawa kami berkeliling bila berjalan kaki dirasa terlalu melelahkan. Memang sih, saya yang memaksakan diri berjalan mengelilingi area, berakibat kaki saya kram parah. Apalagi jalannya tidak lurus, tetapi turun naik.

Fasilitas Lain di Taman Nusa

Selain puluhan bangunan replika arsitektur tradisional yang ada di Indonesia, ada bangunan-bangunan lain yang menunjang fungsi Taman Nusa. Bangunan-bangunan tersebut antara lain beberapa Museum, yaitu museum batik, museum wayang, dan museum budaya. Kemudian ada Auditorium, Perpustakaan, Sanggar Kesenian, Klinik, dan Musola. Sedangkan restoran terdapat dua jenis restoran, yang menyajikan menu khas Indonesia dan ala Western.

Untuk dapat menikmati dan melihat seluruh area Taman Nusa, biaya tiket masuk sebesar Rp. 85.000,- untuk dewasa, sedangkan Rp. 70.000,- untuk anak-anak di atas 2 tahun. Jam buka taman mulai pukul 09:00 hingga 17:00 WITa.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *