Santap Siang Istimewa ala Desa Adat Pengotan – Bali


cuma cerita, lifestyle, travelling / Senin, Juli 30th, 2018

Pada suatu kesempatan, saya turut seorang teman yang sedang menyusun disertasinya di Bali. Teman saya tersebut, Dwinik, meneliti pemanfaatan ruang terbuka di sebuah desa adat bernama Pengotan, sekira satu jam perjalanan dari Ubud.

Dengan menyewa sebuah mobil, kami berenam, berangkat pagi hari meninggalkan Ubud, supaya menyempatkan mampir di sebuah kawasan wisata lain.
Tidak ada penanda khusus untuk sampai di Desa Adat Pengotan tersebut. Dwinik yang mengemudikan sendiri mobil yang kami sewa, sudah hafal lokasinya, karena memang dia sering ke sana.

Desa Adat Pengotan

Kenapa Pengotan? Secara geografis, Desa Adat Pengotan masuk dalam wilayah Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Menurut tatanan masyarakat Bali, Pengotan termasuk Bali Age atau Bali Kuna. Masyarakat desa Pengotan dianggap penduduk asli Bali, dan hanya warga terpilih yang berhak mengatur tatanan adat di desa tersebut.

Mobil parkir di ujung jalan, kami pun turun berjalan kaki masuk ke area desa. Sepi dan asri.
Desa Pengotan memang tak jauh dari Danau Batur – Kintamani, sehingga udara terasa sejuk walaupun matahari dan langit cerah. Jalan setapak bersih dan rapi, kurang lebih 500 meter, mengarah menuju Pura besar yang sedang direnovasi.

Kalau diperhatikan, begitu berjalan menyusuri jalan utama di Desa Pengotan, jalan lurus menuju Pura nan megah, tetapi di kiri dan kanan jalan nampak rumah-rumah asli sangat sederhana, terbuat dari bambu dan kayu. Begitu sampai di pelataran Pura, kami disambut oleh Undagi setempat.
Dalam tatanan masyarakat Bali, selain terdapat pengelompokan masyarakat menurut kasta, ada juga mengelompokan menurut keahlian. Undagi adalah ahli bangunan, kalau dalam masyarakat modern, mungkin sama dengan arsitek.

Dari penuturan Dwinik, Pura Penataran Agung Pengotan memang sedang diganti atap alang-alangnya. Seperti kita ketahui bangunan tradisional Bali beratap alang-alang atau ijuk. Setiap tiga tahun sekali atap-atap tersebut harus diganti dengan ijuk baru, dan untuk menggantinya dilakukan ritual tertentu, serta memerlukan biaya banyak.
Bagi masyarakat Bali, Pura merupakan bangunan peribadatan yang dianggap sakral dan harus dirawat dengan benar. Tak masalah bahwa rumah sendiri merupakan rumah sederhana.

Sebelum sampai di halaman Pura Penataran Agung Pengotan, kami menyempatkan menyambangi rumah-rumah penduduk setempat. Tidak semua berdinding bambu, beberapa rumah yang pemiliknya cukup mampu, dinding rumah tidak lagi terbuat dari bambu, tetapi dari batako.

Setiap keluarga mempunyai halaman sendiri, dibatasi oleh tembok setinggi 1.5 meter, dan ada gerbang kecil untuk masuk ke halaman. Suasana tampak sepi, sedikit sekali aktifitas yang ada.
Pada setiap halaman atau kapling keluarga tersebut terdapat dua buah rumah yang berhadap-hadapan.
Di depan rumah terdapat teras cukup luas yang berjarak sekira 50 cm dari permukaan tanah. Dengan demikian rumah-rumah tidak langsung didirikan di atas tanah, tujuannya agar tidak lembab.

Menurut Undagi, rumah-rumah yang tampak sepi tersebut kemungkinan penghuni rumah sedang ke ladang, atau anak-anaknya ke sekolah. Bisa juga begini, rumah-rumah adat tersebut memang bukan untuk ditinggali sehari-hari. Hanya dipakai pada saat akan ada upacara adat di halaman Pura Penataran Agung. Misalnya pernikahan masal, upacara penguburan, atau upacara adat lainnya.

Santap Siang nan Lezat

Sejak awal kami menuju Desa Adat Pengotan, Dwinik sudah promosi, bahwa nanti siang kami akan disuguhi makan siang khas setempat, hasil olahan istri Undagi.
Benar saja. Setelah selesai melihat-lihat bangunan yang ada di Desa Adat Pengotan, kami diundang oleh Undagi untuk menyambangi rumahnya.
Rumahnya tak terlalu jauh dari kawasan Pura, masih ke Selatan sedikit. Dwinik pun memindahkan mobil, supaya selesai makan siang, kami bisa langsung pamit.
Dua dari teman kami harus ke bandara, untuk naik pesawat pukul 3 sore. Sedangkan dari Pengotan ke Ngurah Rai kalau tidak macet, lama perjalanan bisa lebih dari satu jam.

Ketika kami sampai di teras rumah Undagi, sang Istri sibuk membawa nampan berisi penganan dan kopi. Pemirsah, tahu kan, kopi Bali yang sudah terkenal endes itu. Saya yang jarang minum kopi pun, tak sungkan nyeruput juga segelas kopi.
Tak soal, apakah kopi itu baiknya diminum sebelum atau sesudah makan.

Kopi Bali dan Makanan Ringan

Tak lama, Undagi membawa sendiri satu magic jar berisi nasi. Alamak, kami jadi malu. Masak iya, satu wadah besar nasi. Katanya mau diet.
Ternyata nasinya buka sembarang nasi, tetapi namanya Nasi Sela. Yaitu nasi yang dimasak bersama potongan ubi kecil-kecil. Akibatnya nasi tampak cantik, berwarna putih dengan bintik-bintik kuning.
Apanya kami ini enggak tergugah seleranya jadinya…

Nasi Sela dan Ikan, Jukut Undis, Sambal Matah

Kemudian satu demi satu lauk pauknya disajikan. Ada ikan mirip pesmol, kemudian bungkusan daun pisang, mirip pepes. Kemudian sepiring besar irisan bawang, cabe rawit, dan daun jeruk.
Berhubung kami berenam, ibu-ibu semua, maka keluarlah pertanyaan, nama jenis masakan, resep, dan lain-lain. Ternyata ikannya merupakan ikan air tawar berasal dari Danau Batur, dimasak agak berkuah, namanya Ikan Nyet-nyet.

Sedangkan irisan bawang merah-cabe rawit itu adalah Sambal Matah. Kuncinya kata Ibu Undagi, semua irisan bawang merah-cabe rawit-daun jeruk itu disiram dengan minyak panas.
Oke, nanti saya coba ah di rumah.

Kuliner khas Pengotan, sumber: pribadi

Bungkusan daun pisang mirip pepes tadi, ternyata bahannya merupakan sisa minyak kelapa dan aneka bumbu, namanya Telengis. Masih ada lagi hidangan yang disajikan, yaitu Jukut Undis, mirip sayur kacang merah, tetapi lebih pekat, dan kacangnya kecil-kecil, seperti kecang kedelai hitam.

Telengis, sumber: pribadi

Rasanya? Istimewa banget. Pokoknya sajian hotel bintang 5 kalah deh.
Tak terasa, masakan ikan habis kami gado (makan tanpa nasi). Kami ini jadi malu-maluin, masakan istri Undagi licin tandas kami santap.

foto bersama Undagi dan keluarga, sumber: pribadi

Kalau kami tak buru-buru harus mengantar teman lain ke Bandara, rasanya kami masih ingin meluruskan kaki, dan menikmati sepoi angin sore hari di Desa Adat Pengotan.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

15 Replies to “Santap Siang Istimewa ala Desa Adat Pengotan – Bali”

  1. Jadi kangen kalau main ke rumah teman waktu kuliah di Bali dulu…Pasti disuruh makan . Maklum Meme nya tahu kalau saya anak kos kwkwwk.
    Belum lagi pulangnya dibawain jaje Bali juga…komplit dah kenyangnya

    Enak benar lihat sambal matahnya, Mbak hani

  2. Ternyata desa ini dekat Danau Batur. Saya belum pernah dengar sebelumnya nama desa ini. Padahal sudah pernah ke Kintamani dan Danau Batur, juga sampai nyeberang danau ke Desa Adat Trunyan.
    Apakah dekat dengan Pengotan dekat dengan Trunyan? Desa-desa di sekitar Danau batur tergolong masyarakat Bali Aga. Dan ada lagi di Karangasem.

    1. Pengotan masih di tepi jalan besar, tak jauh dari Kintamani, ke arah Den Pasar, di kanan jalan. Jadi tidak turun di tepi danau Batur. Iya, Pengotan pun termasuk Bali Aga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *