[Flores] 646 km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat pulau Flores-1


[flores], lifestyle, travelling / Rabu, Agustus 8th, 2018

sesaat setelah mendarat di Bandara Frans Seda, Maumere

Menyambung kisah perjalanan saya bersama teman-teman ke Flores, setelah sebagian besar dari peserta trip memesan tiket berangkat. Selain itinerary yang telah di share di grup WhatsApp, Devy, salah seorang teman yang mempunyai sertifikat menyelam, membagi pula daftar yang harus disiapkan untuk berwisata ke pantai. Paling penting adalah, membawa sunblock 50 SPF.

Baca juga: Tiket Pesawat dan Persyaratan Berat Bagasi

Hari ke-1:

Semula dari hasil chat di WhatsApp grup tujuan pertama adalah ke Labuan Bajo, kemudian menempuh perjalanan darat ke Timur. Ternyata Elly, salah seorang teman asli Flores, mempunyai ide lain. Menurut Elly, sebaiknya dibalik, perjalanan darat diawali dari Maumere yang terletak di Timur pulau Flores. Baru dari sana, jalan darat menyusuri pulau ke Barat.

Maumere

Maumere adalah ibu kota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Kalau saya tidak khusus mengamati bentuk pulau Flores, saya malah tidak menyadari bahwa bentuk pulaunya memanjang. Kota Maumere, terletak agak di tengah pulau Flores, di tepi pantai, arah Utara langsung ke laut Flores.
Sesuai dengan rencana, rombongan kami terbagi dua. Ada yang memakai pesawat Sriwijaya Air dan Lion Air dengan selisih waktu kedatangan di bandara Fransiskus Xaverius Seda, Maumere, sekitar 2 jam.

Rombongan pertama yang tiba lebih dahulu sekira pukul 12 siang, makan siang di sebuah restoran, kemudian menyempatkan keliling kota Maumere.
Saya termasuk rombongan kedua, semuanya ada enam orang yang sama-sama transit dari Den Pasar.
Begitu sampai di Bandara, rencananya kami akan bergabung dengan rombongan pertama di Lepo Lorun.

Lepo Lorun

jarak Bandara Maumere – Lepo Lorun

Lepo Lorun dalam bahasa Sikka artinya “rumah tenun”, adalah sebuah Sentra Tenun Ikat, terletak di desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun dirintis oleh Alfonsa Horeng tahun 2003 karena kepeduliannya pada proses pewarnaan tenun ikat dengan pewarna alami. Bagi Alfonsa Horeng pemrakarsa Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun (STILL), kegiatannya bukanlah sebagai kerajinan tangan semata, tetapi lebih pada pelestari warisan budaya nenek moyang.

lepo lorun, sumber: pribadi

Untuk mencapai Lepo Lorun sangat mudah, lokasinya hanya sekitar 7 km jaraknya dari kota Maumere, dan sekarang sudah menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Flores. Oleh sebab itu selain sebagai sentra tenun, di halaman Lepo Lorun juga disiapkan homestay sebanyak 3 kamar, untuk memberi kesempatan wisatawan yang berminat mengikuti workshop cara menenun langsung dari ahlinya.

Hal itu pula yang dilakukan oleh Kis, Dewi, dan Teti. Teman seperjalanan wisata Flores ini sudah curi start, berangkat lebih dahulu sehari daripada kami. Mereka bertiga menginap semalam di Lepo Lorun.

Begitu rombongan sampai di Lepo Lorun, disambut oleh tari-tarian tradisional, yang dibawakan oleh perempuan setempat. Rampak tarian dan iringan musiknya sederhana, sehingga mudah kami ikuti.

Setelah acara penyambutan, kami dipersilakan berkeliling ke area Lepo Lorun.
Begitu masuk ke area Lepo Lorun yang asri, ada beberapa bangunan terbuat dari kayu kelapa dan bambu beratap rumbia. Di salah satu bangunan tanpa dinding, tampak beberapa perempuan sedang menenun. Berbeda dengan alat tenun yang sering kita lihat, alat tenun bukan mesin (ATBM) ini bukan berbentuk meja. Akan tetapi merupakan alat tenun gendong, yang dikaitkan di pinggang. Penenunnya duduk di bawah beralaskan tikar, dengan kedua kaki lurus ke depan.

Di sisi lain dari bangunan ada pula perempuan yang mengikat benang dengan pola tertentu. Itulah sebabnya dinamakan tenun ikat, karena sebelum dicelup pewarna kain, benang-benang tersebut disusun di bingkai kayu kemudian diikat kuat dengan tali rafia atau plastik supaya tidak tembus air.
Setelah seluruh benang diikat kemudian dicelup ke warna yang diinginkan.

menenun tenun ikat dengan alat tenun gendong, sumber: pribadi

Proses pewarnaan kain dengan pewarna alami merupakan proses pewarnaan turun temurun yang mulai ditinggalkan oleh generasi sekarang. Padahal proses ini ramah lingkungan, karena tidak memakai pewarna kimia yang menimbulkan polusi. Pewarna alami tersebut diperoleh dari berbagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di lingkungan sekitar. Warna merah dan biru diperoleh dari daun mengkudu dan indigo. Sedangkan kulit pohon mangga dan kunyit menghasilkan warna kuning. Kulit kacang-kacangan akan menghasilkan warna kehijauan. Tanaman lain misalnya kayu hepang, dadap srep, dan kulit pohon mahoni akan menghasilkan warna yang berbeda lagi.

Proses pewarnaan benang pun tidak sekali jadi. Pertama, benang katun yang sudah diikat motifnya direndam dalam air Ph netral selama 24 jam, kemudian dianginkan. Kedua, benang yang setengah kering tersebut direndam ke dalam larutan pembangkit warna (FeSO4) kemudian dikeringkan. Ketiga, benang yang sudah kering dicelup ke dalam warna yang diinginkan sebanyak 5 kali sampai warna benar-benar pekat. Langkah keempat, benang kemudian dicelup kembali ke larutan penguat warna supaya warnanya tidak luntur.

Ini baru proses pewarnaan. Bila dijumlah dari benang menjadi selembar kain tenun ikat membutuhkan proses hampir sebanyak 45 langkah. Semuanya memakan waktu berminggu hingga berbulan lamanya.
Itu sebabnya harga per lembar tenun ikat tidak murah.

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, bahwa alasan kami wisata ke Flores adalah untuk melihat langsung proses tenun ikat, sejak benang dipintal, diikat, dicelup, dan ditenun. Nah, kan, kita bukan hanya melihat-lihat saja, bukan. Termasuk ingin memilikinya barang selembar dua lembar kain.
Saya yang belum punya selembar pun kain tenun ikat asli Sikka, akhirnya terpikat juga, dan memilih selembar.
Agak bingung ketika saya memilih kain-kain tersebut, karena ukurannya tidak umum seperti halnya kain batik atau kain sarung.

Ada yang sudah terjahit berbentuk sarung, tetapi kenapa tinggi sekali? Kalau dipakai, bisa seluruh badan tertutup kain sarung. Tetapi ada pula yang berbentuk lembaran, tetapi kurang tinggi bila dipakai kain bawahan. Ya sudahlah, karena waktu memilih-milih tidak banyak, karena kami harus segera melanjutkan perjalanan, akhirnya saya memilih selembar kain selebar 70an cm, tetapi agak panjang.

Agak mahal, sih, Rp. 700ribu. Tetapi kalau melihat proses membuat kain tenun ikat yang puluhan langkah, memang harganya tenun ikat seputaran itu. Semakin kompleks dan detail motifnya serta lebih dari satu warna, harganya semakin mahal.

Setelah makan siang, dan berfoto bersama seluruh rombongan, akhirnya kami siap menaiki bus sewaan untuk melanjutkan perjalanan.
Ibu-ibu penenun dengan wajah sumringah dan polos khas wajah penduduk asli melambaikan tangan mengiringi keberangkatan kami.

Kapan-kapan sepertinya saya ingin mengulang lagi, wisata ke Flores menyambangi Lepo Lorun, menginap di homestay dan belajar proses menenun dari mereka.

Dari sini lanjut ke mana?

Kis menawarkan kami untuk mampir ke Gereja tua Sikka.
Katanya tak jauh dari Lepo Lorun, dan searah menuju Moni, tempat kami menginap malam ini.

(to continued)….

twittergoogle_pluspinteresttumblr

13 Replies to “[Flores] 646 km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat pulau Flores-1”

  1. Melongo dengan cerita perjalanan yang ini. So asyik sekali. Kain tenun tradisional seperti ini memang layak dihargai lebih. Selain proses yang panjang dan kreatifitas ada sikap tekun yg layak dihargai.

  2. Wow….
    Untuk jadi selembar kain tenun ikat mengalami proses panjang, 45 langkah.
    Makanya sesuatu yang dilabeli handmade itu mahal,karena yang dijual bukan hanya nilai seninya tapi juga prosesnya. Mudah-mudahan suatu saat aku bisa kesana juga ya Bun.

  3. Jadi pengen lihat sendiri proses pembuatan kain tenunnya. Baru lihat setengah jadinya udah jatuh hati saya. Warnanya bagus…prosesnya yang panjang sangat pantaslah harganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *