Peran Kakek-Nenek sebagai Sahabat Keluarga dalam Mendidik Anak di Era Digital


blog competition, keluarga, lifestyle / Senin, Agustus 6th, 2018

Keluarga: Ayah-Ibu, Anak, dan Kakek-Nenek, sumber: pixabay.com

Sering kita lihat pada suatu kesempatan, sebuah keluarga dengan ayah-ibu dan anak-anak juga tampak kakek-nenek di antara mereka. Misalnya pada acara keluarga, makan-makan di sebuah restoran, berwisata bersama, dan lain-lain. Masih sering sebuah keluarga mengadakan pertemuan keluarga besar untuk mempererat tali silaturahim. Sudah menjadi kebiasaan kita pula untuk mudik mengunjungi kakek-nenek di kampung halaman, minimal sekali dalam setahun.

Sebuah paparan penelitian yang dilakukan oleh mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia bulan Juni 2018 yang lalu, Nafsiah Mboi, mengatakan bahwa pada era 1990, usia harapan hidup penduduk Indonesia rata-rata 63,6 tahun. Namun sejak 2016, angkanya meningkat menjadi 71,7 tahun. Artinya dalam sebuah keluarga kemungkinan besar masih ada seorang kakek atau nenek, atau keduanya.

Bagi masyarakat Indonesia sudah biasa juga sebuah keluarga hidup bersama keluarga besar. Mereka bisa tinggal bersama kedua orangtua, atau salah satu dari mereka, yang merupakan ayah atau ibu salah satu pasangan. Sudah sering mungkin kita mendengar gurauan, tinggal di Pondok “Mertua Indah”, atau Pondok “Mamah”, untuk menunjukkan tinggal bersama anggota keluarga lain, selain keluarga inti.

Peran mendidik anak memang merupakan tanggung-jawab penuh kedua orangtuanya. Sejak sepasang pengantin mulai membentuk keluarga dan merencanakan mempunyai anak, pastinya mereka mempunyai ketentuan sendiri tentang pola asuh anak-anak mereka. Tetapi kakek atau nenek yang tinggal bersama dengan anak dan cucu-cucu mereka tersebut, tentu saja sedikit banyak turut mempengaruhi karakter pola asuh sebuah keluarga.

Peran Kakek-Nenek Sebagai Sahabat Keluarga

Persahabatan Kakek dan Cucu, sumber: pixabay.com

Ketika saya mulai membentuk keluarga dan memiliki anak, panduan saya hanya sebuah buku kecil, majalah Ayah Bunda, dan petuah dari ibu saya. Awalnya memang kami sekeluarga tinggal di rumah orang tua saya di Jakarta, karena suami bekerja di Bandung.

Seperti halnya semua kakek-nenek pada umumnya, mereka sangat berbahagia ketika cucu laki-laki pertama mereka lahir. Setiap anak saya menangis, mereka tergopoh masuk kamar, untuk mencari tahu sebab-musababnya.

Walaupun saya sendiri yang mengurus putra saya, dengan adanya Ibu, saya banyak mendapat nasihat tentang mengurus bayi baru lahir. Makna tangisan bayi yang saya masih bingung menyikapinya, Ibu saya langsung tahu kenapanya. Sehingga si Kecil ini bisa reda rewelnya.

Oleh sebab itu ketika diusia sembilan bulan lebih saya menyusul suami ke Bandung, Ayah-Ibu merasa kehilangan. Tapi apa boleh buat, tugas istri adalah mendampingi suami, bukan.
Padahal di Bandung ada Ayah-Ibu Mertua. Tetapi sejak awal beliau sudah menyatakan tidak ingin dititipi cucu-cucunya karena merasa sudah tua. Sebagai menantu saya tahu diri, apalagi zaman itu ART masih lebih mudah diperoleh daripada sekarang.

Dalam perjalanan waktu, anak saya pun bertambah, dan saya juga mulai bekerja di luar rumah.
Sesekali Ayah-Ibu Mertua berkunjung untuk menengok cucu-cucunya. Begitu pula Ayah-Ibu dari Jakarta sesekali menengok kami dan menginap beberapa hari. Keasyikan beliau adalah saat mendongengkan putra saya. Kebetulan karena saya juga sibuk dengan bayi baru, putra saya senang sekali saat didongengkan neneknya.

Ayah-Ibu tinggal di Jakarta, dan Ayah-Ibu mertua walaupun sekota tidak bersedia dititipi, maka saya dan suami bisa lebih bebas mengatur keluarga. Segala persoalan berusaha kami pecahkan berdua.
Begitulah hari demi hari bergulir, anak-anak dari kecil beranjak dewasa, menyelesaikan kuliah, bekerja, dan akhirnya keduanya menikah.

Lain cerita dengan anak perempuan saya ketika punya bayi, ada panduan lain yang dirasa lebih update dan dari berbagai sumber mumpuni, yaitu Google. Ada masalah apa saja yang berkaitan dengan tumbuhkembang anaknya, yaitu cucu saya, pasti mencari jawabnya dari Google.

Baca juga: 5 Alasan Kakek-Nenek Mau Dititipi Cucu

It takes a village to raise a child

Saya ibu bekerja di luar rumah, sehingga saya memahami kerepotannya membagi peran antara keluarga dan pekerjaan. Di sisi lain, banyak perempuan zaman sekarang memiliki kesempatan meniti jenjang karier dan juga berumahtangga di usia lebih muda daripada saya dulu. Sehingga dalam sebuah keluarga besar, kakek-nenek dan anak-anak mereka sama-sama masih berkarier. Artinya kakek-nenek tersebut belum memasuki usia pensiun.

Seringkali untuk alasan kepraktisan, sebuah keluarga dengan anak-anak memang memutuskan tinggal bersama orang tua mereka. Langkahnya bisa keluarga muda yang tinggal di rumah orang tua mereka dengan alasan untuk menemani. Atau sebaliknya orang tua yang diminta tinggal bersama keluarga muda ini, karena alasan khawatir meninggalkan orang tua sendirian di kampung halaman.

Di sisi lain, banyak terjadi, dalam sebuah keluarga dengan ayah-ibu bekerja di luar rumah, membutuhkan bantuan untuk pengawasan anak-anak di rumah. Terutama bagi keluarga yang anak-anaknya masih balita atau usia SD. Tidak semua keluarga pula dapat mempekerjakan ART atau menitipkan anak mereka ke daycare, karena berbagai pertimbangan.

Akhirnya pilihan jatuh menitipkan anak-anak ke kakek-nenek, atau bahkan meminta untuk tinggal bersama, karena lebih percaya anak-anak diasuh mereka. Dalam sebuah rumahtangga dengan dua orang tua yang berbeda derajatnya, yang satu orang tua kandung, yang satu adalah kakek-nenek, perlu kiat khusus untuk mengelolanya. Bahkan seringkali kakek-nenek yang mendapat tudingan bahwa perilaku buruk pada anak adalah akibat kakek-nenek terlalu memanjakan mereka.

Benarkah demikian?

Bila bercermin pada diri saya dulu, setahu saya hubungan kedua anak saya dengan Kakek-Nenek dari pihak ayah, maupun dari pihak ibu, tidak ada masalah. Kenangan anak-anak saya tentang almarhum kakek-neneknya terpatri di kehidupan mereka selamanya. Ada nilai-nilai baik-buruk yang ternyata menjadi tolok-ukur hidup mereka di kemudian hari.

Seperti pepatah di atas, it takes a village to raise a child, sebuah pepatah dari Afrika. Menunjukkan bahwa membesarkan anak-anak melibatkan bukan hanya ayah-ibu kandung, tetapi melibatkan seluruh keluarga, dan lingkungan di luar rumah.

Menjalin Komunikasi dalam Keluarga di Era Digital

Bagaimana caranya, nih, supaya keluarga aman tenteram, tidak ada friksi antara ayah-ibu, kakek-nenek, dan cucu-cucu, bila dalam kondisi tertentu harus tinggal serumah atau berinteraksi tiap hari.

Apalagi bagi ayah-ibu yang bekerja di luar rumah setiap hari, maka interaksi cucu-cucu dengan kakek-neneknya boleh dibilang bisa mencapai lebih dari 40 jam seminggu. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di negara-negara lain. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa tanpa kakek-nenek yang mau mengasuh cucu-cucu, ayah-ibu tidak akan bisa bekerja dengan tenang di luar rumah.

Infografis Penelitian Keterlibatan Pola Asuh Kakek-Nenek, sumber: tirto.id

Banyak artikel yang membahas bahwa kuncinya ada di KOMUNIKASI antara keduabelah pihak. Yaitu komunikasi antara ayah-ibu sebagai penanggungjawab anak langsung, dan kakek-nenek yang mungkin saja pada suatu hari dititipi cucu.

Berikut adalah DO and DON’T yang perlu kita ketahui bila kakek-nenek tinggal serumah, agar didapat pola asuh anak-anak yang maksimal. Maksudnya adalah menjaga agar tidak ada konsekuensi negatif dalam pola pengasuhan anak, dan kakek-nenek dapat menjadi Sahabat Keluarga.

DO and DON’T Bagi Ayah-Ibu:

  1. Konfirmasi. Bila akan menitipkan anak-anak ke kakek-neneknya, konfirmasi terlebih dahulu jauh hari, walaupun kegiatan titip-menitip memang dilakukan tiap hari. Walaupun ke orang tua sendiri, awali dengan rasa sungkan. Bisa saja, pada hari yang disepakati ternyata kakek-nenek berhalangan. Ingat mereka pun masih mempunyai kehidupan atau privasi yang perlu kita jaga. Apalagi bagi kakek-nenek yang belum pensiun dan masih mempunyai kesibukan di luar rumah.
  2. Kondisi fisik. Pahami terlebih dahulu kondisi fisik kakek-nenek. Walaupun mereka tampak sehat, belum tentu benar-benar siap mendampingi cucu balita yang baru belajar jalan dan masih tahap eksplorasi. Bisa-bisa yang ada adalah keluhan karena sakit punggung, lelah mengejar balita, dan lain sebagainya.
  3. Disipilin. Biasanya yang menjadi sumber friksi adalah masalah kedisiplinan, misalnya pola makan, jam belajar, jam menonton TV, dan lain-lain. Sampaikan ke kakek-nenek tentang makanan yang menjadi pantangan anak-anak, misalnya karena menyebabkan alergi. Buat list jam belajar dan jam menonton TV, termasuk acara TV yang boleh ditonton.
  4. Gadget. Hampir semua orang memanfaatan gadget/ gawai dan teknologi digital dalam setiap langkah sehari-hari. Sekarang zamannya internet. Anak-anak bayi pun seringkali terpapar film-film youtube, dengan alasan agar mereka anteng. Tetapi tidak semua informasi dari internet cocok bagi anak-anak. Minta pada kakek-nenek untuk turut mengawasi penggunaan gawai pada anak-anak. Kalau perlu, ayah-ibu bisa mengajak kakek-nenek masuk ke link artikel atau sumber ilmu dari internet untuk belajar bersama mendidik anak di era digital.
  5. Terimakasih. Bila ternyata ada ketidakcocokan dalam pola asuh, tidak mencela atau menyalahkan kakek-nenek di depan anak-anak. Ayah-ibu harus dengan sabar memberi pengertian pada mereka. Ingat, berkat mereka lah ayah-ibu ada di dunia dan bisa menjadi seperti sekarang. Selalu mengucapkan terimakasih atas jerih payah kakek-nenek terlibat dalam pengasuhan anak-anak. Dengan memberi kepercayaan dalam pengasuhan anak-anak juga memberi rasa percaya diri bagi kakek-nenek yang sudah tidak muda lagi tersebut.

DO and DON’T Bagi Kakek-Nenek:

  1. Konfirmasi. Bila ada rencana mendadak, kemudian kakek-nenek berhalangan untuk bisa dititipi cucu, segera sampaikan ke ayah-ibu. Sekarang ini era digital, komunikasi melalui ponsel bisa secepat kilat. Seringkali yang dikeluhkan keluarga muda adalah, ternyata kakek-nenek enggak bilang-bilang akan pergi arisan. Atau ketika dititipi anak-anak di rumah kakek-nenek, anak-anak ditinggal bersama ART sendirian.
  2. Pola makan. Tanya terlebih dahulu ke ayah-ibu bila akan memasakkan suatu menu untuk cucu. Seringkali, bagi orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus, ada diet khusus atau asupan yang dihindari. Dengan demikian, maksud baik nenek ingin memanjakan cucu dengan masakan khusus jadi tidak sia-sia. Kue-kue, permen dan makanan mengandung gula, yang dulu dianggap tidak apa-apa, ternyata menurut penelitian tidak sehat. Untuk itu nenek bisa belajar bersama ayah-ibu melalui media digital mencari menu-menu khusus yang sehat dan bergizi.
  3. Konflik nilai. Berbedaan nilai antar generasi, selalu terjadi dari generasi ke generasi. Dulu zamannya kakek-nenek muda juga ada perbedaan nilai dengan orang tua kita. Bedanya mungkin, dulu kita selalu menurut apa kata orang tua. Sedangkan anak-anak sekarang sumber informasinya lebih banyak dan beragam, sehingga harus pandai-pandai menyaringnya. Bisa jadi berbagai ritual dan mitos yang dulu dipercaya oleh kakek-nenek, ternyata dibantah mentah-mentah oleh ayah-ibu, karena tidak ada dasar ilmiahnya.
  4. Era Google. Zamannya sudah berubah Nek! Jangan baper bila nasehat kakek-nenek sudah tidak laku lagi di zaman now. Ayah-ibu sekarang punya nara sumber andalan, namanya Mbah Google. Daripada baper, ya sudah, ikutan berteman saja dengan si Mbah tersebut. Boleh-boleh saja, sesekali bergumam, zaman Eyang dulu begini-begitu ke anak-mantu-cucu. Selanjutnya sama-sama Google saja tentang berbagai informasi andalan lain yang bermanfaat bagi cucu maupun diri sendiri. Sudah bukan zamannya lagi kakek-nenek gaptek.
  5. Anak-anak tanggungjawab ayah-ibu/ orang tua mereka. Kakek-nenek seringkali lupa, bahwa anak-anak mereka yang telah dewasa dan berkeluarga, masih tetap dianggap anak-anak. Sehingga segala aturan yang telah dibuat oleh ayah-ibu muda untuk anak-anak mereka, dilanggar oleh kakek-neneknya. Kakek-nenek tetap harus ingat, bahwa cucu-cucu adalah tanggungjawab ayah-ibunya. Seringkali pula hubungan ibu mertua dengan menantu perempuan menjadi kendala dalam sebuah hubungan keluarga. Dalam hal ini tidak bisa lain, kedua belah pihak harus bisa menahan diri dan toleransi akan setiap perbedaan.

Demikian kira-kira DO and DON’T bagi ayah-ibu dan kakek-nenek dalam tatanan mendidik anak-anak. Kakek-nenek menjadi bagian dari pelibatan keluarga pada penyelenggaran pendidikan di era kekinian, agar mereka bisa menjadi generasi yang tangguh, cerdas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Anak-anak yang dididik untuk hormat dan menghargai orang tua, kelak di kemudian hari pun akan menjadi pribadi yang bisa menghargai siapa pun.

#sahabatkeluarga

Sumber:

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
https://tirto.id/menitipkan-anak-pada-kakek-nenek-bisa-berakibat-negatif-cAl4
http://jakartamotherhood.id/article/category-article/others/item/683-peran-kakek-dan-nenek-dalam-kehidupan-anak-anda

twittergoogle_pluspinteresttumblr

7 Replies to “Peran Kakek-Nenek sebagai Sahabat Keluarga dalam Mendidik Anak di Era Digital”

    1. Iya Mbak. Mau enggak mau kita melibatkan saudara, tetangga yang sudah dianggap keluarga kan ya. Positifnya anak² jadi lebih mandiri sih, menurut saya…

  1. Kadang iri dengan cucu yang bisa banyak interaksi dengan kakek neneknya. Karena anak-anak saya ketemu kakek neneknya paling satu atau dua kali setahun. Sejak menikah tinggal berpindah jauh dari kampung halaman dengan biaya pesawat yang mahal membuat saya sekeluarga tidak bisa saling berkunjung dengan orang tua maupun mertua. Bahkan anak bungsu saya belum sempat ketemu dengan kakeknya. Karena begitu lahir, belum sempat pulkam, kakeknya sudah meninggal dunia..

    Akhirnya pengasuhan ya full dari saya dan suami…:)

  2. Semoga Ibu dan Ayah mertua saya sehat terus sehingga anak saya bisa kenal Aki-Nin meski cuma ketemu pas liburan atau lebaran. Akung dan Uti-nya sudah berpulang, bahkan sebelum saya menikah.

  3. Saya dan suami juga lebih tenang kalau pas ada acara di luar si anak bersama kakek-neneknya dulu ketimbang sama mbaknya. Senang bangey rasanya kalau kakek nenek skrg pemikirannya kaya Bunda Hani, kereeen…

  4. Anak-anak saya tidak pernah melihat apalagi mengenal kakeknya, baik dari pihak saya maupun dari pihak bapaknya. Untungnya mereka bisa lebih dekat dengan nenek-nenek mereka.

    Hingga mereka dewasa, kenangan terhadap neneknya begitu melekat. Bahkan saat mereka jauh yang ditanyakan kabarnya setelah saya dan bapaknya adalah neneknya.

  5. Sekarang saya masih tinggal bareng orangtua. Saat harus melakukan perjalanan keluar kota, wah … anak-anak mah eyang bangeeet. Memang ada banyak hal yang pro kontra dengan orangtua mengingat kami berbeda masa. Tapi merasakan betul, terbantuuu banget dengan dekat bersama orangtua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *