[Flores] 646 km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat pulau Flores-2


[flores], travelling / Kamis, September 6th, 2018

peta lepo lorun-moni

rute perjalanan Lepo Lorun – Moni

Sambung lagi ya cerita perjalanan saya di Flores. Maafkan, saya kedistrek menulis yang lain deh.
Terakhir kan saya menceritakan rombongan kami mampir ke Lepo Lorun, sentra tenun ikat, di desa Nitta.

Tengok dulu ke sini:

[Flores] 646 km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat pulau Flores-1

Kis menawarkan untuk mampir sebentar ke sebuah gereja tua di Sikka. Katanya sih dekat.
Bila melihat ke peta Google, gereja tersebut terletak di tepi pantai, dan sekira …. km dari Lepo Lorun.

Ok. Tarik Mang…

Gereja Sikka

Saya duduk bersebelahan dengan Yanti di belakang supir bis wisata yang kami sewa.
Perjalanan menuju Sikka cukup lancar, di sana-sini ada jalan yang rusak. Saya duduk dekat jendela, sehingga bisa mengamati bahwa banyak rumah-rumah yang ada makam di halaman depannya. Makam-makam tersebut hanya satu atau dua pusara saja, tetapi nampak rapi dan dibangun khusus. Artinya dilapis keramik dan cukup besar.

Seperti kita ketahui, mayoritas penduduk Flores menganut Katolik. Mungkin dari sejarahnya, Flores pernah menjadi koloni Portugis, sehingga secara langsung maupun tak langsung terjadi akulturasi budaya maupun agama. Itu sebabnya makam-makam di halaman rumah merupakan makam leluhur dari tiap-tiap kelompok rumah. Tradisi menghormati leluhur merupakan warisan dari adat budaya setempat.
Flores sendiri artinya bunga dalam bahasa Portugis, aslinya bernama Cabo de Flores, artinya Tanjung Bunga.

Tak lama sampailah kami desa Sikka, bis berhenti tepat di tepi jalan di samping gereja Sikka.
Gereja yang aslinya bernama St. Ignatius Loyola berdiri tegak disinari matahari sore dengan latar belakang birunya langit Flores. Kami pun bergegas turun dan mengamati keindahan arsitekturnya. Dari segi gaya arsitektur tampak bahwa gereja ini dibuat berabad yang lalu, dari bentukannya memang merupakan ciri gereja Katolik.

Desainnya berbentuk basilika, bangunan utama di tengah, kemudian di kiri dan kanannya ada sayap bangunan yang lebih rendah. Bentuk seperti ini umum pada zamannya karena keterbatasan kemampuan struktur. Waktu itu struktur utama adalah kayu yang mempunyai keterbatasan panjang kayu. Saya penasaran, kalau masuk ke dalam pasti indah banget.

flores-gerejasikka

Gereja St. Ignatius Loyola – Sikka, Flores; sumber: pribadi

Sebagaimana layaknya bertamu, kami meminta ijin petugas di kompleks gereja. Dengan sukacita petugas pun menyambut kami dan membolehkan kami masuk ke dalam gereja.

Menurut petugas, gereja ini mulai dibangun tahun 1893, dan diresmikan pada tanggal 24 Desember 1899. Struktur gereja berbahan kayu jati yang khusus didatangkan dari pulau Jawa dan belum pernah diganti sejak awal didirikan. Terpikir oleh saya, seandainya mahasiswa saya diminta menggambar ulang konstruksi kuda-kuda kayu ini secar manual, pasti kelimpungan. Karena mahasiswa sekarang terbiasa menggambar memakai komputer, menggambar secara manual mungkin perlu waktu sebulan.
Di atas altar, lukisan kaca patri pun masih kaca patri yang sejak dulu dipasang pada awal pembangunan.
Pintu masuk ke gereja pun terbuat dari kayu tebal dan kuat, yang mungkin tidak bisa kita peroleh lagi di zaman sekarang.

flores-interior-gerejasikka

Interior Gereja Sikka, Flores; sumber: pribadi

Di kiri gereja, berdiri sebuah bangunan kecil. Ketika saya tanyakan ke seorang pemuda yang sedang mengerjakan hiasan untuk tulisan indah, bangunan tersebut adalah Kapel.
Menurut sejarah, kapel ini didirikan oleh seorang penduduk asli Sikka pemeluk Katolik yang dibaptis oleh misionaris Katolik asal Portugis. Sejak itu Sikka rutin dikunjungi misionaris Portugis.

  • kompleks gereja sikka
  • kapel sikka
  • gereja sikka-bpjn drone

Berseberangan dengan gereja, tampak bangunan lain yang merupakan gedung pastoran.
Di kanan gereja tampak jalan setapak menuju ke pantai. Ketika saya menyusuri jalan tersebut tampak sekelompok ibu-ibu sedang sibuk. Ada yang memukul-mukul kapas, mengurai pintalan benang. Dan sepanjang jalan setapak tergantung kain-kain tenun ikat siap jual.
Lhah…ada lagi tenun ikat di sini?

Tak kalah cantiknya dengan tenun ikat di Lepo Lorun. Saya pun bergegas ambil langkah seratus delapan puluh derajat. Bukan…bukan kabur sih. Mewartakan ke teman-teman, dong, bahwa ada deretan tenun ikat berbagai ukuran dipajang sepanjang jalan setapak.

Hari semakin sore, matahari mulai condong di ufuk Barat. Tetapi, teman-teman keluar gereja langsung menyambangi para Mama yang menawarkan kain tenun tersebut.
Warna dan motifnya menurut saya lebih beragam dari tenun di Lepo Lorun. Harganya pun bersaing.
Saya pun agak nelangsa sih, karena naksir tapi berat untuk membeli (lagi).

Sepintas saya mendengar beberapa teman janjian untuk patungan membeli kain tersebut. Saya tuh ya kurang tanggap dan tak bertanya lebih lanjut, akhir dari patungan membeli kain tersebut. Belakangan, berhari kemudian barulah saya mengerti maksudnya.

Selepas teman-teman membeli beberapa potong tenun ikat, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Koka. Rencananya kami akan santap malam di Pantai Koka.

tenun di area gereja sikka

Kiri ke kanan, Kis-Nana-Elly-Indira-Arni mengagumi tenun ikat dari area gereja Sikka; sumber: pribadi

Pantai Koka

Dari pantai Koka, kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan di Ecolodge di Moni.

Perjalanan ke Pantai Koka hari sudah gelap. Saya baru memperhatikan, karena kami di wilayah Indonesia bagian Timur, rasanya magrib cepat sekali gelap. Jalan menuju pantai pun bukan jalan yang mulus dan licin. Lumayan bergelombang, dan pantai sama sekali tak terlihat.

Kami disiapkan makan malam di sebuah kedai. Menu makan malam terdiri dari beragam masakan ikan. Ada sup ikan dan ikan bakar. Uniknya selain nasi, karbohidrat yang dihidangkan juga terdapat pisang dan singkong. Unik juga biasanya makan nasi dengan lauk ikan, ini pisang dengan lauk ikan. Sepertinya jenis pisangnya khusus, karena tidak terasa manis seperti halnya rasa dan wangi pisang. Lebih banyak terasa tepung dan tawar saja. Cocok saya sih dimakan bersama sup ikan.

ikan bakar di pantai koka; sumber: pribadi

Lepas makan malam, kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan. Mulailah terasa bahwa perjalanan kami menempuh jalan raya nasional di pulau Flores. Seperti laiknya jalan darat di semua tempat, tentu saya mengikuti morfologi geologi setempat. Seluruh daratan Flores berbatu, berbukit dan jalannya berkelok-kelok, tentu saja memakan waktu lebih lama daripada jalan yang lurus.
Kami pun tiba di tempat penginapan pukul 23 malam.

Kis rupanya sudah mengarrange dengan baik masalah hotel dan penginapan kami. Bahkan daftar nama teman-teman, siapa sekamar dengan siapa dan penanggung jawab kunci sudah disampaikan ke Front Office hotel. Sehingga begitu kami sampai, sudah disiapkan kamar dan kuncinya, termasuk bell boy yang membawakan koper ke masing-masing kamar.
Hotelnya sendiri merupakan kompleks cottage sehingga tiap unit atau kelompok kamar saling berjauhan.

Mau tahu apa yang saya lakukan begitu mendapat menerima kunci kamar hotel?
Langsung bergegas ke kamar dengan membawa ransel, membongkar perlengkapan, menuju kamar mandi, dan M.A.N.D.I air panas.

Kalau ditilik ke belakang, kan saya terakhir mandi, malam sebelumnya ketika masih di Bandung.

Siap-siap tidur deh. Karena besok kami akan melanjutkan perjalanan ke Danau Kelimutu.

to be continued…

twittergoogle_pluspinteresttumblr

10 Replies to “[Flores] 646 km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat pulau Flores-2”

  1. Wah, Bundaaa … Indahnya punya kesempatan mengeksplor timur Indonesia. Pantainya terkenal cantik, yaaa. Impian saya banget, nih, bisa menjelajah penjuru nusantara. Ditunggu ah, cerita perjalanan Bunda Hani berikutnya.

  2. Kapaaaan ya bisa mengunjungi bumi Indonesia belahan timur? Keluar sumatera aja terakhir 2 thn yg lalu. Hihi.

    Itu bangunan gerejanya artistik banget ya mbak. Bisa detail gitu desain interiornya. Salut. Padahal dirancang dan dibangun secara manual ya. Hebat…hebat…

  3. Tahun 1995 aku masih menggambar tugas konstruksi kayu atau baja secara manual, Bu. Menjelang tamat di tahun 2000, baru ambil kursus CAD. Trus sekarang lanjut ke kursus nulis, deh. Lupa ama CAD-nya. Hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *