Kena Jebakan


lifestyle / Jumat, Mei 20th, 2016

IMG_20160518_135036[1]

Space atau pelataran atau apalah namanya di depan deretan toko di seberang kampus, seluas 10 m2 telah menjebak saya.
Koq, bisa?
Pagi itu saya harus ke kampus karena ada preview Tugas Akhir.
Sebetulnya beberapa hari sebelumnya saya berniat tidak membawa mobil.
Tadinya saya ingin mencoba aplikasi Uber.
Karena saya ada keperluan wira-wiri ke tempat lain, niatan mencoba Uber saya urungkan.
Jadilah, saya menyetir mobil seperti biasa.
Kampus ini memang halaman parkirnya kurang, atau mobil memang semakin banyak.
Begitu sampai di depan kampus, seperti dugaan dari rumah, saya akan kesulitan mencari tempat parkir.

Agak ke Barat, di depan deretan toko, ada ruang, kalau dari bentuknya pas untuk parkir beberapa mobil.
Pelatarannya pun dari concrete block, sama dengan pelataran di sebelahnya.
Cukup parkir untuk dua mobil, di antara dua pohon.
Ada rantai yang membatasi antara spot ini dengan halaman di sebelahnya.
Oke.
Disinilah saya parkir.
Kemarin dan kemarin dan kemarinnya lagi, saya juga parkir disini.
Siang, setelah selesai menguji mahasiswa, saya menuju tempat parkir bersama teman saya.
Saya jumpai, roda mobil belakang dikunci dengan alat khusus berwarna kuning.
Dan di kaca depan kiri, ada stiker besar, bahwa saya telah melakukan pelanggaran.
Teman saya kaget.
Wah, kena nih?
Saya menduga, pasti saya dianggap parkir di tempat yang bukan seharusnya.
Di stiker, sih, tertulis, saya melanggar:

  • Perda Nomor 16 tahun 2012
  • Perda Nomor 03 tahun 205 JO
  • Perda Nomor 11 tahun 2005

Saya belum berusaha mencari tahu, perda-perda tersebut isinya apa.
Tetapi, saya kontak nomor telepon yang ada disitu, dan melaporkan kejadiannya.IMG_20160518_135143[1]
Ada dua mobil lain di sebelah mobil saya. Satu juga dalam keadaan terkunci rodanya.
Satu lagi, mobil bak terbuka, aman-aman saja. Setahu saya, mobil bak terbuka tersebut menjual gas tabung hijau,dan tiap hari mangkal disitu.

Suara diseberang telepon mengharuskan saya untuk datang ke Alun-alun Bandung.
Lhah, bagaimana saya harus ke Alun-alun, kan mobil dikunci?
Bisa, sih, menggunakan angkutan umum. Setahu saya yang langsung ke Alun-alun hanya bis kota.
Angkot hijau atau hijau muda, ke arah Stasiun Hall, dan harus jalan kaki untuk sampai ke tujuan.
Membayangkan repotnya saja, saya sudah ogah.
Akhirnya, bapak ditelepon menjawab, supaya saya menunggu saja di dekat mobil, mereka akan datang.
Tunggu 30 menit, belum ada berita.
Saya telepon lagi, ada yang mau datang atau tidak?
Iya, mereka sedang menuju lokasi.

Saya sempat menghampiri satpam kampus, protes, kenapa tadi pagi saya tidak diperingatkan bahwa tidak boleh parkir disitu.
Entah, saat itu, satpam-satpam tiba-tiba menghilang.
Padahal saya kemarin parkir di deretan jalan yang sama, bahkan titip kunci.
Kata satpam hari itu, disitu memang tidak boleh parkir Bu.
Koq, saya tidak diberi tahu.
Sudah, saya sudah melambai manggil Ibu.
Melambai bagaimana?
Aneh, bukannya ngejar, kalau niat ngasih tahu.

Sambil menunggu, saya mengobrol dengan beberapa orang yang menghampiri.
Ada dua pemuda naik motor, yang menunggu di mobil hitam yang juga terkunci.
Kemudian ada seorang bapak yang memperlihatkan kertas berwarna pink dan menjelaskan sesuatu.
Jadi begini ceritanya:

  • Mobil yang terkunci rodanya, harus ke Alun-alun untuk melapor dan dibuatkan BAP.
  • Pelapor harus menitipkan KTP dan menerima tembusan BAP.
  • Kemudian petugas akan ke TKP membuka kunci roda.
  • Besoknya, pelapor harus ke Pengadilan untuk disidang.
  • Dari hasil sidang akan ditentukan pelapor harus membayar berapa untuk denda pelanggaran.
  • Kalau sudah beres, pelapor akan mendapatkan KTP nya kembali.

Kata mereka, itung-itung tukar KTP.
Sempat berpikir dalam hati, murah mana ya?
Sesudah roda dibuka kuncinya, saya menerima bukti BAP, tetapi saya tidak datang ke Pengadilan.
Saya ke kantor Kecamatan saja, lapor bahwa KTP saya hilang.
Hmmm…tapi, saya harus lapor polisi pula, lapor kehilangan KTP.

Dari hasil obrolan, saya mendapat patokan harga, bahwa biaya maksimum denda, 250 ribu rupiah.
Kalau disidang antara 70 atau 80 ribu rupiah.
Ternyata bapak tadi yang memperlihatkan kertas pink, dia sudah membayar 200 ribu rupiah, dan dia adalah pemilik mobil bak terbuka  di sebelah sana itu.
Sedangkan dua pemuda adalah pemilik mobil hitam, mereka sudah membuat BAP dan sedang menunggu petugas untuk dibuka kunci rodanya.
Katanya, tunggu aja petugasnya. Atau ke Alun-alun aja, soalnya yang dibuka kuncinya kalau sudah buat BAP. Nanti minta antar petugas aja ke TKP.
Repot amat yak.
Tau gitu, tadi pagi naik Uber, seperti niatan semula.

Tibalah petugas mengendari mobil Dinas Perhubungan warna putih, dengan kursi-kursi di belakangnya.
Satu petugas membaca kunci roda.
Satu petugas lagi membawa semacam notes.
Saya menduga pasti notes itu adalah catatan pelapor, ya BAP seperti kata pemuda-pemuda tadi.
Satu membuka kunci roda mobil hitam.
Kemudian satu lagi petugas menghampiri saya, dan meminta KTP.
Teman saya bertanya, salahnya apa, koq roda dikunci.
Kata petugas, karena saya parkir di trotoar.
Sebetulnya saya bisa saja berdebat.
Trotoaar apa?
Bagaimana bisa spot hanya sepanjang lima meter dikatakan sebagai trotoar?
Dari bentukannya pun tidak ada orang yang jalan di sini, pejalan kaki jalannya di badan jalan.
Kalau trotoar yang direonovasi seperti sepanjang jalan Riau, OK lah, itu adalah trotoar.

Ah, sudahlah.

Panas-panas, jam dua siang, ngapain saya berdebat dengan petugas.
Pastilah mereka akan menjawab, beginilah Bandung sekarang Bu.
Atau, saya hanya menjalankan tugas.
Tanya punya tanya, saya diharuskan datang ke Pengadilan, Jum’at jam 8 pagi.
Sama seperti informasi dari dua pemuda tadi, bahwa di Pengadilan, denda maksimal pelanggaran adalah 250 ribu rupiah.
Kalau saya tidak datang ke Pengadilan gimana Pak?
Bisa sidang di tempat minimal 150 ribu.
Koq, bisa di Pengadilan lebih mahal daripada sidang di tempat?
Lalu KTP saya?
Ibu akan memperoleh KTP nya langsung.

Setelah diskusi singkat dengan teman saya, saya memilih sidang di tempat dan saya memperoleh KTP saya kembali.
Petugas pun membuka kunci roda mobil saya.
Entahlah, yang saya lakukan korupsi atau tidak, suap atau tidak.
Lagipula saya lupa minta bukti BAP atau kuitansi.
Lagipula, ada gitu kuitansinya?
Pokoknya hari itu honor sebagai pembimbing Tugas Akhir saya berkurang sejumlah tertentu.
Dan saya sukses masuk jebakan di spot antara dua pohon di sebelah mobil bak terbuka jualan gas di seberang kampus.

Besok-besok, beneran deh, nyoba Uber atau Gojek saja.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

2 Replies to “Kena Jebakan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *