Yang Terbaik Untuk Ibu


giveaway, lifestyle / Senin, Mei 23rd, 2016

Sejak ayah mertua kami wafat, ibu mertua tenang-tenang saja tinggal di rumah besar, karena ada beberapa kamar di halaman belakang yang disewakan.
Praktis Ibu tidak kesepian, karena ada anak-anak kos berseliweran.
Ibu sehat-sehat saja waktu itu, paling-paling ada keluhan darah tinggi dan  asam urat, seperti kebanyak ibu sepuh lainnya.
Pada suatu hari salah seorang keponakan berkunjung ke Eyang Putri, atau YangTinya.
Ternyata kami mendapat laporan bahwa Ibu jatuh di kamar mandi.
Jatuh di kamar mandi?
Kemudian mendapat berita lanjutan, bahwa akibat jatuh Ibu kena stroke.

Pasti ada yang keliru. Umumnya orang menduga bahwa akibat jatuh lalu stroke.
Padahal banyak penjelasan, bahwa karena serangan stroke tersebutlah, seseorang jadi jatuh.
Tanpa membuang waktu, saya ikut suami langsung ke rumah Ibu.
Saya dapati Ibu terbaring di tempat tidur.
Ibu dapat berkomunikasi tetapi agak pelo.
Saya langsung melihat bahwa kami harus segera bertindak.
Saya katakan ke suami, koq, Ibu pipinya merot? Harus segera ditangani, nih.

Ibu tidak boleh ditinggal sendirian.
Keponakan yang sekarang menemani pun punya keluarga sendiri.
Stroke ini bukan sakit ringan yang bisa diabaikan.
Ada waktu krusial yang tidak boleh terlewat.
Kalau tidak, akibat sisa dari stroke menjadi permanen.
Saya menawarkan supaya Ibu dibawa ke rumah kami.
Suami menanyakan ke Ibu, apakah Ibu mau tinggal bersama kami.
Suami menambahkan, bahwa saya  yang meminta.
“Oh, boleh?” tanya Ibu.
“Tentu saja boleh, Bu” kata suami lagi.
Dalam hati, bagaimana bisa, kami tidak mengijinkan tinggal bersama kami?
Rupanya ini yang menyebabkan Ibu tidak bersedia tinggal bersama putra-putranya.
Ibu sungkan dengan menantunya.

Suami pun segera mengkontak para kakak kondisi Ibu dan menyatakan Ibu akan kami rawat.
Berita Ibu sakit cukup membuat terkejut mereka, apalagi mereka semua tinggal di luar kota.
Telepon tak putus menanyakan kondisi, mengusulkan dokter, metoda perawatan, biaya, dan lain-lain.
Dalam waktu singkat, kami menata ulang rumah kami.
Ibu akan tinggal di kamar salah satu anak kami.
Pengobatan, periksa ke dokter neurolog terkenal kami lalukan.
Diet dan terapi kami jalani.
Kompres air hangat dan air es bergantian pada wajah Ibu dan diurut berlawan arah dengan arah ‘merot’, menolong sangat banyak.
Karena bagian kiri tubuh layu, maka latihan jalan, latihan melangkah melewati bata, kami lakukan dengan sabar.
Apapun agar Ibu sehat seperti sediakala.

Sementara itu telpon tiap pagi menanyakan kondisi Ibu datang bertubi.
Koq, ini. Koq, itu, mulai terungkap satu demi satu.
Itupun tidak hanya satu kali, karena kakak ipar ada banyak.
Minimal ada tiga telepon tiap pagi dari kakak berbeda menanyakan hal yang sama tentang Ibu.
Saya mulai terusik dan sedih, seolah apa yang kami lakukan salah.
Memang mereka khawatir, dan hanya bisa mendengar laporan per telepon.
Cara mereka menanyakan atau mungkin komunikasi per telepon bukan komunikasi yang tepat.

Saya menjadi serba-salah.
Padahal Ibu adalah seorang yang sangat sabar dan baik, beliau menurut saja pengobatan dan terapi yang kami lakukan.
Komplen justru datang dari kakak-kakak.
Bahwa apa yang kami lakukan menurut kami sudah baik, ternyata belum tentu baik di mata orang lain.
Apa boleh buat, kami hanya bisa bersabar.
Buktinya wajah Ibu hampir tak terlihat pernah merot.
Ibu bisa berjalan kembali dan bisa berbicara normal.

 

13139115_10201852369028422_1211953600010958318_n

Yuk, cerita tentang “Kebaikan Tak Selalu Baik di Mata Orang Lain”

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

12 Replies to “Yang Terbaik Untuk Ibu”

  1. Seperti itulah merawat mertua, Mbak
    Aku mmg blm pernah merawat mertua, tp ibuku kan merawat embah. Jd pas lajang, aku juga ikut merawat embah dan selalu dengar keluh kesah ibuku.
    Anak2 embah perempuan, cuma bapakku yg lelaki. Mereka selalu ggpeecaya atas kebaikan ibuku. Sedih…

    1. Terimakasih ya sudah berkunjung ke blog saya. Wah, kalau Ibu mertua putranya laki-laki semua, suami anak bungsu. Mungkin karena itu jadi dikira ga bisa merawat Ibu. Hehe…saya kan kebawa jadi menantu bungsu… 🙂

  2. Bunda, ceritanya sangat indah. Memang benar apa yang kita lakukan tak selalu berdampak baik. Bahwasanya kita ikhlas, namun berbuah cemoohan. Padahal yang mencemooh justru tidak melakukan apa-apa. Sungguh pedih rasanya. Apabila kita tidak melakukan apa2 tentu saja bertentangan dengan hati, namun inilah yang kita tuai. Namun, berjalan di jalan Allah tidak lah mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Kita pasrahkan saja pada Allah. Yang membolak-balikkan hati. Semoga tidak terasa (tidak lama) kesabaran kita berbuah manis. Amiiiiin YRA.

    1. Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya. Harus sabar sih. Maklum karena suami anak bungsu, mungkin dianggap ga bisa merawat Ibu.
      Alhamdulillah bisa sehat kembali.

    1. Terimakasih sudah berkunjung. Iya, Ibu kita sakit juga tak ada yang duga. Pokoknya harus merawat semaksimal mungkin.

    1. Justru sodara begitu. Kayaknya ingin rawat juga, tetapi kondisi tak memungkinkan waktu itu. Trims yaa udah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *