Berpikir Positif Selalu Berguna di Setiap Situasi


wedding & marriage / Minggu, Juli 10th, 2016

404511_528804750503104_336341535_n copy

Ketika Istri Berperan Saat Suami Terpuruk

 

Upacara adat sebuah pernikahan walaupun bukanlah sebuah keharusan sarat akan simbol-simbol yang melambangkan sebuah pernikahan yang ideal.

Contohnya dalam ritual pernikahan adat Jawa Tengah, Ngidak Endhog atau menginjak telur, pengantin laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah, kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin perempuan sebagai
simbol dimulainya sebuah keluarga.


Upacara Kacar Kucur, dijalankan dengan cara pengantin laki-laki menuangkan kumpulan uang logam, beras dan kacang-kacangan ke pangkuan pengantin perempuan yang menerimanya dalam lampin dan kemudian disimpan.
Ini merupakan perlambang, bahwa suami bertanggungjawab mencari nafkah dan memberikannya kepada istri, kemudian istri bertugas  menyimpan dan mengelolanya.
Masih ada beberapa upacara, bahkan dalam berbagai adat di Indonesia, laki-laki dilambangkan memimpin keluarga dan perempuan berbakti kepada laki-laki atau suaminya tersebut.
Penggambaran sebuah pernikahan dalam upacara adat tentunya adalah penggambaran ideal yang diciptakan oleh sesepuh. Bahwa dalam perjalanan pernikahan tersebut terdapat ketidaksesuaian, tentunya perlu disikapi dengan bijak pula oleh pasangan tersebut.

Dalam Islam pun dijelaskan bahwa suami adalah pemimpin kepala keluarga, berkewajiban menafkahi lahir dan batin serta membimbing untuk taqwa kepada Allah swt.

Seperti yang terdalam ayat di bawah ini:

“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisaa’:34).

Walaupun demikian, bila suami adalah kepala keluarga maka istri ibaratnya adalah leher.
Fungsi leher adalah memutar kepala kemana suka.
Tentunya dengan kehati-hatian, karena istri berarti berkewajiban mengendalikan sepak terjang suaminya.
Bukan tidak mungkin, kemauan istri yang tidak wajar dan mendorong suami untuk melakukan perbuatan tercela, sehingga menjerumuskan seluruh keluarga.

Banyak cerita dan banyak kejadian, karena satu dan banyak sebab, suami tidak dapat menjalankan kewajibannya menafkahi keluarganya.
Dan solusinya tidak selalu indah, karena tidak semua pasangan cukup sabar untuk memecahkan persoalan keluarga dengan kepala dingin.

Hilangnya peran suami sebagai pencari nafkah secara tiba-tiba, misalnya akibat pemutusan hubungan kerja atau sakit, mau tidak mau menempatkan istri menjadi tumpuan keluarga.
Tidak ada gunanya berpangku-tangan dan mengeluh karena waktu terus berputar, kebutuhan keluarga harus dipenuhi dan anak-anak harus tetap mendapatkan gizi yang cukup.
Sikap istri di saat sulit seyogyanya adalah menerima masalah tersebut dengan lapang dada dan tidak menyalahkan kondisi yang ada.
Penting juga menyadari, bahwa tidak ada gunanya menempatkan diri sebagai korban, karena tidak akan menyelesaikan permasalahan.

Kehidupan manusia memang ibaratnya roda yang berputar, kadang di atas kadang di bawah.
Besar kemungkinan istri mengenal suaminya di masa kejayaan dan berpenghasilan besar, segala sesuatu bisa diperoleh dengan mudah.
Pada saat roda berputar di bawah, misalnya suami kehilangan pekerjaan, segala sesuatunya menjadi sulit untuk diperoleh.
Bagi pasangan yang tidak siap dengan kondisi seperti ini, yang ada hanyalah keluhan, mungkin saling memaki. Banyak kekerasan dalam rumah tangga terjadi kala ekonomi keluarga memburuk.
Istri tidak siap dengan kondisi yang menurun drastis, sedangkan suami tidak siap dengan perubahan sikap yang diterima dari keluarganya.

Kala suami terpuruk, apakah istri meninggalkannya atau tetap mendampingi suami di kala sulit?
Keputusan istri bisa tetap mendampingi suami untuk berusaha bangkit kembali, dan berpikir positif  bahwa roda yang sekarang berputar ke bawah suatu saat akan kembali ke atas.
Atau istri memang menggantikan peran suami sebagai pencari nafkah utama bagi keluarga.
Untuk itu tentunya istri harus mempunyai kemampuan yang mumpuni, dan di sisi lain suami diminta untuk meridhai dan ikhlas akan kondisi keluarga saat ini.
Banyak cara untuk membantu perekonomian keluarga, walaupun latarbelakang pendidikan istri tidak tinggi, Yang penting adalah berpikir positif dan bijak menyikapi setiap peluang.

Contoh sikap istri yang mendukung suami di kala sulit dapat kita lihat pada panutan kita, Rasulullah saw.
Di awal Rasulullah saw. mendapat wahyu, beliau begitu dibenci oleh masyarakat karena menyerukan agama Islam.
Tetapi apa yang dilakukan oleh Siti Khadijah?
Beliau tetap mendukung dan mendampingi bahkan sosok pertama yang mengamini apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw.
Padahal tidak dipungkiri, Siti Khadijah adalah wanita pengusaha yang kaya.
Perempuan tangguh ini begitu memiliki integritas dan kesetiaan tinggi serta sikap positif yang berguna dalam menyikapi kondisi suaminya.
Sikap positif ini dilandasi dari keimanan dan penghambaan kepada Allah swt, bahwa Allah swt tidak akan memberikan cobaan melebihi yang bisa ditanggung oleh manusia.

Zaman sekarang banyak pasangan, suami dan istri sama-sama mencari nafkah untuk keluarga.
Pertimbangannya karena beban ekonomi keluarga tidak dapat hanya ditanggung sendiri oleh suami.
Sehingga sudah jamak pula, karier sang istri lebih berkembang pesat dibandingkan karier suaminya.
Kadangkala peran istri tadinya hanya membantu ekonomi keluarga, karena kewajiban utama pencari nafkah keluarga tetaplah suami.
Seiring perjalanan waktu, ternyata karier istri lebih melesat dibandingkan suaminya.
Sehingga sering terjadi seorang istri lupa perannya dalam keluarga akibat merasa paling berjasa secara finansial sehingga menyepelekan suaminya.
Mungkin para istri yang sedang menanjak kariernya tersebut lupa, bahwa mereka tidak mungkin berhasil sekarang tanpa dukungan dari suaminya.
Padahal roda yang semula berputar ke atas, sewaktu-waktu bisa berputar ke bawah lagi.

Simaklah quote berikut ini:

“When a husband and wife hold hands, their sins fall away from between their fingers” – Prophet Muhammad

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *