Ketika Anak Step


keluarga, kesehatan, parenting / Jumat, Juli 22nd, 2016

mother-caring-for-sick-baby copy

Hanya cukup teriakan tiga kata di ujung malam, dapat membuat saya terloncat dari tempat tidur.
“Bu, Bara step!”
Tergopoh-gopoh dalam gelap berlarian bersama Mama Boro ke rumah sebelah.
Bororo lemas dipangku Papa Boro, matanya setengah tertutup dan tidak fokus.
Kami memanggil-manggil namanya.
Nafasnya satu-satu.
Setengah menangis, Mama Boro memanggil-manggil nama Bara, menepuk-nepuk pipinya.
Saya memasukkan jari saya kemulutnya, mulut Bara mengatup dan menggigit jari saya.
Tak apa, daripada lidahnya yang tergigit.
Mata Bara terpejam.
“Jangan tidur Bara…Bara…Bara” seru Mama Boro.
Setengah sadar, bocah imut ini menangis lirih.

Akung memanaskan mobil.
“Mau dibawa kemana? Putuskan!”

Akhirnya kami membawa Bara ke RS tempat Bara terapi tiap minggu.
Lebih jauh daripada RS terdekat.
Pertimbangannya, data dan status kesehatan Bara ada disini.
Daripada ke RS yang mungkin tidak biasa menghadapi bayi, atau anak 15 bulan.
Jarak 5,6 km menurut Google Map, terasa jauh dan tak sampai-sampai.
Di jalan Mama Boro menyanyi keras-keras.
Akhir-akhir ini Bara memang sering menggeleng-gelengkan kepala bila mendengar lagu atau nyanyian.
Bara menggeleng-geleng lemah.
Alhamdulillah ada reaksi.

Rel KA, menunggu kereta lewat.
Tulit-tulit.
“Bara sehat yaaa Nak. Nanti kita naik kereta api ke Jakarta bersama ayah. Kita jalan-jalan, lihat pantai. Kita naik pesawat, ke Jepang” getar do’a Mama Boro.

Sesampainya di RS, saya gendong Bara ke IGD dan menjelaskan pendek ke suster jaga.
Saya baringkan Bara di tempat tidur. Lemas, diam dan tampak bingung.
Mama Boro menyusul dan menjelaskan ke dokter jaga.

Ini pertama kalinya Bara step (mudah-mudahan tidak ada kedua ketiga dan seterusnya).
Sore sebelumnya deman, tepatnya sumeng, tidak panas tinggi, kira-kira 38.5 0 C.
Malamnya sudah diberi obat penurun panas.
Kira-kira antara pukul 02-03 pagi bangun, dan diberi ASI.
Tak lama dibaringkan, Bara kaku dan kejang-kejang.

Pertanyaan pertama dokter jaga adalah, siapa dalam keluarga yang pernah step?
“Kakaknya dia” sambil saya menunjuk Mama Boro. “Dan adik saya”.
Dokter mengangguk.
Kemudian dokter memeriksa reaksi mata Bara dan tenggorokannya.
Dokter menanyakan lagi, berapa lama Bara kejang.
Kemudian minta ijin untuk memberi obat penurun panas melalui anus.
Suhu Bara, 38.6 0 C.
Tidak banyak yang dilakukan dokter, karena kejangnya sudah lewat.
Bara diberi resep penurun panas dan obat anti kejang untuk jaga-jaga bila kejang berulang.
Kemudian diberitahu cara-cara menghadapi anak bila kejang demam.
Berikut penjelasan dari dokter dan beberapa sumber informasi lainnya:

1. Waspadai bila anak demam, terutama bila ada riwayat step dalam keluarga. Pakde dan Eyang Pakdenya Bara pernah step seusia Bara ini.
2. Tidak semua step harus diawali dengan deman tinggi, misalnya 39-40 0 C. Seingat saya, Daridaru kakaknya Mama Boro, step kala suhu tubuhnya masih 38.5 0 C.
3. Jangan memasukkan jari ke dalam mulut anak yang kejang, karena jari kita jadi digigit. Apalagi sendok, karena kuatnya gigitan, gigi si Kecil bisa patah.
Cukup miringkan anak ke kiri, untuk menghindari tersedak bila muntah.
4. Bila kejang jangan diberi minum, takut tersedak.
5. Sedia penurun panas dan obat anti kejang yang diberikan melalui anus. Berikan ketika anak kejang. Cara memberikannya, tekan tube obat, dalam keadaan ditekan, baru ditarik dari anus.
Supaya obat tidak terhisap kembali ke dalam wadah.
6. Pantau terus suhu tubuhnya setiap 4 jam. Beri penurun panas bila masih panas.
7. Beri obat anti kejang tiap 8 jam. Bila perlu obat dapat diberikan selama tiga hari.
8. Bila dalam dua hari panas belum turun, lakukan cek darah.
9. Untuk kompres jangan memakai air dingin, tetapi tubuh si Kecil dilap dengan air hangat.
10. Beri minum atau susui sesering mungkin agar anak tidak kekurangan cairan.
11. Anak harus dijaga jangan step bila demam, hingga usia 5 tahun.

Subuh kami tiba kembali di rumah.
Bara tertidur.
Kira-kira pukul 7, Bara bangun, tengkurap dan duduk sendiri.
Alhamdulillah.
Kami semua takut bila step ini membuat Bara mengalami kemunduran tumbuh kembangnya.
Seingat saya, ketika kakaknya Mama Boro ini dulu step, saya pun menangis tersedu-sedu.
Mungkin semua ibu sama seperti kami, takut bila anaknya step.

Apakah ada gejala sisa akibat kejang demam?

Kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak.
Biasanya kejang demam menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 5-6 tahun.
Sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam akan tumbuh dan berkembang secara normal tanpa adanya kelainan.

Kapan orangtua perlu khawatir?

Walaupun beberapa informasi menjelaskan bahwa kejang demam tidak menimbulkan gejala sisa.
Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai yaitu:
1. Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam.
2. Anak kejang di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun.
3. Waspadai kemungkinan epilepsi, radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis).
4. Sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik.
5. Evaluasi lebih lanjut bila anak pernah kejang tanpa demam.

 

Sumber:
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kejang-demam-tidak-seseram-yang-dibayangkan
http://bidanku.com/pertolongan-pertama-bila-bayi-kejang-saat-demam
http://dokita.co/blog/kejang-demam-pada-anak/

twittergoogle_pluspinteresttumblr

2 Replies to “Ketika Anak Step”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *