Ketika Teman Berhutang


lifestyle / Kamis, Juli 28th, 2016

 

bayar-utang copy

Bukan sekali dua saya baca status teman-teman di FB tentang sulitnya menagih hutang ke teman.
Ada keluhan seorang teman yang curhat, teman yang ditagih malah marah-marah.
Thread ini pun jadi panjang, bak gayung bersambut, diberi komen-komen netizen senasib lainnya.
Intinya, penghutang malah lebih galak daripada yang memberi hutang.

Bahkan baru-baru ini seorang teman antara gemes, kasihan dan emosi lain nyetatus, uangnya lenyap bersama wafatnya seorang temannya.
Pertama “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” untuk temannya teman yang wafat.
Kedua, ternyata teman yang wafat ini telah berhutang dan istrinya ketika ditagih malah memblok media komunikasi.
Dalam hati saya, “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” yang kedua untuk teman yang nyetatus.
Kalau ditilik dari sudut ketaqwaan, apapun kan titipan Allah swt, pinjaman, yang sewaktu-waktu diambil oleh yang Maha Memiliki segalanya.
Bisa berupa harta bahkan nyawa.
Mungkin, sudah nasib teman yang nyetatus, harta yang dititipkan Allah swt hanya sampai disini.

Lepas dari status teman-teman FB yang galau, ternyata membuat saya bisa keidean menulis artikel.
Memang menjengkelkan betul ketika kita harus menagih hutang, sementara yang ditagih adem ayem.
Seingat saya, pertama kali dihutangi oleh teman kira-kira puluhan tahun lalu, saat sedang hamil anak ke dua.
Sesama teman dosen, seorang bapak.
Saya lupa alasannya berhutang.
Jumlahnya tidak besar kala itu, limapuluh ribu rupiah.
Kalau tidak salah ingat, si Teman akan mengembalikan setelah tenggat waktu tertentu.
Ketika tiba tenggat waktu yang dijanjikan, si Teman mangkir.
Setelah berkali ditagih, saya jadi tak enak sendiri.
Saya berhenti menagih, tetapi teman saya itu saya diamkan.
Saya anggap saja tidak ada.
Entah saya jahat bukan sih?
Apalagi waktu itu saya Ketua Jurusan.
Tapi cukup ampuh.
Tak lama kemudian hutang saya dibayar.

Itu adalah pertama kali saya memberi hutang dan cukup traumatis.
Traumanya adalah pengalaman menagih yang tidak mudah.
Saya koq seperti kehilangan muka.

Waktu itu saya belum punya ilmunya, adab menghutangi orang seperti ditulis dalam blognya Candra Dewojati.
Candra sampai memposting tiga artikel tentang hutang-piutang, disini dan disini.
Rupanya masalah ini dalam beberapa hal cukup meresahkan, bila kita tidak tahu cara menyikapinya.

Memang sih banyak koq penjelasan, bila kita mempunyai hutang, ketika meninggal, malaikat akan ini dan itu.
Sering juga saya dengar, bila seseorang wafat, sebelum disholatkan, kemudian diulang lagi, di tepi liang lahat, ahli waris mengumumkan bila almarhum atau almarhumah berhutang, ahli waris bersedia menanggung.
Tapi seumur-umur belum pernah tuh, saya menjumpai ada di antara pelayat yang ujug-ujug mengacungkan jari, iya, almarhum utang ke saya sekian-sekian.
Entah, bila diam-diam mendatangi ahli waris.
Buktinya contoh teman FB yang nyetatus itu, ahli waris malah memblok komunikasi.
Bahkan ada netizen lain yang curhat, ahli waris malah berkelit, itu kan urusan almarhum.

Sejak pengalaman pertama memberi hutang tersebut, saya jadi punya kiat bila ada teman berhutang.
Kiat ala-ala saya:

1. Jumlah
Bila teman akan berhutang sejumlah Y, walaupun dananya ada, berikan secukupnya, misalnya 1/4 Y, 1/10 Y, terserah.
Ini sih untuk jaga-jaga, bila teman saya mangkir, saya tidak sakit hati uang saya tak kembali.
Menilik apa yang saya baca di blog Candra, bahwa memberi hutang harus ikhlas.
Kan sulit mengukur kriteria ikhlas.
Ikhlas adanya dalam hati dan hanya Allah swt yang bisa mengukur.
Apalagi bila hitungannya juta-juta.

2. Uang tidak bicara
Jangan sok kaya memberikan semuanya.
Sering dengar kan sindiran, “uang tidak bicara”.
Bersyukur saja bila teman yang diberi hutang menyindir seperti itu, karena misalnya yang kita berikan kurang.
Orang lain tidak tahu dan tidak mau tahu, kebutuhan keluarga kita apa saja.
Setiap keluarga punya perhitungan dan masalahnya masing-masing bukan?
Bukannya saya tidak kasihan.
InsyaAllah ada dermawan-dermawan lain yang bersedia membantu lebih banyak lagi.

3. Dana keluarga
Saya pernah baca status teman yang cukup sedih, karena tabungan untuk pendidikan anak dihutangkan ke teman, dan teman ini mangkir.
Mungkin yang bersangkutan menganggap, dana itu belum dipakai sekarang, bolehlah dipakai dahulu membantu teman.
Ternyata begitu tiba saatnya dana itu akan dipakai anaknya, hutangnya belum kembali sepeserpun.
Celakanya, teman yang ditagih malah galak.
Celaka keduanya, teman tersebut tidak minta ijin ke suami, memberikan hutang ke orang lain memakai dana untuk pendidikan anak.

Saya pun pernah mengalami hal yang mirip.
Saya ikut arisan di tempat saya mengajar.
Dihitung-hitung, bila saya menang, dananya cukup untuk membayar SPP kuliah anak saya.
Nah, karena ini arisan diantara guru-guru, kocokan arisan siapa yang menang diatur saja sesuai kebutuhan anggotanya.
Misalnya bulan November ada yang mau bayar kontrakan.
Ya guru bersangkutan yang dimenangkan.
Waktu itu saya minta di bulan Januari atau Februari.
Kebetulan bendahara arisannya lapor ke saya bahwa dana yang seharusnya untuk saya, dipinjam dulu, akan diputar katanya.
Nanti dikembalikan tepat saatnya saya menang arisan tersebut.
Saya jadi deg-degan karena sampai minggu depan batas waktu pembayaran SPP, dana saya belum kembali.
Sudah sms, sudah ditagih, mangkir terus.
Hampir saja saya datangi ke rumahnya, sekalian mau saya tagih depan suaminya.
Saya pun kena tegur suami, kenapa ikut arisan segala untuk dana pendidikan anak.
Kenapa tidak menabung saja.
Benar juga ya, arisan kan tidak ada akadnya, jadi sulit untuk menagih.

4. Janji tinggal janji
Walaupun teman tersebut janjinya berhutang, dan akan mengembalikan dalam rentang waktu tertentu. Lupakan.
Anggap saja uang saya tidak akan kembali.
Bersikap seperti ini ternyata membuat hidup saya lebih ringan.
Saya tidak kepikiran.
Anggap saja semua titipan Allah swt.
Kalau tidak kembali sekarang, saya percaya akan kembali dalam bentuk lain.

5. Akad dan Jaminan
Kesalahan saya ketika memberi hutang adalah saya tidak pernah membuat kwitansi atau meminta jaminan.
Rasanya koq saya hitung-hitungan banget.
Belum lagi ada komentar: “Sama teman segitunya ga percaya”.
Padahal memberi hutang yang benar adalah ada akad tertulis dan boleh meminta jaminan.

Itulah kiat ala-ala saya.
Semoga yang berhutang dimudahkan bisa segera melunasi hutang-hutangnya.
Dan yang ada kelebihan rizki dimurahkan dan diringankan hatinya untuk memberi piutang.

Nah, apa kiatmu?

Sumber:

Memang Ada Adab Menghutangi Orang? Simak Jawabannya

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

2 Replies to “Ketika Teman Berhutang”

    1. Bener banget mbak Ratusya. Saya cenderung “ngasih” aja deh, walaupun teman awalnya bilang utang dan janji ngembaliin. Atau dari awal ga ngutangin, aman2 deh. Berikutnya kan ga akan dateng lagi, karena dianggap pelit. Hehe…becanda…Makasih yaa sudah berkunjung… 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *