Lillahi Ta’ala

Artikel ini merupakan repost dari blog saya beberapa tahun yang lalu. Tetapi masih relevan dengan kondisi saat kini, karena berkaitan dengan Ensiklopedia Islam.
Waktu itu bulan Ramadan, saya menyimak acara TV yang membahas tentang Indahnya Shalat. 

Ternyata pembahasannya menurut abjad. Saya terlambat beberapa episode. Abjad A,B,C terlewat. Pertama kali saya menyimak acara ini, pembahasannya pada abjad D.

Yaitu Do’a. Saya baru tahu, ada do’a yang langsung dikabulkan, ditunda atau ditolak sama sekali.
Dijelaskan juga, bahwa dalam Islam, berdo’a saja langsung kepada Allah SWT, bahkan boleh minta apa saja.
Lebih-lebih lagi, tidak perlu pakai perantara, melalui tarekat, melalui ulama, apalagi berdo’a di kuburan untuk minta sesuatu.

Hari-hari berikutnya, pembahasan di F, G, H, I ….. saya terlewat lagi, karena belum tiba di rumah.
Abjad J, tentang Jama’ah. Lalu K, tentang Khusu’.
Karena ini tentang Indahnya Shalat, maka pembahasannya seringkali disertai dengan praktek gerakan shalat, yang diperagakan oleh mas Denny yang culun.

Saya sangat terkesan tentang pembahasan L, yaitu Lillahi Ta’ala.

Lillahi Ta’ala artinya Karena Allah.

Tetapi, bukan berarti segala sesuatu dipersembahkan untuk Allah.
Allah tidak perlu diberi sesembahan apa-apa, apalagi sesajen.
Allah SWT. adalah pemilik segalanya.
Maka “Karena Allah” disini, maksudnya ….. kita tuh dipinjami oleh Allah, dititipi oleh Allah.
Suami, anak-anak, pekerjaan, kesehatan, kecantikan, kekayaan …..
Jadi …. berhati-hatilah menjaga titipan Allah.

Entah kenapa, perasaan saya campur aduk, antara lega dan was-was.
Lega …. karena saya tidak perlu iri lagi terhadap kekayaan seseorang.
Saya tidak iri, melihat teman saya yang sukses, kaya-raya, anaknya banyak, anaknya sukses, anaknya juara, atau si teman ini cantik, pandai, selalu jadi pusat perhatian dll.
Oh …. itu kan pinjaman … itu kan titipan Allah.

Uztads Abu Shankan menjelaskan, namanya juga pinjaman, kita harus siap, apabila Sang Pemilik mengambil kembali segala sesuatu yang
dipinjamkan.
Kita harus membayangkan dari memiliki menjadi tidak memiliki.

Nah …. disini saya jadi was-was.
Apakah saya siap, misalnya Allah swt. mengambil segala sesuatu yang dititipkan kepada saya ?
Uztads Abu, samasekali tidak menjelaskan ….. apakah ada cara ….
misalnya membujuk, merayu atau apalah …. supaya Sang Pemilik memperpanjang masa pinjamanannya.
Atau bahkan menambah pinjaman lainnya.

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com