Memandikan Jenazah


lifestyle / Sabtu, Juli 23rd, 2016

bunga-kamboja_18 copy

Senin dan Selasa minggu lalu, siapa yang mengira bahwa saya akan membantu memandikan jazad orang-orang yang saya kenal dekat. Sebelum-sebelumnya sih sudah beberapa kali saya turut memandikan orang yang saya kenal.
Seingat saya, orang pertama adalah ketua majlis taklim yang saya ikuti. Sesudahnya saya lupa siapa saja.
Apakah saya takut?
Enggak juga sih. Biasa saja. Betul-betul biasa, tanpa perasaan apa-apa. Bahkan saya jadi belajar tata cara memandikan jenazah.

Senin dan Selasa itu, saya belajar bagaimana sebuah keluarga menghadapi ibu mereka yang wafat.
Ternyata benar-benar berbeda satu sama lain. Juga petugas dari Yayasan yang menangani jenazah pun ternyata berbeda tata caranya. Walaupun diantara kami yang membantu mengurus ada sedikit komentar, tetapi keputusan tetaplah ditangan keluarga, terutama anak-anaknya.

Senin pagi, yang wafat seorang ibu amat sepuh, diusia 92 tahun.
Beliau adalah ibu teman seangkatan saya, zaman kuliah dulu. Saya kenal beliau sudah lama, kira-kira seusia ibu saya yang wafat dua tahun lalu, di usia 88 tahun. Jadi ketika siang saya takziah ke rumah teman saya itu, tentu saja saya berniat turut memandikan beliau. Seseorang yang wafat dengan damai, bisa sangat cantik, walaupun diusia amat renta.

Saya yang membantu menggunting baju beliau, karena tentu sulit membuka baju dalam keadaan jazad sudah kaku.
Saya hanya mendengar sepintas dari kakak teman saya, bahwa ibu mereka kena dekobitus. Dekobitus adalah luka borok yang diakibatkan badan dalam keadaan tidur terlalu lama. Awalnya biasanya kulit yang lecet karena panas, kemudian infeksi sehingga menjadi borok.
Kata almarhumah ibu saya, nenek saya dulu, yang wafat diusia 84 tahun, juga kena dekobitus.
Kata kakak saya yang dokter, dekobitus itu jahat banget. Itu sebabnya, seseorang yang sakit atau harus tiduran terus dalam waktu lama, punggung dan bagian belakang tubuh harus sering diminyaki atau dibedaki supaya tidak panas.
Katanya sih, lebih bagus pakai minyak kelapa buatan sendiri. Posisi tubuh pun harus sering dimiringkan, supaya dianginkan dan tidak panas.
Almarhum ayah saya, sebelumnya juga sakit dalam waktu sangat lama, 3 tahun. Tetapi, setahu saya, ayah saya tidak kena dekobitus. Ngomong-ngomong tentang dekobitus, walaupun saya tahu, tetapi belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Nah, barulah kali ini, saya melihat sendiri, seperti apa luka dekobitus. Tetapi, ya saya harus kuat dong, sudah niat saya memandikan, mosok tiba-tiba kabur.

Petugas dari Yayasan yang mengurus jenazah ada tiga orang. Kami menanyakan, perlu air hangat tidak?
Teu kedah, kata salah seorang diantaranya, sepertinya seniornya. Artinya tidak perlu, dalam bahasa Sunda.
Jadilah kami memakai selang air dingin. Badannya disabuni, rambutnya memakai shampoo seperti keramas biasa.
Kemudian diakhir diwudhukan seperti laiknya akan shalat. Selanjutnya dikafani dan disholatkan.

Kami menanyakan kepada putra-putri almarhumah, apakah ada yang ditunggu? Karena keputusan keluarga, beliau akan dimakamkan keesokkan harinya. Sore itu saya pun pamit pulang ke rumah. Rencana memang, besok tidak mengantar beliau ke makam.

Selasa siang, baru saja saya membuka laptop, akan update blog, ditelpon oleh teman sekelas kala SMA.
Pertama dia menanyakan saya sedang apa, kemudian menyampaikan berita mengejutkan bahwa seorang teman sekelas kami wafat. Jenazahnya sekarang ada di RS Advent.
Tidak ada berita sebelumya teman saya ini sakit dan tidak ada info sebab-musabab wafatnya. Saya telpon teman saya yang lain, sebentar kami bertangis-tangisan, kemudian janjian akan ketemu di RS.
Sesampainya di RS, ternyata jenazah sudah dibawa pulang. Akhirnya saya menyusul ke rumah teman yang wafat ini bersama teman lain. Di rumah sudah ada ibu teman yang wafat ini.
Duka yang mendalam tentu saja. Tidak ada seorang ibu manapun yang menginginkan anaknya meninggal terlebih dahulu bukan?

Kira-kira sore, datanglah petugas pengurus jenazah dari sebuah Yayasan. Kali ini Ibu petugas datang sendirian.
Luar biasa, beliau sangat cekatan, dan tanpa ragu mengomando kami-kami yang siap membantu.
Mengukur kain kafan, sret-sret, memotong sesuai ukuran jenazah. Membuat berbagai bentuk.
Ini untuk lancingan (celana), ini untuk baju, samping (kain), kerudung.
Dua lapis untuk membungkus, lalu sisanya membuat tali-tali. Dengan tegas, si Ibu menanyakan dimana tempat dia akan mengurus jenazah nanti.
Oke, disana. Tikar digelar, kafan digelar, lalu kapur barus ditabur.

Di belakang sudah siap, dipan stainless untuk memandikan, berikut seprei untuk tabir. Berbeda dengan perlakukan jenazah kemarin, kali ini si Ibu petugas menginginkan air hangat.
Katanya, kalau sudah sepuh air hangat.
Kalau masih muda, tak apa air dingin.
Lho…beda ya. Hmm…koq kemarin, pakai air dingin? Dari slang pula…
Jadilah air hangat disiapkan dari water heater, merebus air, dan dari tetangga. Air ledeng dari slang pun disiapkan.
Tetapi si Ibu amat teliti, tidak mau airnya ada lumut. Berkali-kali dibuang sampai yakin benar-benar bersih.

Setelah segalanya siap, tak lama tiba suami dan anak almarhumah dari luar kota. Mereka pun turut memandikan.
Lagi-lagi, saya yang menggunting baju almarhumah.
Sedih sekali saya.
Bayangkan teman sekelas SMA.
Berarti kan seumuran saya.
Betapa kematian begitu dekat.
Besok-besok, akan tiba saatnya saya seperti teman saya ini, dimandikan. Tetapi sudah ketentuan, bahwa tidak boleh ada air mata mengenai jenazah. Jadi, saya kuat-kuatkan saja.
Oh ya, satu lagi, Ibu petugas dengan tegas berulang mengingatkan, memandikan haruslah amat lembut. Tidak boleh langsung diguyur, tetapi melalui telapak tangan terlebih dahulu. Konon, walaupun sudah wafat, almarhumah masih bisa merasakan sakit.

Sesudahnya dikafani dan disholatkan.
Sesuai dengan keinginan anak almarhumah, maka teman saya akan dimakamkan malam itu juga.
Ada hadisnya memang, harus sesegera mungkin dimakamkan. Sungguh, seumur-umur belum pernah saya ke makam malam-malam. Ya sudahlah, demi teman, saya akan mengantar sampai ke tempat peristirahatan terakhir.

Dua kejadian yang sama, berturut-turut.
Dua kejadian yang sama, tetapi ahli waris memutuskan yang berbeda.
Dua kejadian yang sama, tetapi perlakukan terhadap jenazah sedikit berbeda secara detail.

Tata cara memandikan jenazah dapat dilihat disini:
http://ilmuagama.net/cara-memandikan-jenazah/

Memandikan jenazah adalah fardu kifayah, menurut agama yang saya anut. Kewajiban yang harus dilakukan oleh orang banyak. Bila sudah ada yang melakukan, bisa saja yang lain tidak ikut-ikut melakukan, atau gugur kewajibannya. Tidak semua tahan melihat jenazah bukan?
Belum apa-apa sudah ngeri duluan.
Kebayang yang tidak-tidak, terutama kaitannya dengan dunia lain. Bahkan, banyak juga putra atau putri yang wafat tidak tega turut memandikan jenazah orangtua mereka.
Tiba-tiba koq saya ingin nambah do’a.
Do’a-do’a yang akan saya panjatkan (do’a saya memang banyak banget), bahwa bila saya meninggal kelak, mudah-mudahan jazad saya bersih dan tidak membuat ngeri yang memandikan. Lalu, mudah-mudahan anak-anak saya memperlakukan saya dengan sepatutnya menurut syariat Islam.

Mungkin karena ini pengalaman luar biasa saya, Rabu keesokkan harinya, saya ijin tidak kerja.
Menenangkan diri di rumah.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

4 Replies to “Memandikan Jenazah”

  1. Salam kenal mba Hani. Luar biasa ceritanya membawa haru. Jadi menambah pengetahuan saya soal topik ini, saya menganut agama berbeda dengan mba, tapi artikel ini somehow menyentuh sekali.
    Semoga mba selalu diberkati dengan keaehatan dan kebaikan. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *