Mengatur Keuangan dengan Tabel Sederhana


parenting / Rabu, Juli 27th, 2016

stock-vector-family-budget-illustration-371932681

Masalah mengatur keuangan merupakan masalah sensitif yang dapat menyebabkan sumber konflik dalam sebuah keluarga. Oleh sebab itu, sejak awal merencanakan pernikahan dan membentuk sebuah keluarga, ada baiknya mulai merencanakan keuangan keluarga dan asal sumber penghasilan.

Bicarakan sejak awal bersama calon pasangan, terutama bila pihak perempuan merupakan perempuan bekerja (di luar rumah). Apakah istri akan tetap melanjutkan kariernya atau bersiap-siap untuk berfokus mengurus rumah tangga.

Sepakat Bersama Mengatur Keuangan Keluarga

Sering terjadi seorang perempuan yang sebelumnya adalah karyawan atau bekerja di luar rumah, dituntut oleh calon suaminya untuk berhenti bekerja dan mengurus rumah tangga. Sebagai calon istri, perempuan tersebut berhenti bekerja dan menyiapkan dirinya untuk menjadi ibu rumah tangga. Konsekuensinya, sumber penghasilan sepenuhnya dari suami, sedangkan istri diharapkan mengelolanya dengan benar.

Konflik biasanya timbul karena istri menganggap penghasilan suaminya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, suami merasa sudah berusaha maksimal dan menganggap istri boros dan tidak becus mengurus keuangan. Konflik menjadi berkelanjutan apabila istri mengambil tindakan mencari pekerjaan di luar rumah, yang sebetulnya tidak sepenuhnya disetujui oleh suaminya.

Beberapa literatur fiqih menjelaskan bahwa perempuan-perempuan yang akan bekerja di luar rumah memerlukan izin orangtua atau suami. Izin dari suami tersebut jangan dianggap sebagai bentuk pengekangan, tetapi sikapilah sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang dari pihak yang idealnya menjadi pelindung.

Bisa terjadi, misalnya orangtua atau suami dalam keadaan yang kurang dapat menafkahi seluruh kebutuhan hidup keluarga, atau seorang suami diberi cobaan berupa sakit atau cacat yang menyebabkan dia tidak bisa memberi nafkah bagi keluarganya. Dalam keadaan seperti ini, istri menjadi tulang punggung keluarga. Walaupun demikian, haram bagi istri untuk mengungkit-ungkit kebaikannya.
Allah swt., menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya berikut ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah [2]: 264)

Apabila suami dan istri sama-sama bekerja dan mempunyai karier yang mandiri, diskusikanlah komponen apa saja yang ditanggung oleh masing-masing. Ada pasangan yang kedua belah pihak sama-sama bekerja, tetapi seluruh biaya kebutuhan rumah tangga ditanggung sepenuhnya oleh sang suami. Sementara itu, sang istri yang memiliki penghasilan dari hasil jerih payahnya sendiri merasa berhak menggunakan uangnya sesuka hati.

Ada pula pasangan yang menyepakati pembiayaan keluarga secara adil. Misalnya, pembiayaan sehari-hari ditanggung dari penghasilan istri, sedangkan pembiayaan untuk investasi dan tabungan hari tua ditanggung dari penghasilan suami.

Selain itu, ada pasangan lain menggabungkan seluruh penghasilan menjadi satu. Biasanya suami menyerahkan seluruh gaji kepada istri, kemudian istri yang mengelola dan membaginya menurut pos-pos pengeluaran keluarga.

Untuk menghindari konflik yang diakibatkan oleh masalah finansial, ada baiknya bersama-sama mengatur keuangan keluarga dengan cermat.
Komponen-komponen yang diatur terdiri dari:

Mengatur Keuangan dengan Mencatat Pengeluaran 

Sebetulnya tidak perlu menunggu menikah dan membentuk keluarga untuk mulai mencatat pengeluaran dengan cermat. Bila perilaku atau kebiasaan ini dipupuk sejak dini, seseorang akan lebih hemat dan dapat mengendalikan diri dalam membelanjakan uangnya. Setelah menikah, kebutuhan akan meningkat karena diperuntukkan bagi dua orang.

Siapakah yang harus mencatat?
Umumnya istri, tetapi tidak harus istri juga sih.
Tergantung kesepakatan antara istri dan suami.
Ada juga, koq, suami yang cermat mencatat.

Catatan pengeluaran dapat dipilah-pilah menurut pos-pos pengeluaran harian, pengeluaran bulanan, dan pengeluaran tahunan.
Perincian pos-pos tersebut adalah sebagai berikut:
• Pengeluaran harian: belanja dapur sehari-hari, transportasi, uang jajan anak, sedekah, dan lain-lain.
• Pengeluaran bulanan: tagihan air, listrik, dan telepon, uang sekolah anak, iuran keamanan, cicilan rumah, cicilan mobil, asuransi, zakat profesi, biaya tak terduga, dan iuran-iuran lain.
• Pengeluaran tahunan: pajak rumah (pajak bumi dan bangunan), pajak mobil, zakat maal, dana untuk kurban, asuransi, dan pengeluaran lain. Pengeluaran tahunan dapat diprediksi dari catatan tahun sebelumnya, oleh sebab itu dapat dicicil dan disisihkan per bulan supaya tidak terasa memberatkan dan tampak besar jumlahnya.

Melalui ponsel, catatan pengeluaran ini dapat dicatat di WPS Office atau aplikasi sejenis.
Pilihlah New Spreadsheet, kemudian buat kolom-kolom seperti membuat tabel Excel di Office.

Screenshot_2016-07-29-16-15-42

Saya membuat tabel sederhana seperti gambar berikut:
1. Buatlah kolom-kolom sesuai kebutuhan.
2. Kolom utama, pemasukkan dan pengeluaran.
3. Kolom pemasukkan dapat diperinci menjadi pemasukkan dari ayah, dan atau ibu.
4. Kemudian kolom pengeluaran saya bagi tiga, yaitu pengeluaran harian (belanja dapur), tagihan bulanan
(rekening, SPP, transportasi, pulsa, pajak dll), biaya lain-lain (misalnya beli buku, sepatu, dll),

tabel

Agar pengeluaran terkontrol, yaa setiap pengeluaran harus dicatat. Saya bahkan mencatat sampai sekecil-kecilnya, misalnya parkir. Parkir mobil di Bandung, dua ribu, kadang tiga ribu, bahkan di pusat perbelanjaan bila berlama-lama cuci mata, parkir bisa mendadak jadi 12 ribu rupiah. Mahal bukan.
Apa jadinya bila tidak dicatat.

Keuntungannya dengan mencatat tiap hari, saya pun mengetahui berapa total pengeluaran per harinya. Kadang-kadang, namanya juga perempuan, ingin juga sih saya beli ini itu untuk diri sendiri. Nah, saya lihat dulu selisih pemasukkan dan total pengeluaran. Kalau kira-kira selisihnya masih lumayan, bolehlah saya mampir ke toko sepatu terdekat. Beli selop untuk undangan nikahan dua minggu lagi. Kalau tidak, ya terpaksa pakai selop yang lama dan itu-itu lagi.

Membuat Tabel Sederhana

Keluarga itu ibarat perusahaan, harus dimenej dengan baik. Oleh sebab itu buatlah neraca sederhana untuk keuangan keluarga ibarat mengatur sebuah perusahaan. Tidak perlu membuat tabel yang rumit. Yang penting cukup jelas antara pemasukan dan pengeluaran.

Tabel tersebut dapat diuraikan sampai satu tahun ke depan, kemudian dibagi dari pengeluaran tahunan menjadi pengeluaran bulanan. Dengan membuat neraca seperti ini, istri dan suami dapat memprediksi kekurangan dana sehingga dapat memikirkan jalan keluarnya bersama-sama.

Buat skala prioritas cicilan dan utang yang harus dilunasi.
Usahakan ada spare dana sekitar tiga kali cicilan atau lebih, untuk jaga-jaga misalnya ada hambatan dalam penghasilan. Kalau tidak, bisa-bisa kita kena denda karena terlambat membayar cicilan.
Misalnya cicilan rumah. Kalau sedang mencicil rumah, usahakan tidak mengambil kredit lain, misalnya mobil. Pikirkan masak-masak, perlu sekali tidak membeli mobil?

Mulai Menabung

Setelah menikah, sisihkanlah sebagian penghasilan suami atau istri untuk tabungan keluarga. Sepakati bersama, apakah membuat rekening khusus untuk tabungan keluarga, atau atas nama suami atau istri. Salah satu pihak bertugas mengelolanya dengan baik.

Salah seorang teman saya, selain membuat tabungan khusus atas nama dia dan suaminya, juga membuat tabungan khusus atas nama dia dan anak-anaknya. Tabungan untuk anak-anaknya merupakan dana yang disisihkan untuk pendidikan sampai menikahkan anak-anaknya kelak. Bentuk tabungan ada banyak, bisa berupa deposito, reksadana, logam mulia, atau properti.

Saya pernah membaca bukunya Ligwina Hananto, “Untuk Indonesia yang Kuat – 100 Langkah untuk Tidak Miskin”, malah dalam salah satu babnya dijelaskan “Menabung Saja Tidak Cukup”.
Menurut Mbak Wina (nama panggilannya), harus ada dana-dana yang cermat disisihkan, yaitu:

Dana Pensiun

Dana Pensiun artinya dana yang dapat digunakan sebagai biaya hidup apabila sudah pensiun.

Dana Pendidikan

Tentu saja maksudnya Dana Pendidikan disini adalah dana pendidikan untuk anak-anak. Beberapa skema asuransi pendidikan biasanya menawarkan berbagai bentuk investasi untuk pendidikan yang dapat
dicicil setiap bulan.

Dana Darurat

Dana darurat adalah dana yang dapat digunakan bukah hanya untuk kondisi darurat, tetapi juga sebagai pengaman.
Misalnya suatu saat kehilangan pekerjaan (amit-amit). Contoh sederhana, dana darurat lajang adalah 4 X pengeluaran bulanan. Bila sudah menikah adalah 6 X pengeluaran bulanan. Tidak harus sekarang juga sih. Dana darurat dicicil saja pencapaiannya dalam satu hingga tiga tahun ke depan.

Tips Mengatur Keuangan:

1. Buat neraca keuangan sederhana, pengeluaran harian, bulanan dan tahunan.
2. Pengeluaran tahunan, dapat dipecah turunannya, dibagi menjadi 12 bulan.
3. Buat skala prioritas dari semua cicilan dan utang, lunasi segera yang paling penting.
4. Hati-hati dengan iming diskon di pusat perbelanjaan. Apakah kita benar-benar perlu barang-barang tersebut?
5. Zakat-infaq-sadaqah dan biaya tak terduga sisihkan di awal bulan.

Nah, teman blogger demikianlah tips mengatur keuangan dengan tabel sederhana. Mudah sekali kok. Kuncinya sih, konsisten mencatat dan berpikir panjang sebelum membeli.

Bandung, 27 Juli 2016

signature haniwidiatmoko

Sumber:
Hani Widiatmoko; 2014; “Ketika Anakku Siap Menikah”; Elex Media Komputindo; Jakarta

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

12 Replies to “Mengatur Keuangan dengan Tabel Sederhana”

    1. Saya juga catatnya di HPnya koq. Nah krn dlm tabel, kan otomatis kejumlah pengeluarannya. Trims yaa udh berkunjung… ?

  1. Aku juga pake wps office mbak. Tapi yang menyebalkannya adalah ketika diubah ke pdf kok semua sheet terexpose.
    Eh aku sih bikin untuk bikin invoice blogjob

    Kalo pengeluaran pemasukan aku catet di aplikasi expense manager

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *