Momen Terindah


lifestyle / Selasa, Juli 26th, 2016

momen terindah copy

Gara-gara Noni Rosliyani mengadakan giveaway di blognya dengan tema Momen Terindah, saya jadi keidean menulis tentang momen terindah juga.
Mbak Noni meminta pembaca menuliskan di kolom komentar blognya, tentang Momen Terindah masing-masing pembaca.
Saat blog ini tayang, sudah ada sekitar 30an komentar.
Ada yang panjang ada yang pendek.

Mbak Noni bisaan bikin tema. Ya iyalah, secara beliau tuh kan editor dan freelance writer.
Tema tentang momen terindah, sepertinya mudah, tetapi sulit juga yah, bisa sangat luas, bisa juga seujung kuku saking gampangnya.
Bila diukur dari derajat, mungkin yang paling gak banget, momen terburuk, momen buruk, momen indah, barulah momen terindah.
Terindah dulu, bisa jadi indah doang sekarang. Atau malah jadi terburuk?
Terindah 20 tahun (lama amat?) yang lalu, mungkin beda dengan terindah saat sekarang.
Terindahnya Dek Kayin yang lagi hip itu, pastinya bedalah dengan terindah ala saya, yang usianya mungkin hampir tiga kali lipatnya (tua jauh amat?).

Kalau saya baca-baca seluruh komen di blog tersebut, kira-kira bisa saya kelompokkan nih momen-momen terindah tersebut.

Pasangan
Mungkin, mungkin lho…karena yang memberikan komentar rata-rata adalah perempuan muda.
Maka momen terindah adalah saat dilamar, dan menjelang menikah beberapa bulan lagi.
Atau momen terindahnya adalah karena masih fase newly wed.
Walaupun ada yang sedang menanti lahirnya sang Buah Hati, tetapi momen terindahnya pasangan muda tersebut adalah awal mereka menjadi pasangan.
Ada juga momen terindahnya adalah kumpul bersama pasangan, setelah sebelumnya menjalani Long Distance Marriage.
Mbak Nori sendiri, momen terindahnya adalah menikah tanggal 1 Juli 2012, kemudian melahirkan buah hati tanggal 1 Juli 2013.
Momen terindah saya ketika menikah, sih, karena bersamaan dengan anniversary ayah-ibu mertua ke-50. Pernikahan Emas.

Keluarga
Banyak yang menuliskan momen terindah mereka adalah, ketika dari pasangan berkembang menjadi keluarga, yaitu lahirnya anak-anak.
Bahkan ada seorang ibu yang menuliskan,

“Momen terindah adalah saat anak2 lahir ke dunia. Mereka jadi pelengkap hidup saya, penyatu hubungan dg suami dan penyemangat saat putus asa”.

Ada pula yang menuliskan momen terindahnya adalah ketika anaknya mengucapkan kata pertama.
Momen terindah saya ketika melahirkan anak pertama lumayan seru, karena begitu mudahnya.
Hanya menunggu 30 menit, itupun karena dokter memecahkan ketuban dengan semacam cincin.
Lalu brusut…udah aja.

Momen terindah lain, mungkin saat menyusui pertama kali.
Ooh, beginilah rasanya jadi ibu yang menyusui.
Waktu itu, suster di klinik agak kelupaan.
Biasanya para ibu diberi waktu untuk menyusui, kemudian bayi-bayi tersebut dikembalikan ke ranjang masing-masing di ruang bayi.
Zaman saya melahirkan anak pertama, belum musim ‘rooming in’, ibu dan bayinya disatukan dalam satu kamar.
Nah, kelupaannya tuh.
Setelah saya susuin, si Kecil tertidur. Suster koq tidak menengok dan mengambil bayi saya?
Ya, saya peluk saja selama mungkin, sambil saya tatap puas-puas.
Ketika, bayi saya menangis, barulah suster ngeh…lho koq ada yang menangis dari arah deretan tempat tidur?

Banyak momen terindah pada setiap rentang waktu yang dialami sebuah keluarga.
Lahirnya anak-anak, setiap gerak dan tumbuh kembang anak-anak.
Kapan tengkurap, kapan duduk, kapan berdiri, kapan jalan, kapan menyebut kata mama-ibu-ambu-bunda.
Ada seorang ibu yang momen terindahnya adalah kala putranya mengucapkan kata pertama, “sayam nasi”, yang artinya saya mau nasi, di usia 3,5 tahun.
Ibu ini khusus meninggalkan bisnin onlinenya, khusus merawat putranya yang delay dalam kemampuan linguistiknya.
Oleh sebab itu, ketika upayanya merawat si Buah Hati membawa hasil, itulah momen terindahnya.

Bila momen terindah terjadi dalam keluarga, adalah ketika seorang perempuan setelah sepuluh kali test pack barulah bisa bersyukur karena akhirnya positif hamil, dan membahagiakan seluruh keluarga.
Momen terindah saya lain mungkin ketika cucu pertama saya lahir spontan lebih cepat dari perkiraan di depan saya, sementara bidan dan dokter tidak ada.

Kemudian momen terindah lain adalah, kapan sekolah, kapan lulus sekolah, kapan gaji pertama anak-anak saya, dan masih banyak kapan-kapan lainnya.

Jadi sebenarnya sulit memilih ya, kapan sih, momen terindah?

Materi
Menurut pepatah sih, dalam sebuah keluarga uang bukan segalanya…hmm…tapi, segalanya dibeli harus dengan uang.
Diantara komen-komen ada komen seorang ibu yang momen terindahnya adalah ketika bisa DP sebuah rumah kemudian bisa membuktikan ke keluarganya bahwa beliau bisa mandiri secara materi.

Banyak diantara kita yang belum beruntung bisa memiliki rumah sendiri bukan?
Setiap benda atau materi yang kita inginkan sangat sebelumnya, ketika tiba saatnya diberi kemudahan untuk memiliki, itulah momen terindah.

Momen terindah saya mungkin ketika saya dan suami memutuskan memiliki mobil.
Tidak mudah mendapatkan mobil bekas lumayan yang sesuai tabungan.
Ketika akhirnya jatuh pada suatu pilihan, kebetulan tempat transaksi dekat dengan rumah.
Suami sudah ada di TKP, menyusullah saya dengan beca, membawa kantong kresek berisi seluruh tabungan yang kami miliki.
Waktu itu belum musim transfer-transferan seperti sekarang, boro-boro mobile banking.

Bangga dong, kami bisa membawa piknik ayah-ibu saya dan anak ke Sari Ater Subang dengan mobil trungtung 1000 cc yang gak kuat nanjak itu.
Pokoknya, kan mobil.

Pekerjaan
Momen terindah lain adalah ketika seseorang mendapatkan pekerjaan, mendapatkan gaji pertama, atau mendapatkan uang pertama dari ngeblog.
Dan banyak momen-momen lain, yang umumnya adalah ketika pertama kali mengalami.
Gaji pertama, momen terindah.
Gaji kedua, ketiga, dan seterusnya, ya momen indah doang kale.

Sekarang sudah biasa ibu bekerja di luar rumah, sehingga dalam kemampuan multitasking tersebut, mungkin dalam setiap fase ada momen terindah kecil silih berganti saling mengisi.

Ketika seharian meninggalkan rumah, pulang ke rumah disambut suka cita oleh ananda, itu adalah momen terindah.
Walaupun raga di luar rumah, seorang ibu adalah tetap ibu putra-putrinya dimanapun berada.
Sudah banyak fasilitas untuk tetap bisa memantau apa yang dilakukan putra-putrinya ketika ditinggal bekerja.
Kerinduan dalam dada adalah beban yang ditunggu untuk dilepaskan ketika sampai lagi di depan pintu rumah.

Di tengah era digital sekarang ini, banyak juga ibu rumah tangga yang mempunyai pekerjaan sesuai profesi keilmuan dan dilakukan dari rumah.
Momen terindahnya mungkin adalah ketika orderan dan transferan lancar jaya.

Seorang ayah, mungkin satu-satunya ayah yang memberi komen, momen terindahnya adalah ketika putranya yang berusia 19 bulan ikut mengantarkan ke teras rumah.
Dengan ceria melambaikan tangan.
Ketika sore hari si Ayah pulang, putranya menyambut dan memangggil-manggil si Ayah walau kalimatnya belum sempurna.

Pendidikan
Seorang perempuan belia mengatakan, bahwa momen terindahnya adalah lolos SBMPTN, sehingga dapat membahagiakan ibundanya.
Sedangkan komen lain, momen terindahnya adalah ketika lulus, ketika lulus sarjana, ketika lulus magister, dan masih berharap pada suatu saat lulus PHd.

Setiap jenjang pendidikan sangat mungkin memberi rasa momen terindah, karena untuk mencapainya perlu perjuangan luar biasa.
Hasil yang diluar dugaan dan istimewa pastinya, bukan saja merupakan momen terindah, tetapi tak terlupakan.

Tentu saja pendidikan yang dialami bisa terjadi pada diri sendiri, pada pasangan, dan juga pada anak-anak.

Orangtua
Banyak diantara komen-komen adalah upaya pembaca sebagai putra-putri ingin berbakti kepada orangtua masing-masing.
Ada saat, hanya jalan-jalan berdua ayah, ternyata merupakan momen terindah.
Ada saat, membawa ibunda dalam perjalan mudik, ternyata merupakan momen terindah.
Ada saat, momen terindah adalah ketika seseorang bisa membahagiakan orangtua dengan memberi cucu yang telah lama dinanti.

Momen indah, hmm…bisa juga disebut terindah, karena tak terlupakan hingga sekarang, adalah ketika ayah saya membelikan sekian meter kain putih berbunga kuning dan hijau.
Saya lupa, apakah saya SMA atau sudah mahasiswa ya?
Saya hobby menjahit, dan ayah saya tahu betul.
Waktu itu, ayah saya sedang dinas ke luar kota, dan tak sengaja mampir ke toko kain.
Beliau membelikan kain untuk saya.
Di kemudian hari, kain tersebut saya buat menjadi gaun.

Dari sekian banyak momen terindah silih berganti yang Allah swt ijinkan mampir ke saya, yang saya tulis di komennya Noni Rosliyani adalah:

Ketika Lebaran sungkem ke Ibu saya, dan beliau selalu mendo’akan agar keluarga saya menjadi keluarga sakinah-mawaddah-wa rahmah.
Walaupun pernikahan saya sampai 30 thn lebih, do’a beliau tetap sama.
Ibu sudah wafat tahun 2014, jadi sudah 2 tahun ini tidak ada acara sungkem2an.
Rasanya ada yg kurang…tetapi…bisikan beliau, agar jadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, masih terngiang di kepala.

Menurut saya do’a ibu adalah segalanya.
Allahhummaghfir lahaa warhamha wa’aafiha wa’fu anha…

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

8 Replies to “Momen Terindah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *