“Ojo Koyo Aku”

Kata-kata ‘ojo koyo aku’ sering sekali diucapkan Ibu ke kami putri-putrinya.
‘Ojo koyo aku’ dalam bahasa Jawa, artinya, jangan seperti saya.
Alkisah, menurut cerita Ibu, beliau sempat kuliah sampai tingkat II di jurusan Farmasi di sebuah universitas di Klaten, tak lama setelah Indonesia merdeka.
Universitas itu dikemudian hari bernama Universitas Indonesia dan pindah ke Jakarta.
Ibu saya menikah dengan Ayah yang waktu itu masih mahasiswa Kedokteran di universitas yang sama.
Walaupun Ibu tidak menyelesaikan kuliahnya, Ibu sempat bekerja sebagai asisten apoteker di apotek.
Kemudian menjadi full time mom setelah melahirkan anak ke 3, yaitu saya.
Masih ada adik-adik saya yang kemudian lahir, dan Ibu sibuk mengurus keluarga, aktif di organisasi Persit dan mendampingi Ayah hingga akhir hayat.

Kita sering mendengar istilah

“Behind Every Successful Man There is a Woman”

Dibalik kesuksesan seorang pria ada seorang wanita.
Maksudnya, ada seorang wanita yang memberi suport, pendamping setia, teman dan penyemangat sang pria.
Menurut saya, itulah yang dilakukan Ibu, sehingga Ayah bisa menjadi sukses dalam karier dan keluarga.

Tetapi, kenapa Ibu selalu sambat atau mengeluh, jangan seperti saya?
Rupanya Ibu memendam obsesi, dahulu tidak menyelesaikan kuliah karena memilih menjadi ibu rumah tangga, dan berputra lima.
Sebagai ibu rumah tangga, Ibu mengelola keuangan rumah tangga hanya mengandalkan dari gaji Ayah saja.
Ibu merasa kurang OK karena tidak mempunyai penghasilan sendiri.
Beliau selalu mengenang masa indah masih bergaji ketika menjadi asisten apoteker.

Saya lima bersaudara, tiga perempuan diarahkan betul untuk kuliah hingga tamat dan dikemudian hari, kami putri-putri ibu menjadi working mom dan mempunyai karir.
Kami tidak ada yang menjadi seperti Ibu.
Ibu berhasil memotivasi putri-putrinya agar tidak menjadi seperti dirinya.

Padahal buat saya, Ibu adalah perfect.
Tak ada yang salah menjadi full time mom dan hidup mengandalkan gaji suami serta aktif mendampingi suami.
Tak ada yang salah Ibu lebih sering dipanggil dengan nama Ibu A***, sesuai dengan nama Ayah.
Bukan nama KTP atau nama gadis sebelum menikah.
Kalau tidak ada full time mom seperti Ibu, mungkin saya tidak menjadi saya sekarang ini.

Dicari Sekolah Ibu

Bila anak-anak ada sekolah Taman Kanak-Kanak, kemudian berlanjut ke Sekolah Dasar, dan jenjang selanjutnya.
Menjadi ibu tidak ada sekolahnya
Contoh terdekat sebetulnya mencontoh ibu kandung masing-masing.
Dalam merawat dan mendidik anak-anak pun, secara tak sadar, kita mengikuti apa yang ibu kita katakan.
Seringkali pula kita hanya melihat sekeliling, ibu-ibu lain yang tampak lebih sempurna dari pada diri sendiri.
Kita menjadi sedih bila anak-anak kita tidak ranking satu seperti anak lain.
Banyak ibu yang berusaha dengan berbagai upaya agar-agar anak-anak mereka cemerlang dalam segala hal.
Tidak sedikit yang menjadi semacam pelayan bagi anak-anak mereka agar mereka tidak kurang suatu apapun.
Mau makan menu apa saja, ibu siap memasakkan makanan kesukaan tiap-tiap anak.
Mau les apa saja, ibu siap mengantarkan kemanapun.
Ingin sekolah yang bagus dan mahal, ibu akan mencari cara dari jalan mana saja, agar cita-cita anak (atau cita-cita ibunya?) tercapai.
Ibu-ibu seperti itu ingin menjadi Supermom bagi keluarga mereka.

Tidak sedikit ibu-ibu rumah tangga biasa justru turut membanting tulang membantu keluarga dengan berwiraswasta dan mendidik putra-putri mereka menjadi orang sukses.
Banyak pula cerita, ibu-ibu tunggal yang bisa mengantarkan putra-putri mereka menjadi sarjana.
Di atas kertas sepertinya tidak akan mungkin hal tersebut bisa terlaksana.
Merekalah yang benar-benar Supermom.

Menjadi ibu yang bekerja di luar rumah pun tidak ada sekolahnya.
Seringkali ditengah kita diminta fokus ke pekerjaan, ternyata keluarga membutuhkan kita.
Akhirnya karir pun setengah-setengah.
Pilihan menjadi sulit.
Bila mengedapankan karir, ada waktu-waktu berharga yang tidak dapat diulang kembali, kala sebagai ibu tidak dapat mendampingi putra-putri terkasih.
Hanya Supermom yang bisa melakukan dua hal sama hebatnya, hebat sebagai ibu, dan hebat sebagai perempuan berkarya.

Bahwa semua ibu tidak pernah sekolah menjadi ibu, ternyata ibu-ibu hebat ini bisa membentuk anak-anak mereka seperti yang diharapkan.
Seperti halnya Ibu.
Bagi saya, my Mom is a Perfect Mom.
Beliau tidak terlalu pandai memasak, tetapi saya belajar menjahit dari beliau.
Beliau mengantar dan menunggui saya les di bawah jendela ruang les.
Dikemudian hari, ketrampilan ini yang bisa menambah uang belanja keluarga saya.
Beliau selalu berkata:”Ojo koyo aku” means “Jangan kayak aku” sambil menerawang jauh.
Dan saya mungkin juga kakak dan adik saya terpengaruh sehingga benar-benar menjadi tidak seperti Ibu.

Padahal saya pengen banget lho seperti Mamah saya ini.
Ya iyalah, tidak perlu bersusah payah mencari penghasilan tambahan untuk menyambung hidup keluarga.
Kemana Ayah pergi dinas, Ibu tinggal bersikap manis dan cantik di samping Ayah.
Anak buah Ayah sama hormatnya ke Ayah dan Ibu.
Kemana-mana diantar supir, tidak seperti saya menyupir sendiri kemana-mana.

Lalu bagaimana anak-anak saya menilai saya sebagai ibu mereka.
Belum pernah juga, sih, saya menanyakan ke mereka, apakah mereka puas dengan pola asuh saya bersama suami.
Apakah saya Supermom dimata mereka?
Ataukah saya bukan Supermom, seperti halnya Noni Rosliyani yang belajar menjadi ibu tidak sempurna.
Karena sekeras apapun berusaha, kesempurnaan malah menjauh.

Mungkin tidak pernah akan terungkap selamanya, saya Supermom atau bukan.
Sekali waktu putri saya pernah bertanya, kenapa saya tidak seperti ibu-ibu lain yang membanggakan anak-anak mereka di depan sesama ibu-ibu lain?
Saya memang tidak pernah membanggakan anak-anak, bisa ini itu, kerja dimana gitu, gaji sekian-sekian.
Saya pun tidak mengharap apa-apa dari mereka.
Bahwa mereka lulus sekolah, berkeluarga, mencari rizki di jalan Allah, bagi saya sudah cukup.
Mereka yang akan menjalani kehidupan di kemudian hari.
Saya hanya seperti busur yang melepaskan anak panah melesat menjelajah dunia.

Berbeda dengan Ibu, saya tidak pernah mempersuasi anak-anak ala Ibu, “Ojo koyo aku”.
Karena saya menjadi seperti sekarang justru berkat didikan Ibu.
Saya jadi tidak menghormati jasa beliau dong, bila saya mengucapkan kata-kata yang sama ke anak-anak saya.

Rasanya ucapan terimakasih dan hadiah berapapun mahalnya tidak akan cukup untuk Ibu.
Karena mendidik generasi penerus itu jauh-jauh lebih sulit daripada sekolah sampai jenjang S3 sekalipun.

Terimakasih Ibu.
I love You Mamah…

اَللَّهُمَّ اغْفِرَلِيْ وَلِوَالِدَىَّ وَٰرْحَمْهُمَا كَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Allahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shaghiraa

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi aku di waktu kecil

11 pemikiran pada ““Ojo Koyo Aku””

  1. Barangkali, ibu selalu berkata, “ojo koyo aku” itu, ada maksudnya, Mbak. Mungkin maksudnya, beliau berharap anak-anaknya bisa lebih berhasil dari Ibu. Dan biasanya, memang semua orang tua, mengharapkan anak mereka bisa lebih baik dari orang tuanya.
    Salam hormat, buat ibunya, Mbak 🙂

  2. Almh. Ibu saya juga persis blg itu ke saya jangan seperti mamah yang hanya lulusan sma dan jadi ibu RT. Posisi saya saat ini bagi saya tidak terlepas dari dukungan dan doanya meskipun ibu saya galaknya minta ampun 🙂

  3. Semua ortu selalu berharap anaknya bisa lebih baik. Apapun akan dilakukan demi anak2nya ya mbak.

    Kalau saya dan adek ngikutin jejak ortu, emak pedagang keliling sayanya punya Toko. Bapak tukang bangunan, adek jadi arsitek. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya 🙂

    • waaah…keren-keren. Anak-anak secara disiplin ilmu ga ada yg ngikutin saya sih. Tetapi secara profesi mirip, mereka sama-sama jadi pengajar… 🙂

  4. Aamiin..
    Perkataan jangan seperti saya terkesan inferior ya mba. Padahal maksud mamah mbak pasti positif, menginginkan mba dan saudara2 utk lebih baik lagi dari beliau. Persuasif sekali..

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com