Antara Pilihan Sekolah dan Standar Pelayanan Kota


lifestyle / Kamis, Agustus 11th, 2016

Wacana full day school yang digulirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menuai kontroversi.
Tak sedikit orang-tua yang pro dan kontra berbalas komen di time line FB.
Sebagian besar menentang dengan pertimbangan anak-anak akan terlalu lama di sekolah, akan bosan, lelah, kurang makan, setress dan lain-lain.
Ibu-ibu yang sejak awal berumahtangga memang sebagai full time mom, menjadi super duper khawatir, ngapain aja putra-putri mereka di sekolah, di jam yang harusnya bobok siang.

Banyak juga komentar para netizen, yang masa usia sekolah dilalui di full day school, aman-aman saja.
Tumbuh menjadi dewasa yang Oke banget, tidak setress akibat masa kecil sekolah seharian, 5 hari seminggu.
Tidak sedikit yang justru mereka adalah alumni pesantren, artinya mondok jauh dari orangtua.
Ternyata pun tidak kurang suatu apa.

Lalu kenapa, Mamah-mamah jadi baperan gitu ya?

Sejak awal saya adem ayem saja dengan wacana bapak Menteri ini.
Namanya juga wacana, mungkin ide sesat sesaat sambil duduk di mobil, perjalanan dari rumah ke kantor.
Baru juga sepuluh hari koq menjabat sebagai Menteri.
Ada tiga alasan utama mengapa full day school, supaya anak-anak pulang jam 17, bareng Papah-Mamah yang juga seharian ngantor.
Kemudian, alasan lain, supaya anak-anak (terutama ABG) tidak gentayangan kemana-mana.
Sekolah sudah bubar, tetapi tak sampai pun ke rumah.
Kemudian alasan lain, dengan di sekolah lebih lama, anak-anak diberi kegiatan yang menarik dan diajar budi pekerti oleh para guru.
Alasan terakhir yang membuat saya mengernyitkan alis adalah, supaya jam mengajar 24 jam per minggu terpenuhi, sebagai syarat mendapatkan sertifikasi guru.
Koq?

https://m.tempo.co/read/news/2016/08/10/079794640/3-alasan-menteri-muhadjir-full-day-school-akan-menyenangkan

1. Penataan Wilayah Perkotaan

Saya jadi berpikir kilas balik, dulu, anak-anak saya sekolah dimana ya?
Dan alasan kami, orangtuanya memilih sekolah untuk mereka, berdasarkan apa?
Sebelum membahas tentang dikotomi sekolah reguler (baca Negeri) dengan sekolah full day school.
Mari kita simak lingkungan rumah tinggal kita kemudian simak pula
PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PEDOMAN PENENTUAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENATAAN RUANG, PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DAN PEKERJAAN UMUM
(Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001)

Di lingkungan tempat tinggal, bahkan tercantum dalam alamat rumah, adanya RT, RW, meningkat ke Kelurahan, Kecamatan dan seterusnya.
Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah, selain mengelompokkan satu RT terdiri dari 30 sampai 33 umpi atau rumah.
Kemudian 1 RW mengelola 10-14 RT.
Dan seterusnya berjenjang, bisa dilihat di tabel.
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa penataan kota juga menetapkan standar pelayanan masyarakat sehari-hari.
Apa saja kebutuhan kita sehari-hari tersebut?
. Prasarana Lingkungan, yaitu jaringan jalan, penataan limbah, drainase, dan sampah.
. Sarana Lingkungan, yaitu sarana niaga, sarana pendidikan, sarana kesehatan, pelayanan umum, ruang terbuka hijau, dan sarana sosial/budaya.

Coba kita cek tabel sarana pendidikan:
Indikatornya: jumlah anak usia sekolah yang tertampung
Kualitas standar pelayanan: ƒ
Satuan wilayah kota Sedang/ Kecil ƒ
Satuan Wilayah Kota Besar/ Metro

Tingkat pelayanan:
Minimal tersedia :
– 1 unit TK u/ setiap 1.000 penduduk
– 1 unit SD u/ setiap 6.000 penduduk
– 1 unit SLTP u/ setiap 25.000 penduduk
– 1 unit SLTA u/ setiap 30.000 penduduk
– Minimal sama dengan kota sedang/keci, juga tersedia 1 unit Perguruan Tinggi untuk setiap 70.000 penduduk

Menilik dari penataaan wilayah, yang seyogyanya kita patuhi.
Namanya juga penataan bukan?
Kalau tidak bagaimana kita bisa hidup teratur, bila segala hal tentang penataan tidak ditindaklanjuti dengan aplikasi di lapangan.

2. Lokasi Dekat Rumah

Bingung memilih sekolah terjadi pada anak pertama, karena belum ada referensi tentang menyekolahkan anak.
Pertama kali mereka mengenal sekolah adalah ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
Waktu itu tahun 1990an, penitipan balita belum banyak, belum musim PAUD, dan belum ada TK yang mengajarkan baca-tulis.
Namanya juga Taman Kanak-kanak, nama lain dari Taman Kumpul-kumpul.
Anak balita gaul dan mulai mengenal dan bermain dengan anak-anak lain.
Kami memilih yang dekat rumah tentu saja.

Kala itu saya mulai mengajar sebagai dosen dan ketika anak pertama saya masuk TK, saya sudah punya anak kedua masih bayi.
Kebetulan di TK ada fasilitas antar jemput yang diselenggarakan sekolah.
Untuk alasan kepraktisan, anak saya saya ikutkan di mobil antar-jemput tersebut, hanya mengantar pulang saja.
Kalau pagi hari, saya masih sempat mengantarnya ke sekolah.
Ternyata, karena rumah kami terlalu dekat dengan sekolah, anak saya justru diantar paling akhir, menjelang mobil tersebut kembali ke sekolah.
Anak saya ikut keliling mendrop teman-temannya yang rumahnya jauh-jauh.
Akibatnya, anak saya menjadi kelelahan, sampai rumah hampir dua jam kemudian.
Stop ikut mobil antar-jemput.

Untungnya sekolah dekat rumah, jadi saya bisa pulang dulu ke rumah, kemudian kembali jam tertentu untuk menjemputnya.
Saya bukan orang yang senang mengobrol, jadi agak malas bila harus menunggui anak di sekolah, kemudian ngobrol geje dengan para Mamah lain.
Rasanya bila di rumah saya bisa mengerjakan banyak hal.

Bila menilik tabel di atas maka seharusnya para orangtua tidak perlu repot antar jemput putra-putrinya.
Karena lingkungan tempat tinggal sudah menyediakan sarana pendidikan untuk mereka, sejak TK bahkan hingga Perguruan Tinggi.
Alangkah nyamannya bila semua pendidikan mempunyai standard pendidikan yang sama kualitasnya, sehingga tidak ada lagi ranking sekolah dan sekolah favorit.
Para orangtua pun tak perlu berpayah menempuh perjalanan berkilo-kilometer mengantarkan putra-putrinya.
Jadi tidak perlu lagi sekolah full day hanya untuk supaya anak-anak pulang sekolah bareng ortu.
Bapak Menteri padahal tidak tahu juga, kantor orangtua tersebut sejalur perjalan atau tidak ya dengan lokasi sekolah?

3. Mengembangkan Lingkungan

Kebingungan memilih sekolah lagi-lagi kami alami ketika anak kami akan masuk SD.

Rumah kami ada di sebuah kompleks.
Di dalam kompleks ada SD Negeri Pelita.
Kemudian di belakang kompleks ada SD Puteraco, SD yang dibangun oleh developer yang membangun kompleks.
Di Selatan kompleks ada SD Negeri Buahbatu Baru.
Pilihan kami jatuh pada SD Negeri Pelita, jaraknya hanya 400 m dari rumah.
Pertimbangannya anak kami bisa jalan kaki ke sekolah atau naik beca.

Waktu itu, SD Negeri yang terkenal di Bandung adalah SD Negeri Banjarsari dan SD Negeri Merdeka.
Jaraknya 8 km dari rumah.
Berarti harus ada yang antar jemput ke sekolah.
Begitu pula dengan SD Swasta yang waktu itu terkenal , letaknya di pusat kota dan harus ada yang antar jemput.

Waktu itu SD Negeri Pelita tidak terkenal, masih ada SD Negeri sekecamatan yang lebih terkenal, yaitu Karang Pawulang dan Nilem.
Hanya saja, Karang Pawulang ada KarPaw I sampai IV. Begitu juga SD Negeri Nilem ada banyak.
Untuk mencapai SD-SD tersebut tetap harus diantar.
Sedangkan saya malas antar jemput anak ke sekolah yang jauh.

Pokoknya sudahlah, pilih yang jalan kaki ke sekolah saja.
Menurut teori suami saya, kalau SD di lingkungan rumah kurang bagus, tugas kita sebagai penduduk di sekitar SD meningkatkan mutu sekolah tersebut.
Caranya, ya menyekolahkan anak-anak ke SD tersebut.

Sekolah SD, apalagi SD negeri, waktunya pendek.
Pukul 07.00-10.00, bagi kelas 1 dan 2.
Kemudian 07.00-12.00, kelas 3 sampai kelas 6.
Tahun 1990-an itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaannya bapak Fuad Hassan.
Belum zamannya ricuh soal kurikulum berbasis ini dan itu.
Perhatian pemerintah barulah soal wajib belajar 9 tahun.
Ada juga sih sedikit soal CBSA, cara belajar siswa aktiv.

Waktu itu belum zaman full day school. Ada juga SD Salman Al Farisi yang jaraknya 13 km dari rumah.
Jadi, karena waktu sekolah yang pendek, saya harus mencari kegiatan positif bagi anak saya di sore harinya.
Kami memilihkan mengaji yang memanggil guru dari masjid di Nurul Falaah di kompleks.
Kemudian hari-hari tertentu ikut tae kwon do yang diselenggarakan oleh Karang Taruna setempat.
Tempat latihannya ya di halaman SD Pelita juga.
Fasilitas sosial yang disiapkan pengembang kompleks kami yaitu SDN Pelita, Masjid Nurul Falaah dan Madrasah, dan kantor RW, serta play ground berada dalam satu area.
Masih ada kegiatan lain yang kami berikan, yaitu les bahasa Inggris dan les musik.

Empat tahun kemudian, ketika anak kedua saya akan masuk SD, maka pilihan mudahnya adalah menyekolahkan di sekolah yang sama dengan kakaknya.
Ternyata SD Negeri Pelita sudah lebih maju, dan menjadi pilihan bagi orangtua di sekitar Bandung Timur.
Hal ini terlihat dari makin banyaknya orangtua yang mengantarkan putra-putrinya naik mobil.
Atau bisa dilihat juga makin banyaknya mobil antar-jemput yang parkir di sekitar sekolah.
Mudah bukan?
Sebuah sekolah maju atau tidak, lihat saja yang antar-jemput.
Rupanya benar teori suami saya dulu, penduduk lingkungan sekitar yang harus memajukan sendiri sekolah-sekolah dekat rumah.

Menariknya lagi, ketika anak-anak kami mendaftar ke SMP Negeri yang patokannya NEM.
NEM rata-rata dari SD Negeri Pelita mampu bersaing, sehingga lulusannya banyak yang diterima di SMP Negeri ranking atas di kota Bandung.
Beruntungnya, di Kecamatan ada SMP dan SMA yang masih masuk rangking, walaupun tidak no 1.
Anak saya walaupun NEM nya masih bisa tembus SMA no 1, ternyata lebih memilih SMA dekat rumah daripada SMA terbaik tapi lokasinya dua kali naik angkutan umum.
Alasannya, dia bisa ikut ekstrakurikuler dan tidak lelah di jalan.
Di kemudian hari barulah kuliah di perguruan tinggi terbaik se Indonesia.

Menilik dari tabel penataan yang bahwa untuk 6000 penduduk harus ada 1 SD.
Maka keputusan kami menyekolahkan anak-anak di SD di lingkungan kompleks tidak salah.
Dari segi kehidupan kota, kami tidak menambah kemacetan di jalan, padahal waktu t itu jalanan belum seramai sekarang.

Misalnya pun full day school diberlakukan di Sekolah Negeri tak apa-apa juga.
Kan sekolah anak-anak kami dekat rumah, mereka tetap bisa pulang jalan kaki.

4. Milieu yang Sama
Milieu dalam bahasa Inggris artinya environtmental condition.
Kira-kira artinya lingkungan pergaulan.
Maksudnya gini.

Salah satu alasan menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggulirkan full day scholl adalah agar anak-anak belajar budi pekerti dari guru di sekolah.
Saya pribadi kurang setuju kalau alasannya itu.
Bagaimana mungkin saya menyerahkan seluruh informasi, mulai dari pendidikan akademis hingga budi pekerti ke guru di sekolah.
Saya kan tidak tahu, guru di sekolah latar belakangnya seperti apa?
Bukannya tidak percaya.

Dalam menilai atau memecahkan permasalahan bisa saja antara guru dan kami orangtuanya berbeda bukan?
Ada tata-krama yang berlaku di keluarga yang mungkin berbeda antar satu keluarga dengan keluarga lain.
Oke, bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, latar belakang masa kecilnya adalah alumni pesantren.
Kan tidak semua guru SD mempunyai kemampuan yang mumpuni tentang keagamaan dan budi pekerti bukan?

Hal-hal kecil, misalnya cara makan, ada orang yang makannya bunyi (kecap) tak apa. Atau makan sambil bicara dan duduknya jegang tak apa.
Sedangkan ada keluarga yang mengganggap hal-hal seperti itu penting.
Inilah yang dimaksud dengan milieu.

Rasanya saya belum sepenuhnya bisa ikhlas menyerahkan anak-anak di usia 7-12 tahun itu dididik full oleh guru.
Menurut saya, anak-anak harus dibentuk dari lingkungan rumah.
Kehangatan keluarga, komunikasi antar ayah-ibu dan pembagian tugas dalam mendidik anak-anak adalah porsi terbesar sebagai orangtua.
Guru di sekolah melengkapi nya mendidik secara akademis.

Kan anak-anak terlahir merupakan amanah Allah swt ke kami orangtuanya, bukan lalu dititipkan lagi ke guru.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

6 Replies to “Antara Pilihan Sekolah dan Standar Pelayanan Kota”

  1. ah iya saya rasanya berat kalo anak harus full day school padahal masih banyak norma2 yg ingin kami tanamkan ke anak2. Jika anak2 sebagian besar waktu dihabiskan di sekolah kapan waktu untuk kami…*emaknya yang baper ini…hihihi…

  2. Mungkin kalau anak seusia SD sistemnya kurang cocok kali ya mbak, krn msh butuh bermain dengan ortu. Beda lg kalau SMA, mungkin lbh cocok full day spy gak keluyuran gak jelas. IMHO sih hehe

    1. Bener mbak April. Kalo sekolahnya bagus (SMP/SMA), pulang sekolah, ada ekskul macem2 koq, sesuai minat anak. Tapi ya…spy ekskul hidup dan menarik perlu kerjasama antar sekolah & ortu. Masy udh heboh duluan sih. Dikira belajar pelajaran sepanjang hari…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *