Asertif itu Bukan Agresif atau Pasif


lifestyle / Kamis, Oktober 6th, 2016

aggressive-assertive-passive-communication-styles-illustration

Kali ini tanggapan penulisan di Collaborative Blogging grup KEB (Kumpulan Emak Blogger) adalah tentang asertif.
Sejak ulasan ini diluncurkan oleh Inda Chakim, saya bingung saja berhari-hari.
Mau menulis apa ya tentang yang satu itu.

Asertif ternyata lebih menyoroti kemampuan kita berkomunikasi.
Untuk mudahnya ternyata, asertif itu tengah-tengah, bukan agresif, bukan juga pasif.
Komunikasi dengan sikap agresif bukanlah cara komunikasi yang baik, sedangkan sikap pasif, cenderung nrimo tidak mempunyai sikap.
Berkat berselancar googling saya tertarik dengan diagram semacam tes untuk diri sendiri, apakah saya sudah cukup asertif atau belum.

assertivenessbloginfographic

Kita mulai dari, apakah kita nyaman atau tidak bertemu dengan kenalan baru, kemudian mampukan kita berkata “tidak” tanpa merasa bersalah. Selanjutnya, mampukan kita mengekspresikan perasaan marah, frustasi, dan rasa tidak nyaman lainnya.
Lanjut, nah ini penting, mampukah kita berdiskusi tentang apa yang kita yakini tanpa menghakimi orang-orang yang tidak sefaham dengan diri sendiri.

Silahkan cek sendiri, semuanya ada 15 pertanyaan. Bila lebih dari 10 pertanyaan terjawab, maka kita adalah pribadi yang cukup asertif.

Bila kurang dari 10, kita harus mempelajari berbagai teknik perilaku asertif, agar jadi pribadi yang menyenangkan berkomunikasi.

Sekian puluh tahun berumahtangga pernahkan saya mengalami kesulitan berkomunikasi dengan pasangan?
Saya jadi menengok ke belakang puluhan tahun yang telah kami lalui bersama.
Perasaan, sih, saya yang banyak mengalah ke pasangan.
Dalam artian saya lebih banyak diam.
Anak-anak saya rasanya sudah mengerti, bahwa ibunya lebih banyak diam dan menurut ke ayahnya.
Benarkah?
Itu kan kata saya.

Coba tanya ke pasangan alias suami alias ayahnya anak-anak.
Beberapa tahun belakangan ini, suami komplen koq.
Katanya, sekarang saya galak.
Sekian puluh tahun, barangkali saja, saya sekarang lebih berani mengatakan pendapat saya.
Atau…
Atau, karena kami sudah sama-sama melewati usia setengah abad, pendengaran menjadi menurun, saya harus agak bersuara keras ke suami, supaya omongan saya terdengar.
See…saya jadi dijuluki galak. Padahal kalau saya bicara pelan, nanti tidak terdengar.

 

Asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginan secara jujur kepada orang lain tanpa merugikan orang lain.

 

Membahas tentang asertif bahwa kita bisa mengkomunikasikan apapun tanpa merugikan orang lain, rasanya saya sudah cukup asertif.
Diantara teman dan keluarga, saya dianggap lemah-lembut, karena memang suara saya pelan.
Rasanya, jarang ada yang dirugikan dengan cara saya mengkomunikasikan sesuatu.

Justru saya yang sering dirugikan dengan cara berbicara teman atau saudara saya.
Mereka bisa bicara blak-blakan kadang ada yang nylekit di hati.
Sementara saya yang diam.
Jarang sekali saya berbantah-bantahan.

Inilah kekurangan saya.
Saya jarang bisa berkata “tidak”.

Contohnya, bila ada teman membawa barang jualan ke tempat kerja, bila tidak mahal, saya sering membeli saja, padahal saya tidak perlu-perlu amat.
Kemudian, ketika ada teman datang ke rumah, dan curhat sampai nangis-nangis tentang kesulitan keuangannya, lalu berniat berhutang.
Saya pun memutar otak, berapa yang bisa saya pinjamkan ke teman saya tersebut.
Ketika sampai hari ini teman saya tersebut belum mengembalikan hutangnya, suami mengingatkan, bahwa sudah biasa orang nangis-nangis karena ada perlunya.
Lain kali, kalau ada yang datang lagi nangis-nangis jangan percaya, begitu kata suami.

Ketika kami menjalankan ibadah haji tahunan yang lalu, ada seorang ibu sepuh yang selalu minta tolong.
Dan saya selalu bersedia menolongnya.
Sampai suami mengingatkan, bahkan agak melarang, untuk selalu menolong beliau.
Menurut suami, masih ada orang lain dalam grup yang lebih gagah dan kuat, yang harusnya lebih bisa menolong si Ibu Sepuh, daripada saya.

Bagaimana menghadapi teman yang bicaranya menyakitkan hati?
Lagi-lagi saya diam, atau seterusnya menghindar, tidak dekat-dekat lagi dengan teman tersebut.
Apakah teman saya menjadi berkurang karenanya?
Menurut saya, tidak masalah teman banyak atau sedikit, lebih penting berteman dengan teman yang pas di hati bukan?

Jangan lupa, jadi pribadi yang berperilaku asertif, dengan sendirinya menjadi teman yang menyenangkan.

 

Sumber:

http://blogs.mutualofomaha.com/articles/2013/09/03/measuring-assertiveness/
http://www.marineleadershipgroup.com/june-2015-newsletter/

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

10 Replies to “Asertif itu Bukan Agresif atau Pasif”

  1. Kalo lg ada konflik sm suami sy cenderung diam. Tp kemudian dbicarakan lg di waktu yg pas, saat emosi negatif masing2 sudah redam. Sy ungkapkan perasaan n pikiran saya, Itu masuk yg mana y, hehe

  2. Haha…samma mak Shona. Saya cenderung diam, malah nangis aja smp bendul matanya. Tapi itu duluuu…waktu msh muda. Taelaa…Skrng jarang sih…atau saya lbh berani. Hehe…ga tau deh…Makasih udh mampir…

  3. Saya termasuk suami yang lebih banyak ngomong daripada isteri saya .
    Namun isteri saya bisa berkomunikasi dengan baik dengan teman-teman dan tetangganya.
    Komunikasi yang baik diperlukan dalam sebuah ppergaulan.
    Terima kasih artikelnya yang bermanfaat
    Salam hangat dari Jombang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *