Ketika Suami Marah


wedding / Minggu, Oktober 16th, 2016

living-with-an-angry-abusive-or-violent-spouse

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah marah. Apabila suami dalam keadaan marah, istri perlu menyikapi dengan bijak. Bisa saja kemarahan suami tersebut disebabkan oleh perilaku istri atau hal lain di luar rumah. Bisa saja sang suami tampak tenang-tenang saja dan memilih diam walaupun sedang marah. Akan tetapi, ada pula suami yang menunjukkan amarahnya secara emosional.

Artikel yang sebelumnya saya tulis tentang komunikasi, membahas tentang asertif.
Istilah sederhananya adalah komunikasi yang win-win solution. Artinya kedua belah pihak saling memahami, inti dari sebuah komunikasi.
Lalu, bagaimana bila salah satu pihak diliputi kemarahan?
Komunikasi macet tentu saja bila salah satu pihak marah, sedangkan pihak lain tidak mengerti, kenapa pihak sana diliputi kemarahan.
Lebih macet lagi bila, kemarahan suami disambut juga dengan kemarahan istri yang tidak terima, suami ujug-ujug marah-marah tidak keruan.

Apabila amarah membakar hatimu, berwudhulah

Apabila terjadi situasi seperti itu, istri bisa melakukan upaya meredam kemarahan suami dengan:
• Diam
Apabila suami marah, sebaiknya istri tidak menambah masalah dengan menanyakan hal-hal yang dapat meningkatkan amarahnya. Sebaiknya didiamkan saja sampai situasinya menjadi dingin dan tenang. Tunggulah suami menjelaskan sebab-musabab amarahnya.

• Meminta maaf
Apabila kesalahan terletak pada istri (walaupun tidak merasa bersalah sekalipun), mintalah maaf dengan tulus. Sampaikan bahwa istri tidak bermaksud membuat kesalahan tersebut.
Mungkin berat ya, wong tidak bersalah, tetapi harus mengaku bersalah. Lihatlah dari sisi jangka panjangnya, tujuannya adalah meredam kemarahan bukan? Nantilah dijelaskan, bila kemarahan sudah reda, dan bisa berkomunikasi dengan lebih tenang.

• Berikan ruang
Jangan memaksakan kehendak untuk segera tahu duduk persoalan yang menyebabkan suami marah. Berikanlah ruang padanya sampai amarahnya benar-benar reda. Seringkali kemarahan bukan disebabkan oleh istri, bisa jadi tadi dalam perjalanan pulang, ada yang berbuat tidak menyenangkan ke suami. Sesampainya di rumah, istri lah yang kena semprot.
Nasib aja waktu itu, yang terlihat depan mata adalah si Istri…

• Mendengarkan
Istri yang mau mendengarkan segala keluh kesah suami dengan sabar dan menenangkan dengan santun, akan menenteramkan suami. Bila suami marah akibat masalah pekerjaan di luar rumah, maka rumah adalah tempatnya untuk menenangkan diri. Jangan tambahi amarahnya dengan berondongan pertanyaan yang bersifat menyelidik. Akan lebih sulit bila suami merasa tidak memperoleh ketenangan, kemudian memilih diam dan memendam persoalannya dalam hati.
Sering baca atau dengar bukan, suami pendiam dan memendam kemarahan, bila sewaktu-waktu meledak lebih menggelegar daripada bom manapun.

• Bercinta
Cara ini merupakan cara kuno yang bisa menjadi cara jitu meredam kemarahan dan melepaskan stres, asalkan suami tidak melampiaskan kemarahannya dengan berlaku kasar padamu. Ini sih, nasihat nenek atau ibu kita sepertinya, dimana ranjang adalah obat stres. Untuk hal ini istri harus melihat situasi dengan bijak, dan siap secara emosional. Jangan sampai juga, istri lalu dijadikan pelampiasan kemarahan bukan? Celaka namanya ini mah…

Sumber:
Widiatmoko, Hani; 2014; Ketika Anakku Siap Menikah; Elex Media Komputindo; Jakarta.
http://www.familylife.com/articles/topics/life-issues/challenges/mental-and-emotional-issues/living-with-an-angry-abusive-or-violent-spouse

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

4 Replies to “Ketika Suami Marah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *