Lorong Waktu


lifestyle / Sabtu, Oktober 22nd, 2016

lorongwaktu1-copy

Lorong waktu ibaratnya menembus waktu dan kembali ke masa silam. Sepertinya hanya ada dalam mimpi atau rekayasa dalam film. Bagaimana bila suatu tempat dan peristiwa, kemudian pada suatu kesempatan kita berada di tempat yang sama? Peristiwa demi peristiwa kemudian silih berganti menari di pelupuk mata.

Waktu itu tanggal 1 November 2013, kami sekeluarga, saya, suami, dan anak-anak, Daridaru dan Apsaras serta adik laki saya, Abus, baru saja mendarat di bandara Internasional Nicolay Tesla, Beograd- Serbia. Sesuai rencana keluarga kami, tujuan kami ke negeri yang ada di kisah petualangan Karl May, “Di Pelosok-pelosok Balkan”, adalah akan menikahkan Daridaru dengan gadis pilihannya, Mumu.

Rasa lelah menempuh perjalanan selama 15 jam, diselingi dengan transit di Dhoha-Qatar selama 3 jam, terhapus. Tergantikan dengan rasa bersyukur tiba dengan selamat ke negara yang berapa tahun sebelumnya dilanda perpecahan dan perang saudara. Negara besar sahabat Indonesia bernama Yugoslavia, yang pecah menjadi Serbia, Bosnia-Herzegoniva, Montenegro, Kroasia, Kosovo dan Albania. Masih ada jejak-jejak bahwa negara ini pernah dilanda perang hebat, dari bangunan-bangunan yang dibiarkan apa adanya bekas dibom oleh Nato.

Dalam perjalanan menuju apartemen tempat kami akan tinggal selama delapan hari kedepan, kami melalui jalan protokol dimana beberapa bangunan penting berada.
Pada suatu spot, calon besan waktu itu menunjukkan sebuah rumah kuno dan mobil agak melambat untuk memberi waktu kepada saya mengamati rumah tersebut.

Sebuah rumah yang selalu ada dalam kenangan saya, jauh-jauh di masa silam.

Malam 1 November 1969, saya berdua kakak laki, Mas Tok, hadir disebuah pesta di rumah Duta Besar. Karena satu dan lain hal, saya diantar pulang lebih dahulu oleh Mas Tok, dan dia menurunkan saya di depan rumah, sambil berpesan agar mencabut kunci rumah, sehingga dia nanti bisa membuka kunci dari luar. Rupanya Mas Tok masih ingin melanjutkan kumpul-kumpul dengan teman-temannya kembali ke rumah Duta Besar.
Saya pun melangkah ke dalam rumah, ada Ayah sedang main scrabble, dan saya berpesan bahwa kakak saya pulang terlambat. Ibu sudah tidur, karena hari itu kurang sehat.

Keesokkan harinya, kami bangun seperti biasa. Selidik punya selidik, rupanya kami lalai, saya lalai, Ayah lalai, tidak mencabut kunci rumah. Dan ternyata Mas Tok kami jumpai sedang tidur di dalam mobil, akibat tidak bisa masuk ke dalam rumah.
Waktu itu hawa dingin musim gugur di bulan November.
Hari menjelang siang, Ayah yang curiga mencoba membangunkan Mas Tok.
Lupa ingat apa yang terjadi sesungguhnya, ketika itu, saya sedang berada di ruang tengah. Dari arah garasi, Ayah menggendong Mas Tok ke dalam rumah. Ibu yang masih memakai baju tidur, terjatuh lunglai. Waktu seperti berhenti berputar, saya pun lemas.

Selanjutnya, saya hanya bisa duduk bersimpuh di samping sofa, tempat Mas Tok tergeletak.
Sunyi. Diam. Dingin, tak bernyawa.
Ya Allah, apa yang terjadi?
Di usia kesebelas saya, saya tidak mengerti apa yang terjadi.
Kemarin sore, kami masih bercanda, Mas Tok, saya dan dua adik saya, Abus dan Tatah.
Malam, saya masih diantar pulang.

Tanggal 2 November 1969, tercatat menjadi tanggal takdir hanya sampai disinilah kami sekeluarga bisa bersama Mas Tok.
Keracunan CO akibat tidur dalam mobil yang dinyalakan heaternya ditengarai menjadi sebab kematian Mas Tok secara tragis diusia kesembilanbelas. Beritanya bahkan masuk koran di Indonesia. Mas Tok kemudian dibawa ke Indonesia dan dimakamkan di Menteng Pulo Jakarta.
Duka dan sesal mendalam menyesaki dada seluruh keluarga, membuat Ayah memutuskan minta dimutasi ke negara lain, menghabiskan masa jabatan sebagai Atase Militer.
Seluruh keluarga pun mengikuti Ayah pindah ke negara lain, meninggalkan rumah penuh kenangan ini.

Rumah besar berbentuk kotak, terdiri dari dua lantai, terbagi sisi depan dan sisi belakang.
Lantai pertama terdiri dari ruang makan, ruang keluarga, ruang belajar, di sisi belakang, dapur, tangga ke lantai dua dan basement, ruang perapian, dan sebuah toilet kecil.
Lantai dua, ada dua ruang tidur besar, satu ruang tidur sedang, kamar mandi, dua buah closet (ruang untuk menyimpan pakaian). Kalau tidak salah ada lagi ruang untuk tangga ke atic (ruang di bawah atap).
Basement merupakan ruang untuk membakar batu bara untuk menghangatkan ruangan-ruangan di seluruh rumah.
Oh ya, di halaman belakang, masih ada kolam renang, dan deretan pohon apel dan cherry. Sedangkan di halaman depan ada pohon besar yang dahannya menjuntai ke halaman rumah sebelah.
Masih ada beberapa pohon besar di samping dan belakang rumah.
Untuk mencapai bagian depan rumah harus naik tangga dulu dari tepi jalan.
Sedangkan garasi ada di bawah sejajar dengan jalan raya.

Ketika mobil penjemput melambat melalui rumah kuno ini, saya pun seperti masuk ke lorong waktu.
Saya seperti kembali ke masa silam, bermain sepeda keliling rumah.
Balkon di depan dan belakang rumah. Bentuk atap bahkan lapisan dinding luar bertekstur pun masih sama persis seperti yang ada dalam ingatan.
Rumah ini masih kokoh berdiri agak di atas. Garasi yang sejajar jalan pun masih ada.
Garasi tempat ditemukannya jazad Mas Tok di dalam mobil.
Bingkai demi bingkai peristiwa, berulang kembali di pelupuk mata. Rindu Mas Tok tiba-tiba memenuhi dada.

Senang dan sedih silih berganti.
Ada momen indah, ada momen penuh kenangan.
Tidak semua indah, tetapi penuh kenangan dan membekas teramat dalam di hati.

Kesedihan puluhan tahun yang lalu, siapa yang mengira dijawab oleh Allah swt, saya akan mendapatkan keceriaan di hari ini.
Tanggal 3 November 2013, kami menikahkan putra kami di sini, di Beograd, ibukota Serbia, di kota yang sama tempat Ayah saya pernah ditugaskan.
Tidak ada dalam bayangan saya sebelumnya bahwa saya dipanjangkan umur oleh Allah swt, dan bisa napak tilas di kota masa kecil saya.

Bahkan sesudah akad nikah di satu-satunya masjid di Beograd, dan melaksakan resepsi di Villa Jelena, kami sekeluarga diberi kesempatan berkunjung ke rumah dinas Atase Militer.
Rumah saya kala kecil, a house full of memories.
Menurut info dari besan kami waktu itu, beliau yang meminta ijin ke Atase Militer, supaya kami bisa berkunjung ke rumah beliau.

1385403_10202017305741462_655318283_n 1463757_10202017315581708_397660233_n

Menjelang sore, menapaki tangga dari arah garasi, menyusuri samping rumah, menghayati perasaan puluhan tahun silam, di musim gugur yang sama di bulan November.
Teras depan, tempat saya dulu naik sepeda dengan adik-adik saya. Pohon-pohon tua, yang semakin tinggi. Teras belakang dan halaman berbatu, serta kolam renang dan deretan pohon apel yang sama.
Apa yang terjadi ya Allah? Kenapa semua begitu sama, nyaris tidak ada perubahan yang berarti.
Hanya deretan AC yang menempel di dinding luar menandakan masuknya teknologi modern ke dalam rumah kuno ini.
Mas Tok dan Ayah di langit sana, seperti hadir di sekitar sini.
Ibu harus tahu ini. Kapan-kapan bila sudah kembali ke Indonesia, akan kami ceritakan semuanya.
Ibu yang kala itu sudah sangat sepuh, hanya bisa menyertai peristiwa penting keluarga kami dengan do’a.

Bapak Atase Militer, Bapak Sitanggang beserta istri dan anak-anaknya pun bermurah hati menjamu keluarga kami dan besan untuk menyantap hidangan di sore yang lebih cepat gelap ini. Interior nya pun masih sama yang saya ingat dalam kenangan. Hanya ruang perapian yang tidak berfungsi lagi. Karena penghangat ruangan sekarang memakai gas yang disupply dari gas negara, bukan membakar batu bara seperti puluhan tahun yang lalu.

Ya, Allah nikmat mana lagi yang Engkau berikan pada kami?
Kehilangan anggota keluarga puluhan tahun silam, dijawab oleh Allah swt, kami mendapatkan anggota keluarga baru, seorang menantu.

Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveaway “Momen yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

8 Replies to “Lorong Waktu”

  1. kisah sedih masa lalu ini semoga tak lagi meninggalkan bekas luka mendalam digantikan dengan kebahagiaan bertambahnya anggota keluarga

    napak tilas rumah masa lalu pernah kualami juga mbak
    sayangnya aku tak beruntung, tak dibukakan pintu oleh penghun baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *