Rapor Sekolah Dasar

rapor-copy

Rapor biasanya diberikan pada anak-anak yang mulai sekolah.
Seingat saya, pendidikan formal pertama saya adalah masuk Taman Kanak-kanak di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Magelang.
Zaman dulu belum musim pendidikan usia dini bagi anak-anak balita, seperti yang dilakukan oleh ibu muda zaman sekarang.

Setelah TK, dilanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu Sekolah Dasar. Saya baru menempuhnya selama satu tahun, ketika Ayah dipindahtugaskan ke ibukota.
Tentu saja, kami sekeluarga ikut pindah ke Jakarta.
Ayah-ibu dengan lima putra-putri, harus mencari sekolah baru dan memindahkan kami ke sekolah baru tersebut.
Kakak sulung saya waktu ada di jenjang SMA. Kakak nomor dua, masuk ke SMP. Sedangkan saya masih duduk di kelas satu SD.

Sebagai anak baru, saya ingat betul, harus memperkenalkan diri di depan kelas.
Ternyata di tahun ketiga kami di Jakarta, Ayah dipindahtugaskan ke luarnegeri.
Lagi-lagi kami sekeluarga ikut pindah.
Waktu itu belum biasa, sebuah keluarga harus berpisah sementara karena tugas atau pekerjaan ayah atau ibu, yang biasa disebut long distance relationship.
Bila seorang kepala keluarga ditempatkan di sebuah kota, otomatis seluruh keluarga diboyong.

Di negara baru, lagi-lagi saya harus memperkenalkan diri di depan kelas.
Untungnya, kali ini, kelasnya kecil. Saya melanjutkan kelas 4 saya di sebuah Sekolah Indonesia disana. Kali ini murid kelas 4 hanya enam orang.
Seingat saya, waktu itu guru juga menuliskan soal latihan di papan tulis, kemudian menunjuk saya untuk menyelesaikan soal matematika tersebut.
Wah, ini semacam ngetes, kalau ikut gaya bahasa anak sekarang.

Rapor kala itu merupakan rapor kwartalan, yaitu penilaian tiap 4 bulan.
Tentu saja, rapor kelas 4 saya tidak diisi dari kwartal pertama.
Dilanjutkan dengan naik ke kelas 5, merupakan tahun dimana rapor saya terisi penuh.
Masuk ke kelas 6, Ayah harus pindah tugas lagi, tentu saja saya dan saudara-saudara siap menemani Ayah di tempat tugas.
Lama-lama saya bisa terbiasa nih, memperkenalkan diri di depan kelas.
Oh tidak, karena kali ini saya sekolahnya sekolah setempat, tidak ada sekolah Indonesia disini.

Waktu itu saya harusnya duduk di bangku kelas 6. Sekolah di sekolah setempat dalam bahasa setempat, membuat sekolah mengeluarkan kebijakan untuk siswa asing. Siswa asing dikelompokkan dalam kelas khusus sesuai usia dan jenjang, selama enam bulan. Setelah melewati masa transisi, barulah siswa asing dimasukkan ke kelas sesuai dengan jenjang pendidikannya.
Sekolah setempat, SD nya hanya sampai kelas 4, kemudian dilanjutkan ke Gymnasium selama 8 tahun.

Walaupun saya sekolah di sekolah setempat, ternyata Ayah tetap perhatian dengan pendidikan putra-putrinya. Mengingat saya harusnya kelas 6 SD, membuat Ayah mengirim saya ke negara lain yang ada Sekolah Indonesianya. Saya ikut semacam persiapan ujian selama dua minggu.
Kemudian saya ikut Ujian SD yang diselenggarakan oleh Sekolah Indonesia.

Kalau ditilik ke zaman sekarang, sepertinya keluarga muda sekarang, lebih memilih LDR an daripada repot memindahkan sekolah anak-anak.

Walaupun demikian saya senang saja bila membolak-balik berbagai rapor-rapor SD saya yang jumlahnya empat.

#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN

9 pemikiran pada “Rapor Sekolah Dasar”

    • hallo mbak Lielies…itu dia, saking seringnya pindah, belum sempat kenal dekat, sudah harus pindah lagi. Jadinya teman SD hanya sedikit yang diingat…Makasih ya sudah berkunjung… ๐Ÿ™‚

    • Mbak Enni…pa kabar? Yang sabar yaa… Sekarang kan jarak jauh lebih cepat ditempuh dan ada berbagai media komunikasi, mayan obat kangen…Semangat!…

    • Bagus banget kalo punya mimpi sekolah ke luar negeri. Idealnya sih lulus SMA, ato S2 dst gitu. Saya kan karena ikut ayah, jadi yaa terpaksa mengikuti…Tapi seru koq, pengalaman tak terlupakan…

  1. kalau jaman sekarang selama masih di Indonesia, rapot tidak perlu diganti walaupun pindah sekolah. anak saya dari jakarta pindah ke purworejo, masih tetap pakai rapot yg dari jakarta…

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com