#UsiaCantik itu Produktif dan Mandiri


blog competition / Sabtu, November 19th, 2016

Waktu saya remaja, saya tidak merasa cantik.
Bagaimana mungkin? Wajah saya berjerawat. Penuh. Merah-merah.
Olok-oloknya, jerawat saya verdiping alias bertingkat.
Berkat ayah saya yang punya kenalan dokter kulit, saya akhirnya berkenalan dengan acne treatment.
Ibu saya yang ikut risau membawa saya ke salon kecantikan untuk perawatan wajah.
Jerawat saya dipencetin satu-satu. Padahal jerawat bernanah yang kalau di masa sekarang justru pantang untuk dipencetin.
Apa daya wajah saya jadi bolong-bolong karena bekas-bekas jerawat, berminyak dan berpori besar.

Punya wajah tak cantik dan tak mulus sedikit banyak membuat saya memperhatikan perawatan wajah sejak SMA.
Apakah saya minder?
Masa SMA sudah lama sekali berlalu.
Alhamdulillah, saya dikaruniai otak lumayan, pernahlah juara kelas. Lulus tes sebagai mahasiswa perguruan teknik negeri di Bandung, dan lulus sarjana enam tahun kemudian.
Termasuk lama, dibandingkan dengan zaman sekarang, untuk sarjana hanya perlu waktu empat tahun.
Diantara sekian ribu yang pandai, saya tak berarti apa-apa, karena mahasiswa lain jauh lebih pandai daripada saya.
Lulus sarjana, saya malah menikah, belum memikirkan mau kerja apa. Itupun disambung dengan langsung hamil, akhirnya sibuk mengurus anak di rumah.

Waktu demi waktu berlalu, kulit saya tetap berminyak dan berpori besar.
Ketika akhirnya saya bekerja dan punya uang sendiri, pernah juga perawatan mahal di salon untuk menghilangkan bekas-bekas jerawat.
Olok-olok suami kalau bangun pagi, sambil mengusap pipi saya, dia berucap, bahwa saya bisa buka perusahaan minyak.
Pikiran positifnya, sih, kulit berminyak itu kalau tua lambat keriput, dibandingkan dengan kulit kering.
Wah, saya bakalan awet muda!
Pikiran positif tersebut terbukti, koq.
Ketika saya berhaji, usia saya 46 tahun. Pada suatu waktu sholat di Masjid Nabawi di Madinnah, saya ditegur oleh sekelompok ibu-ibu dari Sulawesi Selatan. Kami berbincang hangat, dan mereka mengira saya berusia 27 tahun.
Tentu saja tebakan salah tersebut saya sampaikan ke suami dong.
Menjelang tidur kan dia yang memperhatikan saya rajin mengolesi wajah dengan krim pelembab.

Waktu berhaji, saya cuci muka dengan air Zamzam dan berdo’a semoga orang suka melihat wajah saya.
Iya lho, ada kan orang-orang yang wajahnya tidak enak dilihat.
Cantik sih, tetapi manyun, merengut, atau tidak ramah.
Air mukanya keruh dan tidak bersahabat.
Saya tidak ingin seperti itu.

Apakah saya sekarang merasa cantik?
Dulu sih, di usia 35 tahun saya baru lulus S2, riweuh mengatur waktu sekolah, kerja, dan rumahtangga.
Dijalani saja bahu-membahu bersama suami. Untung dia mah, tidak gengsi membantu urusan rumahtangga.
Sedangkan pas di usia 45 tahun, suami malah di rumahkan.
Walaupun ekonomi keluarga lebih banyak dari istri, tetapi tetap saja perlu dukungan suami bukan?

Menjalani hidup lebih dari setengah abad justru membuat saya tetap semangat dan merasa tetap cantik.
Saya merasa tidak perlu ngoyo lagi mengejar karir.
Memang, sih, sebagai dosen zaman sekarang, ada peraturan baru harus S3.
Menilik saya malas mengatur waktu dan harus mulai lagi dari nol, yang satu ini saya tidak semangat sama sekali.
Lagipula tidak semua orang bisa jadi doktor dan profesor.

Ketahanan fisik saya jauh berkurang setelah usia 50 tahun, sehingga harus berdamai dengan kondisi tubuh saya.
Saya malah berniat lebih banyak meluangkan waktu di rumah, menulis buku, menjahit baju, atau main piano.
Travelling ke tempat-tempat indah di dunia, agar saya lebih bersyukur dengan ciptaan Allah swt, dan mengunjungi obyek-obyek arsitektur sesuai bidang keilmuan saya.

Agar selalu #UsiaCantik setiap waktu, inilah yang saya lakukan selama ini:

Pola Hidup Sehat
Sehat itu cantik.
Ya iyalah, tidak sehat menjadikan wajah kusam dan tentu saja terlihat sakit.
Banyak cara untuk menjalankan pola hidup sehat. Salah seorang teman blog bahkan menulis khusus tentang pola makan sehat, antara lain banyak mengkonsumsi buah, sayur, dan banyak minum air putih.
Selain itu saya juga mengkonsumsi yogurt. Sekarang ini saya membuat sendiri yogurt dan kefir, yang merupakan menu wajib sarapan saya dan suami.
Berbagai petuah tentang olahraga, dari yang santai sampai serius. Berbagai gerakan yoga membantu sikap tubuh supaya terlihat lebih percaya diri.

Membersihkan Wajah
Membersihkan wajah tergantung kebiasaan masing-masing. Ada yang sederhana ada yang rumit.
Sederhana, maksudnya cukup dengan air dan sabun. Saya pribadi menyukai memakai air dan sabun. Memang sih, sabunnya sabun khusus untuk wajah.
Sedangkan cara rumit menurut saya, adalah memakai lotion pembersih kemudian dihapus dengan kapas. Lalu sisa lotion dibersihkan lagi dengan larutan khusus, disambung dengan mengoleskan aneka krim lain.

Perawatan Wajah
Menurut beautician yang ada di salon, wajah saya berminyak tetapi sensitif, sehingga mudah merah bila terkena sinar matahari. Itu sebabnya saya selalu memakai tabir surya.
Saya pribadi, sehari-hari tidak memakai make-up, bahkan berbedak pun tidak.
Karena yang saya baca, memakai bedak akan menyumbat pori-pori, sehingga menyebabkan jerawat.
Banyak teman-teman saya yang abai, tidak peduli dengan perawatan wajah, merasa tidak perlu memakai tabir surya.
Ternyata dalam perjalan waktu, terlihat koq diantara teman-teman SMA, setelah sekian puluh tahun tak bertemu, mana wajah terawat dan mana wajah tak terawat.

Pernah juga saya memakai paket perawatan wajah dengan ramuan kimia yang diracik dokter.
Ternyata ramuan tersebut menyebabkan pelebaran pembuluh darah pada wajah. Wajah saya jadi memerah dan retak.
Perlu waktu hampir satu tahun untuk cooling down wajah saya, dengan hanya memakai krim lidah buaya untuk menetralisir reaksi kimia.
Ternyata kita harus sangat hati-hati memilih produk perawatan kecantikan, yakini dahulu bahwa produk tersebut terbuat dari bahan-bahan alami.

Perawatan wajah sederhana saya belajar dari Ibu saya.
Beliau rajin cuci muka setiap pagi dengan air teh yang diinapkan semalam, bahkan di usia beliau 80 tahunan pun masih beliau lakukan.
Dengan berbinar beliau katakan ke anak saya, alias cucunya, raup air teh supaya wajah tidak keriput.
Kalau saya sih, tiap pagi sambil menyiapkan sarapan buah dan yogurt, saya ambil seujung jari yogurt, kemudian saya oleskan di wajah.
Katanya sih, yogurt bisa membuat wajah menjadi cerah dan kenyal.

Tidak Mengeringkan Air Wudhu
Mertua kakak ipar, kami memanggilnya Yang Mis wajahnya selalu berseri-seri. Sebagai wanita Sunda, kulit beliau memang berwarna terang. Tetapi ada yang lain menurut saya.
Bukan hanya terang, tetapi bersinar.
Nah, setiap selesai berwudhu beliau selalu mengingatkan kami untuk tidak mengeringkan air wudhu dengan handuk.
Biarkan kering sendiri.
Di usia sepuhnya, wajahnya teduh, bersinar, dan enak dilihat.
Sepertinya tak masalah jadi tua juga.

Berpikir Positif
Ketika saya ikut sebuah pelatihan penulisan, ada seorang peserta yang menyatakan bahwa beliau paling tua di antara peserta. Beliau lahir tahun 1960.
Peserta yang lain percaya dan menuakan beliau.
Saya diam saja sampai akhir pelatihan, padahal saya lebih tua dua tahun dibandingkan beliau.
Bagi saya, tidak perlu membanggakan diri menjadi tua, justru lebih enak tidak ada yang tahu, berapa sebenarnya usia saya.
Sekarang kalau ditanya usia, saya sering tidak langsung menjawab.
Kenapa? Karena saya menghitung, tahun 2016 dikurang tahun lahir.
Berpikir positif, di setiap jenjang #UsiaCantik ternyata membuat saya tetap semangat menjalani sisa hidup.

Bersyukur
Kunci agar berada di #UsiaCantik setiap waktu, adalah bersyukur atas segala sesuatu yang telah Allah swt berikan selama hidup saya. Tidak perlu membandingkan keberuntungan rizki saya dengan orang lain. Tidak juga membandingkan suami, anak-anak, dan cucu, dengan suami-anak-cucu orang lain.
Pesan Ibu saya agar menjadi perempuan mandiri membuat saya justru makin percaya diri di usia sekarang ini.
Kepasrahan dan rasa bersyukur serta tidak berpikiran buruk ke orang lain, terpancar, koq, ke air muka.
Ibu saya wafat di usia menjelang 89 tahun, dan Nenek saya di usia 84 tahun.
Bila saya berandai-andai, diberi Allah swt umur sepanjang mereka, berarti saya harus menyiapkan apa yang akan saya amalkan disisa usia saya bukan?
Mau di #UsiaCantik atau telah melewati usia cantik, saya harus tetap produktif agar tetap cantik.

 

β€œLomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

27 Replies to “#UsiaCantik itu Produktif dan Mandiri”

  1. Subhanallah…
    Mbak Hani… berbagai emosi mengaliri saat membaca kisah ini.
    Aku terharu sekaligus tersenyum geliterutama di bagian ini:

    Olok-olok suami kalau bangun pagi, sambil mengusap pipi saya, dia berucap, bahwa saya bisa buka perusahaan minyak.

    dan ini:

    Ketika saya berhaji, usia saya 46 tahun. Pada suatu waktu sholat di Masjid Nabawi di Madinnah, saya ditegur oleh sekelompok ibu-ibu dari Sulawesi Selatan. Kami berbincang hangat, dan mereka mengira saya berusia 27 tahun.
    Tentu saja tebakan salah tersebut saya sampaikan ke suami dong.
    Menjelang tidur kan dia yang memperhatikan saya rajin mengolesi wajah dengan krim pelembab.

    Aku juga sering seperti itu. Setiap ada yang menenbak usia aku jauh lebih muda dari aslinya, pasti tak tahan langsung “show off” sama suami. Xixixi…
    Kayaknya si Abang sudah kebal. Hahaha…

    Habisnya mau geer sama siapa, cobak?

  2. Haha…Rosana…bener banget…geer ke siapa kalau ga ke suami dong. Ini belum cerita, bahwa kami makin kesini (ga mau bilang makin tua) jadi makin menggendut. Ya udah…berpelukan aja deh…seperti teletubbies… :D…Makasih yah udah mampir…

  3. Yup hidup sehat itu kuncinya. Bahkan kalau tidak mengindahkan pola makan yang benar, mulai usia 20-an sudah ada tanda-tanda penyakit degeneratif hanya kita jarang menyadari ^_^

  4. Saat usia cantik maka wanita sebaiknya terus berusaha dan menjaga agar tetap sehat dan smart agar dapat mengemban amanah Tuhan dengan sebaik-baiknya.
    Semoga berjaya dalam lomba
    Salam hangat dari Jombang

  5. Saya juga sering memanfaatkan limbah dapur untuk kecantikan. Salah satunya ampas teh celup yang saya oleskan di wajah hingga mengering atau setengah kering. Kalau membilas wajah pakai sisa teh belum pernah, yang ada air bekas cucian beras. (Entah ini hemat atau pelit, hihihi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *