Bumi Bandung Langit Bandung


lifestyle / Jumat, Januari 27th, 2017

bumibandung

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Bandung, itulah tempat tinggal saya sudah lebih dari 30 tahun. Boleh dibilang saya tidak punya kampung halaman seperti yang dialami orang lain.
Kerja di kota besar, kemudian ada tempat pulang ke kampung halaman saat diperlukan.
Mudik kala Hari Raya atau ada acara keluarga besar yang membutuhkan kehadiran kita.
Pokoknya ada tempat melepas rindu dan ada tempat untuk kembali ke akar.
Saya tidak punya. How come?

Lahir di Makassar lalu ikut orangtua pindah ke Magelang, sambung ke Jakarta.
Melanglangbuana ke luarnegeri, adaptasi pindah-pindah sekolah, kembali ke Jakarta.
Kuliah di Bandung, ketemu jodoh, mencoba peruntungan di Jakarta dan kurang beruntung.
Akhirnya kembali ke Bandung yang ternyata lebih nyaman sebagai tempat tinggal hingga sekarang.

Ayah saya bertugas di Angkatan Darat yang membuatnya harus pindah-pindah tugas membawa seluruh keluarga. Zaman dulu mungkin pelajaran tidak sesulit sekarang, sehingga pindah sekolah bukan hal yang sulit. Walaupun penyesuaian selalu ada. Beberapa kali saya harus memperkenalkan diri di depan kelas. Dan beberapa kali saya harus mengerjakan soal di papan tulis, semacam tes yang dilakukan oleh guru waktu itu. Raport SD saya ada empat.
Pernah juga rapot kebakaran, nilainya merah semua, karena saya masuk ke sekolah baru sebulan menjelang terima rapot.

Ayah saya asli Blora, ibu saya lahir di Purwodadi tempatnya Bleduk Kuwu. Ayahnya ayah, alias kakek, profesinya penilik sekolah dan dimakamkan di Blora.
Kakek dari pihak ibu, profesinya jaksa dan diakhir hayat menetap di Semarang. Kakek-nenek keduanya dimakamkan di Bergota, Semarang.
Begitu pula nenek, ibunya ayah saya, dimakamkan di Bergota, Semarang. Karena di akhir hayat tinggal bersama bude saya yang menetap di Semarang.

Di akhir masa tugas hingga wafatnya ayah ditempatkan di Jakarta. Jadi masa remaja saya tinggalnya di Jakarta. Makanya ketika saya akhirnya menetap di Bandung, saya tidak pernah ada acara mudik. Lebaran arahnya melawan arus. Orang lain ke Timur, saya ke Barat.
Belum pernah kena macet berhari-hari seperti kejadian Lebaran 2016, ada peristiwa Brexit.

Sebagai warga Indonesia yang tinggal lama di Bandung, sayangnya saya belum fasih bahasa Sunda.
Ngertinya bahasa Sunda tukang sayur, pokoknya tukang sayur mengerti apa yang saya cari dan berapa harga yang saya tawar. Bahasa Sunda sama halnya dengan bahasa Jawa, ada undak-usuk, tata krama berbahasa sesuai dengan derajat orang yang diajak bicara.
Isitlahnya Sunda Lemes atau kalau bahasa Jawa ada istilah Boso dan Ngoko. Ada lagi kalau tidak salah, gaya berbicara ke atasan, ke Raja, ke orang biasa, dan lain-lain.
Takut salah, saya memilih berbahasa Indonesia.

Hal-hal apa saja yang membuat saya betah di Bandung?
1. Sejuk
Banyak yang bilang Bandung sekarang panas, tidak seperti puluhan tahun yang lalu. Ya ialah, seluruh permukaan bumi memang memanas juga. Tetapi masih jauh lebih sejuk daripada di Jakarta. Artinya saya tidak perlu pasang AC di rumah. Walaupun berkeringat, tidak menjadi lengket seperti di Jakarta.
Rata-rata suhu di Bandung antara 24-28 °C. Kalau sedang pergantian musim dari hujan ke kemarau, bisa drop hingga 19°C. Paling panas yang pernah saya alami di Bandung adalah 32°C.
Saya suka sekali suasana pergantian musim dari hujan ke kamarau ini, karena biasanya terdengar ramai suara tonggeret.
Yaitu sejenis kumbang yang hidup di pohon. Sekitar bulan Maret atau April biasanya mulai ramai suaranya. Kriek, kriek, kriek gitu.
Yang membuat gembira lagi adalah biasanya kalau ada suara tonggeret artinya saya sebentar lagi ulangtahun. Gampang kan penandanya…

2. Dekat
Dibanding dengan Jakarta, mau kemana-kemana di Bandung tergolong dekat. Yang membuat malas adalah karena macet menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi bila kita tahu waktu-waktu yang membuat macet dan pandai mencari jalan alternatif, Bandung tidak seruwet Jakarta.
Banyak pilihan moda transportasi umum, dari mulai bis kota, taxi, angkot, ojek hingga becak bisa ditemui di Bandung. Apalagi sekarang ada pilihan taxi online, kemana-mana tidak masalah.

tamanfilm1
Taman Film

3. Bandung Kota Kreatif
Warga Bandung tuh ga ada matinya selalu ada ide baru. Lihat saja, ada beberapa perguruan tinggi yang membuka program studi Seni Rupa dan Desain. Bukan hanya itu ada pula perguruan tinggi yang berkecimpung dalam ilmu pariwisata.

Sejak Walikotanya Bapak Ridwan Kamil, ada saja ajang unjuk kebolehan kreatifitas. Dari mulai fashion, kesenian, kuliner hingga ruang-ruang terbuka kota di Bandung.
Lihat saja, setiap hari Minggu ada acara Car Free Day yang mulai tersebar di berbagai penggal jalan di kota Bandung. Intinya warga Bandung di hari tersebut berolahraga pagi. Tetapi biasanya diserta pula dengan ramainya warga yang berjualan berbagai produk.
Berbagai Taman Kota Tematik sekarang mudah dijumpai di Bandung. Ada Taman Film, Taman Lansia, Pet Park, Taman Superhero, Taman Teras Cikapundung, dan lain-lain. Renovasi trotoir pun dilakukan berkilometer di jalan-jalan utama. Sehingga warga bisa berjalan kaki dengan nyaman. Ya wayahna, pedagang kaki lima harus rela berjualan di tempat seharusnya bukan lagi di trotoir.

Kuliner Bandung beragam. Selain melestarikan kuliner khas Jawa Barat, berbagai pilihan kuliner Nusantara daerah lain juga bisa dijumpai di Bandung. Selain itu muncul café-café yang menyajikan hidangan kreasi baru, misalnya menu-menu fusion. Yaitu menu campuran Western dan Eastern.
Pokoknya tidak akan bosan mencoba kuliner dari satu tempat ke tempat lain.

4. Ramah
Hal lain yang membuat saya selalu betah di Bandung adalah warga Bandung ramah.
Kata-kata punten, mah, manga, atuh, nuhun dalam keseharian menambah kesan keakraban tersebut.

Nah, gimana?
Teman-teman adakah yang seperti saya, tidak punya kampung halaman?

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

7 Replies to “Bumi Bandung Langit Bandung”

  1. Aku tinggal di Cimahi mba Bandung coret 🙂 dan rumahku masih dipenuhi kebun2 jadinya aku selalu denger tonggeret mba hahaha
    Iya bener bgt mba meski katanya sekarang cuaca Bandung lagi centil panasnya tapi tetap didalam rumah masih adem tariis 🙂

  2. Saya tinggal di Sulawesi, pernah tinggal di Jakarta. Nah, Jakarta dan Sulawesi itu panasnya beda tipis, jadi pas ke Bandung seneeeng banget, sejuk banget rasanya. Kalau dirasakan Bandung sekarang jauh lebih panas dari sebelumnya, bayangin aja gimana di Sulawesi. Hehe..

  3. haha kalo saya kebalikan banget, dari lahir sampai sekarang punya anak di Bandung terus. Paling cinta dengan sejuknya itu lho hehe.. kalopun panas, panasnya itu masih ketahan.. ga perlu sampai pake ac ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *