Duapuluh Kota dan Negeri


lifestyle / Minggu, Januari 8th, 2017

duapuluh

Salah seorang teman seangkatan kuliah mengatakan bahwa hidup saya sudah enak. Padahal menurut saya, hidup dia yang enak.
Enak menurut dia adalah, anak-anak saya sudah menikah semua, jadi tugas saya sebagai ibu sudah selesai.
Sedangkan enak menurut saya, dia tidak perlu bekerja mencari nafkah. Suaminya kaya, anak-anaknya sekolah di luar negeri semua.

Begitulah kita, melihat hidup orang lain lebih enak daripada diri sendiri.
Mau jungkir balik kayak apa juga mencari uang, ternyata jatah dari Allah swt ya segitu-gitu alhamdulillah.
Pengalaman malah begini, ngoyo mencari uang, ternyata ada kebutuhan tak terduga yang akhirnya uang tadi hanya numpang lewat.
Akhirnya santai saja, malah lebih enak makan dan enak tidur.

Dipikir-pikir diusia saya sekarang, hidup saya lempeng-lempeng saja.
Sepuluh tahun yang lalu, 2007, anak saya yang kedua sudah mahasiswa. Anak pertama harusnya sudah lulus sarjana, baru lulus tahun 2008.
Bila menilik sudut pandang teman saya, anak-anak sudah menikah semua adalah hidup enak.
Maka itu terjadi setelah tahun 2014.

Apa yang saya lakukan sejak itu?
Tahun 2013, saya ikut komunitas dan mulai belajar menulis buku.
Tahun 2014, buku solo pertama saya terbit.
Saking semangatnya saya menulis buku, maka saya rajin sangat mengusulkan tema-tema baru.
Ada buku tentang interior, ada buku tentang kesehatan, ada buku tentang musik, dan buku panduan untuk anak remaja memilih jurusan kuliah.
Ada buku solo, dan ada buku kolaborasi.
Sampai sekarang baru 3 buku solo dan 5 buku kolaborasi yang terbit.

Menulis ternyata menggairahkan. Jauh lebih menyenangkan daripada sekolah.
Harusnya sebagai dosen, saya tuh sekolah hingga tingkat doktoral, idealnya mencapai guru besar.
Pengalaman sambil jadi ibu rumah tangga, juga bekerja di luar rumah, plus sekolah pasca, membuat saya kapok sekolah.
The new me is, I like to be an author.

Kira-kira tahun 2010, dari obrolan sesama teman kuliah, kami ada ide untuk jalan-jalan ke luar negeri dengan budget terjangkau.
Waktu itu idenya adalah ke HongKong dan Macau, dengan biaya 5 juta rupiah. Ternyata bisa.
Ide teman kuliah sejurusan seangkatan ini menular ke teman seangkatan se institut.
Akhirnya selalu ada ide untuk travelling bersama teman.
Kadang menyusun sendiri budgetingnya, termasuk mencari tiket pesawat, hotel dan biaya makan.
Kadang melalui travel agent.

kartupos
kartuposku

Sejak SD saya hobby mengumpulkan kartupos.
Ada sebuah kartupos yang diberikan oleh teman sekelas.
Kartupos tersebut kartupos bekas yang dikirim dari paman teman saya itu.
Dikirim dari luarnegeri.
Siapa sangka, saya ternyata sampai ke sana.

Kilas balik sejak tahun 2010 itu, ternyata setiap tahun saya dan teman atau suami, pergi ke dua tujuan.
Bisa ke luar negeri atau di dalam negeri saja.
Setelah diingat-ingat sebelum ke Hongkong dan Macau itu, tahun 2009, saya dan suami ikut rombongan naik bis ke Bali, mampir ke Gunung Bromo dan pulangnya melewati Yogya.
Lumayan pegal juga pergi-pulang naik bis dari Bandung sampai ke Bali.

Tahun 2011, saya dan teman-teman perempuan seangkatan ke Bukittinggi, Koto Gadang, Maninjau dan Padang.
Oleh sebab itu kami menamakan jalan-jalan kali ini adalah Bukomandang Trip.
Sempat juga di tahun 2011 itu saya ada proyek ke Riau, di sebuah kabupaten kira-kira 180 km di Selatan kota Pekan Baru.
Walaupun sifatnya sambil kerja, senang juga bisa melihat balap perahu di sungai Kuantan Singingi.

Kemudian Maret 2012, saya dan teman sejurusan ke Hanoi di Vietnam. Kira-kira bulan September ikut suami ke Malaysia.
Awal 2013, sempat ikut suami ke Lombok.
Akhir 2013, di bulan November, kami menikahkan putra kami di Beograd, Serbia.
Kemudian awal 2014 ikut suami yang presentasi seminar di Surabaya, kami melanjutkan perjalanan ke Malang. Sambil menengok kakak ipar dan ziarah kubur ke kakak ipar.

Tahun-tahun berikutnya, lupa detailnya, kami menyempatkan menghadiri pernikahan putra atau putri teman semasa kuliah, yaitu ke Solo dan Malang.
Beberapa kali ke Semarang karena urusan pekerjaan, kemudian bersama teman sempat pula ke Garut dan Tasikmalaya.
Sempat ke Bali lagi, ikut suami yang harus presentasi seminar.

Awal tahun 2015, saya dan suami menunaikan ibadah umroh, kemudian pertengahan tahun mengantar mahasiswa studi banding ke NUS di Singapura.
Di bulan November, bersama teman kuliah jalan-jalan ke Cambodia, ke kota Siem Reap dan Phnom Penh.
Awal tahun 2016 ke Solo, dan bulan November 2016 saya dan suami ikut Joint Seminar ke Eropa.
Ada lima kota dan negara yang kami kunjungi, Amsterdam, termasuk Vollendam di Belanda. Kemudian Frankfurt-Rommerberg, Titisee di Jerman. Lanjut ke Paris-Perancis, kemudian kembali ke Belanda, mampir ke Brussel di Belgia.
Tahun 2016, ditutup dengan pergi pulang dalam sehari dari Bandung ke Pangkal Pinang di Bangka, lagi-lagi karena urusan pekerjaan.

Tahun 2017 kemana ya?
Utamanya sih, saya dan suami ingin sehat, supaya bisa jalan-jalan lagi.
Kemana-kemananya belum pasti, inginnya dalam setahun bisa ke dua kota atau negara.
Jadi dalam sepuluh tahun ke depan, InsyaAllah saya sudah menambah koleksi kartu pos saya sebanyak 20 destinasi wisata.
Cita-cita utama sih, saya ingin ke Bukhara.
Ayo, siapa yang tahu Bukhara di mana?
Menabung dulu ah.

Teman-teman apa yang akan dilakukan sepuluh tahun yang akan datang?

Blog ini diikutkan dalam weekly blog challengenya Ratri Anugrah.
[Week #2]

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

12 Replies to “Duapuluh Kota dan Negeri”

  1. Ah, iri sekali sudah banyak negara yang dikunjungi. Makanya saya sudah kebelet pengen wisuda, Bu, biar lebih gampang izin traveling. Kalau sekarang mesti diomeli dulu tapi sudah beli tiket hehe. Jadi nggak bisa nggak dizinkan. *anaknakal*

    1. Ah…enaknya bisa nekat begitu. Hehe…Suka iri lhoo…kalo lagi jalan2, liat ada anak muda (cewe2) travelling sendiri atau berdua. Saya dulu mana berani? Semangat yah…

  2. Wah seruu dalam setahun bisa ke dua kota/negara, asik banget Bu 😀 semoga tahun ini diberi kesehatan jadi bisa nambah koleksi kartu posnya ya Bu 😀

  3. Wah keren sekali bu bisa jalan2 ke luar negeri/kota. Saya pengen juga, karena belum pernah ke luar negeri tapi kasian duitnya huhu TT Jadi mau coba di Indonesia dulu deh

  4. Langsung google Bukhara, tempat lahirnya Imam Bukhari di Uzbekistan ya?
    Namun menurut artikel yang aku baca, kota ini sangat jauh dari gaya hidup Islami, betul begitu, mbak?

    Btw, kapan lagi halan-halan backpacker 5jutaan? Boleh dong aku dicolek ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *