Mengemudikan Mobil Gigi Dua Sepanjang Jalan


lifestyle / Selasa, Februari 28th, 2017

woman driver

Ini kisah pengalaman pertama kali saya mengemudikan mobil sendiri sambil membawa dagangan.
Ceritanya udah lama banget.
Waktu itu saya masih awal berumahtangga, anak dua masih kecil.
Anak yang bungsu malah masih bayi.
Namanya juga ibu rumahtangga, saya ceritanya mulai usaha nih.
Saya usaha bikin bedcover. Bedcover yang di dalamnya dilapisi dacron.
Kerjanya di rumah, punya satu orang tukang jahit.
Sudah produksi gitu, ya, harus dipasarkan kan.
Jadi, saya coba tawarkan ke teman-teman.
Waktu itu belum zamannya bisnis online, yang ditawarkan melalui media sosial.
Ditawarkan ya mendatangi satu demi satu sang Teman.

Salah satu teman yang akan saya datangi rumahnya di daerah Cimindi, sekitar kota Cimahi.
Kira-kira 20 km lah dari rumah saya di Buahbatu, Bandung.
Sebelumnya saya pernah ikut suami berkunjung ke temannya di Cimindi ini.
Suami ada keperluan, ngobrol kerjaan dengan temannya.
Saya ngobrol dengan istrinya. Lalu saya cerita lagi usaha bikin bedcover.
Si Ibu ini berminat, ingin tahu kayak apa bedcover jualan saya.
Jadi, saya janji, kapan-kapan main ke rumahnya, menawarkan bedcover.

Baca juga: Menyupir Aman Bersama Anak Kecil

Ternyata tidak lama sesudah itu, suami sakit tipus.
Dia yang biasanya mengantarkan kesana-kemari, harus istirahat total di rumah sakit.

Punya SIM Tak Bisa Mengemudi

Wah, gimana caranya saya bisa ke Cimindi menawarkan bedcover ya …
Saya tuh sebetulnya punya SIM.
SIM tersebut saya peroleh zaman masih kuliah. Ikut-ikutan tes mengemudi yang diadakan di kampus. saya tidak bisa mengemudi.

Tidak panjang-panjang, saya pokoknya punya SIM.
Walaupun SIM tersimpan rapi di dompet, saya tak juga berani mengemudikan mobil.
Enaknya disupiran tuh kan merasa tidak perlu bisa nyupir.

Walhasil, satu-satunya jalan, saya beranikan diri untuk nyupir ke Cimindi.
Sebenarnya mobilnya enakeun, kalau istilah bahasa Sunda.
Walaupun belum matik seperti zaman sekarang, mengemudikannya ringan.
Ya iyalah ringan, Suzuki Minibus waktu itu.
Barang dagangan berupa bedcover saya susun saja di bangku belakang.
Siap berangkatlah saya ke Cimindi.
Do’akan Ibu ya …

Entah kenapa saya takut banget mengemudikannya.
Ya iyalah takut. Pergi sendiri. Gimana kalau ada apa-apa?
Perjalanan dari Buahbatu ke Cimindi seperti berjam-jam tidak sampai-sampai.
Begitu mobilnya terasa tambah cepat, saya lepas gas, supaya jalannya menjadi pelan.
Saya tidak berani memindahkan persneling dari gigi dua ke gigi tiga.
Takut banget jadi tambah cepat.
Terus saja begitu, sampai mobilnya bunyi nguuuung sepanjang jalan.
Begitu tambah cepat, kaki refleks angkat gas, terus melambat.

Akhirnya sampailah saya ke rumah teman suami di Cimindi itu.
Ngobrol dan menawarkan dagangan saya.

Hmm…belum laku sih. Tidak apa-apa. Namanya juga usaha.
Nah, mau tidak mau, saya kan harus pulang.
Deg-degan.
Walah, saya harus mengulangi perjalanan lagi dari Cimindi kembali ke Buahbatu.
Setres ngebayang ketemu bis atau angkutan umum yang berhenti tiba-tiba.

Bismillahirahmanirrahim.
Siap-siap maju jalan grak.
Dan, tetap lah saya mengemudikan mobil dengan gigi dua sepanjang jalan.
Cepat-pelan-cepat-pelan.
Pakai hampir nyerempet bis kota segala. Dipelototin pak Supir.
Sampai jalan Buahbatu, sedikit lagi sampai rumah, jalannya luar biasa macet.
Kalau macet masih mending sih, kecepatan ya paling dari persneling nol ke gigi satu saja.
Jadi tidak sesewot kalau jalanan sepi.
Tetapi energi saya sudah terkuras lumayan.
Akhirnya mobil saya parkir di halaman sebuah toko.
Saya pulang jalan kaki melalui gang di samping toko.
Kira-kira sore hari sudah berkurang macetnya, saya ambillah mobil kesayangan keluarga itu.

Sekarang?
Ya sudah piawai lah untuk ukuran dalam kota.
Sudah piawai pula parkir paralel tanpa komando tukang parkir.
Mereka malah membuat bingung sebetulnya. Kanan-kiri, kanan-kiri.
Kanannya siapa, kirinya siapa.

Tapi … belum … belum pernah nyupir ke luar kota.
Paling jauh ke Jatinangor atau Padalarang.
Melalui jalan tol ya so so saja, paling cepat 100 km per jam.
Mengemudikan ke luar kota takutnya tuh, bila posisi di belakang truk.
Sampai tujuan sepertinya saya tetap di belakang truk. Belum pe-de untuk menyalip.
Perjalanan ke luar kota kalau tidak melalui jalan tol itu harus bersaing dengan motor yang dimodif ibaratnya mobil bak terbuka.
Soalnya motor-motor di luar kota juga merangkap alat angkut membawa barang aneka bentuk dan ukuran.

Nah, apa pengalamanmu mengemudikan mobil pertama kali?

Update, 12 Februari 2019

signature haniwidiatmoko

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

15 Replies to “Mengemudikan Mobil Gigi Dua Sepanjang Jalan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *