Ina dan Ani


cuma cerita / Senin, Februari 27th, 2017

d4e7b23c008a180012368307824b5d20

 

Ina menyodorkan tangan kanannya ke anak di depannya.
Dia tersenyum.
Anak perempuan sebaya di depannya pun tersenyum dan menyodorkan tangannya juga.
Mereka pun bersalaman.
Betapa bahagianya Ina.
Sekarang dia punya teman yang dapat diajak ngobrol.
Dia akan menceritakan sepatu baru hadiah ulangtahun dari Mama.
Sepatu merah berpita.

Mamanya akhir-akhir ini sibuk betul dengan bisnis olsopnya.
Hampir sepanjang hari tangannya tidak pernah lepas dari gawai yang selalu berbunyi.
Kadang-kadang Mama akan sibuk membungkus barang-barang yang sudah dipesan.
Beberapa saat kemudian ada kurir langganan yang menjemput.
Ina tidak mengerti kenapa orang-orang dewasa sangat sibuk.
Kata Mama, ini semua untuk Ina.
Padahal Ina hanya ingin ditemani.
Ina ingin ada yang mengajarkan mewarnai buku gambar, atau membacakan buku cerita.

Marty sesekali melirik gawainya.
“Ah, harusnya aku tentukan jam menjawab pertanyaan atau pesanan di link Instagramnya. Kenapa sih mereka tidak pernah mau baca keterangan yang ada di bio dan tiap foto” keluhnya.
Tangannya mulai pegal menjawab.
Pada screen saver gawainya tampak foto Ina, putrinya.
Ada sesal di dalam dadanya.
Dia ada di rumah sepanjang hari, tetapi kenapa seperti kekurangan waktu bersama putrinya.
Dia merasa sibuk sendiri.
“Ah, ini semua kan untuk Ina. Nunggu-nunggu biaya dari Donny, sampai lebaran kuda, ga akan ada”.
Pikirannya melayang, hatinya kacau dan jengkel.
Teringat perpisahan menyakitkan dengan orang yang awalnya menjadi tumpuan hidupnya.
Loving can hurt…
Akibatnya dia harus berjibaku mencari nafkah demi putrinya.
Mencari pekerjaan di luar rumah yang bisa menghasilkan income lebih menjanjikan, dia khawatir akan pengawasan Ina.
Dia masih perlu menata hidupnya.

Diapun bangkit mencari putrinya.
Akhir-akhir ini Ina, diusia ke lima tahunnya sudah mulai tenang dan bisa menyibukkan dirinya.
Ina suka sekali bercermin di cermin besar yang ada di pintu lemari pakaian.
Dia lumayan centil sebagai anak perempuan dan senang mematut-matut dirinya.
Kadang dia berbicara dengan bayangan dirinya di cermin, seolah berbicara dengan temannya.
Ina pernah cerita dalam bahasa yang patah-patah bila dia punya teman bernama Ani.
“Sepertinya biasa anak usia 5 tahun mempunyai teman khayalan” pikirnya dalam hati.
Sesekali tadi dia mendengar celoteh Ina di dalam kamar tidur.

Hari sudah pukul lima sore dan gelap menjelang.
Hujan sepanjang hari menyisakan rasa sejuk dan lembap dalam rumah kontrakannya.
Rumah kecil hanya satu ruang keluarga merangkap ruang tamu serta dapur, satu kamar tidur dan kamar mandi.
“Ina…” panggilnya masuk ke dalam kamar.
“Ina…”

Sepi.

“Kemana sih? Kenapa aku ga lihat Ina keluar kamar sih” omelnya panik pada diri sendiri.
Dicarinya ke kamar mandi.
Tidak mungkin keluar rumah, karena kalau ke luar rumah, dia pasti tahu.
Rumah kontrakan ini pintu keluar masuknya hanya satu.

Terdengar suara anak-anak tertawa dari dalam kamar.
“Mana sih? Ina tertawa-tawa sama siapa?”
Marty menyeruak kembali ke kamar.
Pandangannya menatap pada cermin lemari pakaian.
Nafasnya terhenti.

“Inaa…” teriaknya histeris.

Ina mengikuti Ani teman mainnya.
Rasanya senang punya teman main, bisa menggambar bersama dan bergandengan selamanya.


460 kata

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *