Melelehkan Maaf


cuma cerita / Sabtu, Februari 11th, 2017

4fa9dc800c9eb43e1ef2c4e0f2e0d258

Adzan magrib berkumandang, dan tak lama kemudian takbir pun bersahut-sahutan.
“Besok dah lebaran lagi” gumam Ambar.
Ia pun mengambil wudhu dan bersiap sholat magrib.
Dado suaminya seperti biasa melanjutkan sholatnya di masjid hingga isya nanti.
Pikirannya berkecamuk.
Sudah lima malam takbir hatinya gundah.
Kemana keceriaan itu?
Inginnya waktu berhenti di lima Lebaran yang lalu, dimana keluarganya masih lengkap.

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…”
Dado melangkah masuk.
Diamatinya Ambar yang membukakan pintu.
Ada kerlapan bulir di sudut matanya.
“Pasti dia habis menangis lagi” batinnya.
Diciumnya kening Ambar.
Mereka pun menghabiskan malam tanpa obrolan.
Tangan mereka menggenggam ponsel masing-masing.
Pesan-pesan melalui WhatsApp menyatakan Selamat Lebaran mulai masuk silih berganti.
Ada yang panjang menyerupai syair, tidak sedikir yang menshare gambar.
Tak satupun dari sekian pesan itu adalah pesan dari seseorang yang dinanti.
“Ah, kemana rimbanya dia?” batin Ambar.
Dado mendengar desahan dari sampingnya.
“Pasti dia memikirkan hal yang sama”.
Memberanikan diri dia bertanya:”Kangen?”
Terdengar isakan yang tertahan.
Akhirnya setelah lima Lebaran, Dado memberanikan diri membuka percakapan.
Percakapan yang mereka berdua hindari selama bertahun ini.
Karena akan membuat pertengkaran hebat bila dibahas.
Seandainya mereka berdua tidak terlalu keras pada pendirian mereka, mungkin hari-hari belakangan ini terasa lebih baik.

“Selamat Lebaran Pak Dado, Bu Dado”
Tetangga bersalaman sambil menuju halaman rumah masing-masing sesaat pulang dari Shalat Ied.
Ambar melangkah ke ruang tengah.
Di meja makan hanya tertata hidangan ala kadarnya.
Tidak akan banyak yang berkunjung Lebaran kali ini. Apalagi sejak suaminya pensiun.

Terdengar langkah kaki dan suara anak kecil di teras rumah.
“Ah, pasti pak Agus tetangga sebelah” ujarnya ke suaminya yang bergegas menyambut membukakan pintu.

Seorang anak perempuan kecil berkulit putih berambut lurus bermata sipit tertatih masuk.
Tangannya menengadah ke arah Dado.
“Gendong”

Marlo dan istrinya, Lien, terpaku di teras rumah.
Rumah yang Marlo tinggalkan bertahun-tahun yang lalu, setelah memutuskan memilih jodohnya sendiri.
Lima Lebaran bukanlah waktu yang sebentar untuk melelehkan maaf.

#cumacerita #1minggu1cerita #week3

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *