Bayangan di Pelupuk Mata


cuma cerita / Kamis, Maret 2nd, 2017

4a6ef2150e73f6d40443003add8666fd

Dipilihnya tempat duduk di pojok cafe langganannya.
Dia lupa kapan terakhir menyambangi cafe ini.
Jus mangga dan pisang goreng kejunya favorit banget.

“Silahkan. Barangkali ada tambahan lagi?”
“Nanti saja”

Dibukanya selubung sedotan dan dia mulai mengaduk-aduk gelas.
Dicelup-celupkannya es batu dalam jusnya.
Dituangkannya gula cair sedikit.
Kemudian dia menyandarkan tubuhnya di sofa.

Hening di cafe yang baru buka.
Sepi.
Matanya terpejam.
Tiba-tiba bayangan dua laki-laki berkelebat di pelupuk matanya.
Senyuman mereka.
“Ah…kenapa harus muncul disaat seperti ini sih” keluhnya.
Cepat-cepat dibuka matanya, bayangan itu pun lenyap.

Kemudian dia mulai mencecap segarnya jus mangga.
Dingin dan perasaan sehat merasuk ke seluruh pembuluh darahnya.
Perasaannya serasa diawang-awang.
Awan putih di langit biru bergulung-gulung.
Sepi.

Tangannya tetap mengaduk-aduk gelas.
Sesekali disekanya butiran embun di badan gelas.
Disandarkannya kembali tubuhnya.
Dia berusaha rileks menikmati kesendiriannya.
Diaturnya posisi ponselnya dalam nada getar kemudian dipejamkannya matanya.
Lagi-lagi bayangan dua laki-laki berkelebatan di pelupuk matanya.
Senyuman mereka.
Dua laki-laki yang kini hadir dalam hidupnya.

Ah, dia tak akan sanggup memilih salah satu dari keduanya.
Pikirannya menerawang ke peristiwa demi peristiwa.
Dan dia sekarang ada di sini.
Merenung.
Sudahkan dia memilih perjalanan hidupnya dengan benar?
Betulkah dia memang bisa memilih?
Tidak.
Dia tak mungkin memilih.
Seringkali memang manusia tidak mempunyai pilihan.

Dicecapnya lagi jus mangga.
Matanya menyapu sekeliling cafe.
Konsumen mulai berdatangan, pelayan sibuk.
Tak sadar dia melirik ke ponselnya.
Ada pesan wa masuk.
Tidak.
Dia tak mau membuka pesan di ponselnya.
Dia tak mau terpengaruh.
Dia sudah berjanji pada dirinya, inilah saat yang tepat.
Jauh-jauh hari dia sudah menentukan saatnya.

Dicecapnya lagi jus mangga.
Embun yang menetes dari gelas mulai membasahi meja.
Dimainkannya air yang meleleh dengan jarinya.
Bayangan dua laki-laki itu muncul di permukaan jus mangga.
Digelengkannya kepalanya.
Tidak.
Dia tidak mau terpengaruh.
Pikirannya menerawang kejadian tadi pagi.

Diaduk-aduknya lagi jus mangga yang tinggal separuh.
Bayangan dua laki-laki muncul lagi di permukaan jus mangga.
Digelengkannya kepalanya mengusir bayangan.
Dipejamkannya matanya.
Bayangan dua laki-laki semakin nyata muncul di pelupuk matanya.

Tiba-tiba dia tersentak.
Dibukanya aplikasi uber dan dipesannya taksi ke suatu tujuan.
Tangannya melambai ke pelayan untuk meminta bill.
Taksi datang tak lama kemudian, tapi perjalanan ke tujuan serasa berjam-jam.
Bayangan dua laki-laki silih berganti menari-nari di pelupuk mata.
Kekhawatiran membuncah.
“Ah, terlambat” keluhnya kesal.
Penyesalan menyeruak.

Sebuah rumah berpagar hijau.
Cepat dibayarnya taksi dan setengah berlari dia masuk ke halaman rumah yang dia hafal betul.
Seorang laki-laki berwajah kusut membukakan pintu, terperangah, dalam pelukannya seorang anak tersenyum lebar.

“Lho, me timenya udah?”
“Lupa ngeluarin makanan Adrian dari freezer”
“Lho, aku kan udah wa, Adrian udah makan koq”
“Nih, pisang goreng keju”
“Asyik…”


427 kata

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

4 Replies to “Bayangan di Pelupuk Mata”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *