Cabai Tiga Tampah


cuma cerita / Kamis, Maret 16th, 2017

“Bawang…bawang beureum…barawang”

Terdengar suara penjaja bawang melintas depan rumah.
Ketika itu Rabu siang, Ibu bersiap-siap berangkat mengajar.
Yang dilakukan Ibu bukan langsung membuka pintu garasi kemudian berangkat, tetapi seolah menunggu sesuatu.

“Bawang…bawang beureum…”

Ibu membuka pintu garasi, Tukang Bawang yang sudah sampai di depan rumah sebelah menghentikan langkahnya dan kembali ke arah rumah kami.
“Bawang Bu?” ujarnya menawarkan dagangannya.
Dua karung pikulan yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai hijau dan cabai merah.
“Teu” jawab Ibu lagi.
Setahuku Ibu jarang membeli khusus dari penjual bawang seperti ini, hanya membeli seperlunya dari Bibi Sayur.
“Dagang teu pararuguh kieu” keluh Tukang Bawang lagi.

Tukang Bawang bersiap melangkah lagi di siang yang panas itu, tiba-tiba berbalik arah kembali lalu berkata:
“Bu, mau titip dagangan boleh? Besok pagi diambil lagi”.
“Saya ada keperluan” sambungnya dalam bahasa Sunda.

Kami, Ibu, si Mbak dan saya terpana kebingungan.
Titip? Titip dagangan?
Penjual ini kenapa ya? Padahal belum pernah lihat sebelumnya.

Akhirnya Ibu membolehkan Tukang Bawang menitipkan dagangannya di samping rumah.
Dua karung pikulan berikut timbangannya.
Bawang merah, bawang putih, cabai merah dan cabai hijau.
Setelah tersimpan rapi, Tukang Bawang bergegas pergi dan berjanji akau mengambil dagangannya besok pagi.

Kamis pagi.
“Tukang Bawang sudah ada belum?” tanyaku ke Si Mbak.
“Belum ada” jawabnya.
“Mau beli cabe hijaunya, sepertinya enak nanti masak balado cabai hijau”
“Ambil saja, nanti kalau Si Mang datang, dibayar” usul Ibu.
“Aiih, Ibu ih. Kan bukan hak kita. Masak ambil sendiri” aku tidak setuju dengan usul Ibu.

Sampai magrib, tidak ada berita dari Tukang Bawang.
Dan kami pun bahkan lupa menanyakan nama Si Tukang Bawang.
Berbagai celetukan muncul mengenai Tukang Bawang.
“Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi padanya” ujar Ayah.
“Jangan-jangan bunuh diri, putus asa. Kan dia bilang, dagang ga jelas begini” sambung Ibu.
“Aaah, ibu berlebihan” kataku.
“Iya. Pernah dimuat di koran, ada penjual mangga, seharian tidak laku. Eh, lalu bunuh diri” sergah Ibu lagi.
“Jangan-jangan dia berkomplot melakukan kejahatan dimana gitu” kayal Ibu lagi.
“Ibu terlalu banyak baca koran” kataku lagi.

Kamis malam, karena tidak tahan dengan kehijauan cabai hijau, akhirnya aku dan Ibu ‘membeli’ cabai hijau tersebut.
Kami menimbang sendiri, cabai hijau satu kilo. Dan cabai merah seperempat kilo.
Ternyata ada satu kantong cabai merah yang sudah mulai layu dan menyebarkan bau tak sedap.

“Padahal kemarin Ibu sengaja menunggu Tukang Bawang lewat dulu, baru buka garasi. Takut disuruh beli.
Eh, malah balik lagi. Jadi aja kita ketitipan bawang” cerita Ibu.
“Pak, kalau sampai seminggu Tukang Bawang tidak datang, apa yang harus kami lakukan?” tanya Ibu ke Ayah.
“Lapor satpam” jawab Ayah cepat.
Koq jadi rumit begini.
Tukang Bawang, kamu dimana?

Jum’at pagi.

“Bawang…bawang beureum” suara penjaja bawang lewat di depan rumah.

“Itu ada Tukang Bawang, mungkin bisa ditanyakan kenal tidak dengan Tukang Bawang yang kemarin” Si Mbak memberikan usul.
“Kan kita tidak tahu namanya siapa” jawab Ibu.
“Yaa yang rumahnya di Ciparay. Kan kemarin katanya mau pulang ke Ciparay” kata Si Mbak lagi.

Kira-kira pukul 07:30, Tukang Bawang yang dinanti-nanti datang.
Kami bertiga menyambutnya seperti menyambut berkah.
Pertanyaan bertubi-tubi ke Tukang Bawang.
“Darimana saja?”
“Diantosan kamari teh”

“Punten, anak saya yang kedua sakit. Demam. Saya harus membawanya berobat ke Majalaya” sahut Tukang Bawang menjelaskan.
“Umur berapa?” tanya Ibu.
“Empat tahun. Susah kalau anak sakit. Padahal lagi sulit begini. Yah namanya godaan hidup” jawab Tukang Bawang pasrah.

Dan kami menyesal, mereka-reka dongeng tentang Tukang Bawang.
“Mang namanya siapa?” tanyaku, khawatir kehilangan jejak lagi.
“Nanang” jawabnya.
“Kemarin beli cabai hijau dan merah, punten ya, ambil sendiri. Cabai hijau sekilo, cabai merah seperempat.
Semua berapa?” tanya Ibu.
“Ya, duapuluh ribu saja” jawab Tukang Bawang.
Setelah kami membayar, uang duapuluh ribu tersebut dikipas-kipaskan ke dagangannya.
“Penglaris, penglaris” ujarnya berharap.

Tiba-tiba Tukang Bawang berkata:”Ibu mau ini?” sambil menunjuk sekarung cabai merah yang mulai memudar warnanya itu. Memang tidak sesegar cabai hijau, tetapi masih layak konsumsi.
“Sayang” katanya lagi.
Lho, mau diapakan cabai sekarung?
“Dijemur di nyiru Bu, nanti bisa digiling lalu simpan lemari es” usulnya lagi setengah memaksa.

Akhirnya kami mendapat limpahan cabai merah sekarung dan setelah dipilah oleh Si Mbak, menjadi tiga tampah siap jemur.
“Nanti diapakan Bu?” tanyaku pada Ibu.
“Nantilah dipikirkan kemudian. Tidak ada ide” jawab Ibu ragu.

Dan di atas atap pun ada tiga tampah cabai merah.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

4 Replies to “Cabai Tiga Tampah”

  1. Alhamduliilah berbagi rezeki ya teh hehe. Cabai sedang mahal pula 😀
    Ceritanya menarik banget.

    Salam ti urang Sunda oge 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *