Membangun Karir dan Bisnis Melalui Bidang Kepenulisan


writing & blogging / Selasa, Maret 21st, 2017
Peserta Kopdar Penulis

Perempuan dan menulis sepertinya sekarang ini menjadi trend tersendiri.
Beberapa pelatihan penulisan melibatkan perempuan.
Berbagai grup pelatihan dalam grup-grup tertutup di sosial media seperti Facebook, Twitter, LINE, WhatsApp, dan Telegram juga diminati oleh
para perempuan.

Kenapa sih saya khusus mengangkat perempuan dan menulis?
Apakah karena saya perempuan?
Padahal penulis kan tidak khusus perempuan?
Pria penulis juga banyak. Malah mereka sebagai kepala keluarga yang matapencahariannya dari menulis.
Wait…
Ini kita membahas penulis buku bukan?
Ini dia, menulis itu bukan hanya menulis buku.

KOPDAR

Minggu, 19 Maret 2017, inilah kami para penulis perempuan yang bergabung dalam jejaring penulis Indscript bergembira jumpa darat di sebuah restoran di jalan LLRE Martadinata, Bandung.
Semuanya ada 16 perempuan dengan berbagai profesi.
Seperti biasa, pertemuan yang sebelumnya kami sudah mengenal di komunitas FB, jumpa darat tentunya diawali dengan memperkenalkan diri masing-masing.

Kali ini diawali oleh Anna Farida, kepala sekolah Sekolah Perempuan. Sebuah komunitas pelatihan kepenulisan, terutama menulis buku.
Kisahnya terjun ke dunia kepenulisan diawali dari tulisan-tulisan di blognya yang dilirik oleh sebuah penerbit kecil di Jawa Timur. Penerbit tersebut bermaksud menerbitkan tulisan-tulisannya tentang parenting dalam bentuk buku. Latarbelakang pendidikannya dari Sastra Inggris pun berkembang untuk berprofesi menerjemahkan buku.

Dilanjutkan dengan Vie Chan, punya nama pena sebagai Vie Assano. Ibu muda ini tidak mau bertopangdagu hanya mengurus rumahtangga. Melalui Kaskus, bahkan diperoleh informasi tentang job-job penulisan. Tak masalah waktu itu dibayar tigaratus ribu per bulan untuk menyelesaikan pesanan 15 artikel per hari @1000 kata, yang akhirnya membawanya menjadi pengelola web.

Ada Winny Mufiani Lukman, sejak kuliah di jurusan Fikom suka menulis, dan memutuskan resign dari sebuah bank swasta setelah 15 tahun berkarya, karena alasan keluarga. Kegemarannya menulis sejak masih bekerja di bank terasah dengan mengikuti berbagai kompetisi menulis dan memenangkan penghargaan tingkat Asia Pasifik.
Sharing menarik dari Winny adalah, totalitasnya menggeluti bidang kepenulisan, rajin mengikuti berbagai kursus dan pelatihan penulisan sebagai upaya mempertajam kemampuan menulisnya.
Karyanya tidak terbatas untuk penulisan buku berbentuk antologi, tetapi merambah ke penulisan artikel, mengelola beberapa web, dan memperdalam fotografi yang sangat menunjang tulisan-tulisannya. Artikel-artikelnya pun tak terbatas hanya masalah finansial dan keuangan saja, tetapi berkat kemauannya untuk belajar, juga menulis artikel untuk Kementrian Pertanian demi meningkatkan potensi UKM.

Siapa yang mengira menulis bukan melulu buku, fiksi, novel, dan artikel.
Lusijani menemukan passion menulisnya kala menulis puisi. Sehari-harinya sebagai guru SMA Babbusallam semasa remajanya rajin menulis diary yang lebih pada curhat yang dibaca sendiri.
Berbagai grup komunitas puisi, misalnya Grup Haiku Indonesia, sebuah grup sastra Indonesia yang berformat Haiku.
Haiku adalah gaya berpuisi ala Jepang yang secara tradisi mempunyai format yang berbeda dengan format puisi yang selama ini kita kenal.
Lusijani juga menulis cerpen anak, dan masih menyimpan cita-cita untuk membukukan puisi-puisinya.

Damar, jauh-jauh datang dari Jakarta dengan membawa putranya, karena ingin menggali berbagai pencerahan melalui kopdar bersama para perempuan penulis.
Sama juga dengan perempuan yang lain, awal kegemarannya menulis dimulai dari menulis diary.
Ikut komunitas IIDN, Ibu-ibu Doyan Nulis, dan portal Blog Emak Pintar Asia.

Laras, juga aktif di komunitas Emak Pintar Asia dan sempat mengikuti training artikel. Tulisan-tulisannya sering ada yang sudah diterbitkan dalam bentuk antologi.
Masih banyak perempuan-perempuan lain yang potensinya luar biasa untuk menggeluti bisnis kepenulisan ini.
Antara lain, Erlin, Natsha Wisaksono, Fenny, Sri, Ratu Anna Karlina, Dedeh, Lia, Sherly, Santi Rosmala, Chika, dan saya sendiri.
Perempuan aktif tersebut beberapa diantaranya sudah menerbitkan buku. Ada pula yang mempunyai bisnis, sehingga kemampuan menulis justru dibutuhkan untuk marketing bisnisnya.
Sekarang zamannya jualan tapi tidak terlihat sebagai jualan.

Dari hasil diskusi tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa:

1. Kepenulisan itu Luas

Menulis tidak terbatas hanya menulis buku, baik fiksi maupun non fiksi. Menulis puisi yang dirangkai dengan media sosial lain seperti Instagram dan Twitter memudahkan menggaungkan berbagai bentuk puisi.
Kepenulisan lain adalah menulis blog, yang diisi dengan artikel-artikel yang kekinian. Pengelola Web termasuk menulis artikel-artikel untuk menghidupkan web itu sendiri, atau lebih dikenal dengan web content merupakan profesi kepenulisan lainnya.
Bagaimana dengan status-status Facebook?
Siapa yang mengira bahwa melalui status-status di Facebook bisa menunjukkan karakter dan brand pemilik akun Facebook tersebut.
Walaupun media sosial bisa merupakan ajang untuk marketing, disinilah seninya, bagaimana menjual tanpa terlihat menjual.
Oleh sebab itu menulis untuk menawarkan produk dengan halus perlu latihan dan ketrampilan tersendiri.

Belum berhasil menerbitkan buku, karena ditolak selalu?
Menerbitkan buku harus melalui proses rantai yang panjang dan mahal.
Kita harus tahu asal-muasal kenapa royalti 10%, dan kita harus tahu bahwa biaya menerbitkan buku bisa sampai 15 juta untuk 2000 buku, dan sepertiganya adalah untuk ongkos produksi.
Jangan khawatir, ada penerbit indie, misalnya Bitread yang bersedia menerbitkan buku kita dalam bentuk e-book, walau baru ditulis 40-50 halaman.

2. Waktu adalah Uang

Sering dengar bukan quote, waktu adalah uang?
Secara tak sadar, kita, terutama perempuan rajin menulis status di FB, atau sharing berbagai hal di grup Whatsapp atau LINE.
Coba sekarang mulai dipertimbangkan berapa waktu yang tak kembali akibat terlalu asyik menulis hal-hal yang tidak ada ujung pangkalnya di FB.
Dengan membuat blog, ikut gabung dengan komunitas blogger, dan artikel di blognya memang bermanfaat, bukan tidak mungkin akan dilirik oleh manajemen sebuah web, penerbit, lembaga swadaya, bahkan kementrian.
Siapa yang tidak tergugah, bahwa dalam artikel blog kita bila ada external link ke sebuah perusahaan yang mengontrak kita, ada fee sekitar 150 hingga 300 ribu.
Siapa yang tidak tergiur, artikel kita yang ditulis dengan gaya covert selling, dibayar 500-600 ribu untuk sekitar 500 hingga 1000 kata.
Siapa yang tidak tergiur, bahwa fee sebagai ghost writer ternyata sekitar 30-40 juta.
Tentu saja, siapa yang tidak tergiur, bila kita bisa menuliskan minimal sebuah buku solo, dan ada nama sendiri tertera di sana.

Ayo, apa lagi ide kepenulisannya?…

Kopdar memang manfaatnya banyak untuk sharing ilmu dan informasi.
Ditunggu undangan KOPDAR nya lagi untuk sharing

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

6 Replies to “Membangun Karir dan Bisnis Melalui Bidang Kepenulisan”

    1. InsyaAllah suatu saat punya kesempatan untuk Kopdar ya. Sementara ini gabung dalam komunitas saja dulu. Supaya update terus…Makasih ya sudah mampir…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *